Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
2. Namanya Diaz?


__ADS_3

"Aaaaa ...!"


Suara jeritan Hani terdengar bersamaan dengan tubuhnya yang oleng dan jatuh membentur aspal jembatan dengan cukup keras setelah tubuhnya diseret dengan kencang oleh seseorang yang tidak Hani kenal.


Hani mengaduh, begitupun orang yang baru saja menyeret Hani—menolong Hani. Orang itu mengerang seraya memegangi lengannya yang kesakitan setelah menahan tubuh Hani agar tidak langsung menabrak aspal jembatan.


"Lo apa-apaan, sih? Emangnya hidup lo seberat itu apa sampai-sampai lo mau bunuh diri di sini?!" bentak orang itu.


Hani mengerjap seolah baru tersadar dari perbuatan konyolnya yang hampir saja merenggut nyawanya sendiri. "A–aku kenapa?" tanya Hani ragu saat melihat orang itu meringis kesakitan di antara cahaya remang-remang.


"Lo gila!" hardik orang itu seraya mencoba bangkit. "Lain kali kalo mau bunuh diri jangan di tempat kaya gini! Kalo mayat lo hanyut, cuma nyusahin orang aja tau nggak?"


Hani terdiam. Dia memang salah sempat berniat untuk melompat, tapi ucapan orang itu juga terdengar keterlaluan jika diucapkan pada Hani yang sedang tidak baik-baik saja.


"Emangnya kamu tau apa tentang aku!" jerit Hani tiba-tiba. Tangisnya tiba-tiba pecah begitu saja. Hani juga tidak tahu kenapa ia harus menangis di hadapan orang asing, tapi ia benar-benar tidak kuat menahan tangisnya. Dadanya terasa sesak hanya dengan mengingat Barsena saja.


"Kok, lo malah nangis, sih? Cengeng!" hardik orang itu lalu berjalan pelan meninggalkan Hani. Setelah beberapa langkah ia berhenti dan kembali menoleh pada Hani yang masih menangis di sana. "Awas kalo lo coba lompat lagi!" ucapnya memperingati sebelum ia menaiki motornya dan melaju dengan kencang meninggalkan Hani sendiri di sana.


Sepeninggal orang asing itu, Hani semakin keras menangis menumpahkan rasa sedihnya. Ia terduduk di sisi jembatan itu dengan air mata yang malah keluar semakin deras. Baru saja ia hampir melakukan hal gila, hal itu malah membuat tangisnya semakin keras.


"Ck, mau sampai kapan lo nangis di sini? Nggak balik?" Suara orang itu kembali terdengar. Hani mengangkat kepalanya dan benar saja orang itu kembali ke hadapannya entah untuk apa. Mungkin untuk kembali memakinya karena sudah melakukan hal konyol? Entahlah.


"Rumah lo di mana?" tanya orang itu tiba-tiba.


Hani langsung waspada. Tentu saja waspada, kalau orang asing tiba-tiba menanyakan rumahnya di mana.


"Untuk apa? Kamu mau macem-macem, ya?" tuduh Hani.


Orang itu berdecak sebal. "Gue ini laki-laki sejati yang nggak mungkin biarin cewek lemah kaya lo pulang sendiri. Apalagi beberapa menit lalu lo hampir aja mati konyol."


"Stop bilang kaya gitu kalo kamu nggak tau apa-apa soal aku."


"Sok menderita banget, sih, lo."


Apa sih yang orang asing ini mau? Kenapa dia tiba-tiba datang dan mengganggu jalan hidupnya. Memangnya apa yang orang asing ini tahu tentang hidup Hani yang kosong? Tentu saja orang asing ini tidak tahu hal berat apa saja yang sudah Hani lalui selama ini.


"Ayo balik, gue anter!" Orang itu menarik paksa tangan Hani hingga Hani mengerang kesakitan.


"Lo ... kenapa?" Orang itu tampak panik saat Hani begitu kesakitan ketika tangannya di tarik.


Hani berdecak sebal. "Ini gara-gara kamu tadi tarik tangan aku kasar banget. Kayaknya tangan aku keseleo," ketus Hani.


"Ya itu juga gara-gara lo, lah. Bukannya makasih karna gue tolong, malah nyalahin. Padahal kalo nggak gue tolong bukan cuma keselo aja tapi nyawa lo bisa ilang tau nggak?"


Hani terdiam. Tentu saja orang itu benar.


"Ayo naik motor gue, kita ke rumah sakit dulu."


"Ngapain ke rumah sakit?" tanya Hani.


"Tangan gue juga sakit beg*! Gara-gara lo, nih!"


"Ish."


...***...


"Kalian berdua pacaran?" tanya dokter setelah keduanya selesai diperiksa.

__ADS_1


"Nggak!"


