
"Haaaaa ... I-ini kan?!" tangan Hani bergetar hebat saat melihat foto itu.
Pupil matanya bergetar seiring dia meneliti potret tiga orang yang terlihat tak asing di matanya. Tiga orang yang tersenyum bahagia, sekitar usia sekolah menengah pertama.
"Bu-bukannya ini Barsena? Kenapa bisa sama Ichal. Terus cewek ini siapa?" gumam Hani.
"Laras? Mungkin anak ini yang bernama Laras." Hani menyimpulkan sendiri sambil kembali menyimpan foto itu ke dalam laci lalu menutupnya.
Hani kembali berbaring di ranjang dengan perasaan campur aduk, dia merasa ada hal besar di antara Barsena dan Ichal yang mereka sembunyikan.
***
Pagi hari sudah menjelang, Ichal masuk ke kamarnya dengan rambut acak-acakan khas orang bangun tidur. Dia kembali ke kamarnya untuk bersiap sekolah, sementara semalam dia memilih tidur di ruang tamu.
Dia melihat Hani masih terlelap tidur, tanpa sadar Ichal tersenyum melihat posisi tidur Hani yang berantakan.
"Dasar cewek aneh ini!" gumam Ichal tersenyum.
Ichal lalu masuk ke kamar mandi untuk mandi dan bersiap sekolah.
Hani yang mendengar ada aktivitas di dalam kamar mandi perlahan terbangun, dia mendengar bunyi gemericik air.
"Mungkin Ichal mandi kali ya." gumam Hani sambil melirik pintu kamar mandi.
Tidak lama kemudian, Ichal keluar dari kamar mandi sudah siap dengan seragam lengkapnya. Hani terpaku menatap Ichal dengan rambut yang masih basah sehabis mandi.
"Ya Tuhan, ko Ichal hari ini keliatan keren banget sih!" gumam Hani dalam hati.
"Apa lu liat-liat!" bentak Ichal membuyarkan lamunan Hani.
"Astaga, aku mikir apa sih." Hani menjerit dalam hati sambil menutup wajahnya.
"Lu kenapa sih? Aneh banget," ketus Ichal melihat tingkah aneh Hani.
"Ayo turun sarapan, hari ini lu gak usah masuk sekolah dulu kalau masih sakit!" perintah Ichal.
Hani turun dari ranjang dengan sedikit meringis, sepertinya masih terasa perih di telapak kakinya. Ichal menghela nafas panjang melihat Hani yang terus bertingkah so kuat.
"Hari ini pokonya aku mau sekolah!" teriak Hani semangat.
"Yakin?" ucap Ichal dengan tatapan tidak yakin dengan Hani.
"Yakin!" jawab Hani tegas.
"Are you sure?"
"Yes, i'm sure Mr. Ananta!" Hani menjawab sambil memutar bola matanya.
"Oke!" jawab Ichal singkat.
Hani dan Ichal sudah selesai dengan sarapannya, pagi ini Tamara ibunya Ichal sudah berangkat karena ada rapat mendadak. Ichal bilang dia sudah terbiasa dengan hal seperti ini, tapi kenyataannya dia tidak pandai menyembunyikan kekesalannya.
***
Kini mobil Ichal sudah sampai di area sekolah, perlahan dia memarkirkan mobilnya di area khusus parkir mobil. Seperti biasa tatapan gadis-gadis terutama adik kelas akan memperhatikan Ichal yang keluar dari mobilnya.
Ichal keluar dengan santainya sambil mengusap rambutnya, membuat beberapa orang yang melihatnya histeris dibuatnya.
"Kyaaa ganteng banget, sumpah kaya mau mati rasanya!"
Ichal hanya menggeleng mendengar reaksi berlebihan dari orang itu.
Bughh!
"Woy, nyet lu kemaren kemana gak masuk?Sumpah ya lu makin sini makin bikin guru benci sama lu," ujar Andri sambil memukul punggung Ichal dengan cukup keras.
Ichal hanya melirik Andri tanpa memperdulikan Andri. Dia berputar hendak membuka 'kan pintu mobil untuk Hani keluar tapi dia terlambat, Hani sudah keluar dengan sendirinya.
"Busyeeet ... ko lu bisa bareng? Sa-sama dia!" pekik Andri.
