Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.26 Jawaban Rasa Penasaran


__ADS_3

"Ini bakal bener-bener sulit!" batin Hani saat melihat kekacauan di depannya.


Tugas kelompok yang diinginkan cepat selesai malah belum sedikitpun ada yang dikerjakan.


Andri malah sibuk mengupil atau sesekali menguap, Ichal malah menelungkupkan wajahnya ke atas buku mencoba untuk tidur, Salsa malah sibuk merapikan riasannya, sedangkan yang bekerja untuk mengerjakan tugas hanya Barsena dan juga Hani.


"Jadi kalian cuma mau numpang nama doang?" ucap Barsena tiba-tiba.


Brakk!


Ichal menggebrak meja tak terima dengan ucapan Barsena.


"Kenapa? Lo kesel?" Barsena mendengus.


"Maksud lu apa hah?! Numpang nama doang?!" bentak Ichal sambil menarik kerah Barsena.


"Yang berisik di dalam perpustakaan akan saya keluarkan!" teriak seorang pustakawan.


"Aduuuh! Udah deh kalian jangan berantem mulu, kalau mau berantem nanti aja kalau tugas kelompoknya udah beres!" bisik Hani.


Ichal menghempaskan kerah Barsena dengan kasar.


"Oh, udah jam segini waktunya pulang. Sorry hari ini gue ada jadwal buat perawatan wajah sama mommy gue." ucap Salsa sambil merapikan rambutnya dan menenteng tasnya.


"Apa?! Pulang?! Kita bahkan belum ngerjain apa-apa!" teriak Hani kesal.


"Udah lah, ayo balik." ucap Ichal sambil menarik pergelangan tangan Hani.


"Gak bisa! Kita harus kerjain ini dulu sampai beres!" ujar Barsena sambil menahan tangan Hani.


"Waaaah, adegan apaan nih? Penuh dengan romansa," pekik Andri yang menyaksikan adegan itu.


Sementara Salsa sudah berlari keluar sebelum adegan itu terjadi, jika Salsa menyaksikan itu bisa jadi keributan di perpustakaan tak akan bisa terelakkan pasalnya antara Barsena dan Ichal juga hampir menimbulkan kericuhan besar.


"Lepasan gak?!" dengus Ichal.


"Lo yang lepasin!" hardik Barsena.


"Lu!"


"Lo!"


"Elu!"


"Elo!"


"Lepasiiiiiiiin!" teriak Hani kesal sambil menghempaskan kedua tangan yang menahan tangannya.


"Kalian kenapa sih?" teriak Hani kesal lalu berlari meninggalkan perpustakaan.


Mereka tak peduli dengan pustakawan yang menegur karena berisik.


"Ini gara-gara lu!" hardik Ichal.


"Justru ini gara-gara lo!" balas Barsena.


"Hoaaaaaaam!" Andri menguap menyaksikan kelakuan dua orang di depannya.


***


"Dasar kenapa aku harus satu kelompok sama mereka silih?!" jerit Hani frustrasi.


Hani berjalan dengan perasaan dongkol.


"Kyaaa ... tolong! Lepasiiin!!!" samar-samar Hani mendengar jeritan meminta tolong dari sessorang.


Hal ini membuat Hani waspada, dia berjalan perlahan-lahan sambil mendengarkan dengan seksama jeritan meminta tolong itu.


Makin Hani berjalan maju suara jeritan itupun makin terdengar jelas. Hani berlari dan melihat seorang gadis sedang diseret oleh seorang laki-laki yang terlihat sangat kekar, lalu sedetik kemudian laki-laki itu membekap mulut gadis itu sehingga dia kesulitan untuk berteriak.


Hani benar-benar syok saat melihat kejadian itu, Hani melihat gadis itu akan di masukan ke dalam mobil van hitam tapi gadis itu terus berontak.


"Toloooong ... ada penculikan!!! Toloooooong!!!" tanpa sadar Hani berteriak meminta tolong tanpa mempedulikan bahaya yang mungkin mengintainya.


Warga yang kebetulan mendengar itu mulai berdatangan.


Laki-laki itu panik dan langsung melepaskan gadis yang dibekapnya dengan menghepaskan gadis itu dengan kasar ke atas aspal. Lalu laki-laki itu memasuki mobil dan kabur.


"Awww ...," gadis itu meringis merasakan pedih di lututnya.

__ADS_1


"Kamu gak papa 'kan?" tanya Hani yang sudah ada di depan gadis itu.


"I-iya aku gak papa," jawab gadis itu.


