Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.10 > Kamar Nenek


__ADS_3

"Jangan pergi bareng dia Han!" ucap Barsena lirih dengan menatap wajah Hani dalam-dalam.


Hani memutar kepalanya melirik ekspresi Ichal yang sepertinya mulai kesal.


"Ayo ikut gue!" ajak Ichal sambil menarik tangan Hani, tapi tetap ditahan oleh Barsena.


"Jangan Han, kamu deket sama dia pasti semua orang bakal jadiin kamu sasaran." Barsena membujuk Hani sambil menarik tangan Hani tapi ditahan oleh Ichal.


Sekarang posisi Hani sudah serupa piala yang direbutkan. Dia ditarik ke kanan lalu ditarik ke kiri.


"Aduuuuh! Kalian apaan sih? Sakit tahu?!" teriak Hani kesal sambil melepaskan paksa genggaman tangan mereka.


"Udah lah aku pulang aja!" Hani berjalan meninggalkan Ichal dan Barsena yang masih berdiri mematung berhadapan.


"Apa lo lihat-lihat!" ucap Barsena dan Ichal serentak.


Mereka kembali bertatapan. "Hiiii!" ucap mereka kembali serentak sambil bergidik jijik lalu berjalan ke arah yang berbeda.


***


Hani sudah berada di rumahnya. Dia membaringkan tubuh lelahnya diatas sofa ruang tamu yang terasa sangat sepi. Sepeninggal neneknya, Hani tinggal sendiri di rumah besar itu.


Hanya setiap akhir pekan ada orang yang membersihkan rumahnya, tapi tidak menginap di sana.


"Jadi sepi banget kalau gak ada nenek!" gumam Hani.


Hani berjalan mengelilingi sudut demi sudut rumahnya untuk kembali mengingat kepingan-kepingan kenangan dengan neneknya.


Hingga tidak terasa dia berdiri di pintu kamar neneknya. Perlahan dia menggenggam gagang pintu berusaha untuk membukanya, tapi pintu itu terkunci.


"Aneh, kok di kunci. Kapan pintu ini di kunci ya? Sebelum nenek pergi? Kok nenek sampe kepikiran kunci pintu, biasanya juga engga." gumam Hani keheranan sambil terus mencoba membuka pintu itu.


Hani mengurungkan niatnya membuka pintu, dia mencoba mencari kunci dari pintu ini. Semua laci dia cek, untuk melihat ada tidaknya namun nihil.


Dia kembali duduk di sofa, dia memilih menyerah mencari kunci itu.


"Capek! Rasanya semua tempat yang mungkin kunci itu di simpen udah aku periksa, tapi tetep aja gak ketemu."


"Nenek simpen kuncinya dimana sih nek?"


Hani menatap foto dia dan neneknya yang terpajang di ruang tamu. Dia mendekati foto itu dan mengusap permukaannya yang sedikit berdebu.


Tring!


Tidak sengaja sebuah benda jatuh dari balik bingkai foto itu. Hani merunduk untuk melihat apa yang terjatuh, sungguh senang bukan kepalang Hani melihat benda yang jatuh itu adalah sebuah kunci berwarna emas yang tidak lain adalah kunci kamar neneknya.


"Jadi di sini ya nek?" ucap Hani sumringah lalu berlari menaiki tangga menuju kamar nenek yang berada di seberang kamar Hani.


Ceklek!


Pintu kamar itu terbuka, Hani berjalan perlahan sambil menyalakan lampu di kamar itu. Mata Hani menjelajah sudut demi sudut dari kamar neneknya sampai dia melihat sebuah buku di atas meja neneknya.


Dia membuka buku itu, penasaran dengan isinya. Tapi harapan Hani mendapat sesuatu di buku itu tidak terwujud, ternyata itu hanya buku kosong biasa.


Dia kembali berjalan dan duduk di sisi ranjang neneknya, perlahan dia merebahkan badannya di kasur itu.


Jedug!


"Aww sakit banget!" Hani meringis sambil mengusap kepalanya yang nyeri.

