
Selesai dengan urusan mak Oneng, Robby kembali ke kota. Wanita tua nenek dari sahabatnya Boris itu begitu senang ketika tiba disana, dia disambut oleh para pelayan yang ramah, juga seorang wanita tua yang sebaya dengannya. Meski dirinya tidak jadi berkencan malam ini, tetapi Robby bahagia bisa membantu sahabatnya itu dengan menyelamatkan mak Oneng hari ini. Toh dia bisa berkencan dengan wanita lain lagi jika gadis ganjen ini memutuskan untuk mengakhiri hubungannya saat ini juga.
Hari sudah larut malam ketika Robby tiba di apartemennya, disana sudah ada Boris sedang menunggunya sambil menonton TV. "Belom tidur lo?" Tanyanya, lalu menjatuhkan dirinya di sofa disamping Boris.
"Gak bisa tidur gue, badan sakit semua..." Boris meringis, lalu memindah-mindahkan kembali saluran tv kabel mencari acara yang mungkin bisa menemaninya melupakan sejenak rasa sakit ditubuhnya saat ini.
"Sorry gue udah ngerepotin lu, gue cuma gak mau emak liat kondisi gue..." Lanjutnya, nenek tua itu pasti akan panik jika tahu keadaan Boris saat ini. Mata dan bibir Boris lebam akibat pukulan para pengawal Natalina pagi tadi, belum lagi sisa lebam lain yang terdapat di sekujur tubuhnya, bisa-bisa sakit jantungnya kambuh kalau sampai mak Oneng melihatnya.
"Iye...Gue paham, lo mending istirahat deh Ris...ngeri gue liat muka lo kayak gitu" Setengah meledek Robby memberikan saran, menurutnya wajah sahabatnya itu mirip dengan pemain tinju yang baru saja selesai bertanding!
"Brengsek lu! Sialan..." Boris melemparkan bantal sofa ke arah Robby, tetapi pria sialan itu berhasil menghindar dan kabur menuju kamarnya sambil mengejeknya.
Boris menghela napasnya panjang, entah apa lagi yang akan terjadi besok. Dirinya hanya berharap akan datangnya keajaiban untuk Airin dan keluarganya, agar masalah yang sedang mereka hadapi saat ini dapat berlalu dan semua orang hidup rukun bahagia.
"Ka...bangun..."Samar-samar Boris mendengar suara merdu Airin tengah membangunkan dirinya dari tidur lelapnya. Perlahan dia mengerjapkan matanya, lalu menatap sesosok mahluk indah tengah menatapnya dengan senyuman manis menghiasi wajahnya. Airin sangat cantik pikir Boris.
"Ayo kak bangun..." Pintanya lagi, lalu mengulurkan tangannya.
Boris seperti terhipnotis dengan kecantikan Airin saat ini, rambutnya yang terurai indah, senyuman manis di wajahnya, juga kulit mulusnya yang hanya terbungkus gaun putih yang hampir menerawang telah membuat Boris mabuk kepayang! Perlahan Boris bangkit dari tidurnya dengan meraih uluran tangan Airin, diapun mengikuti kemana Airin pergi.
Sedetik kemudian Boris tengah berbaring dengan kepala diatas buaian Airin, gadis itu tengah menyuapinya buah anggur yang manis. "Kak Boris sayang kan sama aku?" tanya nya dengan manis, dan Boris pun mengangguk sambil tersenyum.
"Aku juga sayang sama kakak" Airin tersenyum, lalu perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Boris, dan mendaratkan sebuah kecupan mesra di hidung pujaan hatinya.
Boris menutup matanya, dia bisa mencium aroma buah segar saat merasakan hembusan nafas gadis cantik itu, diapun perlahan merasakan kecupan manis di hidungnya. Boris pun membuka matanya, dan lagi-lagi menyaksikan mahakarya abadi dihadapannya, senyuman Airin begitu mempesona!
"Ai..." Ucap Boris, lalu meraih tengkuk Airin dan mendekatkan wajahnya kembali. Kali ini gadis itulah yang memejamkan matanya, hingga semakin terlihat kecantikan luar biasa darinya.
__ADS_1
Jantung Boris berdegup kencang! jiwa dan raganya tak mampu lagi dia kuasai, seakan seisi alam semesta ini telah memintanya untuk memiliki gadis itu seutuhnya saat ini. Ini terlalu indah benak Boris hingga dirinya semakin terlena saat jiwanya semakin melayang jauh ke lagit ketujuh. Keindahan yang dimiliki oleh Airin telah berhasil memporak-porandakan benteng kokoh yang selama ini telah dibangunnya, dan menggantikannya dengan tembok-tembok harapan berisikan cinta dan kasih sayang.
BYUR!!!
"Woi!!! Tidur tapi mulut lo monyong gitu...! Bangun lo!" Robby kesal, sudah lima belas menit dirinya berusaha untuk membangunkan sahabatnya itu tapi tidak juga berhasil. Hingga dia memutuskan untuk menyiramkan segelas air ke wajahnya.
