Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.42 Kebenaran Tentang Laras 2


__ADS_3

"Kamu apaan sih Chal, ngedadak jadi kaya Bunda aja! Apa-apa bilang 'perasaan gak enak'," ejek Laras.


"Yaudah aku berangkat sekarang deh!"


Laras berlari ke dalam rumah untuk mengambil bekal makanan yang dia bawa khusus untuk Barsena. Ichal hanya bisa menatap Laras dengan perasaan berkecamuk cemas, karena dia tahu rumah Barsena bukan tempat yang aman untuk ditinggali. Dia tahu benar Barsena selalu menerima kekerasan dari ayahnya, itulah yang membuat dia cemas jika Laras pergi sendiri ke sana.


"Chal, aku berangkat ya daaaah!" teriak Laras sambil berlari menuju mobilnya.


"Gue ikutin Laras deh, gak tenang gue biarin dia sendiri!" batin Ichal.


"Pak, langsung berangkat ke alamat ini ya!" Laras memberikan secarik kertas bertuliskan alamat rumah Barsena pada sopir pribadinya.


"Baik, Non,"


Mobil Laras mulai melaju sementara Ichal bersiap mengganti baju dengan kecepatan cahaya, dia berlari sambil memakai sepatunya.


Dia mengambil sepeda miliknya lalu mengayuh dengan sekuat tenaga mencoba mengikuti laju mobil Laras. Namun mobil Laras melaju terlalu kencang hingga Ichal nyaris kehabisan tenaga untuk menyusulnya.


Di tengah kecepatannya mengayuh rantai sepedanya tiba-tiba putus membuat dia ketinggalan.


"Sial!" umpat Ichal kesal melihat rantai sepedanya yang harus putus disaat yang tidak tepat.


Diiiiin!


Bunyi klakson mobil memekikan telinga, Ichal melirik mobil itu.


"Ichal sayang, kamu ngapain di sini? Mamah jemput kamu ke rumah, tapi kata Mang Uus kamu keluar pake sepeda. Ternyata di sini, ayo berangkat kita telat! Dokter Rizky udah nunggu," Tamara berteriak dari dalam mobil.


"Ta-tapi, Mah,"


"Udaah ayo cepet! Kita telat!" desak Tamara.


Dengan perasaan campur aduk Ichal menuruti apa kata ibunya, dengan bantuan sopir pribadi ibunya Ichal memasukan sepeda miliknya ke dalam bagasi mobil ibunya.


Dengan wajah tegang karena terpikir yang tidak-tidak terhadap Laras, Ichal duduk di samping ibunya. Tamara dengan jelas bisa melihat air muka anaknya yang sepertinya tidak dalam kondisi baik.


"Kamu gak papa, Sayang?" Tamara bertanya.


"Gak papa kok, Mah," jawab Ichal berbohong.


Tamara memerintahkan sopirnya untuk segera melajukan mobilnya.


***


Sementara itu mobil Laras sudah berhenti tepat di rumah Barsena.


"Non, mau saya temani masuk ke dalam?" sopir pribadi Laras bertanya.


Laras menggeleng menolak tawaran sopir pribadinya.


Laras berjalan ke depan pintu berniat menekan bel rumah Barsena. Belum sempat Laras menekan bel pintu, Laras mendengar jeritan dari dalam rumah Barsena.


"Pak, sini!" Laras yang khawatir mencoba memanggil sopir pribadinya tapi dia sepertinya tertidur.


"Ih, kebiasaan tidur mulu deh!" omel Laras kesal.


Saat hendak menekan bel, dia melihat pintu rumah itu tidak terkunci. Laras mengendap-endap masuk ke rumah itu. Satu langkah Laras masuk dia melihat rumah itu berankan, pecahan beling berserakan di lantainya.


"Ayaaaaah! Jangan, Yah!"


Dengan jelas Laras bisa mendengar jeritan ketakutan dari seseorang di dalam rumah ini. Laras berlari mencari-cari dari mana asal suara itu sambil menghindari pecahan kaca yang berserakan.

__ADS_1


"Ayo, anak j*l*ng! Puaskan aku!"


"Ayaaah! Kyaaaa ... jangaaan!!!"