__ADS_1


Saat kepala Hani menyentuh bantal, bukan nyaman yang dirasakan tapi sesuatu yang keras telah dihantam kepalanya.


"Bantal nenek keras banget sih!" gumam Hani kesal sambil melemparkan bantal neneknya jauh.


"Hah? Peti apaan tuh? Aneh banget ada peti disini!" Hani mencoba menyentuh peti itu antara takut dan penasaran akhirnya dia membuka peti itu perlahan.


"Ini kan?" gumam Hani saat melihat isi dari peti kecil itu.


Selembar foto, dua pasang kaus kaki kecil, serta sepucuk surat terdapat didalam peti kecil itu.


Hani perlahan membuka selembar foto yang tampak sangat berdebu, dia melihat foto dua bayi disana yang sepertinya adalah bayi kembar. Tetapi foto orang yang menggendongnya tidak diperlihatkan, seolah foto itu sengaja di potong.


Dia kemudian menyentuh dua pasang kaus kaki kecil yang tampak sangat lucu.


Kemudian dia membuka sepucuk surat yang di tinggalkan di sana.


Tolong rawat anak kami, kami tidak sanggup merawat dua anak sekaligus. Apalagi dengan nyawa kami yang sedang terancam karena dia terus menyasar nyawa kami."


Marwah dan Adamar.


Itulah isi surat yang Hani baca. Hani tidak mengerti dengan isi surat itu, dia kemudian mencari petunjuk yang lain di kamar neneknya.


Dengan tergesa-gesa dia membuka semua laci, menyingkap semua yang tertutup mencoba mencari tahu apapun yang bisa menjawab penasarannya.


Isi surat itu terus berputar di kepalanya, kemungkinan kalau dia adalah anak yang di buang membuat dia tak sanggup untuk melanjutkan.


"Marwah dan Adamar kan nama mama sama papa?" gumam Hani sambil menggigit ujung kukunya tanda dia sangat gugup.


"Maksud surat itu apa? Jadi aku punya saudara? Kemana saudara aku itu? Apakah dia juga ikut tewas dalam kecelakaan? Engga-engga nenek kan gak pernah bilang aku punya saudara." Hani terus menggumam sambil terus memeluk sepucuk surat itu.


***


Semalam Hani tertidur di lantai kamar neneknya yang terlihat berantakan karena Hani mencari sesuatu yang mungkin bisa menjadi petunjuk untuknya.


Perlahan Hani bangkit, dia kembali merapikan kamar itu dengan lunglai. Pikiran negatif terus memenuhi isi kepalanya.


Truk!


Saat Hani merapikan tumpukan buku di meja, secarik kertas jatuh di kakinya. Dengan lunglai Hani mengambil kertas itu, jiwa penasaran Hani membuat dia membuka kertas itu dan membaca isinya.


"Srindra A. Jln. Melati no. 54"


Namun isi dari kertas itu hanya sebuah nama dan alamat saja. Hani pikir mungkin itu seseorang yang nenek kenal, jadi dia buru-buru merapikan kembali kertas itu bersama buku-buku lainnya.


Hani kembali mengunci kamar itu seperti semula, dia kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri. Karena hari ini sekolah libur dia berencana untuk pergi keluar untuk sekedar menghibur hatinya yang sedang gundah karena hal semalam.


Dia keluar dengan memakai kaus putih serta rok jeans selutut model overall, dengan rambut dikuncir kuda seperti biasanya.


Dia melihat penjual bunga, kemudian dia teringat jika belum mengunjungi makam nenek dan kedua orang tuanya setelah beberapa bulan ini terlalu di sibuk 'kan dengan sekolah.


Hani membeli tiga kuntum bunga mawar putih, dan naik taksi menuju area pemakaman yang lumayan jauh dari rumahnya.


"Tau gini tadi aku pake baju sopan deh." gumam Hani sambil terus berjalan menuju area pemakaman.


"Hai mama papa, Hani hari ini dateng bawain kalian bunga mawar putih. Kata nenek, mamah suka banget bunga mawar putih." ucap Hani terisak.


