
Rupanya Airin bersungguh-sungguh dengan permintaannya tempo hari, perihal bimbingan pelajaran yang dia utarakan kepada Boris dihadapan Paula. Kesepakatan yang telah dibuat oleh keduanya perihal les privat, Boris menyetujuinya setelah pemuda tampan dan pintar tersebut mengajukan beberapa persyaratan termasuk rate harga yang disanggupi oleh Airin. Boris tidak akan mau menerima pekerjaan tersebut jika Airin tidak mau mengurangi besaran biayanya, karena baginya harga tersebut sangatlah tidak masuk akal.
Meski dengan berat hati Airin pun menyetujui keinginan Boris, toh niat sesungguhnya gadis itu adalah untuk menyelamatkan pujaan hatinya dari jeratan para nenek lampir yang akan mencelakainya. Dan hari ini merupakan hari pertama Boris menginjakkan kakinya di kediaman Airin.
"Gak salah kan bang alamat rumahnya?" Boris meyakinkan sopir ojolnya kembali, pasalnya saat ini dihadapannya menjulang tinggi pintu gerbang besi berwarna hitam, dan tak jauh dari sana terdapat sebuah rumah yang sangat megah bak istana!
"Engga de, ini sesuai dengan alamat yang tertera di aplikasi" Jawabnya kembali, kali ini dia pun menyodorkan layar ponselnya kepada Boris.
Tak lama kemudian pintu gerbang raksasa itupun terbuka dengan sendirinya, bersamaan dengan kemunculan sosok pria tinggi besar nan gagah yang tak asing lagi dimata Boris.
"Mang Asep?"
"Masuk ris, nona Airin sudah menunggu"
Timbul keraguan dalam hati Boris, terutama tentang perasaannya sendiri terhadap gadis cantik yang belum lama ini diam-diam dia kagumi itu. Pantas saja Airin bisa dengan mudah mengeluarkan uang untuk biaya pengobatan mak Oneng tempo hari, gadis itupun dengan mudah menghabiskan uangnya kemarin, belum lagi ucapannya ketika sedang menghadapi Jingga tentang biaya les privat yang menurut Boris sangat tidak masuk diakal besarannya. Ternyata sekaya ini rupanya Airin pikirnya.
Belum hilang perasaan gundah Boris yang cukup lumayan mengikis keberaniannya untuk menyukai Airin, kini bukan hanya keberaniannya saja yang terikis habis tetapi rasa sukanya terhadap gadis itupun terpaksa harus dia buang jauh-jauh. Memasuki rumah besar tersebut dirinya sudah disuguhi pemandangan yang membuat bulu kuduknya berdiri, lututnya terasa lemas dan keringat dinginnya tiba-tiba saja muncul saat netranya menangkap sosok orang-orang yang ada didalam foto besar yang terbingkai dengan mewahnya. Disana dia melihat dua orang pemuda yang begitu dikaguminya tengah berada disamping kiri dan kanan Airin serta kedua orang tuanya.
"Pak Aldi dan pak Aldo" Batin Boris.
"Hai ris!"
Boris hampir saja loncat saking terkejutnya! bukan hanya suara dari salah satu pemuda yang dilihatnya saja yang membuat dirinya terhenyak, tetapi kenyataan pemuda kaya itu tengah memergokinya menatap foto keluarga tersebut hingga membuat dirinya terpana dan Aldo terpaksa menepuk pundaknya untuk mengembalikan kesadarannya.
"Eh pak Aldo, maaf pak...heheh" Boris menyambut uluran tangan Aldo dengan penuh rasa sungkan,bukan apa-apa dirinya merasa semakin dilanda perasaan malu saat ini.
"Apa kabar ris? Gimana kuliah kamu? Kabarnya kamu lagi ikut ujian seleksi untuk S2 yah?'
Pembawaan Aldo yang hangat dan ramah sedikit mengobati rasa malu yang membuat dirinya dilanda krisis kepercayaan diri saat ini, untuk sekejap Boris merasa sedikit nyaman berada di tempat ini.
"Alhamdulillan saya sehat pak, saya harap pak Aldo sekeluarga juga sehat...Iya saya ikut seleksi, mudah-mudahan bisa lulus dan bisa nerusin kuliah sambil kerja"
__ADS_1
"Ahhh, bicara masalah kerja...Masih tertarik untuk bekerja di perusahaan kami?" Aldo mempersilakan Boris untuk duduk setelah keduanya tiba di ruang keluarga, dan mengajaknya berbincang ringan sambil menunggu kedatangan adik kesayangannya.
"Iya pak masih" Entah mengapa timbul keraguan dibenaknya setelah dirinya menyadari siapa Airin saat ini, bahkan sebelum dirinya menginjakkan kakinya dirumah besar ini semangatnya untuk bergabung di TRUST Corp masih teramat besar.
"Bagus...Bagus...Kami memang membutuhkan sumber daya manusia yang pintar dan cerdas seperti kamu, tentunya dengan segudang keahlian lainnya"
Boris hampir saya tersenyum mendengarkan pujian Aldo untuknya, tetapi kehadiran Aldi membuat dirinya mengurungkan niatnya tersebut.
