
"Haaah!" Ichal menghela nafas panjang untuk kesekian kalinya di depan Hani.
Seolah dia berharap Hani menanyakan kondisinya setelah dari ruangan bu Rahma. Tapi Hani juga tidak berani bertanya karena tahu Ichal akan marah jika dia bertanya ini itu pada Ichal.
"Haaaaah!" Ichal kembali menghela nafas panjang. Kali ini membuat Hani kesal, karena dia terus-terusan seperti itu.
"Aduuuh! Kenapa sih? Dari tadi huh hah aja!" tanya Hani kesal dengan kelakuan Ichal.
Ichal menyunggingkan senyuman melihat reaksi Hani. "Gue bakal gak lulus!" jawab Ichal santai.
"HAH? GAK LULUS?!" tanya Hani dengan berteriak.
"Iya! Budek!" jawab Ichal sambil menjentikkan tangan ke dahi Hani, wajah polosnya masih melongo karena mendengar jawaban Ichal.
"Hah, wajar sih kalau gak lulus!" hardik Hani.
"Maksud lu apaan?!" wajah Ichal memerah entah karena marah atau malu.
"Emang selama ini kamu gak sadar kalau kelakuan kamu tuh bikin guru gak suka sama kamu! Walaupun kamu punya ade-ade gemes penggemar yang fanatik itu, tapi itu gak bikin kamu bisa lulus kalau kelakuan seenaknya kamu masih belum dihilangin!" Hani berbicara panjang kali lebar depan Ichal sambil terus menatap wajah merah Ichal.
"Kelakuan seenaknya?!" Ichal berteriak seakan tak percaya dengan yang diucapkan Hani.
"Hey! lihat si anak famous ini, dia gak sadar kalau dia udah bikin semua guru ga suka sama dia. Tidur seenaknya di dalam kelas waktu pelajaran, suka bolos, dateng siang seenaknya. Ck... Beneran gak sadar ternyata!" Hani berdecak sambil menggelengkan kepalanya.
Wajah Ichal terus memerah mendengar ucapan Hani. "Terus gue harus gimana?" tanya Ichal lirih.
"Berubah!" jawab Hani tegas.
Ichal terdiam sesaat lalu kembali bertanya, "Caranya?" Ichal menatap Hani menunggu jawaban wanita polos itu dengan serius.
"Hmmmm!" Hani mengetuk-ngetuk telunjuknya di bibir tipisnya. Sementara Ichal terus menatapnya.
"Entahlah aku juga gak tahu hahaha!" Hani mengangkat bahunya lalu tertawa melihat reaksi kesal Ichal yang sedari tadi menunggu jawaban darinya.
Tak lama setelah itu, seorang guru kembali masuk ke kelas. Pak Akbar guru matematika yang selanjutnya mengajar di kelas ini.
"Anak-anak hari ini bapak akan mengadakan kuis dadakan untuk mengetes sejauh mana kalian memahami pelajaran bapak!" ucap pak Akbar tiba-tiba.
"HAAAH?!" keluh semua murid yang ada di kelas.
"Tenang aja, ini soal mudah kok! Kalian bahkan bisa mengerjakan ini sambil merem." ucap pak Akbar sambil membagikan soal kuis kepada semua murid.
"Ah gil* apaan nih susah banget!" keluh seorang murid setelah melihat soal yang menurutnya sangat sulit.
"Iya nih! Masa susah banget sih, bapak bercanda ya?" keluh murid lainnya, membuat kelas menjadi berisik karena semua murid saling berbisik.
Barsena hanya melirik santai soal matematika yang di genggamnya, begitupun dengan Hani. Sementara Ichal melihat soal itu dengan pupil mata bergetar.
__ADS_1
"Gil* soal apaan nih gue gak ngerti sama sekali! Kenapa isinya angka semua b*ngs*t?!" Ichal terus mengumpat dalam hati.
"Pak gimana cara ngisi ini? Soalnya mana? Disini cuma angka doang, mana yang mesti dibaca?!" teriak Andri frustrasi.
"Sudah diam! Waktu kalian dua jam sampai istirahat! Baru nanti dua jam berikutnya akan bapak umumkan hasilnya!" ujar pak Akbar tegas.
