
Hellen membawa Chris untuk bertemu dengan William, sebelum itu Hellen telah meminta maaf kepada Nyonya Lee dan Chris karna melepaskan Aulie begitu saja, tetapi Nyonya Lee dan Chris tidak banyak berkata apa-apa, karna itu adalah keputusan Hellen terhadap Aulie Kakak tirinya sendiri.
Di rumah sakit, Hellen sudah memberitahu William bahwa dia akan menghantar William kembali ke Kota NY bersama dengan Aulie dan Hellen meminta William untuk banyakkan beristirehat dan serahkan soal Perusahaan kepada Aulie, karna sebelum ini Aulie pernah mengurus Perusahaan mereka.
Tapi Hellen tidak tau bahwa Perusahaan William sedang kacau dan di ambang ke bangkrutan lagi. Chris juga sengaja tidak memberitahunya karna jika Hellen tau dia pasti akan mulai mengkhawatirkan William dan bisa memicu kepada emosinya yang rentan.
"Ayah, sampai di sana jangan lupa minum obatnya dan jaga diri baik-baik. " Ucap Hellen dengan datar walaupun sebenarnya hatinya agak sakit karna kelakuan William terhadap Ibu kandungnya.
"Hellen, kamu tidak ingin pulang bersama Ayah? Lagian kamu di sini dengan siapa? Kamukan sudah tidak tinggal di kediaman utama. " Ucap William dengan wajah ingin membujuk Hellen.
"Ayah jangan bilang Ayah sudah lupa? Biarpun sudah keluar dari kediamanmu, dan Kakek tapi aku sudah menikah, Chris sudah menyediakan rumah untukku di sini. " Ucap Hellen datar.
"Hmm baiklah kalau begitu, kamu juga hati-hati di sini. " Nada kecewa.
Hellen meninggalkan William di rumah sakit dan membiarkan Jerry mengurus kepulangan William dan Aulie ke Kota NY.
****
Aulie dan William telah sampai di Kota NY, mereka di hantar oleh anak buah Chris sehingga sampai ke kediaman Gramor.
Setelah berada di kediaman William langsung di kejutkan dengan Perusahaannya mengalami banyak kerugian karna Perusahaan Porselein baru itu telah mengambil banyak pelanggan mereka. Pemegang saham juga banyak menarik kembali saham mereka sehingga saham yang berada dalam Perusahaan sangat kecil dan berada di ambang kebangkrutan, jika terdapat beberapa orang pemegang lagi yang akan menarik kembali saham mereka maka Perusahaan Porselein Gramor akan benar-benar bangkrut.
Pikiran William mulai menjadi kusut dan kacau, dia harus memujuk para pemegang saham untuk kembali menanam saham mereka di Perusahaannya, dan ini akan menjadi masalah yang berat untuk William.
William ingin meminta bantuan Hellen dan Chris tetapi dia sendiri tidak tau bagaimana hendak menghubungi Hellen dan Chris. Satu-satunya cara adalah bertemu dengan Gerry Lee adalah Ayah dari Chris. Tetapi sewaktu sampai di kediaman Lee ternyata Gerry Lee juga tidak berada di kediamannya.
William hampir putus asa karna dia tidak tahu hendak meminta bantuan kepada siapa lagi. Dia larut dalam lamunannya, ponsel William terus berdering tapi dia mengabaikannya sehingga dia sudah tidak tahan mendengarnya dia mengjawab telfonnya dengan nada marah.
"Ya kenapa lagi? Ada lagi yang undur diri hahh kenapa? Kalau tidak suruh saja mereka pergi! " Ucap William dengan nada marah dan membentak.
"Maaf tuan, maaf tapi ini ada seseorang yang ingin menanam saham dengan jumlah besar 60% melebihi saham-saham yang lain. " Ucap sekretaris William.
"Apa? Jangan bercandalah mana mungkin orang mau menanam saham dengan begitu besar, mungkin ini penipuan saja. " Ujar William tidak percaya.
