
Airin kembali ke kamarnya, ada perasaan lain hadir dalam dirinya. Jika dulu Airin akan marah karena kelakuan kedua kakaknya yang seringkali pulang dalam keadaan mabuk, kini gadis itu lebih menuruti kata hati nya untuk tetap tenang. Airin lebih memilih untuk fokus pada rencana yang akan dia buat untuk memberikan pelajaran bagi kedua wanita genit itu.
Masih terngiang ditelinga gadis itu atas ucapan Boris petang tadi tentang bagaimana mengontrol emosi saat dirinya kesal karena Airin tidak juga berhasil mengerjakan soal. "Istighfar Ai... klo marah gitu malah tambah susah ngerti nya" begitu ucap pemuda tampan tersebut dengan penuh kesabaran, lalu membimbing Airin mengerjakan soal nya kembali.
"Astaghfirullah... " Ucapnya sedikit terbata, karena belum terbiasa.
Bukan tanpa alasan dirinya dan kedua kakaknya tidak begitu mengenal agamanya sendiri selama ini. Mereka terlahir sebagai seorang muslim dari ibu yang mualaf, sang ibu baru memeluk agama Islam setelah menikah dengan ayahnya. Dan karena kesibukan sang ayahlah yang membuat mereka hanya memiliki sedikit pengetahuan entang agamanya tersebut, jika bukan di sekolah paling-paling mereka mendengar sekilas melalui media televisi, itupun jarang.
Alasan itu pula yang membuat sang ibu diasingkan oleh keluarga nya di Jerman, meski almarhum kakek Airin telah merestui hubungan mereka tetapi sang nenek beserta paman dan bibi nya hingga kini tak pernah menyetujui hubungan itu.
Tanpa terasa Airin masuk kedalam pikiran nya hingga ia pun terlelap dalam tidur nya.
Pagi hari suasana ramai terjadi di kediaman keluarga Putra Hutama, teriakan kedua pria kembar dengan karakter yang berbeda ini telah membuat suasana rumah menjadi gaduh! Adalah ulah Airin yang membuat keduanya berteriak hingga terdengar ke seisi rumah. Mang Asep dan rekan-rekan lainnya hanya bisa menggelengkan kepala sambil menikmati sarapannya, dan menahan diri untuk tidak ikut campur dalam urusan ketiga bersaudara tersebut.
Tak tanggung-tanggung, Airin menempelkan sugar wax di betis Aldi dan Aldo lalu menempelkan kain di atasnya dan menariknya sekaligus saat keduanya masih tertidur pulas. Untuk saja semalam pak Syamsul menuruti permintaan nya untuk menempatkan mereka dalam satu kamar.
"Aaarrrrrggggg!!!! Kurang ajar... siapa yang berani.....!!! " Dalam keadaan setelah sadar Aldi bersumpah serapah, dia baru menyadari keberadaan sang adik sebelum bisa merampungkan perkataan nya itu.
"Apa!!!! " Nada tinggi Airin membuat Aldo yang tadinya akan melakukan hal yang sama dengan sang kakak terhenti seketika.
Airin berkacak pinggang setelah membuang kain penutup tadi ke wajah kedua kakaknya.
"Sakit Ai sayang..." Aldi merajuk sambil mengusap betisnya yang perih.
__ADS_1
"Kok pagi-pagi udah marah-marah sih Ai.. lagi PMS ya... " Aldo mencoba untuk membuat suasana hati sang Adik mendingin sambil mengingat-ingat kesalahan apa yang telah dirinya dan sang kakak perbuat, hingga membuat Airin murka.
"Itu hukuman buat kalian berdua karena udah pulang sambil mabuk!" Teriak Airin kesal, dan berlalu dari ruangan tersebut.
BLAM!!
Saking kerasnya Airin membanting pintu sampai-sampai membuat Aldi dan Aldo terperanjat, lalu mengelus dadanya.
"Alamat jebol kartu kredit kita bang... " Ucap Aldo, lalu beranjak dari tidurnya dan berjalan menuju kamarnya, sambil memikirkan jurus yang akan dipakai mereka untuk menenangkan suasana hati adik kesayangan mereka itu.
Aldi hanya bisa menghela napasnya kasar dan menggaruk kepala nya yang tak gatal, dia bermaksud untuk kembali tidur tetapi teriakan Aldo menghentikan niatnya dan membuatnya berlari menuju kamar mandi.
"Cepetan mandi bang! Ntar kucing imutnya keburu brobah jadi macan! "
Satu jam kemudian keduanya telah bersiap untuk melancarkan aksinya, kali ini mereka sebut dengan istilah operasi sakura. Ditangan Aldi dan Aldo sudah ada buket bunga, coklat, permen dan masih banyak lagi yang mereka taruh di meja keluarga.
Satu jam sebelumnya, saat mereka berjibaku dikamar mandi, mereka sempat kan untuk menghubungi mbak Titiek sang sekertaris handal agar wanita itu menyiapkan semua pesanan mereka dalam waktu satu jam kedepan. Dan disini lah keduanya, berdiri di depan pintu kamar Airin mencoba untuk membujuk sang adik agar mau membukakan pintu itu.
"Ai sayang... maafin bang Aldo sama bang Aldi ya... kita udah bikin salah... " Ucap Aldo setelah mengetuk pintu untuk kedua kalinya.
"Enggak! Airin gak mau maafin kalian! " Teriak Airin dari balik pintu.
"Ai.. buka dulu deh pintunya, biar kita ngomong dulu... " Pinta Aldi.
__ADS_1
"Kita janji deh gak bakalan bikin salah lagi.. " lanjut nya, sebuah keputusan yang akan disesali nya nanti.
Ceklek...
"Beneran janji??? " Airin muncul dari balik pintu, dari sana dia bisa melihat apa yang ada di tangan kedua kakak kembarnya itu.
"Masih banyak loh di sana... " Bujuk Aldo sambil mengulurkan tangannya, memberikan apa yang ada ditangan nya.
Airin membukakan pintu kamarnya lebih lebar, lalu menerima pemberian kedua kakaknya itu dan membawanya kedalam kamar lalu menaruhnya.
"Loh kok gak dimakan sih de? Gak suka ya...?" Aldo bertanya, karena tak biasanya sang adik hanya menaruh semua hadiah yang dia berikan. Biasanya Airin langsung akan membuknya.
"Mmm... Airin lagi gak mau makan itu bang... " Yang ada dibenak Airin sekarang hanya satu jenis makanan saja, gadis itu sedang sangat menginginkan makanan yang belum lama ini telah menjadi favorit nya.
"Apa dong?? " Aldi bertanya, lalu memberi tahu semua hadiah yang dia beli untuk Airin agar gadis itu memilihnya, tetapi Airin masih saja menjawab tidak mau.
" Ai pengen makan cilok buatan kak Boris... "
.
.
.
__ADS_1
Happy halu manteman