
Barsena memasuki ruangan tempat Ichal dirawat. Dia ingin melihat kondisi Ichal, langkah kakinya bergetar saat melihat Ichal tengah berbaring dengan selang oksigen menutupi mulut dan hidungnya.
"Separah apa lo sakit Chal?" gumam Barsena saat duduk di samping ranjang pasien.
"Siapa bilang gue sakit, gue cuma kecapean aja!" sahut Ichal sambil melepas selang oksigennya.
"Loh, kirain lo tidur!" ucap Barsena.
"Gimana bisa tidur kalau lu masih disini," ketus Ichal.
Barsena menatap Ichal dengan wajah memelas.
"Sebenernya lo sakit apa Chal?" tanya Barsena.
"Bukan urusan lu! Gue gak sakit! Gue cuma kecapean, lu pikir nyamperin lu ke rumah Laras tuh gak pake tenaga? Gue cape lah!" kilah Ichal ketus.
"Dua kali Chal, dua kali gue lihat lo gak sadar diri kaya gini. Waktu itu sama Hani, dan sekarang gue bener-bener lihat lo gak sadar diri depan gue!" ungkap Barsena.
"Menurut gue, ini bukan cuma karena kecapean aja!" lanjut Barsena.
Ichal menatap tajam Barsena, tanpa sadar kedua tangannya membulat membentuk tinju.
"Mending lu keluar dari sini!" Ichal mengusir Barsena.
Barsena menghela nafas panjang mendengar Ichal mengusir dirinya. Dia beranjak dari kursinya lalu melangkah keluar dari ruangan itu.
Namun tepat saat Barsena ingin membuka pintu, dia menghentikan langkahnya.
"Satu hal yang mesti lo tahu, sebelum Laras meninggal gue gak pernah ketemu dia. Dan gue gak pernah tahu perasaan Laras yang sebenernya!" ucap Barsena tanpa menoleh lalu keluar dari ruangan itu.
Ichal yang mendengar pernyataan dari Barsena barusan hanya terdiam dengan ekspresi penuh arti.
***
"Ngapain juga gue disini?" gumam Ichal sambil berjalan gontai di koridor.
"Loh, Tuan Ananta anda mau kemana?" seorang suster bertanya pada Ichal yang meninggalkan ruangannya.
"Saya mau pulang!" jawab Ichal datar.
"Tapi Tuan, sebaiknya anda dirawat dulu disini agar kami bisa mengobservasi keadaan anda!" cegah suster itu.
"Ngapain saya ngabisin waktu disini, kalau ujung-ujungnya tetep mat* juga!" ketus Ichal.
"Ta-tapi Tuan,"
"Ada apa Sus?" tanya seorang dokter.
"Ini Dok, Tuan Ananta bersikeras ingin pulang," jelas suster itu.
"Ichal, Ichal, kamu ini kebiasaan! Pulang besok deh sampai selesai pemeriksaan kamu," cegah dokter itu.
"Saya gak mau!" Ichal berjalan melewati dokter dan suster itu sambil menekan dadanya dengan cukup kuat.
"Kalau begitu, kamu ke ruangan saya dulu ada beberapa hal yang harus saya sampaikan sama kamu!" pinta dokter itu.
"Ogah!" tolak Ichal singkat dan datar.
Dokter dan suster itu hanya menggeleng melihat tingkah pasien yang sangat keras kepala itu.
"Oh ya, Suster tolong panggil dokter Inne ke ruangan saya!" perintah dokter itu, yang dibalas anggukan oleh suster itu.
Tok ... tok!
"Masuk!"
"Ada apa Dokter Rizky panggil saya?" suara dokter Inne terdengar sangat lembut di ruangan yang tidak luas itu.
"Duduk dulu Dok!" pinta dokter Rizky.
Inne duduk di kursi depan meja kerja dokter Rizky dengan anggun.
"Menurut anda, kondisi Ichal seperti apa?" tanya Rizky.
"Maksud Dokter? Kenapa tanya saya, padahal Dokter Rizky sendiri yang menangani Ichal." jawab Inne sambil membenarkan letak kacamatanya yang sedikit merosot.
"Iya, memang benar saya yang menangani dia langsung. Tapi saya benar-benar perlu pendapat dokter lain, agar saya tidak berpikir kalau saya ini jahat," ungkap Rizky.
Inne membaca catatan medis milik Ichal, dia kembali membenarkan kacamatanya lalu menatap Rizky.
"Parah!" hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Inne.
"Benar 'kan? Kondisinya benar-benar parah, bahkan menurut saya hidupnya tidak akan lama lagi. Bahkan jika ada pendonor 'pun nasib hidupnya tetap akan sangat bergantung pada keberhasilan pada operasinya," ungkap Rizky.
Inne hanya mengangguk pelan mendengar ungkapan Rizky.
__ADS_1
"Separah itu kondisi Ichal?" batin Barsena yang sengaja mendengar percakapan kedua dokter itu.
"Kalau begitu saya permisi Dok," ucap Inne pamit keluar.