"Tidak Tuan, sekarang mereka berada di kantor dan memegang kontrak jika kita setuju, kita hanya perlu tanda tangan kontrak saja dan Tuan juga bisa mengusulkan sesuatu agar mereka tidak mudah menarik kembali saham mereka, itu kata mereka Tuan. " Jawab sekretaris William lagi dari seberang panggilan sana.
"Hmmm kalau begitu tunggu aku, aku akan ke kantor sekarang. " Ucap William.
"Aku penasaran siapa orang yang sanggup menanam saham dengan begitu besar dan memberi aku kelonggaran dalam masukan, humm apapun aku harus menyakinkan orang ini dengan baik. " Gumam William dalam hati lalu melajukan mobilnya menuju ke kantornya.
__ADS_1
****
"Benarkah mereka akan bangkrut? " Tanya Ellson kepada Sekretarisnya, Nia.
"Benar Tuan, banyak pemegang saham sudah menarik kembali saham mereka. " Ucap Nia.
"Ckk. Aku belum mulai apa-apa masa sudah bangkrut, hmmm sekarang kau urus tanam saham yang besar dan buat mereka yakin dengan kita. " Ucap Ellson dengan sinis.
"Tunggulah aku akan balas dendam untuk kehidupan Kakak dan ponakanku, hmmm Hellen kabar mu bagaimana nak? " Gumam Ellson.
****
William melaju ke kantornya untuk bertemu dengan seseorang yang ingin menanam saham besar di Perusahaannya. Sepanjang perjalanan dia menyakinkan dirinya bahwa ini adalah benar dan nyata, Perushaannya nanti akan di memproduksi hingga ke pasar luar karna dia ingin sekali memasukkan masukan ini di dalam kontrak mereka.
Setelah sampai di kantornya, William tergesa-gesa menuju ke ruang rapat, karna dia sudah mengarahkan kepada Sekretarisnya untuk membawa calonpemegang saham yang baru menunggu di ruang rapat dan akan dilayan dengan baik dari pihak kantor.
William melakukan itu hanya untuk mengambil hati calon pemegang saham Perusahaannya, agar mereka juga bisa percaya dan yakin untuk menanam saham mereka di Perusahaannya.
"Selamat siang, maaf saya agak terlambat karna ada urusan penting di luar tadi. " Ucap William kepada mereka.
"Selamat siang juga Tuan Gramor, tidak apa Tuan, kenalkan saya Nia dan ini adalah asisten saya Alfa. " Nia mengenalkan dirinya dan asistennya lalu menghulurkan tangan untuk bersalaman.
"Begini Tuan, saya ingin menanam saham sebanyak 1juta lembar. Dan untuk pembagiannya saya akan minta 5% dari keuntungan yang akan di dapati oleh Perusahaan, hmm bagaimana Tuan Gramor. " Ucap Nia berwajah negosiasinya.
"Hmm tapi kenapa Nona Nia ingin menanam saham yang begitu besar kalau hendak mendapatkan 5% keuntungan sahaja? Bukankah itu rugi? " Tanya William mulai merasa aneh karna perkiraannya mereka akan meminta setengah daripada keuntungan Perusahaan.
"Untung dan rugi itu semua terserah dengan cara Tuan Gramor mengolah Perusahaan, lagian kalau saya ambil lebih dari 5% hmmm apa Tuan Gramor sanggup bayar gaji para pengrajin? " Nia berbalik tanya kepada William.
"Ummm baiklah ada benarnya juga, tapi bisakah saya ingin masukan sesuatu dalam kontrak kita? " Ucap William menyetujui dan berhati-hati dalam negosiasi ini.
"Bisa silakan. Alfa jangan lupa di catat ya." Ucap Nia.
"Hmm begini, sekarangkan Perusahaan ada pesaing baru jadi saya ingin menggunakan nama Nona dan identitas Nona agar bisa menarik pelanggan dan bisa berkembang hingga ke pasar luar. " Ucap William tanpa basa basi.
