
Jika pagi ini Airin mendapatkan dakwaan dari kedua kakak posesifnya Aldi dan Aldo, maka Boris tengah berusaha sekuat tenaga untuk menghindari kejaran Paula. Gadis cantik bermata coklat terang dengan hidung mancung dan bibir yang tipis serta memiliki rambut coklat lurus yang selalu dia biakan terurai itu telah mencoba untuk menemui Boris sejak kedatangannya di kampus. Bukan tanpa alasan Boris menghindari Paula, selain tingkahnya yang agresif gadis cantik itu menyeramkan di matanya, Paula juga selalu berusaha untuk mengajaknya pergi berkencan dan memintanya untuk menjadi pacarnya.
Lelaki mana yang suka dengan perempuan se-agresif itu? Atau mungkin ada laki-laki yang menyukai gadis semodel Paula? Kalaupun ada yang mirip dengan si Edo, author acungi 10 jempol!
Andaikan Boris ini Edo teman sekampusnya yang terkenal mata keranjang alias buaya darat cap gajah kesambet, sudah pasti dengan senang hati dia akan menerima cinta Paula tanpa pikir dua hingga tujuh kali. Selain terlahir sebagai gadis yang kaya raya, Paula juga terkenal sangat dermawan terutama kepada orang-orang yang dia sukai dan memujanya. Terbukti dengan banyaknya followers Paula yang selalu mengikutinya kemanapun gadis itu pergi, serta menuruti apapun kemauannya.
"Tuhan, apa dosa hamba-Mu yang hina ini hingga dikejar-kejar bidadari yang turun yang turun dari gunug kelud itu?" Gumam Boris sambil menengadahkan kedua telapak tangannya, lalu mengusapkannya ke wajah otentik khas pemuda lokal ibu kota tetapi gantengnya bisa mengalahkan mang Asep sopir pribadi Airin itu.
Eeetttt, tunggu dulu! Kenapa tetiba Boris mengingat gadis itu? Apa yang sedang dilakukan Airin pagi ini ya?
Boris menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir bayangan gadis itu dari pikirannya. Meski dirinya sangat menyukai Airin, tetapi Boris sadar dengan kastanya sendiri. Tidak mungkin dirinya pantas menjadi pacar bagi Airin, meski gadis itu baik meski latar belakangnya masih tetap misteri, tetapi jika melihat kendaraan yang selalu membawanya pergi serta sosok pria tinggi besar yang selalu mengikutinya, boris yakin jika Airin berasal dari keluarga yang jauh lebih kaya dari Paula.
"Boris!" Seru Paula sambil berlari dan melambaikan tangan ke arah pria yang sejak pagi ini dicarinya.
"Sorry Paula! Gue masuk kelas dulu,,,!" Balas Boris, lalu berlari menjauhi Paula menuju kelasnya. Ternyata selicin apapun dirinya menghindari Paula, gadis agresif itu tetap bisa menemukannya. Seakan kampus yang sangat besar ini adalah kediamannya sendiri, hingga dia tahu celah sekecil apapun yang Boris tempati dan bisa menemukannya dengan mudah.
"Boris! Lo tega yah! Boriiiissss!" Pekik Paula. Gadis itu menghela nafasnya kasar sambil menghentakkan kakinya, tetapi segera merapihkan dirinya mengingat pengikut setianya pun berada di belakangnya, lalu mengembangkan senyuman dan memutar tubuhnya.
"Kita pergi, pacarku memang sangat rajin, jadi tak mungkin mengganggunya saat dia sedang belajar" lalu memerintahkan para dayangnya untuk membuka jalan untuk dirinya dan berlalu dengan anggunnya.
Bruk!
"Kenape lo Ris? Kayak abis dikejar hantu" Edo menatapnya sekilas, lalu kembali fokus ke layar ponselnya. Playboy tengik cap kapas itu rupanya sedang ber-video call ria dengan kekasihnya yang entah siapa lagi itu, ketika Boris mendaratkan bokongnya disampingnya sambil ngos-ngosan.
__ADS_1
"Abis dikejar sama mak lampir plus pasukannya" Jawab Boris asal.
Tanpa dia ketahui seorang pria yang diam-diam mengikutinya merogoh benda pipih dari balik jaketnya, lalu menghubungi seseorang untuk melaporkan peristiwa yang dia lihat pagi ini. Peristiwa yang hampir tiap pagi terjadi ketika pemuda yang di awasinya itu tiba dikampus milik majikannya.
"Baik tuan muda, target sudah berada di ruangannya"
Kembali pada Boris...
"Eh lu udah denger kabar terbaru?" Edo kembali melayangkan pertanyaan kepada sahabat pintar yang saat ini sudah berkutat dengan buku tebalnya, kebiasaan Boris sebelum dosen tiba dan sesi kuliah dimulai.