Barsena yang mendengar Inne akan keluar dari ruangan itu, langsung berlari pontang-panting karena tak ingin ketahuan telah sengaja menguping percakapan rahasia kedua dokter itu.
***
Malam ini hujan turun sangat deras, disertai dengan suara petir yang mencekam.
"Sekarang gue sering banget kena serangan kaya gini, mungkin waktu gue udah gak lama lagi," gumam Ichal saat sudah berada dalam mobilnya.
Dengan cepat Ichal memacu mobilnya membelah jalanan kota yang ramai.
Sementara itu Hani tengah bersiap untuk tidur, entah kenapa dia malah terus berguling di atas kasur seolah sangat sulit untuk memejamkan matanya.
"Kenapa perasaan aku gak enak sih?" jerit Hani frustrasi.
"Mana hujan gede banget lagi, makin gak bisa tidur kalau gini!"
Hani bangkit dari posisi berbaringnya, dia melihat jam menunjukan pukul 10:15 malam. Sudah terlalu larut dari jam tidur biasa Hani.
"Kenapa juga aku terus kepikiran Ichal sih?" gumam Hani.
Dia meraih ponselnya berniat untuk menelepon Ichal agar perasaannya bisa sedikit tenang.
Namun belum sempat Hani menekan nomor Ichal, Hani mendengar bel rumahnya berbunyi.
"Siapa sih udah malem juga?!" Hani menggerutu sambil menuruni tangga hendak membuka pintu.
"Iya," ucap Hani setelah membuka pintu, dan melihat seorang pemuda berdiri membelakanginya dengan penampilan memprihatinkan dan basah kuyup.
"Siapa ya?" tanya Hani.
Orang itu berbalik, Hani cukup terkejut saat mengetahui siapa orang itu.
"Barsena!" pekik Hani.
Ternyata orang itu adalah Barsena yang entah mengapa datang ke rumah Hani.
"Han," lirih Barsena.
Hani melihat Barsena yang terlihat sangat menyedihkan, dengan langkah gontai Barsena mendekati Hani.
"Ka-kamu ke-kenapa? Kenapa basah gini?" tanya Hani cemas.
Barsena menangis sambil memeluk Hani. Dia dapat merasakan pundaknya basah oleh air mata Barsena. Beberapa saat dia mendengar isakan pilu Barsena.
"A-aku, harus gimana Han?" lirih Barsena disela isakan tangisnya.
"Maksud kamu apa?" tanya Hani bingung.
Barsena terus terisak tanpa menjawab pertanyaan Hani. Hani yang tak tahu apa-apa hanya bisa membiarkan Barsena menangis di pelukannya seperti itu tanpa bisa melakukan apa-apa untuk menenangkannya, hanya sesekali Hani menepuk punggung Barsena yang terlihat naik turun karena terus terisak.
"Kamu kenapa sih Barsena? Please jangan bikin aku ikutan sedih," batin Hani gusar.
Beberapa jam lalu ....
Saat Barsena di rumah sakit, setelah dia mendengarkan percakapan antara Dokter Rizky dan Dokter Inne, dia mendapat pesan dari Kira adiknya.
[Kak, Kira takut!]
Dengan cepat Barsena memacu mobilnya agar cepat sampai ke rumahnya.
"De?" panggil Barsena saat sampai di rumahnya.
Barsena mencari keberadaan adiknya namun nihil. Dia terus berteriak memanggil adiknya, namun tak ada jawaban. Dia mencari di penjuru rumahnya yang mungkin tempat adiknya berada.
"De? Kira? Kakak disini, kamu dimana De?" panggil Barsena.
Barsena tetap tak mendapat jawaban dari adiknya, entah mengapa perasaan Barsena jadi tidak tenang setelah tak mendapati keberadaan adiknya.
Dengan gusar Barsena duduk di tangga dan merogoh ponselnya, dia menekan nomor lalu menempatkan ponselnya di telinganya. Namun setelah beberapa saat tak ada jawaban.
Barsena terdiam dengan otak yang dipenuhi oleh pikiran tentang adiknya.
"Hiksss ... hiksss ...,"
Samar-samar Barsena mendengar suara isakan di dekatnya. Barsena memasang pendengarannya dengan benar, untuk memastikan pendengarannya tidak salah.
"Hiksss ... hiksss ...,"
Kali ini Barsena mendengar dengan jelas bahwa itu benar-benar suara isakan tangis adiknya.
"Dek, kamu ngapain disini?" tanya Barsena khawatir saat mendapati adiknya menangis dibawah tangga.
__ADS_1
"Hiksss ... Kira takut Kak ... hiksss ...," suara Kira terdengar bergetar disela isakan tangisnya.
"Kenapa? Ayo cerita sama Kakak!" tanya Barsena cemas.
Namun bukannya menjawab, Kira malah meraung saat mendengar pertanyaan Barsena. Barsena meraih pundak adiknya dengan lembut lalu mendekapnya dengan erat dipelukannya.
Kira terus meraung, dan meneriakan kata 'takut'. Barsena benar-benar khawatir dengan adiknya. Dengan lembut Barsena menggendong tubuh mungil adiknya yang terus menangis dan membawanya ke kamarnya.