"Aduh! Lutut kamu berdarah, pasti sakit ya?!" panik Hani.


"Gak papa kok Kak, luka gini mah udah biasa!" gadis itu berkata tegar.


"Eh, bentar kayaknya aku punya plester deh di tas aku!" ucap Hani sambil mencari plester di tasnya.


Gadis itu menatap wajah panik Hani yang mencari plester dengan tergesa-gesa di tasnya.


"Kayak pernah lihat Kakak ini, tapi dimana ya?" batin gadis itu.


"Naaaah ketemu!" ujar Hani.


Hani perlahan dan sangat hati-hati menempelkan plester ke lutut gadis itu. Sementara gadis itu terus menatap wajah konsentrasi Hani dengan seksama.


"Kak, sebelumnya kita pernah ketemu gak?" pertanyaan itu tiba-tiba meluncur dari mulut gadis itu.


"Kenapa? Kayaknya engga tuh," jawab Hani santai.


"Gak papa, cuman wajah Kakak kaya gak asing aja,"


"Hahaha ... kamu ada-ada aja!" gelak Hani.


"Oh iya, nama Kakak siapa? Aku harus berterima kasih sama Kakak karena udah tolongin aku," tanya gadis itu sambil tersipu.


"Panggil aja aku Hani. Dari pada itu, kenapa kamu bisa berurusan sama preman kayak gitu?" ucap Hani.


"Oh, Kak Hani. Kenalin aku Kira, preman?" ucap gadis itu heran.


"Iya, laki-laki kekar yang tadi itu preman kan?" ujar Hani.


"I-itu, aku juga gak tahu Kak. Tiba-tiba dia seret aku pas lagi jalan," ucap Kira gemetar.


"Oke, mending sekarang kamu pulang aja. Bahaya!" ucap Hani.


"Makasih Kak Hani!" teriak Kira dengan senyum mengembang.


Hani hanya mengangguk sambil tersenyum dengan manisnya.


***


"Aku yakin deh, sebelumnya aku pernah lihat Kakak itu tapi dimana ya?" gumam Kira sambil berjalan.


"Duaaarr!" seseorang mengagetkan Kira.


"Kyaaa ...!" jerit Kira karena kaget.


Bukk!


Kira memukul punggung pemuda yang mengagetkannya dengan cukup keras.


"Kakak gil* ya! Gimana kalau Kira serangan jantung?!" bentak Kira saat mengetahui bahwa Barsena yang telah mengagetkannya.


"Hahaha ... maaf De!" Barsena tertawa dengan keras saat melihat adiknya kesal.


"Oh, sekarang aku tahu siapa Kakak cantik yang tadi!" teriak Kira tiba-tiba membuat Barsena terdiam menghentikan tawanya.


"Kakak cantik?" tanya Barsena heran.


"Iya tadi aku lagi diseret sama ayah, terus ada Kakak cantik yang tolongin aku namanya Kak Hani. Pas aku lihat dia, kayak pernah ketemu padahal aku cuman lihat foto yang ada di laci Kakak, dia siapanya Kakak?" tanya Kira dengan wajah menyelidik.


"Ayah? Kakak cantik? Hani? Foto? Kamu ngomongin apa sih?" cecar Barsena heran.


"Haaaah! Waktu itu aku lihat ada foto gadis cantik di laci Kakak, terus aku tanya siapa Kakak malah ngambek. Ternyata itu foto Kak Hani ya? Waah Kak Hani siapanya Kakak nih?" goda Kira.


"Dari pada nanyain itu, ayah ngapain sampai seret kamu di jalanan kayak gini? Kamu gak terluka 'kan?" cecar Barsena cemas.


"Enggak, cuman sedikit luka lecet aja di lutut aku! Tapi Kak Hani udah pakein plester kok," jawab Kira.


"Dasar!" gumam Barsena.


"Tapi, tadi Kak Hani malah nyangka ayah preman loh," ucap Kira lalu tertawa.


"Emang Bener 'kan, ayah kita itu preman makanya kerjaannya cuma mukul orang," ketus Barsena.


"Heem ... heem ayo pulang ah!" ajak Kira.

__ADS_1


***


"Hatsyiii!!!" Hani yang sedang berjalan sendiri terus menerus bersin.


"Aduuuh! Siapa yang lagi ngomongin aku sih hatsyiii ...!" gumam Hani kesal.


Saat Hani sampai di rumahnya dengan kasar dia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuknya.


"Hari ini kok cape banget sih," gumam Hani.


