DIBERI CINTA PRIA POSESIF

DIBERI CINTA PRIA POSESIF
Bab 68


__ADS_3

Hellen menatap wajah Chris yang sedang tertidur dengan nyenyak karna terlalu banyak minum minuman berakohol. Terbesit rasa bersalah dalam hati Hellen. Tetapi dia juga tidak mampu menerima kenyataan bahwa Ellson memiliki kelainan jiwa terhadap dirinya.


Baginya hal yang di sampaikan oleh Chris tadi hanya tuduhan dan untuk mencari kesalahan semata-mata, Hellen tau bahwa Chris berdendam kepada Ellson karna telah merencanakan rencana pembunuhan dirinya tapi yang menjadi korban malah beberapa orang anak buah Chris demi melindunginya.


Hellen mulai merasa sesak di dada karna masalah ini tapi pilihan apa yang dia ada, Hellen tidak mau kehilangan satu-satunya keluarga dari sebelah mendiang Ibunya. Setelah lelah memikirkan hal itu, Helle akhirnya terlelap di samping Chris.


****


Di kediaman Gramor.


William dan Rieta sangat cemas karna putri mereka Aulie sudah dua hari menghilang. William juga telah melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib tapi sampai saat ini belum ada hasil laporan tentang keberadaan Aulie yang mereka dapat dari pihak berwajib tersebut.


Hanya beberapa jam lalu, pihak berwajib membuat kesimpulan setelah menganalisa laporan William. Mereka menebak bahwa Aulie sedang berpergian bersama kekasihnya. Karna isi laporan tentang sehari-hari Aulie yang lebih banyak menghabiskan waktunya di klub malam membuat pihak berwajib memberikan pernyataan tersebut.


Memang William merasa sangat marah apabila pihak berwajib tersebut menganggap hal ini bukan hal yang berat. Rieta ibu dari Aulie sempat tidak sadarkan diri apabila mendengar penyataan dari pihak berwajib tersebut.


Kini William dan Rieta duduk diam di ruangan keluarga. Tidak ada satupun dari mereka yang membuka suara karna masing-masing tengelam dalam pikiran mereka.


Sehingga bunyi ponsel William berbunyi "ting" notifikasi pesan masuk. Dengan cepat William membuka isi notif pesan tersebut.


Brugghhh "bunyi ponsel jatuh di lantai"


Rieta kaget melihat hal itu. Dia menatap William dengan raut wajah yang bingung karna wajah William dengan mata membulat sempurna dan tercengang, membuat Rieta kebingungan. Tapi Rieta tidak ada inisiatif untuk mengambil ponsel William yang jatuh ke lantai itu.


"Will? Kau kenapa seperti kaget begitu? " Tanya Rieta.


William hanya menatap kosong ke tangannya, dia tidak menjawab pertanyaan Rieta. Tidak tahu hendak berkata apa setelah melihat isi pesan yang di bacanya tadi.


Melihat raut wajah William dengan tatapan kosong membuat Rieta cemas, entah kenapa firasatnya menuju ke arah anak semata wayangnya itu. Rieta mendekati William lalu mengambil ponsel William yang sudah tergeletak di lantai.


Rieta melihat isi pesan itu dan raut wajahnya berubah.

__ADS_1


"ANAKKU!!! AULIE!!! " Ucap Rieta dengan teriakan histeris.


Isi pesan tersebut..


"Aulie telah menjadi seorang PEMBUNUH dan sekarang dia mendapat karmanya setelah membunuh beberapa anak buahku! Dia akan cacat selamanya !! Berani lapor berarti kamu akan kehilanngan Aulie!! Haha!! ~~ foto Aulie dengan kakinya berlumuran darah dan wajahnya yang sudah babak belur. ~~"


Itulah isi pesan yang membuat William tidak bisa berkata apa-apa, dia sebenarnya memilih untuk tidak percaya dengan pesan tersebut tapi hati kecilnya merasa sakit seperti ada kebenaran dalam pesan itu.


William tidak melakukan apa-apa, dia menatap iba kepada Rieta yang sedang menangis histeris. William menghembus nafas kasar karna kepalanya sudah mulai pusing. Beberapa menit kemudian ponsel William kembali berbunyi dengan nada notifikasi pesan masuk.


Dengan cepat William merampas ponsel tersebut dari tangan Rieta lalu membuka pesan yang masuk itu.