"Gila!"


Hani dan orang itu berteriak tidak terima dengan serempak dan membuat dokter itu terkekeh.


"Bisa-bisanya kalian terluka di tempat yang sama. Hanya saja yang laki sebelah kiri dan yang perempuan sebelah kanan. Pasti jatuhnya sambil pelukan, kan?" goda dokter itu membuat Hani dan orang asing tadi berdecak sebal.


"Kalo udah beres saya pulang. Dokter sempet-sempetnya goda pasien." Orang itu lebih dulu bangkit dari ranjang pasien.


"Santai dong, Diaz. Marah-marah mulu kerjaannya," ucap dokter itu dan membuat orang itu makin memasang wajah kesal. Dokter dan orang itu sepertinya sudah saling mengenal.


Diaz? Hani membatin. Jadi, nama orang asing menyebalkan itu Diaz? Nama yang keren kalau saja dibarengi dengan sikapnya yang keren juga.


"Nah, Hani ... tadi nama pacar Diaz itu Hani, ya?" tanya dokter itu menyebalkan.


"DOK!" teriak Diaz kesal.


"Bercanda, Diaz, serius amat, sih." Dokter itu tertawa renyah seraya menepuk bahu Diaz. "Hani, lengan kanannya terkilir tapi tidak terlalu parah. Namun, jangan dulu dipakai untuk mengangkat yang berat-berat. Kamu juga Diaz."


"Baik, Dok," ucap Hani sopan.


"Ayo balik!"


Hani menatap malas Diaz. "Aku pulang sendiri aja naik taksi, makasih."


"Ya udah bagus." Pemuda menyebalkan bernama Diaz itu pergi begitu saja meninggalkan Hani. Tentu itu lebih baik dari pada harus pulang diantar dia.


Malam itu Hani dan Diaz berpisah di rumah sakit dengan kesan yang tidak menyenangkan. Hani pulang dengan taksi menuju rumahnya. Hari ini hari yang penuh drama untuk Hani. Tentu saja drama yang berat.


"Barsena," gumam Hani lirih dan tangis itu kembali begitu saja.


...***...


Dengan langkah ringan seraya bersiul dia memasuki rumah.


"Siapa wanita itu, Pa?!"


"Sekretaris papa, Ma. Kita nggak pernah macam-macam."


Diaz berdecak sebal saat suara nyaring itu terdengar. Selalu saja pertengkaran itu terjadi ketika kedua orang tuanya pulang lebih awal.


"Selamat malaaaaam! Tuan dan Nyonya Ananta? Tumben pulang cepet?" sapa Diaz sekaligus melerai mama dan papanya yang tengah berdebat. "Kali ini debatin apa, nih?" tanya Diaz santai.


Tamara berdecak seraya memijat pangkal hidungnya. "Masa pas tadi mama ke kantor papa, papa lagi mesra-mesraan sama sekretarisnya, Diaz."


Edi tidak terima mendengar istrinya yang mengadu. "Papa nggak mesra-mesraan sama Maudy, tadi dia bawa kopi terus nggak sengaja tumpah di kemeja papa. Dan mama datang pas Maudy lagi coba bersihin kemeja papa."


"Tuh, kan? Papa mesra-mesraan sama wanita itu. Oooh ... namanya siapa tadi? Maudy? Maudylibas abis sama mama sampe akarnya. Dasar pelakor!"


"Udah papa bilang bukan gitu, Ma!"


Diaz menggeleng pelan. Selalu saja ada kesalahpahaman yang terjadi di antara kedua orang tuanya. Kali ini karena sekretaris Edi, tiga hari lalu karena model pria Tamara, seminggu lalu karena klien Edi yang ternyata mantannya saat SMA. Selalu saja seputar kecemburuan di antara mereka.


"Maaf-maafan aja udah. Diaz cape."


Diaz berlalu begitu saja meninggalkan keduanya yang masih bertahan dengan argumen masing-masing.

__ADS_1


"Padahal waktu itu mama juga mesra-mesraan sama model mama sendiri di studio!"


Kalimat itu adalah kalimat terakhir yang Diaz dengar sebelum ia menutup pintu kamarnya dengan keras. Hari ini Diaz lelah sekali. Diaz menjatuhkan tubuh lelahnya ke atas kasur. Pandangannya lurus menatap langit-langit kamar. Helaan napas berat terdengar saat Diaz kembali bangkit untuk membuka bajunya. Setelah bajunya dibuka, barulah terlihat luka memar di sekujur punggungnya.


"Gara-gara cewek nggak tau terima kasih," gumam Diaz saat melihat luka memar di punggungnya lewat cermin. Lengan kirinya juga tampak membengkak karena terkilir. Itu semua karena benturan keras tadi saat Diaz menolong Hani.