"Astaghfirullah Robby!! Sialan lo!" Boris beranjak lalu mengusap wajahnya yang dingin akibat siraman air es ulah sahabatnya itu, seketika dirinya merasakan hal aneh dibagian bawah tubuhnya lalu bergegas menuju kamar mandi.
"Woii!! Elah tu anak!" Robby menggelengkan kepalanya, dia sudah bisa menduga apa yang telah dialami oleh sang sahabat pagi ini, " Abis mimpi enak lo ya!" lalu tertawa terbahak-bahak.
"Berisik lo bego!
Tak berselang lama Boris dan Robby pun pergi menuju kampus, hari ini merupakan hari pertama keduanya menghadiri ujian tengah semester. Boris pun dengan sangat terpaksa mengesampingkan terlebih dulu masalah pelik yang tengah di alaminya, dia yakin Airin beserta keluarganya bisa menghadapi masalah ini dengan baik.
Tetapi ditengah perjalanan, tiba-tiba saja mobil yang dikendarai oleh Robby mengalami oleng. Pemuda itu sekuat tenaga melalukan manuver untuk menghindari tabrakan yang mungkin bisa terjadi. Sebuah mobil sedan hitam tiba-tiba saja muncul disampingnya, dan berusaha untuk menyalip lalu menghentikan kendaraannya secara mendadak tepat didepan mobil milik Robby.
"Ahh! An...ng! Brengsek nih orang!" Robby mematikan mesin mobilnya, lantas bermaksud mengampiri siapapun pemilik mobil kurang ajar didepannya itu. Tetapi sesaat setelah dirinya membuka pintu mobil, dua orang bertubuh tinggi besar keluar dari mobil tersebut sambil mengeluarkan pistol dan mengarahkan senjata tajam itu ke arahnya. Sontak, Robby pun menyalakan kembali mesin mobilnya, lalu memundurkan kendaraannya itu dan berhasil kabur.
"Awas By!!!" Pekik Boris, dia memegang erat pegangan diatas pintu mobilnya ketika Robby menginjak pedal gas untuk mundur dan kembali maju.
"Siapa mereka By?!" lanjutnya
"Siapa lagi...Ini pasti ulah Natalina.." Robby mengarahkan laju kendaraannya ke arah lain, ke kampus bukan pilihan terbaik saat ini. Saat ini pilihan terbaiknya adalah pergi ke rumah Airin, untuk menemui gadis itu serta kedua kakak kembarnya. Pemuda itupun menghubungi salah satu dari mereka.
BLAM!
BLAM!
__ADS_1
Setibanya di kediaman Airin, pak Syamsul menyambut kedatangan mereka. Pria tua itu terlihat begitu khawatir dan meminta keduanya untuk segera menemui para majikannya di ruang kerja mereka.
"Mereka sudah menunggu..." Ucapnya, lalu bergegas memasuki rumah bersama dengan Robby dan Boris. Untung saja Aldi dan Aldo belum berangkat kerja pagi ini ketika keduanya menerima kabar buruk itu pikir pak Syamsul.
"Sorry, lagi-lagi kalian harus kena imbasnya..." Pinta Aldo, dan mempersilahkan keduanya untuk duduk.
"Its oke bang...gak usah sungkan" Jawab Robby, lalu menjatuhkan bokongnya di sofa.
"Hari ini Natalina mengirimkan kembali tim pengacaranya ke TRUST Corp, sebentar lagi kami harus kesana untuk membantu tim pengacara kami...Sorry, karena kejadian ini kalian jadi gak bisa ikut ujian di kampus " Aldo membereskan beberapa dokumen yang masih tercecer di meja kerjanya.
"Pak Aldo...apakah tidak ada cara untuk membicarakan hal ini dengan nenek anda secara baik-baik? Maafkan saya lancang" Boris memberanikan diri untuk berbicara.
"Maksud kamu Ris?" Aldo menghampiri keduanya, lalu duduk bersandar di sandaran sofa menghadap ke arah Boris.
" Maksud saya...bagaimanapun beliau ini nenek anda, apakah bisa mengajaknya bertemu untuk membicarakan semuanya secara baik-baik? saya yakin nyonya Natalina pasti bersedia" Boris menghembuskan napasnya, seakan beban berat telah terangkat dari bahunya saat ini.
"Kami gak tau apakah itu akan berhasil Ris, kamu tau sendiri kan dia bagaimana? Apa mungkin dia masih mau mendengarkan kata-kata kami ini?" Aldo tersenyum, " Bukankah Airin sudah bercerita sama kamu tempo hari?" Lanjutnya.
"Saya pikir tidak ada salahnya anda mencoba kan pak? Siapa tahu kali ini nenek anda bersedia untuk diajak berbicara"
.
.
.
Happy halu manteman
__ADS_1
Thanks buat dukungannya di part ini