Waktu mulai berkurang sedikit demi sedikit. Semua murid mulai menyerah dengan beberapa soal yang sangat sulit dipecahkan. Ichal hanya menatap soal itu sampai matanya memerah, dia melirik Hani yang mengerjakan soal dengan santai.
"Bisa-bisanya dia santai aja, padahal ini soal susah banget!" ujar Ichal dalam hati.
Barsena tiba-tiba berdiri dan menyerahkan lembar jawaban miliknya bahkan sebelum yang lain selesai.
"Wah! Sudah selesai?" pak Akbar takjub pada Barsena.
"Sial! Selalu aja Barsena!" hardik Ichal dalam hati.
Tiba-tiba Hani pun ikut berdiri dan menyerahkan lembar jawaban miliknya, membuat pak Akbar kembali takjub dengan kecepatan dua murid pindahan itu.
"Waktu kalian habis! Selesai ataupun tidak, segera kumpulkan!" perintah pak Akbar dengan tegas. Membuat semua murid kembali mengeluh.
"Udah lah Chal, ayo kumpulin dari dulu juga kita kan gak pernah ngisi kuis siapapun hahaha!" Andri tertawa lalu mengambil lembar jawaban Ichal dan menyerahkannya kepada pak Akbar.
"Nanti hasilnya akan saya umumkan sesudah istirahat." ucap pak Akbar sambil merapikan semua lembar jawaban.
Waktu istirahat tiba, semua orang mulai meninggalkan kelas. Hani berjalan santai di koridor, dia sudah tidak menghiraukan pandangan orang-orang terhadap dirinya.
"E-eh Barsena?!" Hani terkejut saat menyadari Barsena tengah berjalan beriringan dengannya.
"Aku mau ngomong Han!" bisik Barsena di telinga Hani.
Membuat jantung Hani berdegup kencang. Seolah semua kenangan indah dirinya bersama Barsena kembali terputar di otaknya setelah mendengar suara lembut Barsena yang sangat dekat di telinganya.
Hani memang belum sepenuhnya bisa melupakan Barsena yang merupakan cinta pertamanya. Entah kenapa, biasanya Hani akan menghindar saat Barsena mengajak dirinya berbicara. Tapi saat ini dia seolah tersihir oleh suara lembut Barsena dan mulai mengikuti langkah Basena yang membawa Hani ke taman belakang sekolah yang lebih sepi.
"Ngomong apa? Kenapa kita sampe jauh-jauh kesini? Kan di depan juga bisa!" ucap Hani dingin saat menyadari dia berada di taman belakang yang sepi seolah hanya mereka berdua.
"Kalau aku gak bawa kamu ke sini, aku gak bakal pernah ada kesempatan buat ngomong sama kamu Han!" suara Barsena terdengar pilu.
"Kenapa?" suara Hani masih terdengar dingin saat berbicara dengan Barsena.
"Karena disana ada Ichal. Kamu akrab banget ya sama Ichal?" Barsena tersenyum hampa.
"Hah?! A-akrab?!" Hani memastikan pendengarannya tidak salah, saat Barsena menyebut Hani dan Ichal akrab.
Menurut Barsena Hani yang setiap hari cek cok ini dan itu dengan Ichal itu terlihat akrab? Hah mungkin pemuda yang ada di depan Hani ini tidak bisa membedakan antara kesal dan akrab. Jelas-jelas Hani dan Ichal selalu bertengkar setiap berdekatan, kenapa tiba-tiba Barsena menyebut Hani dan Ichal Akrab.
"Iya. Bahkan Ichal udah bawa kamu mengunjungi makam Laras," ucap Barsena lirih.
__ADS_1
"A-apa? Makam Laras? Maksud kamu Ichal bawa aku ke makam Laras? Laras siapa?" lagi-lagi Hani kembali memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
"Kamu ngomong apa sih? Langsung ke intinya aja!" Hani benar-benar kesal saat mendengar Barsena berbicara hal tidak penting di depannya.
"Aku cemburu Han! Aku cemburu setiap kamu dekat dengan Ichal!" ucap Barsena dengan suara yang sangat pilu.