"Apaan? Kalo cewek gue gak tertarik!" Jawab Boris tanpa menoleh ke arah Edo yang sedang menggelengkan kepalanya.
"Yaelah bocah napa yak! Kabarnya pagi ini salah satu pemilik kampus akan mengisi mata kuliah di kelas kita Ris" Edo kembali membuang pandangannya ke arah ponsel pintar yang masih tetap menyala dan terhubung dengan seorang gadis berpakaian serba minim yang terlihat sedang berdandan.
Belum sempat Edo menanggapi ucapan Boris, tiba-tiba saja empat orang berpakaian serba hitam dan berkacamata hitam memasuki ruangan. Dua orang dari mereka langsung berjalan menaiki podium dan menempati posisinya di samping kanan dan kiri, dua orang sisanya kembali ke arah pintu masuk dan menempati posisinya menjaga pintu setelah dua orang pria tampan memasuki ruangan dimana Boris berada saat ini. Seketika riuh tepuk tangan serta teriakan para mahasiswi menggema di ruangan tersebut.
"Alhamdulillah Ya Rabb, akhirnya Engkau menjawab semua doaku untuk bisa bertemu dengan mereka" Ucap Boris sambil menengadahkan kedua tangannya, respon yang hampir saja membuat salah satu pengawal tersenyum melihat tingkah konyolnya.
"Biasa aja kali bego! gak usah katro gitu!" Bisik Edo, " Lo malu-maluin gue aja" Lanjutnya sambil menyikut lengan Boris. Bagi Edo melihat Aldi dan Aldo bukan hal yang mengejutkan lagi, ini pertemuan mereka yang entah keberapa kalinya mengingat perusahaan milik ayahnya telah menjalin kerjasama dengan perusahaan milik keluarga mereka sejak lama. Hanya saja, memang untuk sengaja bertemu dengan mereka itu tetap merupakan hal yang mustahil.
"Buat lu mah biasa aja, buat gue ini anugrah..." Boris mengelus lengannya yang terasa sedikit linu akibat sikut play boy cap kapas itu.
"Perhatian semuanya! Pagi ini kita kedatagan dua orang tamu istimewa" Seru pak Mucklis, dosen killer yang seharusnya mengisi mata kuliah pagi ini. Beliau tiba sesaat setelah Aldi dan Aldo memasuki ruangan.
__ADS_1
"Saya harap kalian semua bisa mengambil pelajaran berharga dari keduanya!"
"Selamat pagi rekan-rekan semuanya" Aldo membuka sesi kuliah, setelah pak Muchlis menyerahkan kelas kepadanya dan meninggalkan ruangan.
"Cih! Lihat aja muka konyolnya yang memuja itu!" Batin Aldi. Selama sesi kuliah berlangsung tak hentinya dia memerhatikan tingkah Boris yang terlihat begitu serius memerhatikan semua ucapan Aldo, dirinya memang hanya mendampingi sang adik untuk mengisi salah satu mata kuliah pagi ini. Jika bukan karena taruhannya bersama adik sialannya itu, Aldi lebih memilih untuk berada di ruangannya atau menghadiri rapat direkur siang ini.
"Teori Robert Dilts!" Boris lagi-lagi berhasil menjawab pertanyaan yang dilontarkan Aldo kepada para mahasiswa. Memang benar jawabannya, pemuda pintar pujaan para mahasiswi di kampus itu akan menjawab semua pertanyaan yang Aldo ajukan kepada para mahasiswa dihadapannya. Disaat semua orang begitu terpana dengan kehadiran dirinya dan sang kakak Aldi, Boris tetap fokus pada mata kuliahnya.
"Apakah kamu sudah punya pacar?" Tanya Aldo khusus kepada Boris, setelah dirinya bertanya tentang siapa pemuda tengil nan pintar dihadapannya ini.
"Udah pak! Tapi kami bagaikan langit dan bumi, dan aku gak berani menyatakan cinta kepadanya, apalah daku ini yang hanya...."
"Tukang cilok!" Seru teman-teman Boris hampir bersamaan, dan semua orang tertawa bahagia termasuk Boris sendiri.
Boris memang tidak pernah malu mengakui siapa dirinya di hadapan teman-temannya, baginya kejujuran adalah nomor satu. Dia bahkan sempat tidak perduli dengan cibiran yang mungkin akan dia dapatkan ketika dirinya pertama kali menghuni kampus ini, tetapi ternyata hanya sebagian kecil dari mereka saja yang tidak menyukai Boris karena kastanya.
.
.
.
Happy halu manteman
__ADS_1