"Ceritanya panjang, otak lu gak bakal nyampe!" ejek Ichal.
Ichal lalu menghampiri Hani yang masih berdiri. "Ayo jalan," ajak Ichal.
__ADS_1
Hani mengangguk lalu berjalan pelan dengan tertatih, Ichal kembali menghela nafas panjang karena kesal.
"Gue bilang juga apa, kalau masih sakit udah istirahat aja di rumah. Ngeyel sih jadi orang!" ketus Ichal.
"Aku kuat!" ujar Hani semangat. Ichal hanya menggeleng heran dengan sifat keras kepala gadis di depannya ini.
"Ya udah ayo cepet jalan," ucap Ichal dengan datar.
"Kamu gak lihat, dari tadi aku lagi jalan?"
"Mana?" Ichal melirik jarak yang sudah dilalui Hani hanya sekitar setengah meter.
"Sumpah ya, lu keras kepala banget." ujar Ichal sambil tiba-tiba mengangkat tubuh Hani di depan orang-orang, membuat Hani menjerit karena kaget.
"Ayo, nyet jalan!" ajak Ichal pada Andri yang masih melongo tak mengerti dengan apa yang terjadi antara Hani dan Ichal, tetapi dia juga tidak berani bertanya.
Andri mengekor di belakang Ichal yang menggendong Hani.
"Kenapa kak Ichal pake gendong cewek caper itu sih?"
"Gil*, hati gue potek gara-gara ini,"
"Jadi ngiri banget sama cewek itu, dia bisa deket-deket sama kak Ichal,"
"Dasar cewek caper!"
"Selera kak Ichal ternyata rendah banget, cewek caper gitu dilayanin. Pokonya mulai hari ini aku berhenti suka sama dia!"
Ichal, Hani, dan Andri dengan jelas mendengar ucapan-ucapan orang-orang yang memperhatikan mereka. Ichal melirik ekspresi Hani yang sepertinya hendak menangis, tiba-tiba saja Ichal menghentikan langkahnya.
Andri melirik ekspresi Ichal yang mulai tidak enak, karena ucapan yang terkesan merendahkan dan menyudutkan Hani.
"Sabar, Chal lu jangan sampai emosi!" bisik Andri menenangkan.
"Nyet?" ucap Ichal tenang.
"Apaan?" jawab Andri.
Membuat Andri bergidik saat mendengar itu, sementara Hani tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Sesaat Ichal menarik nafas panjang lalu ....
"HEH! EMANGNYA GUE PERNAH MINTA KALIAN BUAT SUKA SAMA GUE?!" bentak Ichal tiba-tiba membuat suasana menjadi hening karena anak-anak itu tersentak.
"KALAU LU SEMUA MAU GAK SUKA SAMA GUE, YA UDAH SILAHKAN! BIKIN PUSING AJA TIAP HARI DENGER SUARA JERITAN GAK JELAS DARI CEWEK CAPER KAYAK KALIAN!" Ichal sekarang benar-benar meledak.
"YANG CAPER DI SINI TUH KALIAN, BUKAN HANI. JADI BERHENTI OMONGIN HANI, DASAR GAK GUNA!"
Celaka emosi Ichal kali ini benar-benar meledak.
"Busyeeet ... Chal sabar Chal aduuuuh!" teriak Andri heboh menenangkan Ichal. Sementara Hani mulai berdebar karena Ichal berani membentak mereka dengan tegas untuk membela dirinya.
"Nyet, barusan gue keren gak?" bisik Ichal lalu terkekeh puas.
"Dasar bikin orang jantungan aja sih, gue takut lu kenapa-napa kalau marah-marah nyet nyet!" pekik Andri.
"Gue akting doang nyet, ayo jalan!" ungkap Ichal santai.
"Akting? Jadi dia bela aku juga cuma akting? Haah sadar Hani, kamu jangan terlalu percaya diri. Semua yang Ichal lakuin buat kamu itu cuma karena dia kasihan sama kamu!" pekik Hani dalam hati.
***
Kini Hani sudah duduk di kursinya, Barsena langsung menghampiri Hani.
"Han kamu baik-baik aja kan?" tanya Barsena cemas.
"Iya," jawab Hani singkat.
"Syukurlah, aku bener-bener khawatir sama kamu," ujar Barsena.
