
"Hari pertama emang berat banget. Nih tisu, lap ingus lu! Jorok banget sih jadi cewek."
Hani perlahan kembali mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang berbicara padanya. Mata Hani membulat setelah tahu siapa orang yang ada di hadapannya.
"Kamu?!" teriak Hani.
"Ngapain kamu ke sini? Belum puas kamu bikin aku di bully abis-abisan sama temen-temen kamu itu? Atau kamu ke sini cuma mau ngetawain aku karena aku sekarang terlihat menyedihkan banget? Kamu tuh gak bakal ngerti hikss ... gimana ... hikss ... menderitanya aku!"
"Emang jadi miskin itu salah?" ucap Hani lirih.
"Gue cuma mau minta maaf tadi di kelas gue udah bentak lu!" jawab Ichal.
"Nih ambil tisunya, gue mau pulang. Dimaafin ataupun enggak sama lu gue gak peduli, yang penting gue udah minta maaf sama lu.
Ichal yang sebelumnya meninggalkan Hani dan Barsena, memutuskan untuk kembali karena wajah Hani saat menangis terus membayanginya selama perjalanan pulang. Saat dia kembali ke taman itu, Hani masih pada posisi yang sama dan sedang menangis hanya saja tanpa Barsena.
"Gue anterin lu balik!" ucap Ichal sambil menarik tangan Hani.
"Hah?" Hani tercengang setelah mendengar ucapan Ichal.
"Ayo naik!" perintah Ichal.
"Na ... naik motor?" tanya Hani ragu.
"Ya iya lah masa naik bajay!" jawab Ichal ketus.
"Ta ... tapiiii!" Hani masih ragu.
"Kenapa sih? Gak mau?" tanya Ichal memastikan.
"I ... ituuu!"
"Itu apaan sih, lu emang cewek aneh ya! Jangan bilang lu belum pernah naik motor makanya jadi takut?!" teriak Ichal kesal.
"I ... iiiyaaa." jawab Hani sambil menutup wajahnya yang mulai memerah karena malu.
Ichal tertawa terbahak-bahak setelah mendengar jawaban Hani. Dia tiba-tiba menarik jaket yang dari tadi di pegang Hani, lalu diikatkan ke pinggang Hani.
"Nah udah ke tutup, ayo balik! Gak usah takut ayo naik aja! Lu mau sampe besok di sini?" ucap Ichal.
Dengan ragu Hani menaiki motor Ichal.
"Pegangan!" perintah Ichal.
"HAH?"
"Lu tuh selain aneh ternyata budek juga ya! Gue bilang pegangan lu mau jatoh terus mati?" jawab Ichal kesal.
Dengan perlahan dan ragu-ragu Hani memeluk pinggang Ichal. Ichal langsung melesat membelah jalanan menuju rumah Hani. Selama perjalanan mereka hanya diam satu sama lain, hingga setelah hampir satu jam perjalanan Hani merasa ada yang aneh dengan Ichal.
"Ko ga sampe-sampe sih? Udah mau satu jam loh ini!" teriak Hani.
"HAH APAAN?!" jawab Ichal berteriak juga.
"Ko gak sampe dari tadi kayaknya malah muter-muter doang!" ucap Hani.
"Salah lu sendiri gak ngasih tahu rumah lu di mana? Ya gue kan gak tahu rumah lu di mana, dasar aneh!" ucap Ichal.
"Hahahaha ... makanya kamu kalau gak tahu tuh nanya!" Hani tertawa terbahak-bahak sambil menepuk-nepuk punggung Ichal membuat sang empunya meringis.
Deghhh ... Deghhh ...
__ADS_1
Jantung Ichal tiba-tiba berdebar dengan kencang setelah melihat wajah Hani saat tertawa dari balik kaca spion.
"Manis." gumam Ichal.
"Gil* apa lu? Masa lu mau suka sama cewe aneh ini?" batin Ichal.
Setelah Hani memberitahu jalan ke rumahnya akhirnya mereka pun sampai di rumah Hani. Ichal terkejut melihat rumah Hani. Ternyata rumah Hani sangat besar, bahkan kira-kira ukurannya sama seperti rumah milik Ichal. Hani bukan orang miskin seperti yang orang-orang bilang.