Tubuh Laras seketika bergetar saat menyaksikan kejadian yang mengerikan di hadapannya. Kira yang dia ketahui adalah adik Barsena sedang akan di lecehkan oleh pria yang Kira sebut ayah.


Seumur hidup Laras baru sekarang melihat dan bertemu ayahnya Barsena, jadi dia baru tahu kalau ayah Barsena sekejam itu.


Dengan bergetar ketakutan Laras mengambil botol kaca bekas minuman yang teronggok di samping pintu, tanpa pikir panjang dengan tangan gemetaran Laras menghantam belakang kepala Baron dengan botol kaca itu.


Perhatian Baron teralihkan, cengkeraman dia terhadap Kira menjadi longgar hingga Kira bisa melepaskan diri. Namun, Baron malah menjadikan Laras sasarannya.


"Kurang ajar!"


Baron menarik tangan Laras dan mencengkeramnya. Belum sempat Laras berteriak dia sudah dibekap. Sementara Kira syok dengan apa yang di lihatnya.


Laras menggigit tangan Baron hingga Baron berteriak dan memukul Laras dengan keras.


"Kira, lari! Cari bantuan!" dengan suara lemah Laras menyuruh Kira pergi.


Kira yang ketakutan langsung berlari keluar rumah, dia mencari bantuan namun mustahil tak ada orang yang terlihat di sana. Satu-satunya orang yang terlihat oleh Kira adalah sopirnya Laras, Kira mengetuk mobilnya memanggil-manggil sopir itu tapi nihil dia tengah terlelap tidur.


Kira menangis dan panik membayangkan hal apa yang akan terjadi pada Laras.


"Kak Laras, maafin Kira!" batinnya menangis.


"Kenapa di sini jadi sepi banget?" gumamnya.


Kira terus berjalan dengan ketakutan menjalar di seluruh tubuhnya. Kira kembali ke rumahnya sendiri tanpa membawa bantuan karena memang tak ada seorangpun yang dijumpainya. Padahal biasanya selalu ramai orang tapi kenapa hari ini menjadi sangat sepi.


Saat masuk ke rumahnya, Kira sudah terlambat. Kondisi Laras sudah sangat berantakan, pakaian yang di kenakan sudah berantakan. Laras terduduk di pojok gudang sambil memeluk kedua lututnya dan menangis pilu. Entah apa yang sudah Baron lakukan padanya.


Kira yang melihat kondisi Laras langsung memeluk Laras dan ikut menangis.


Dia menangis sambil terus menggumam-gumam dan menggigit jarinya.


"Kyaaaaaa!"


Laras menjerit sambil menghempaskan pelukan Kira lalu berlari dari rumah Barsena.


"Kak Laras!" teriak Kira.


Sementara Baron sedang santai sambil meneguk alkohol dan menghisap rokok, dia tak merasa berdosa sedikitpun pada Laras yang sudah dia nodai.


Laras berlari dengan kondisi berantakan tanpa menghiraukan sopirnya yang sedang tertidur menunggu Laras. Laras terus berlari sambil menangis dan menggumam-gumam tak jelas.


"Aku kotor ... Barsena gak bakal suka sama aku ... aku kotor ...,"


Tanpa terasa Laras sudah berada tepat di depan rumahnya. Dengan ragu Laras masuk ke rumahnya, Srindra yang melihat kondisi anaknya benar-benar kaget.


"Laras, kamu kenapa Nak? Hey, jawab bunda sayang!" Srindra bertanya dengan nada khawatir.


"Kamu jalan kaki? Kok gak pakai sepatu? Pak Agus mana sayang, kok kamu jalan kaki?" cecar Srindra.


Namun Laras hanya terdiam dengan tatapan kosong, dia pergi menuju kamarnya dengan langkah gontai dan tatapan kosong tanpa menjawab pertanyaan dari Srindra.


Srindra benar-benar cemas dengan apa yang terjadi dengan anaknya itu.


"Laras, kamu kenapa sayang?" gumam Srindra cemas.


"Kyaaaaaaaaa ...!"

__ADS_1


Prang!


Terdengar jeritan dan suara sesuatu yang pecah dari kamar Laras. Srindra berlari menghampiri Laras dengan perasaan sangat cemas.