"Tugas kelompok ga dikerjain gara-gara malah pada sibuk sendiri,"


"Tau ah pusing," jerit Hani frustrasi.


Hani bangkit lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, entahlah hari ini Hani benar-benar merasa lelah karena aktivitasnya.


Beberapa saat kemudian Hani keluar dari kamar mandi sambil menyeka rambutnya yang basah dengan handuk putih. Dia duduk di tepi ranjang sambil terus menyeka rambutnya.


Hani melirik jam di nakas menunjukan pukul 19:15 menit, dia bangkit lalu menuruni anak tangga dengan langkah malas menuju dapur untuk mengambil beberapa kudapan lalu menyalakan televisi di ruang tamu.


Hani terus menekan remot televisi tapi menurutnya tidak ada acara yang menyenangkan.


"Bosen!" gumam Hani sambil menyandarkan punggungnya dengan lemas ke sandaran sofa.


Hani menatap langit-langit di ruang tamu dengan tatapan kosong. Entah sedang berlayar kemana pikirannya kali ini, yang jelas Hani begitu malas dan terus bengong.


Hani melahap kudapan yang tadi diambilnya, dia mengunyah dengan perlahan sambil menatap televisi dengan tatapan kosong.


Plakk!


Hani menampar pipinya sendiri dengan cucup keras.


"Sadar Hani! Kamu kenapa sih?" teriak Hani dengan semangat.


Hani terfokus pada satu berita yang menarik perhatiannya.


"Besok bertepatan dengan peringatan kematian putri angkat pebisnis Srindra Adamar. Yang mana publik sudah ketahui, mendiang Larasati Utari Adamar adalah anak angkat dari pebisnis sukses Nyonya Srindra. Namun nahas pada umurnya yang baru menginjak 16 tahun, mendiang Laras nekat mengakhiri hidupnya,"


"Akankah Srindra Adamar akan menampakan dirinya kembali pada publik pada saat hari peringatan ataukah tidak? Seperti yang diketahui Srindra mendapat sanksi atas kelalaiannya mengurus mendiang. Dan setelah itu, Nyonya Srindra seolah hilang ditelan Bumi ... bla ... bla ... bla ...,"


Mata Hani membulat setelah mendengar berita itu. "Srindra Adamar?" gumamnya.


Hani bangkit lalu berlari menaiki anak tangga dengan tergesa hingga membuat dia tersandung dan membuat lututnya terluka. Hani sedikit meringis tapi tak menghiraukan sakitnya dia mengambil sebuah kunci lalu membuka pintu dengan tergesa.


Ceklek!


Pintu terbuka, Hani langsung berlari dan menyingkap semua tumpukan buku di meja kamar neneknya yang beberapa waktu lalu pernah Hani masuki.


"Aku yakin pernah lihat nama itu tertulis di salah satu buku nenek," gumam Hani dengan bergetar.


"Ketemu!" Hani membuka secarik kertas yang sedari tadi dicarinya.


Dia membuka kertas itu dan tertulis 'Srindra A. Jln. Melati no. 54'.


"I-ini pasti bener dia!" gumam Hani.


Dia lalu meraih peti kecil yang sebelumnya juga pernah ia buka.


Kembali dia mengamati semua isi dari peti kecil itu. Air matanya tak bisa di bendung saat dia melihat selembar foto bayi yang terlihat lucu.


Dia kembali membuka surat yang terdapat di dalam peti kecil itu.


Dia kembali membuka surat yang terdapat di dalam peti kecil itu.


"Tolong rawat anak kami, kami tidak sanggup merawat dua anak sekaligus. Apalagi dengan nyawa kami yang sedang terancam karena dia terus menyasar nyawa kami."


Marwah dan Adamar.


Hani kemudian mencocokan nama Srindra Adamar dan juga nama Adamar yang tertulis di surat itu.


"Aku tahu Adamar adalah nama papah, karena nisan di makamnya juga tertulis demikian. Tapi hubungan papah sama wanita bernama Srindra Adamar itu apa? Yang terpenting lagi hubungan semua cerita itu sama aku apa? Jadi kali ini bakal jelas kalau aku anak yang dibuang papah sama mamah karena aku juga nemuin surat ini di kamar nenek,"


Hani terus meneliti kemungkinan yang mungkin terjadi.


"Kenapa papah sama wanita itu punya nama belakang yang sama?"


"Larasati Utari? Siapa dia? Anak angkat juga? Itu artinya dia punya nasib sama kaya aku,"


"A-atau jangan-jangan ... Ichal?!"

__ADS_1


__ADS_2