
Pagi ini Boris disibukkan dengan aktivitas nya membuat stok cilok untuk seminggu ke depan, rencananya dia dan mak Oneng akan memproduksi salah satu makanan favorit mamang Rafael Tan itu dalam dua hari. Sabtu dan Minggu, karena pada hari-hari tersebut sang cucu Boris kebetulan libur magang juga kuliah.
Setelah menunaikan shalat subuh tadi, Boris sudah pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan pembuat cilok yang semakin laris penjualan nya itu. Mulai dari bahan-bahan utama yakni tepung tapioka, tepung terigu, bawang daun, bawang putih serta garam dan penyedap rasa, lalu bahan-bahan rahasia pembuat bumbu kacang yang membuat rasa cilok buatan mak Oneng memiliki cita rasa yang khas, berbeda dengan bumbu cilok kebanyakan.
Sepulang nya dari pasar, mak Oneng sudah menyambutnya dengan peralatan yang siap untuk dipakai membuat adonan dan membuat bumbu rahasia dengan resep ala mak Oneng sejak puluhan tahun yang lalu itu. Tugas Boris disini adalah mencampur semua bahan-bahan hingga menjadi adonan cilok, lalu membuat bulatan-bulatan kecil dan merebusnya. Sementara mak Oneng akan membuat adonan sambal kacang lalu memasak nya hingga matang sambil sesekali membantu sang cucu mencetak cilok atau meniriskan cemilan tersebut setelah dia setengah matang lalu memasukkan nya ke dalam dandang siap untuk di kukus.
"Makin banyak yah Ris bikinnya, minggu kamari mah asa gak sebanyak ini... " Ucap mak Oneng di sela-sela dirinya mengaduk sambal kacang yang sudah meletup-letup.
"Alhamdulillah mak, makin banyak yang beli... Mak Oneng tea atuh... Gak ada lawan!" Kekeh Boris sambil mengacungkan kedua jempol tangannya yang belepotan, disusul suara tawa sang nenek.
Sengaja Boris memproduksi cilok hanya pada dua hari tersebut dan membuat stok cilok sebanyak mungkin, karena dirinya sudah tidak bisa membantu mak Oneng membuat cilok setiap hari seperti dulu. Boris pun tak mungkin membiarkan mak Oneng membuat cemilan yang semakin laris ini seorang diri, selain usianya sudah tidak muda lagi karena membuat adonan cilok membutuhkan tenaga yang kuat, juga karena dirinya tidak mau mak Oneng kelelahan setiap hari nya.
"Lebih baik gue beli kulkas buat stok cilok" Pikirnya saat dirinya mendapatkan uang gaji pertamanya awal bulan ini.
"Assalamu'alaikum...! Maaakk... ini Airin" Ucap gadis itu, lalu tanpa ada rasa sungkan, membuka pintu rumah sederhana itu dan mencari keberadaan wanita tua itu di dapur. Airin bisa mengetahui di mana wanita itu berada dikarenakan wangi sambal cilok yang menyeruak hingga keluar rumah.
"Ai... gak sopan masuk rumah tanpa permisi.. " Aldi mencoba untuk menahan aksi sang adik, tetapi gadis itu sudah terlanjur memasuki rumah kecil tersebut.
"Waalaikumsalam...yap kadieu neng geulis....! "
__ADS_1
Terrdengar dengan jelas sautan dari seorang seorang wanita dari dalam rumah itu, suara yang diyakini Aldi sebagai suara mak Oneng. Nenek dari Boris yang Airin ceritakan sepanjang jalan tadi.
"Sini bang... ayok masuk..! " Ajak Airin, menyadari kedua abangnya masih berdiri di luar.
"Masuk saja tuan, mak Oneng sudah mempersilahkan untuk masuk tadi... " Mang Asep meyakinkan kedua majikannya setelah melihat Aldi dan Aldo yang masih enggan untuk memasuki rumah sederhana tersebut.
Mendengar suara yang sedikit familiar ditelinga Boris, pemuda tersebut beranjak dari posisinya lalu menghampiri si pemilik suara, tanpa menyadari kedua tangan nya yang masih blepotan adonan cilok.
"Pak Aldi, pak Aldo... " ucapnya, lalu berniat untuk bersalaman dengan para bos besarnya.
Aldi dan Aldo hanya melihat tingkah Boris, tanpa bermaksud untuk membalas uluran tangan pemuda konyol itu. Hingga mang Asep berdeham baru Boris menyadari kekeliruannya.
Sementara itu di dapur, setelah Airin mencium tangan mak Oneng dan memberi tahu wanita itu jika dirinya datang bersama dengan kedua kakaknya, wanita itupun segera menghampiri keduanya.
"Euleuh... euleuh! meni karasep kieu anaking!! wilujeng dongkap dibumi ema encep... hapunten da kieu geuning kaayaan na ge... " mak Oneng menyalami kedua pemuda tampan itu, lalu mempersilahkan keduanya untuk duduk kembali, dan meminta Boris untuk menyajikan minuman serta makanan untuk mereka.
(aduh.. aduh! pada cakep-cakep ini anak, selamat datang di rumah emak.. maaf keadaannya seperti ini)
Aldi dan Aldo hanya bisa tersenyum ramah, tanpa tahu apa yang dikatakan wanita dihadapannya ini. Dapat mereka lihat jika wanita ini sangat baik dan ramah, sambutan hangat wanita tua ini pasti nya akan membuat siapapun betah bertamu ke rumah ini.
__ADS_1
"Betul apa kata Airin... " Batin Aldi.
Tak lama berselang, Airin muncul dari dapur dengan semangkuk penuh cilok serta mulut yang penuh dengan makanan itu berjalan mendekati kedua abangnya.
"Ya ampun Ai....! " Aldo menggelengkan kepalanya.
Jangan tanya keadaan di luar rumah mak Oneng, para tetangga bak petir menyambar dalam menyampaikan kabar burung, di luar sana sudah banyak para gadis, ibu muda dan tua mondar mandir didepan rumah yang biasanya mereka hiraukan itu.
"Ada artis di rumah mak Oneng! "
.
.
.
Update tipis pagi ini...
happy halu manteman!
__ADS_1