
Hellen di kejutkan secara perlahan oleh Ellson. Hellen membuka matanya dan menatap Ellson yang sudah tersenyum sumringah di depannya.
"Bangulah sayang, helikopter sudah menunggu kita di luar. " Ucap Ellson sambil membantu Hellen untuk duduk.
"Kita hendak ke mana Paman? " Tanya Hellen.
"Kita pergi ke tempat yang jauh, tidak akan ada yang bisa menemukan kita lagi. " Ucap Ellson lagi.
"Ta.... Tapi bukankah ini terlalu cepat Paman. " Ujar Hellen yang kini mulai merasa ragu dengan pilihannya.
"Hellen, kamu sudah berjanji dengan Paman tadi. Kita sudah tidak bisa lama-lama di sini, takutnya nanti Paman akan di tangkap lagi oleh anak buah Chris. Hellen mau Paman di tangkap lagi dan mungkin kali ini mereka bukan setakat menyiksa Paman tapi mungkin mereka bakal membunuh Paman. Apa Hellen mau begitu? " Ucap Ellson dengan nada sedikit kecewa.
Ellson tau dari raut wajah Hellen bahwa Hellen mulai ragu dan menyesali dengan pilihannya. Tapi Ellson tidak akan membiarkan Hellen terlepas darinya lagi. Dia ingin hidup bersama Hellen apa lagi impiannya dari kecil ingin menjadikan Erika sebagai pendamping hidupnya tapi rencananya banyak kendala sehingga setelah Hellen lahir dia berjanji pada dirinya sendiri akan memiliki Hellen dan tidak akan membiarkan siapapun menghalangnya.
Ellson memang memiliki masalah jiwa sehingga hal yang taboo di anggapnya tidak ada arti saja karna ke obsessannya lebih besar ketimbang memikirkan hal-hal yang lain. Dan untuk kali ini niatnya sudah ia teguhkan agar Hellen mau menjadi pendampingnya iaitu pasangannya.
Hellen melamun seketika apabila mendengar ucapan Ellson. Terlebih di kata terakhir Ellson yang mungkin bakal di bunuh. Sebenarnya Hellen tidak yakin bahwa Chris akan membunuh Ellson tapi ke balikan dari perkataan itu juga berarti kemungkinan Ellson bakal membunuh Chris.
Hellen tidak akan membiarkan hal itu berlaku. Walau berat rasanya hati untuk mengikuti kemauan Ellson terpaksa juga Hellen ikutkan demi keselamatan Chris dan yang lain.
Hellen mengangguk lalu meminta sedikit waktu untuknya mandi karna badannya terasa sangat gerah dan membuatnya tidak selesa saja. Ellson mengizinkan dengan memberi waktu Hellen 15 menit untuk melaksanakan ritual mandinya.
Setengah jam telah berlalu, kini Hellen dan Ellson berada di dalam helikopter milik Ellson. Tidak terasa butiran hangat melaju turun ke pipi Hellen karna rasa sedih. Hellen cepat-cepat mengusapnya, dia tidak mau terlalu larut dalam kesedihan walaupun hatinya terasa sangat perih saat ini.
Ellson sempat melihat hal itu, lalu mendengus kesal. Dia berjanji dengan dirinya akan membuat Hellen jatuh cinta padanya walaupun ada darah daging Chris yang di kandung oleh Hellen. Ellson akan siap menerimanya dan akan menjadi Papa dari anak itu.
__ADS_1
Helikopter yang mereka naiki mendarat di sebuah atap gedung hotel yang tinggi. Hellen yang di gandeng oleh Ellson berjalan beriringan. Ellson bisa merasa bahwa Hellen mulai risih dengan sikapnya tapi dia tetap tidak melepaskan tangan Hellen malah semakin erat mengenggamnya.
Hellen yang merasa aneh kenapa mereka bisa mendarat di Hotel www ini. Menunjukkan wajah penasaran kepada Ellson tanpa bertanya.
Ellson yang melihat raut wajah Hellen dengan tatapan penasaran dan butuh penjelasan akhirnya menjelaskan.
"Kita akan buat visa sebelum membuat perjalanan keluar negera. Jangan risau tidak lama ini hanya membutuhkan data dan tandatangan saja. " Ucap Ellson.
"Luar negara? Apakah jauh ? " Gumam Hellen tetapi bisa di dengar oleh Ellson.