"Kira takut Kak!" raung Kira.
"Takut apa? Takut kenapa? Kira tenang ada kakak disini!" ucap Barsena menenangkan Kira.
"Kak Laras," ucap Kira lirih.
Barsena terkejut mendengar Kira menyebut nama Laras, seketika tubuhnya bergetar.
"Laras? Kenapa Kira bisa tahu dia?" tanya Barsena mencoba tenang.
Dia berusaha mengendalikan tubuhnya yang mulai bergetar hebat.
"Kak Laras bun*h diri gara-gara Kira! Gara-gara dia bantuin Kira dari Ayah!" Kira terus meraung.
"Ma-maksud Kira apa?" kali ini Barsena sudah sulit untuk mengontrol getaran hebat tubuhnya.
"Dia ... hiksss ... udah dip*rk*sa Ayah ... aaaaaaa!!!" raung Kira histeris sambil menutup kedua kupingnya dan tubuhnya bergetar hebat.
Seketika waktu terasa berhenti berputar pada dunia Barsena. Dia merasakan seketika dunianya hancur berantakan saat mendengar apa yang adiknya katakan.
Bak disambar petir, seketika tubuhnya terasa lemas dan mati rasa. Telinganya berdengung, bahkan tak dapat mendengar raungan Kira yang semakin menjadi.
Bahkan Barsena tak bisa menanyakan lebih lanjut apa yang sebenarnya terjadi hingga hal mengerikan itu bisa terjadi pada Laras yang malang.
Setelah terus meraung, menangis, dan histeris, akhirnya Kira tertidur. Barsena menatap nanar wajah adiknya, dengan lembut Barsena mengelus wajah adiknya yang masih basah oleh air mata. Bahkan dalam tidurnya 'pun Kira tetap menangis.
"Seberapa menderitanya Kira selama ini? Kenapa cuma gue yang gak tahu apa-apa disini?" batin Barsena menjerit pilu.
"Seberapa kejam orang yang gue sebut Ayah itu?!" gumam Barsena meremas tangannya.
***
Barsena berjalan gontai tanpa tujuan di bawah rintik hujan yang cukup deras. Bahkan semesta 'pun ikut merasakan kesedihan Barsena.
Tak ada yang tahu bahwa saat ini Barsena tengah menangis di bawah rintik hujan itu.
Tanpa dia sadari langkah gontai tanpa tujuannya itu berhenti di depan rumah Hani.
"Bahkan setelah gue sakitin Hani, gue tetep ke sini?" gumam Barsena.
Barsena menekan bel rumah Hani berharap Hani tidak datang untuk membuka pintunya karena dia merasa tidak pantas jika harus bertemu Hani dengan penampilan seperti itu.
Barsena tersenyum getir setelah beberapa saat menekan bel, Hani tak kunjung datang.
"Syukurlah, kamu gak buka pintu Han. Dengan begini aku bakal rela lepasin kamu, dan aku bakal bisa terus lanjutin hidup aku!" gumam Barsena lalu berbalik hendak kembali.
Namun saat Barsena hendak melangkahkan kakinya meninggalakan rumah Hani, suara lembut Hani menghentikan niatnya.
Dia berbalik dan melihat sosok Hani berdiri di pintu.
"Kenapa kamu keluar Han? Kalau gini aku gak tahu harus gimana?!" batin Barsena menangis.
"Ka-kamu ke-kenapa? Kenapa basah gini?" suara lembut Hani membuat perasaan Barsena sedikit lebih tenang.
***
"Kamu kenapa? Kenapa gak bawa mobil? Jangan bilang kamu jalan kaki di tengah hujan deras gini?" cecar Hani cemas sambil menyodorkan segelas teh hangat untuk Barsena yang sedang duduk dengan kondisi basah kuyup.
"Aku gak punya baju ganti cowok, tapi ini kayaknya bisa kamu pakai deh. Ayo ganti dulu, nanti masuk angin! Ayo minum dulu teh nya!" kata Hani memberikan baju ganti dan handuk untuk Barsena.
Barsena meraih teh hangat yang Hani berikan. Namun, bukannya meminumnya Barsena malah menatap teh itu dengan tatapan kosong.
"Kamu kenapa sih Barsena?" batin Hani benar-benar cemas.
"Aku harus gimana Han?" suara bergetar Barsena terdengar pilu dan menyedihkan.
"Aku gak tahu harus gimana!"
"Aku bingung!"
"Sekarang aku harus gimana?!" akhirnya Barsena meraung tak kuat menahan kesedihannya.
Hani memeluk Barsena yang masih basah kuyup itu, entah mengapa melihat Barsena seperti ini hati Hani 'pun menjadi sakit. Seketika kenangan bahagia yang dilalui bersama Barsena kembali terputar di ingatannya.
"Aku harus gimana Han? Laras, Ichal, Kira, Ayah, kamu, aku harus gimana Han?!" suara pelan Barsena terdengar sangat pilu.
"Maksud kamu apa Barsena?" lirih Hani tak mengerti dengan ucapan Barsena.
__ADS_1
Dia menanyakan hal yang tak Hani mengerti.