
Tito melihat kembali penanda waktu yang melingkar di lengan kirinya, jam sudah menunjukkan pukul 10 tepat tetapi belum ada satupun dari jajaran direksi yang muncul. Rasa cemas mulai menghampiri nya, dia mencoba untuk tetap terlihat tenang dengan mengecek kembali persiapan tim nya yang sudah ada bersama dengannya sejak tadi.
"Jangan ada satupun dari kalian yang ikut bicara nanti! " Tito kembali mengingatkan pak Kardi selaku penanggung jawab project, agar dia mengurungkan niatnya untuk memberi tahu kelemahan mesin yang ada dihadapannya.
"Tapi pak Tito... "
"Diam! Atau keluarga mu nanti yang akan menanggung akibat nya! " Ancam nya, sambil menarik kemeja putih yang dikenakan pria tersebut.
"Siapa yang akan menanggung akibatnya??! "
Deg!
"Ti... tidak pak Aldi, tidak ada... kami sedang berbincang tadi... ya kan pak Kardi?? " Tito gelagapan, dia tidak mendengar kedatangan para bos besarnya disana..
Tapi tunggu! Dimana semua orang?? mengapa hanya ada Aldi dan Aldo serta Airin yang datang?? pikir Tito.
Pak Kardi mengurung kan niatnya untuk angkat bicara, karena kedua bisa besarnya itu menyuruhnya untuk diam dan meninggalkan mereka disana.
" Gue gak nyangka lo sepicik itu To! " Aldo melempar satu berkas ke wajah pria picik itu. Dia tidak menyangka jika anak dari kepala rumah tangga yang telah ditolongnya itu ternyata belum berubah selama ini, tetap menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan nya.
Jika bukan karena pak Syamsul yang datang dan memohon, dia dan Aldi tidak akan mau menolong pria tak tahu diuntung itu! Dia hampir saja dibunuh oleh orang suruhan bisa terdahulunya, tak tanggung-tanggung, hampir seratus milyar dana yang telah dia gelapkan! Bahkan pak Syamsul beserta istrinya rela tidak mendapatkan gaji selama waktu yang dibutuhkan, asal Aldi dan Aldo mau mengembalikan uang tersebut kepada mereka.
"Ini... ini tidak seperti yang pak Aldo pikirkan... kasih saya kesempatan untuk menjelaskannya... " Pinta Tito, meski dia terkejut dengan isi berkas yang diberikan oleh Aldo tadi.
"Gue gak perlu penjelasan lo brengsek!!" Aldi mendorong tubuh Tito hingga membentur dinding, dan menekan leher pria itu dengan lengannya. Apa yang membuat Aldi semakin membenci pria kurang ajar ini adalah kenyataan jika dia telah menyia-nyiakan pengorbanan kedua orangtuanya selama ini.
"Jangan kotorin tangan abang buat curut ini... " Tatapan mata Airin sedingin kata-katanya, dia melepaskan tangan sang kakak dari leher Tito.
"Singkirkan dia! dan pastikan dia tidak akan pernah menginjakkan kakinya disini lagi! " Aldo memerintah ketiga pengawalnya untuk membawa Tito keluar dari tempat itu.
__ADS_1
"Lakukan apa yang aku perintah tadi! " Lanjutnya.
Mang Asep dan kedua rekannya pun membawa keluar paksa Tito dari ruangan itu, mereka menggunakan akses khusus agar apa yang mereka lakukan tidak terlihat oleh siapapun disana. Para bos besarnya tidak mau menimbulkan keributan diantara karyawannya.
" Lepasin gue brengsek!! " Tito meronta, dia berusaha untuk melepaskan dirinya dari cengkraman tangan kekar dua orang bodyguard disamping kanan dan kirinya. Sementara keduanya tangannya telah dalam keadaan terikat.
Bugh!!
"Aaarrgg...! " Bogem mentah mang Asep telah mendarat tepat di ulu hatinya.
"Sialan!!" Keluh Tito, merasakan sakit yang teramat sangat di perutnya. Sekuat apapun dirinya berontak, tidak sedikitpun membuat kedua orang itu bergeming! Dengan mudahnya mereka menyeret tubuh dirinya menuruni tangga.