"Tidak terlalu jauh tapi memakan waktu hampir satu hari untuk sampai di sana. " Ucap Ellson yang kini mereka sudah berada di depan pintu kamar yang di pesan oleh Ellson, lebih tepatnya asisten pribadi Ellson.
Hellen mengikuti langkah Ellson memasuki ke dalam kamar hotel yang terlihat sangat mewah itu. Setelah sampai di dalam kamar hotel itu Ellson baru melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Hellen. Hellen menuju ke ranjang dan membaringkan badannya secara memiring ke kiri. Ellson pula menuju ke sofa yang berdepan dengan balkon kamar itu.
Ellson memperhatikan Hellen dalam diam. Dia merasa puas karna sepanjang perjalanan mereka Hellen tidak banyak merenggut malah hanya diam dan mengikuti langkahnya saja.
****
Di Kediaman Lee..
Chris mengamuk bagaikan kerasukan setan. Barang-barang yang berada dalam kamarnya bersama Hellen dia buang ke lantai, banyak barang telah pecah bertaburan di lantai kamar mereka.
Pipi Jerry yang putih itu telah memerah karna tamparan keras yang di dapatnya oleh Chris setelah memberitahukan bahwa Hellen telah pergi bersama Ellson. Tapi Jerry tidak mempermasalahkannya, baginya ini juga murni kesalahannya terlebih tidak bisa membaca gerak gerik Hellen yang mencurigakan.
Kini Jerry hanya melihat ke arah Chris yang duduk di lantai kamar dengan keadaan kusut. Jerry menghela nafas panjang lalu melihat ke lantai. Tiba-tiba dia melihat amplop kecil berwarna putih dengan tulisan "untukmu By. " Jerry memilih amplop yang tergeletak di lantai itu lalu membolak balik amplop itu tanpa membukanya.
__ADS_1
Sebelum Jerry memanggil Chris, Jerry menatap ke arah Chris yang sedang duduk sambil menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya.
Sungguh Jerry merasa sangat bersalah kepada Chris.
"Tuan." Panggil Jerry.
Chris tidak bergeming dan masih berada di posisi yang sama.
"Maaf Tuan, tapi ini ada surat saya temui. Mungkin ini surat dari Nona untuk Tuan. " Ujar Jerry lalu berjalan mendekati Chris.
Chris yang mendengar ucapan Jerry langsung saja mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Jerry yang sedang mendekatinya. Tapi tetap saja tidak ada jawapan dari Chris. Chris diam seribu bahasa.
Jerry mengulurkan amplop kecil itu kepada Chris. Chris menyambut amplop itu lalu menatapnya dengan tatapan sendu. Dia tidak bersedia untuk membaca surat dari Hellen, karna hal yang paling dia takuti adalah Hellen meninggalkannya.
Sedari tadi Tuan Lee dan Nyonya Lee melihat Chris merusaki kamarnya seperti orang kehilangan akal, ini membuat Nyonya Lee merasa sedih. Dia ingin menyalahkan Hellen tapi dia tidak bisa karna Hellen membuat hal seperti ini pasti karna ada alasannya tersendiri.
Tuan Lee yang sadar, istrinya sedang menangis menatap putra mereka itu, langsung menarik tubuhnya dan membawa masuk ke dalam pelukannya. Tuan Lee mengusap perlahan punggung istrinya agar lebih tenang.
Tuan Lee juga merasa sedikit kesal dengan sikap Hellen yang dia kira egois itu tetapi kalau di lihat lagi Hellen sebenarnya melakukan hal ini agar Chris terhindar dari ancaman yang bisa mengorbankan nyawa Chris. Sekali lagi mereka sebagai orang tua merasa berada dalam dilema.
Kapan kebahagian akan muncul lagi? Kapan senyuman Chris dan Hellen bisa terbit lagi? Kapan semua ini berakhir? Semua pertanyaan itu berada dalam benak kedua orang tua Chris.
Tuan Lee menatap wajah Chris yang manik matanya terlihat kosong setelah membaca surat yang di tulis Hellen. Semakin dia merasa sakit melihat perubahan pada putranya itu. Apalagi istrinya, semakin deras saja air mata yang mengalir apabila sadar dengan tatapan kosong Chris.
Sakit ya memang sakit apa yang di rasakan oleh kedua orangtua Chris. Terlebih orang tua mana yang mau melihat anak mereka dalam keadaan terpuruk begini apalagi ini adalah tentang cinta pertama dan terakhirnya yang telah pergi bersama darah daging yang di kandungnya.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like, komen dan favorit yahh!!!