"Laras, kenapa? Jawab bunda, Sayang!" Srindra bertanya dengan nada cemas.


Namun tak ada jawaban dari Laras, yang terdengar malah suara isakan dari dalam kamar yang di kuncinya.


Laras terduduk di bawah ranjang sambil menutup kedua telinganya dan terus bergumam-gumam, sementara di depannya terlihat pecahan kaca dari bingkai foto yang Laras banting. Entahlah sekarang dia menjadi sangat paranoid. Baron manusia bejat itu, entah apa yang telah dia lakukan pada Laras yang manis.


"Laras, jawab bunda Sayang! Bunda benar-benar khawatir!" terdengar suara Srindra di balik pintu.


"Aku kotor ... Barsena gak bakal suka sama aku ... aku kotor ... Barsena pasti ingin aku mati aja ... aku kotor ...," gumam-gumam.


Sudah sekitar 12 jam Laras tetap pada posisinya tanpa makan dan minum, dia terus menggumam-gumam kalimat yang sama. Srindra benar-benar cemas dengan anaknya, dia sudah bolak-balik sejak semalam untuk membujuk putrinya untuk makan atau minum seteguk air.


"Laras, jangan gini dong Sayang! Bunda jadi cemas, Sayang!" ucap Srindra cemas.


"Ya Tuhan! Apa yang terjadi dengan anakku!" batin Srindra.


Srindra mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang.


"Ichal, bisa ke rumah Bunda? Bunda khawatir Laras dari kemarin belum keluar kamar juga," ucap Srindra pada Ichal di seberang telepon.


Tak lama kemudian Srindra menutup sambungan teleponnya. Dengan cemas dia terus bolak-balik di depan kamar Laras.


"Bunda, Laras kenapa?" tanya Ichal cemas.


"Bunda juga tidak tahu, Chal. Kemarin masih baik-baik aja, cuma sepulang dari rumah kamu dia jadi gini. Kalian gak berantem kan?"


"Berantem? Ngga kok, Bunda. Kemarin Laras cuma bentar di rumah Ichal, dia pamit mau ke rumah Barsena. Ichal sempat tawarin buat Ichal anter sih, tapi Laras nolak jadi dia pergi sendiri," ungkap Ichal.


"Ya Tuhan, ada apa dengan anak itu?" batin Srindra cemas.


"Coba kamu bujuk Laras!" pinta Srindra yang dijawab dengan anggukan oleh Ichal.


"Ras, ini aku. Buka pintunya!"


"Ras, Bunda bilang kamu belum makan ayo makan dulu!"


"Ras, Laras!"


Ichal terus berteriak sambil menggedor dari balik pintu yang terkunci, tanpa ada respon dari dalam kamar Laras.


"Ras!" Ichal kembali berteriak memanggil Laras.


"Laras, apa yang udah si b*jing*n Barsena sama kamu? Cerita sama aku Ras!" kini suara Ichal terdengar marah.


Ceklek!


Suara kunci di buka, dan saat Ichal mengecek pintunya ternyata benar sudah di buka. Ichal melirik Srindra untuk meminta persetujuan untuk masuk dan di jawab oleh anggukan oleh Srindra.


Ichal masuk ke kamar Laras, kondisi di sana benar-benar berantakan. Seprai dan selimut berserakan, ada pecahan kaca juga berserakan. Ichal kaget dengan kondisi yang tengah dia lihat, hal ini benar-benar berseberangan dengan pribadi Laras yang bersih walaupun sedikit ceroboh.


"Ras, kamu ngapain sampai kamar kamu jadi berantakan gini?" Ichal bertanya sambil menjelajah kamar Laras dengan hati-hati.


"Ras!" teriak Ichal.


Ichal melihat Laras yang tengah berdiri mematung di balkon kamarnya memakai dress putih yang di kenakan kemarin yang sekarang terlihat menjadi kusam dan lusuh dengan rambut tergerai bernatakan.


Kamar Laras terletak di lantai tiga, Ichal berjalan menghampiri Laras yang tampak sedang melamun di sana.

__ADS_1


"Ras kamu kenapa?" tanya Ichal cemas.


__ADS_2