"Kita belum tahu etos kerja pemuda milenial seperti kalian apa bisa mengikuti peraturan ketat di perusahaan kami"
Degg
Suasana yang tadinya terasa hangat tiba-tiba menjadi dingin, keinginan Boris untuk menjawab pernyataan Aldi pun seakan tak mampu dia utarakan. Saat ini sesuatu ditenggorokan Boris seakan menghalangi pita suaranya untuk mengeluarkan suara, terutama pada kenyataan siapalah dirinya dihadapan mereka.
"Jangan hiraukan kakakku ris, dia memang PMS tiap hari" Gelak Aldo
"Aku yakin kamu sangat kapabel untuk bergabung di perusahaan kami, semangat yah ris!" Kembali Aldo tergelak, apalagi dirinya menyadari Aldi yang semakin sensi dan Boris yang terlihat semakin tidak nyaman.
"Ayo kak, kita mulai...KIta belajar di halaman belakang aja!" Airin menarik tangan Boris dan menuntunnya ke halama belakang, disana terdapat sebuah Gazebo berukuran sedang tepat ditengah taman, tempat yang cocok untuk memulai sesi les privat gadis itu.
"Permisi pak Aldi, pak Aldo" Ucap Boris sebelum Airin menariknya semakin jauh keluar dari ruangan besar itu.
"Awasi dia Asep!" Titah Aldi kepada Asep yang mulai mengikuti keduanya menuju taman.
"Relax bro! Mereka cuma belajar loh itu..." Aldo kembali tertawa renyah
"Gue gak ngerti! Airin kan bisa minta les di tempat yang bagus sekalian, kenapa dia malah meminta pemuda sialan itu buat jadi tutor les privatnya coba??" Aldi menatap arah kepergiaan sang adik lalu menghela napasnya kasar.
"Mungkin dia nyaman belajar bareng si Boris, udah lah..lagian gue tau banget dia itu anak baik-baik...Lo gak usah drama kayak gitu napa"
.
__ADS_1
.
"Kak Boris kenapa? Gak suka belajar disini? apa kita cari tempat lain aja?" Airin mengerutkan keningnya, Boris yang dia kenal tidak pernah se-pendiam ini. Boris yang dia kenal adalah sosok pemuda yang periang dan selalu bersemangat, apalagi jika Airin berada dekat dengannya. Ada saja tingkah konyol pemuda tampan tersebut, yang selalu membuat senyuman diwajah Airin mengembang.
"Eng...ga. kak Boris gak kenapa-kenapa, cuma kaget aja...Ternyata kamu..." Pemuda tampan itu urung meneruskan kalimatnya, dia lebih khawatir jika kata-katanya akan menyinggung perasaan gadis cantik itu nantinya.
"Aku?"
"Iya... Ternyata kamu adik pak Aldi dan pak Aldo"
"Memangnya kenapa kalau aku adiknya mereka? Apa itu salah?"
"Ehh...Engga, engga salah kok...Bener malah, soalnya mirip...Kalo gak mirip kak Boris malah curgia, jangan-jangan neng Airin ini ketuker di rumah sakit pas dilahirin dulu"
Terbukti kan ucapan othor? Boris memang selalu berhasil membuat senyuman diwajah Airin mengembang, gadis itu sudah mulai tersinggung dengan ucapan Boris tadi. Memangnya salah kalau dirinya adalah adik kandung Aldi dan Aldo? Pemilik universitas dimana Boris mengenyam pendidikannya saat ini? Satu yang disukai oleh Airin dari Boris, pemuda itu selalu bersikap apa adanya! dia tidak pernah merasa sungkan atau malu ketika berdekatan dengan Airin. Berbeda dengan teman-temannya yang lain yang terkesan memasang topeng ketika berada didekatnya, hanya karena Airin adalah anak orang kaya. Setidaknya itu yang ada di pikiran Airin selama ini.
Berbeda dengan Boris yang saat ini level kepercayaan dirinya sudah anjlok di angka 0! Dulu saja rasa percaya dirinya ketika berdekatan dengan Airin harus susah payah dia pertahankan, meski Boris belum tahu siapa Airin sebenarnya tetapi pemuda tampan cucu kesayangan mak Oneng satu-satunya itu tahu jika Airin adalah anak orang berada, Berbeda dengan dirinya yang hanya berasal dari keluarga sederhana.
Kini saat Boris mengetahui siapa Airin, pupus sudah harapan pemuda itu untuk sekedar menyukai Airin apalagi sampai memilikinya. Dunia mereka sangat berjauhan! Airin berada diatas langit sementara Boris berada di dasar bumi! Mustahil bagi Boris untuk menyukai gadis itu dan menjadikannya sebagai pacar yang akan dihalalkannya nanti.
"Mak...Boris nyerah mak!" Batin Boris meronta.
Meski demikian Boris tidak boleh mengecewakan Airin, dia bertekad akan membantu Airin belajar agar gadis itu berhasil lulus ujian nasional dan meneruskan pendidikannya di universitas terbaik yang Boris bisa terka tempatnya bukan di Indonesia.
"Huh! Emang enak...Makan tuh bocah sialan!" Batin mang Asep
.
.
.
__ADS_1
Happy halu manteman