"Mana ada orang miskin rumahnya gede banget."batin Ichal.
"Hmm makasih ya udah anterin aku. Mau masuk dulu?" tanya Hani ragu-ragu lalu menyunggingkan senyuman termanisnya setelah sekian lama tidak memerlihatkan senyuman itu pada siapapun.
Deghh!!! Jantung Ichal berdebar dengan hebatnya.
"Eng ... gak gue langsung balik aja udah sore juga." jawab Ichal gugup langsung berbalik meninggalkan Hani.
Selama perjalanan pulang Ichal terus terbayang wajah Hani saat tadi tertawa dan saat mengucapkan terima kasih dengan memperlihatkan senyum manisnya. Ichal sekarang tidak sadar terus senyum di balik helm full face nya.
Sampai di rumahnya pun dia tanpa sadar terus tersenyum. Saat dia membuka helmnya pun dia terus tersenyum, saat mandi, ganti baju, makan, minum, nonton apapun yang dilakukannya dia terus saja tersenyum. Hingga para pembantu di rumahnya merasa heran sekaligus senang karena biasanya dia tidak pernah tersenyum secara terang-terangan seperti ini. Kalaupun ketahuan tersenyum langsung kembali ke ekspresi judesnya lagi.
"Maaf den, aden gak apa-apa kan?" tanya bi Asih pembantunya dengan ragu-ragu.
"Gapapa bi, kenapa?" jawab Ichal dengan lembut tidak seperti biasanya.
"Anuuu ... dari tadi bibi lihat aden senyum-senyum terus, bibi jadi khawatir." jawab bi Asih.
"Masa sih?!" jawab Ichal datar dan dingin kembali menjadi Ichal yang kasar.
"Padahal udah ganteng banget dari tadi senyum." gumam bi Asih.
"Ngomong apa bi?!" teriak Ichal.
"Eng ... nggak den, bibi ke belakang dulu." jawab bi Asih lalu pergi meninggalkan Ichal yang tampak kesal.
Entah mengapa wajah Hani terus terbayang di kepalanya.
"Inget Chal tadi lu bantuin dia cuma karna kasian doang!" ucap Ichal mengingatkan dirinya sendiri.
Semalaman Ichal seperti biasa tidak bisa tidur, hanya matanya yang terpejam tapi pikirannya terus kemana-mana.
"Stop mah, jangan bikin papa kesal! Jangan ngajak ribut! Papa mau tidur, papa capek!"
"Siapa yang ngajak ribut, mamah cuma bilang papa jangan terlalu sibuk sama bisnis papa sekali-sekali gantian doang ngurusin Ichal!"
"Harusnya mamah yang diam di rumah, urus rumah, urus anak. Bukannya malah gila kerja, emang uang yang papa kasih gak cukup buat mamah apa?!"
"Papa kerja juga buat kebutuhan kalian, buat kita bertahan hidup, buat Ichal juga!"
"STOP!!!" Ichal berteriak di tengah-tengah perdebatan orangtuanya.
Seketika membuat kedua orangtuanya terdiam setelah mendengar teriakan Ichal. Ichal lalu melenggang pergi meninggalkan orang tuanya. Dengan kasar dia menyambar jaket yang tergantung di balik pintu kamarnya. Dengan tergesa-gesa meninggalkan rumahnya menaiki motor lalu melesat membelah jalanan kota di malam hari.
Entah apa yang akan dia lakukan, dan kemana dia akan pergi yang jelas dia terus mengebut di tengah ramainya jalanan. Dia tidak menghiraukan keselamatan dirinya maupun orang lain.
***
"Hufftt ... akhirnya beres juga. Sekarang waktunya tidur deh!" gumam Hani sambil merebahkan tubuhnya.
Perlahan Hani menarik selimut lalu memejamkan matanya. Baru beberapa detik dia terpejam tiba-tiba kembali melek karena teringat kejadian tadi siang. Bukan karena bullyan dari teman-temannya, ataupun bertemu Barsena, tapi karena untuk pertama kalinya dia berbicara dengan Ichal tanpa berdebat bahkan diantar pulang juga.