"Hai nenek, Hani juga dateng buat nenek loh! Nih Hani juga bawain bunga buat nenek." Hani tersenyum getir disela isakan tangisnya.


"Hani pulang dulu ya dadah." Hani lalu beranjak.

__ADS_1


Dia berjalan sambil menghapus sisa air mata yang jatuh di pipinya. Samar-samar dia melihat seorang pria yang sedang duduk di dekat makam seseorang sambil menyimpan bunga mawar putih yang serupa dengan yang dibeli Hani tadi.


Hani berjalan mendekati pria yang tengah terduduk membelakangi Hani itu. Ini bukan karena Hani penasaran, tapi memang jalan keluar dari area pemakaman itu memang harus melewati pria itu.


"Sorry aku baru dateng." samar-samar Hani mulai mendengar pria itu berbicara lirih.


"Suara ini? Kayak kenal deh, tapi siapa ya?" batin Hani, sambil terus mendekat.


Makin dekat Hani makin mendengar dan bisa melihat dengan jelas siapa yang ada di depannya.


"Loh, Ichal?" tidak sadar Hani mengucapkan itu, membuat Ichal terperanjat sontak mendongakan wajahnya melihat Hani yang berdiri tepat di depannya.


"Sial ngapain ini cewek ada di sini?" batin Ichal kaget. Dia lantas dengan tergesa-gesa berdiri dan berputar meninggalkan Hani.


Grep!


Hani dengan sigap menahan tangan Ichal yang hendak pergi meninggalkannya. "Gak papa kamu terusin aja, aku udah mau pulang kok!" Ucap Hani tersenyum.


Dia paham betul mungkin Ichal malu jika ada yang tahu saat dia menangis seperti tadi.


"Laras? Pacar kamu Chal?" tanpa sadar Hani menanyakan itu, saat dia membaca nisan dari makam yang dikunjungi Ichal.


"Jangan tanya, katanya lu mau balik!" jawab Ichal ketus. Hani yang mendengar itu hanya mengerucutkan bibir dan berjalan meninggalkan Ichal.


Sementara itu seorang pria tengah berdiri mematung, memperhatikan Ichal dan Hani yang berada di makam seseorang yang dia kenal. Dia menggenggam erat bunga di tangannya.


Dia adalah Barsena. "Sial!" gumam Barsena lalu tersenyum getir. Dia berbalik dan meninggalkan area pemakaman itu.


***


"Laras? Siapa ya Laras itu? Ichal sampai menangis di depan makamnya." gumam Hani sambil berjalan santai.


Diiiiin!


Hani terperanjat mendengar suara klakson yang memekikan telinga. Dia berputar melihat siapa yang jahil mengejutkan dirinya, dia tambah kesal setelah tahu orang di belakangnya adalah Ichal.


"Naik!" perintah Ichal dengan nada lempeng.


"Ogah!" ucap Hani lalu kembali berjalan.


Mobil Ichal terus mengikuti Hani dengan perlahan di jalan yang tidak besar, membuat pengguna jalan yang lain ramai membunyikan klakson karena mobil Ichal terlalu pelan dan menghalangi mereka yang sedang buru-buru.


"Aduuuuh yaudah iya! Berisik banget sih!" Hani menjerit kesal lalu menaiki mobil Ichal.


Brakk!


Hani menutup pintu mobil dengan kasar dan bibirnya terus mengerucut karena kesal. Ichal yang melihat itu hanya tersenyum puas.


"Kita mau kemana?" tanya Hani sambil terus memperlihatkan bibir manyunnya.


"Ikut aja!" jawab Ichal singkat sambil terus fokus melihat jalan mengemudikan mobilnya.


"Aduuuh mending aku pulang terus tidur!"


"Pantesan berat banget, hobinya tidur terus." Ichal menggoda Hani.


Wajah Hani merona mendengar itu, perasaan antara marah dan juga malu bercampur menjadi satu.


"Bisa gak sih jangan bahas itu mulu!" Hani menjerit kecil sambil menutup wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2