"Jl. Anselio, lorong kecil. Foto Aulie "


William langsung bergegas menuju ke arah pintu utama setelah membaca pesan tersebut. Tidak lupa dia sempat memanggil para pelayannya untuk membawa Rieta ke kamarnya agar bisa lebih tenang. Karna saat ini pandangan mata Rieta sangat kosong, karna dia pikir dia akan kehilangan anak semata wayangnya itu.


William membawa beberapa anak buahnya menujunke alamat yang di kirim lewat pesan tadi. Dan benar saja setelah sampai di alamat itu, William melihat Aulie yang tergeletak di lorong itu dalam keadaan tidak sadarkan diri.


William menatap wajah Aulie yang penuh babak belur dan melihat ke arah kedua kakinya yang penuh luka dan darah yang telah mengering. Pemandangan ini membuat bening cair matanya keluar dengan deras.


Setelah sampai di rumah sakit, doktor dan beberapa perawat keluar dengan cepat sambil mendorong branker. Anak buah William yang bergegas memanggil mereka tadi.


Aulie di letakkan di branker dan di bawa masuk ke UGD, William hanya bisa menunggu di depan ruangan dengan keadaan yang tidak tenang. William terus mondar mandir.


****


Kembali ke kediaman Lee.


Keesokan paginya, Hellen bangun dari tidurnya tapi dia tidak mendapatkan Chris di sebelahnya, dia coba meraba tempat tidur Chris dan ternyata sudah terasa dingin.


"Apa dia sudah pergi? " Ucap Hellen dengan suara perlahan.

__ADS_1


Tidak lama pintu walk in closet di buka dan Chris keluar dari dalam sana dengan wajah yang datar dan pakaian kantor yang telah rapi.


"By? " Ucap Hellen agak kaget.


Chris tidak menjawab sepatah kata pun. Dia hanya berdiri di depan pintu itu dengan wajah datar dan menatap ke arah Hellen.


Hellen yang merasa aneh dengan sifat Chris akhirnya bangun dari tempat tidurnya lalu berjalan menuju ke arah Chris. Dan kini mereka saling berhadapan.


"Apa By masih kesap dengan ku? " Tanya Hellen lagi dengan wajah serius.


"Aku akan mengirimmu ke markas dan kau lepaskanlah Ellson. Aku sudah memberi arahan kepada anak buahku. " Ucap Chris dengan datar lalu langsung ingin pergi meninggalkan Hellen tapi langkah terhenti apabila Hellen menarik tangan kirinya.


"Apa kita akab terus begini? Aku cuma tidak mau kehilangan Paman, dan aku ingin keadilan untuknya. " Ucap Hellen sambil menatap punggung Chris.


Chris mendengar kata-kata Hellen dan hatinya merasa sakit. Chris melepaskan tangannya dengan kasar lalu pergi meninggalkan Hellen sendiri di dalam kamar mereka itu.


Hellen yang melihat perlakuan dingin Chris kepadanya membuat dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Setelah Chris keluar dari kamar mereka dan hanya tinggal bau parfum saja, Hellen terduduk di depan pintu walkin closet tersebut karna dia merasa kedua kakinya tiba-tiba saja melemah.


"Apa yanh harus aku lakukan? " Ujar Hellen kini dia mulai bingung.


Hellen tidak bergerak dari tempatnya sehingga seorang pelayan masuk ke kamarnya untuk mempersiapkan Hellen. Lamunan Hellen membuyar apabila pelayan tersebut memegang pundaknya dan memanggil namanya dengan lembut.


Setelah Hellen sudah selesai dengan ritual mandinya, tiba-tiba dia terpikiran sesuatu.


"Kalau Paman di lepaskan, apakah Paman akan mencelakakan Chris lagi.. Hmmm tidak ini tidak boleh terjadi, aku tidak akan membiarkan Paman melukakan Chris maupun siapapun. Tapi bagaimana?! " Ujar Hellen sambil melihat wajahnya di cermin kamar mandi.


"Aaahh, aku ada ide, mungkin ini sulit untuk mereka terima tapi demi keselamatan Chris dan siapapun itu aku harus melakukannya. " Ucap Hellen.


Pikiran Hellen yang merasa kacau dari kemarin kini telah jernih setelah dia membasahkan kepalanya. Memang benar kata orangtua, jangan buat keputusan sewaktu emosi. Dan mujur saja Hellen masih sempat berpikir dengan jernih sebelum melepaskan Ellson.


Bersambung...

__ADS_1


Maaf lama baru upnya. Author super sibuk karna banyak tugas pelayanan dan persiapan untuk natal ini. Jadi mohon pengertiannya yaa readers kesayanganku!!


__ADS_2