Blusshhh .... Pipi Hani merona ketika kembali mengingat kejadian tadi siang.
__ADS_1
"Gil* sumpah kok jadi kepikiran terus sih kyaaaa...!!!" Hani menjerit kecil sambil menutup wajahnya dengan selimut.
***
"Apa sih Din? Aku capek, tadi siang aku udah anterin kamu belanja. Sekarang apalagi?" tanya Barsena kesal.
"Barsena sayang, sekarang kamu mulai berani bantah aku ya? Oke gampang sih tinggal aku bilang aja ke papa kamu! Beres deh urusannya!" jawab Andin lalu tersenyum santai.
"Kamu mengancamku?" Barsena kesal.
"Oh tentu Barsena sayang, jangan kira aku gak tahu tadi siang kamu ketemu sama Hani. Inget ya kamu kalau melanggar perjanjian, kamu sendiri tahu apa akibatnya!" jawab Andin dengan tegas.
"Oke aku ngerti, sekarang udah malem kamu mau aku anter ke mana?"
"Restoran favorit aku!" Andin tersenyum puas telah berhasil membuat Barsena menuruti semua keinginannya.
Dengan terpaksa Barsena mengikuti semua kemauan Andin karena dia sudah paham konsekuensi yang akan dia terima jika menolak kemauan Andin sekali saja.
Dari dulu Andin adalah orang yang sangat menyukai Barsena. Dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan hal yang diinginkannya. Termasuk dengan merebut Barsena dari Hani.
Andin yang sejak SMP satu kelas dengan Hani memang tidak suka dengan apapun yang Hani dapatkan dan capai. Termasuk saat dia tau Hani akhirnya berpacaran dengan Barsena, dia terus mencoba merebut Barsena dengan segala macam cara tapi awalnya selalu gagal. Hingga akhirnya dia memakai kekuatan papanya untuk menekan Barsena.
***
"Ini gara-gara papa sekarang Ichal jadi keluar rumah padahal ini udah malem!"
"Yang ada ini gara-gara mamah, udah ajak papa debat tengah malem gini!"
Langkah Ichal terhenti di depan daun pintu rumahnya. Dia mengira jika sudah tengah malam Mereka berdua sudah berhenti berdebat dan tidur. Tapi ternyata dugaannya salah, kedua orang tuanya masih berdebat tentang dirinya. Ichal yang awalnya berniat masuk dan mencoba tidur mengurungkan niatnya dan kembali berputar berjalan menjauhi pintu rumahnya.
"Gak jadi masuk den?" tanya satpam di rumahnya.
"Pusing saya pak!" ucap Ichal dingin.
Ichal kembali memacu motornya dengan kencang dan berhenti di depan rumah yang sedikit lebih kecil dan sederhana dari rumahnya.
"Permisi...!" ucap Ichal sambil mengetuk pintu.
"Loh den Diaz! Malem-malem ke sini ada apa?" ucap seorang wanita yang membukakan pintu untuknya.
"Nenek udah tidur ya bi?" tanya Ichal lirih.
"Iya den, mau bibi bangunkan?"
"Mmm... Gak usah deh bi kasihan! Bibi juga tidur aja udah malem!" ucap Ichal.
"Yaudah bibi siapin dulu kamar aden ya!" ucap wanita itu lalu bergegas membereskan kamar tidur yang sedari dulu selalu ditempati oleh Ichal.
Ichal menjatuhkan tubuhnya ke kasur yang selalu terasa nyaman. Tanpa sadar dia tertidur dengan lelapnya.
Pagi sudah menjelang, matahari perlahan mengintip di sela-sela jendela kamar menyoroti seorang pemuda yang tertidur lelap. Perlahan dia membuka kedua matanya matanya, dia terkejut saat ada seorang wanita berdiri tepat di depannya.
"B*ngs*t kaget gue!" teriak Ichal lalu terduduk mencoba mengumpulkan seluruh nyawanya.
Pletak ...!!!
Dahi Ichal di tampar dengan keras oleh wanita itu. Ichal mengelus dahinya sambil meringis.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....