"Oh baiklah, silakan. Tentang identitas saya nanti asisten Alfa yang urus semuanya. " Ucap Nia.
William dan Nia pun menandatangan kontrak mereka untuk melakukan penanaman saham di Perusahaan Porselein dan kerjasama dalam membantu membangun kembali Perusahaan William.
Setelah pemegang saham baru telah pulang, William tersenyum sinis, karna dalam pikirannya dia mampu menyaingi Perusahaan baru itu.
__ADS_1
****
Setelah pulang dari rumah sakit, Hellen tanpak murung dan tidak ingin berkata apa-apa. Chris sudah berapa kali menanyakan Hellen apa dia baik-baik saja tetapi Hellen cuma mengangguk dan kembali termenung menghadap ke pintu utama Villa
Sehingga perasaan khawatir Chris sudah tidak bisa di bendung lagi. Chris menarik tangan Hellen dan membawanya masuk ke kamar.
"By kenapa? " Tanya Hellen agak kaget karna Chris menarik tangan dengan tiba-tiba.
"Sayang, sebenarnya By yang mau tanya kepada sayang, sayang sebenarnya kenapa? " Pertanyaan Hellen dipertanyakan balik oleh Chris.
"Aku tidak kenapa-kenapa By, kenapa By keliatan khawatir? " Ujar Hellen.
"Hmm kalau tidak kenapa-kenapa, sayang tidak akan memasang wajah murung dan melamun. Ia sudah jelas By khawatir karna melihat sayang tidak ceria, apa sayang ada merasa sakit? Atau tidak enakan? " Ucap Chris dengan nada sedikit panik.
"By, aku okey, cuma aku teringat dengan Paman Ell. " Ucap Hellen.
"Paman Ell siapa sayang? " Tanya Chris lagi.
"Paman Ellson dia adik kandung ibu By, dulu dia yang menyemangati dan menjadi penyelamat aku agar aku akan terus melanjutkan hidupku biarpun tanpa Ibu, dan dia berjanji akan kembali dalam tahun ini cuman aku tidak bisa mendapatkan apa-apa informasi tentang Paman Ell, makanya aku agak sedikit sedih. " Ujar Hellen jujur.
Chris hanya mengangguk mendengar kata-kata Hellen dan menyimaknya. Karna selama ini Helle tidak pernah berbicara tentang Ellson, tapi setelah mendengarkannya rupanya masih ada orang yang berada di sisi Hellen sewaktu dia berada di Negara M.
Chris memang agak sedikit kecewa tetapi dia tidak menunjukkan karna dia tau dia juga ada salah dalam hal ini. Dia hanya bisa memaklumi keadaan Hellen, dia juga menyakinkan dirinya mungkin sebelum ini bukan waktu yang tepat untuk menceritakan semua masa lalu Hellen.
"Hmmm baru Paman Ell berada di mana sekarang? " Tanya Chris sambil mengusap kepala Hellen.
"Aku tidak tau, beberapa tahun kemarin dia bilang padaku dia bekerja di Negara X tapi sekarang aku sudah tidak tau lagi. " Ucap Hellen.
"Negara X ? Berarti mungkin Paman Ell ada di sini dong sayang. " Ucap Chris.
"Hmm tapi kita tidak tahu Paman Ell di mana By, Negara ini luas By humm. " Ujar Hellen sambil memuncungkan mulutnya.
"Hmm By tidak janji tapi nanti By usahakan cari ya sayang, sayang jangan murung lagi. Ayo senyum dulu. " Ucap Chris membujuk Hellen.
"Terima kasih By. " Hellen tersenyum sumringah mendengar perkataan Chris.
Bersambung....
Maaf yah readers, semalam author ketiduran mau update bab 41 hahaha.. Selamat menikmati ya ... Jangan lupa komen dan favorite 😆
__ADS_1