"Bawa dia kesana! " Perintah mang Asep kepada dia orang yang telah menunggu nya didalam sebuah mobil jeep hitam, setelah kedua rekannya melemparkan Tito kedalam kabin belakang mobil, dan dirinya membius pria tersebut lalu kembali.
Dua minggu yang lalu...
Robby tertegun melihat sebuah design yang begitu familiar di matanya, setelah sang ayah kembali dari pertemuannya di TRUST Corp. Sang ayah begitu takjub dengan hasil rancangan salah satu karyawan terbaik disana, dan dirinya bersedia menanamkan modal yang lebih besar lagi untuk proyek tersebut.
"Iya kak, Tito namanya... Luar biasa kan design yang dia buat?? " Jawabnya bangga.
"Gak yah... Robby tau betul design ini, dan siapa yang telah membuat nya... yang pasti namanya bukan Tito" Robby mengcopy paste rancangan tersebut kedalam flashdisk nya, lalu meminta ijin kepada sang ayah untuk menemui seseorang. Dia juga meminta sang ayah untuk tidak mengambil tindakan sebelum dia berhasil bertemu dengan orang yang dia maksud.
Robby memacu kendaraannya lebih cepat, setelah berhasil menghubungi orang yang dia yakini pasti tidak mengetahui hal yang sebenarnya seperti yang sedang dialami oleh sang ayah.
" Ini gak bisa didiemin gitu aja, bisa bahaya... " Gumamnya. Pasalnya jika sampai mereka menyetujui rancangan ini apalagi memproduksi nya secara masal, seperti yang dikatakan oleh sang ayah, maka bukan hanya masa depan perusahaannya saja yang terancam bahaya, tetapi semua perusahaan yang menjadi rekanannya.
"Thank's bang udah mau ketemu sama saya" Ucapnya kepada Aldo. Kebetulan pria tersebut tengah berapa diluar kantor, hingga memudahkan mereka untuk bertemu.
"No... gue yang makasih, lo udah mau kasih tau kita tentang ini... " Ucapnya, lalu mempersilahkan Robby untuk duduk dan menjelaskan semuanya.
__ADS_1
.
.
"Brengsek!!! An**g!! Tunggu pembalasan gue Boris!! Ini pasti ulah lo...!! Gue pastiin lo dan keluarga lo hidup sengsara!! " Maki Tito, pria itu telah lama sadar dari pengaruh obat bius yang diberikan oleh mang Asep tadi, lalu mengamuk dan menghancurkan seisi ruangan.
Dia tidak menyangka bahwa kedua pria sialan itu telah membawanya kembali ke apartemen lamanya, lalu menempatkan dua orang penjaga disana. Dia juga berhasil mencuri dengar percakapan mereka di telpon bahwa dirinya akan dikirim ke sebuah pulau terpencil malam ini.
"Gue harus kabur dari sini dan bikin perhitungan sama pemuda katro itu" Gumamnya
Sementara itu Boris baru saja keluar dari ruangan kerja kedua bos besarnya di lantai 25, satu jam mereka berusaha untuk meyakinkan dirinya agar mau meneruskan projek Aero! Mereka bahkan bersedia untuk mendanai project tersebut agar mesin yang di design olehnya menjadi sempurna. Tetapi Boris meminta waktu untuk mempertimbangkan nya terlebih dulu, mengingat kuliahnya yang belum lulus.
"Udah lewat isya... " Batin Boris setelah melihat jam tangannya, jam tangan pemberian sahabatnya Robby sebagai kado ulang tahun ke 19 nya dulu. Boris pun memutuskan untuk menunaikan ibadahnya itu dirumah, karena kantor sudah tutup.
"Ka Boris... Ayok kita pulang bareng... " Ajak Airin, ketika mobil yang ditumpanginya melaju dibelakang pria itu setelah meminta mamg Asep untuk menurunkan jendela mobil mewah tersebut.
Boris menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya, bermaksud untuk menjawab ajakan Airin. Posisi pria tampan itu berada di ujung jalan masuk perusahaan, hingga dia tidak menyadari bahaya yang tengah mengancam hidupnya.
"Kak Boriiiisssss awaaasss!!! "
.
.
.
Happy halu manteman...
Maafkan othor yang baru up malem ini...
__ADS_1
Happy weekend everyone 😘😘😘