"Oh," ucap Hani malas.
"Si nenek lampir gimana?" tanya Ichal.
"Beres, udah dihukum sama guru BK. Dia sikat toilet kotor di sekolah ini," jawab Barsena lalu tertawa mengingat ekpresi Salsa yang terus merengek.
__ADS_1
"Bagus deh!" ujar Ichal.
Hani melirik Ichal dan Barsena lalu dia kembali teringat dengan foto yang semalam dia lihat di kamar Ichal. Foto yang sepertinya penuh kenangan. Sebenarnya ingin sekali Hani menanyakan perihal foto itu dan hubungan antara Ichal dan Barsena, tapi dia berpikir itu terlalu mencampuri urusan mereka.
Lagi pula setelah dilihat-lihat sekarang, hubungan Ichal dan Barsena sepertinya tidak baik-baik saja. Hani terus memikirkan hal itu, yang menurutnya tidak penting tapi sangat mengganggu pikirannya karena terlalu penasaran.
"Haaaaaaah!" tanpa sadar Hani menghela nafas panjang.
"Kenapa?" tanya Ichal datar.
Hani tersentak. "Ah ... uh ... ummm ... gak papa ko!" jawab Hani gelagapan.
"Aneh!" ketus Ichal.
***
Salsa berjalan angkuh di koridor diikuti Chika di belakangnya. Mood Salsa benar-benar jelek karena terus mendapat tekanan dari Barsena.
"Hih, Barsena brengs*k!" jerit Salsa tiba-tiba membuat Chika terlonjak karena kaget.
"Sumpah, si Salsa udah gil* kali, gara-gara keseringan nyikat toilet," gumam Chika sambil terkikik pelan karena takut ketahuan oleh Salsa.
Chika memasuki kelas dengan wajah ditekuk sepertinya dia benar-benar kesal.
"Waaah princess kita kenapa nih mukanya ditekuk, lagi dapet?" ejek Andri yang pertama melihat Salsa.
"Jangan ngomong sama gue! Iww gak level!" ucap Salsa sambil mengibaskan rambutnya, lalu duduk di kursinya.
"Sal, jangan lupa hari ini masih ada toilet di sebelah utara belum disikat!" ujar Barsena mengingatkan. Lalu disambung oleh tertawaan puas Andri membuat Salsa semakin kesal.
"Sumpah ya cecunguk gak guna!" jerit Salsa frustrasi.
***
Saat istirahat ....
"Chal, lo suka sama Hani?" tanya Andri tiba-tiba.
Uhukk!
Ichal yang tengah asik melahap makanannya tersedak karena pertanyaan mendadak dari Andri.
"Hah, udah gil* ya? Kenapa tiba-tiba nanya gitu?" sungut Ichal.
Andri malah nyengir melihat reaksi Ichal yang menjawab pertanyaannya dengan ketus.
"Gini ya Chal, gue udah tau lu dari dulu. Sifat lu tuh cendrung cuek dan dingin mau itu sama cewek ataupun cowok termasuk sama gue, hadeeeeh ... dan sifat lu sama Hani tuh beda. Walaupun ya tetep lu pura-pura ga peduli, tapi ujung-ujungnya lu tetep peduli sama Hani," jelas Andri.
Ichal tertegun mendengar penjelasan Andri. Dia jadi merasakan debaran misterius di dadanya.
"Gue tahu lu masih punya rasa bersalah tentang kepergian Laras, tapi gue harap lu bisa move on Chal. Pasti Laras juga bakal sedih kalau lihat lu kaya gini," pungkas Andri.
"Gue gak tahu Dri, yang gue rasa sekarang itu apa," ungkap Ichal.
Andri hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
***
Tring!
Sebuah pesan masuk di ponsel Barsena, dengan malas dia membuka pesan itu.
[Barsena sayang, nanti malem papa mau ketemu sama kamu. Aku harap kamu bisa tampil keren dan rapi nanti malem, love you]
"Males banget," gumam Barsena setelah melihat isi pesan yang ternyata dari Andin.
Tring!
Kembali masuk sebuah pesan.
[Harus dateng. Kalau kamu coba-coba menghindar, ingat konsekuensinya sayang!]
"B*ngs*t!" umpat Barsena dalam hati.
__ADS_1