"Cemburu?!" Hani sangat terkejut dengan apa yang baru didengarnya.
"Setelah kamu ninggalin aku sama Andin, sekarang kamu cemburu lihat aku sama orang lain? Kamu egois Barsena!" ucap Hani dengan tegas. Padahal sebelumnya Hani tidak pernah bisa bersikap tegas tapi hari ini dia benar-benar berbeda.
"Aku terpaksa Han!" suara Barsena terdengar bergetar dan menyedihkan.
"Aku sekarang udah gak mau lagi denger kamu bahas itu. Hati aku sakit setiap aku inget kejadian itu! Aku gak bakal tanya kamu kenapa pindah ke sini, tapi aku harap kamu gak ganggu aku selama disini!" setelah Hani berbicara tegas, dia langsung meninggalkan Barsena yang masih tertunduk.
Hani berjalan dengan gontai sambil terisak. Dia kembali mengingat kejadian menyakitkan saat Barsena meninggalkan dirinya. Lima menit lalu mungkin Hani bisa berpura-pura kuat melepaskan Barsena dari hatinya, tapi pada kenyataannya Hani benar-benar menderita karena tidak bisa melupakan Barsena.
Pertahanan hatinya mulai hancur saat melihat Barsena bersedih seperti itu. Padahal dia sudah bertekad untuk melupakan Barsena dan menghapus semua ingatan tentang Barsena. Semuanya seolah gagal karena Barsena malah kembali mendekati dirinya.
Hani terisak di bangku taman sekolah sambil menunduk membuat rambutnya berantakan menempel di pipinya yang basah oleh air mata.
Saat Hani tertunduk, dia melihat sepatu seseorang yang sedang berdiri di hadapanya. Perlahan Hani mengangkat kepalanya untuk memastikan siapa yang berdiri di depannya.
"Lap nih ingus lu! Kenapa sih tiap lu nangis selalu aja keluar ingus kaya gitu? Jorok banget sih jadi cewek!" Ichal terus menggerutu sambil memberikan selembar tisu pada Hani.
Hani hanya tersenyum sambil meraih tisu yang Ichal berikan. Terlintas kembali dalam ingatan Hani saat Ichal memberikan tisu pada Hani yang sedang menangis waktu itu.
"Kamu kok selalu bawa tisu sih? Kamu kan cowok, masa bawa-bawa tisu!" tanya Hani sangat penasaran.
"Bukan urusan lu!" jawab Ichal dingin.
"Aku jadi bingung, sebenernya kamu tuh baik atau jahat sih!" Hani menatap Ichal dengan intens membuat Ichal salah tingkah dibuatnya.
"Te-terserah lu aja! Mau anggap gue baik atau jahat juga!" Ichal menjawab dengan gugup tapi tetap berusaha santai dan dingin.
"Tuh kan kamu tuh sebenernya apa sih?!" Hani berdecak mendengar jawaban Ichal.
***
Sebenarnya saat Hani dan Barsena berjalan ke taman belakang, Ichal diam-diam mengikuti mereka. Dia bersandar di balik pohon besar sambil mendengarkan obrolan mereka.
Ichal terkejut saat mengetahui Hani adalah mantan kekasih Barsena. Dan yang lebih membuat terkejut adalah saat Barsena merasa cemburu karena kedekatan Hani dan Ichal yang terlihat akrab.
"Akrab?! Udah gil* tuh bocah!" Ichal mengumpat dalam hati saat mendengar pernyataan Barsena.
"Sial sampai Laras pun di sebut. Dasar gak tahu malu!" hardik Ichal saat mendengar nama Laras disebut oleh Barsena.
Kemudian Ichal melihat Hani yang berjalan sambil terisak. Entah setan apa yang merasuki Ichal, dia langsung mengikuti langkah Hani yang terlihat sangat tidak bertenaga itu dengan perlahan di belakang Hani.
__ADS_1
"Kenapa sih kalian selalu nangis kalau udah urusan sama bocah b*ngs*t itu?" Ichal terus mengumpat dalam hati sambil mengulurkan tisu pada Hani. Dia sekilas teringat sosok Laras sahabatnya saat melihat Hani terisak di depannya.