"Cewek aneh."


...*** ...


"Aww ...!" Hani meringis saat kantong es batu disentuhkan pada bengkak di lengan kanannya yang terkilir. "Kok, bisa sesakit ini, sih? Ini gara-gara cowok gak sopan tadi. Gak bisa gitu dia tariknya pelan-pelan? Kalo gini kan sakit," gerutu Hani di sela ringisan kesakitannya.


Hani meletakkan es batu di meja. Pikirannya menerawang pada kejadian tadi siang sebelum Barsena dengan kejamnya meninggalkannya. Hari tadi indah bahkan sangat indah, ya, setidaknya sebelum Andin datang dan merusak segalanya.


"Sekarang aku gimana?" gumam Hani.


Helaan napas berat kembali terdengar di ruangan sunyi itu. Sepeninggal neneknya, Hani tinggal sendiri. Memang ada asisten rumah tangga yang datang setiap pagi untuk membereskan rumah, tapi akan pulang saat sore hari atau saat pekerjaannya sudah selesai. Jadi, Hani tetap tinggal sendiri. Sepi rasanya apalagi saat malam seperti ini.


Matahari menyorot tepat ke wajah gadis yang tertidur menelungkup di atas meja. Hani mengerjapkan matanya saat merasakan sinar matahari menyorot wajahnya. Ia melihat sekeliling, rupanya semalam dia tertidur di sana—di meja belajarnya.


Hani bangkit dan rasa sakit di lengannya semakin terasa karena semalaman Hani tidak tidur dengan posisi yang benar. Hani berdecak sebal seraya berjalan menuju kamar mandi.


Setelah bersiap dan menyantap sarapannya, Hani berangkat ke sekolah. Sepanjang perjalanan dengan taksi, Hani hanya menatap kosong jalanan. Entah ia akan bisa melalui hari ini atau tidak jika tanpa Barsena. Belum lagi dia pasti akan melihat adegan mesra Barsena dan Andin. Sungguh itu sangat menyesakan untuk Hani bahkan hanya dengan membayangkannya saja.


Dan benar saja, baru saja Hani sampai di sekolah matanya sudah disuguhi dengan pemandangan menyesakan itu—saat Barsena baru saja datang dengan membonceng Andin. Padahal biasanya jok motor Barsena selalu Hani yang tempati. Namun sekarang sudah berubah dan Hani tak sanggup lagi melihat itu.


"Nah, kalo sama Andin baru cocok. Pasangan visual yang luar biasa nggak kaya yang sebelumnya."


Hani menghela napas berat saat mendengar itu. Sakit tentu saja, tapi Hani tetap menahan itu. Tentu saja Hani juga merasa kalau Andin dan Barsena terlihat sangat serasi. Si cantik dan si tampan. Hani sampai tak tahan untuk tertawa hambar melihat pemandangan itu.


Plak!


Hani meringis saat tubuhnya terdorong begitu saja ke depan setelah seseorang menampar keras lengannya yang masih memar dan bengkak karena terkilir semalam.


"Lho? Sakit banget ya, Han?" tanya gadis itu saat melihat raut wajah kesakitan Hani. Hani masih meringis memegangi lengannya yang berdenyut nyeri.


"Irma, kamu kenapa, sih?" tanya Hani kesal.


Irma meringis tidak enak lalu membantu Hani untuk berdiri dengan tegak. "Sorry, sakit banget?"


Hani mengangguk lalu memperlihatkan lengannya yang masih membengkak walaupun tidak separah semalam. Irma sampai membelalak saat melihat itu dan berkali-kali meminta maaf atas kebiasaannya yang sering memukul lengan orang lain.


"Ngomong-ngomong, kok, si Barsena bisa barengan Andin? Jangan bilang lo putus sama Barsena!" Irma menatap Hani penuh selidik.


Hani menghela napas lelah. "Iya, kemaren aku putus sama Barsena. Puas?"


"APAAAA?!" teriak Irma menggelegar dan dramatis hingga beberapa siswa menoleh pada mereka.


"Kok, bisaaaa?!"


Hani mengedikkan bahunya. Dia saja tidak tahu alasan Barsena dengan tega melakukan itu pada dirinya.


"Ya, terus sekarang gimana?" Irma masih sangat penasaran rupanya.


"Ya, gitu, deh."


"Gitu gimanaaa?! Han, lo jangan santai-santai gini dooong, ini masalah yang serius tau nggak? Barsena baru aja mutusin lo dan pagi ini dia udah jalan barengan Andin. Pasti mereka udah jalan lama ba—"

__ADS_1


Ocehan panjang lebar Irma terpotong saat Barsena tiba-tiba datang.


"Han, aku boleh ngomong sama kamu?"


__ADS_2