
"Neng Airin, biar sama Icha aja di terusin...Itu nanti bajunya kotor" Mak Oneng yang sudah berdiri di samping Airin meminta agar gadis tersebut menyerahkan pekerjaannya kepada Icha, gadis tertunduk yang kini berdiri di sampingnya
Airin hanya menghela nafasnya kasar, begitu pula dengan Icha yang pasrah. Gadis itu terlihat sangat sungkan berada dekat dengan Airin, dia tahu jika apa yang Airin lakukan saat ini demi Boris. Pria yang selama ini membuat dirinya menunduk malu ketika berada dekat dengannya.
Dua hari sebelumnya Icha di datangi oleh Airin ketika dirinya tengah berjalan menuju tempat kursus membuat kue tak jauh dari areal alun-alun kota, Airin menghadangnya tepat di lokasi yang biasa Boris gunakan untuk mangkal berjualan cilok.
"Icha kan?" Airin menatap gadis lugu itu dari ujung kepala hingga kakinya, dia tidak percaya jika pria pujaan hatinya menyukai gadis pendiam seperti ini. Dia bahkan tidak berani mengangkat kepalanya ketika Airin bertanya kepadanya.
"I,,,iya..."
"Sory, gue gak suka basa-basi...Ini tentang kak Boris" Airin menghela nafasnya kasar, sedikit kesal karena Icha tetap menunduk ketika dirinya berbicara.
"Gue suka sama kak Boris dari semenjak gue kenal sama dia, dan gue harap lo tau diri" Lanjutnya.
Airin menunggu gadis tersebut untuk menanggapi ucapannya, tetapi yang dia dapatkan hanya anggukan kepala. Bukan tanpa alasan Icha bersikap seperti itu, dia hanya merasa jika dirinya saat ini memang tidak berdaya. Bahkan Icha telah mengubur harapannya kepada Boris setelah apa yang dia lihat sehari sebelumnya, ketika dirinya tanpa sengaja melihat Airin bersama dengan dua orang pria yang belakangan dia ketahui sebagai kedua kakaknya. Salah satu dari pria tersebut Icha ketahui sebagai salah satu pemilik dari sekolah cake & bakery tempat dia belajar saat ini.
"Apa lo denger apa yang gue bilang barusan!" Kesal Airin, karena gadis itu tidak juga merespon ucapannya.
"Aku mendengar...Aku tidak ada hubungan apapun dengan kak Boris, kami hanya berteman" Balas Icha sungkan. Bahkan sejak mengetahui dengan siapa Airin bersama saat itu dia sudah memupuskan cita-citanya untuk bisa bersanding dengan Boris, si tukang cilok yang telah lama mengisi relung hatinya.
__ADS_1
"Kebetulan kami tetangga, dan bapak ku RT di kampungku, jadi aku sering disuruh bapak untuk mengantarkan makanan dan bantuan lainnya untuk mak Oneng" Lanjutnya.
"Oke, gue pegang ucapan lo...dan gue harap gak ada apapun yang lo sembunyiin dari gue" Airin memutar tubuhnya kembali memasuki mobil, sebelum mang Asep membawa dirinya mengunjungi mak Oneng.
Airin dengan berat hati menyerahkan tugasnya mendampingi Boris untuk melayani para pelanggannya kepada Icha. Di sisi lain, meski jantungnya berdegup kencang karena saat ini Icha berada dekat dengan Boris sekaligus Airin, tetapi gadis itu berusaha untuk tetap tenang dan membantu pria tampan tersebut membuatkan pesanan pelanggan yang sejak tadi telah membuat kericuhan disana.
Tanpa terasa semua cilok ludes terjual meninggalkan panci dan toples serta botol kecap yang kosong, Boris menyeka keringat yang membasahi pelipisnya lalu mengipasi wajahnya dengan topi yang dia pakai. Hal tersebut membuat Airin menelan salivanya dengan susah payah! Pikirannya bahkan sudah melayang tak tentu arah, membayangkan dirinya duduk disamping pria itu dan menghapus keringat itu dengan saputangannya.
"Non...Udah sore, sebaiknya kita pulang...Nanti tuan Aldi dan Aldo mencari" Ujar kang Asep, setelah melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Buyar sudah semua angan-angan Airin ketika mang Asep mengingatkannya, meski enggan tetapi dirinya terpaksa harus menuruti ucapan sopir pribadinya tersebut. Apa yang dia ucapkan memang benar, bisa berabe urusannya jika sampai kedua kakak posesifnya itu mengetahui keberadaannya saat ini. Ini bisa mengancam masa depan yang telah dia rancang untuk bisa mendapatkan cinta Boris, dan membuat pria tersebut diterima di keluarga besarnya.
Airin berjalan mendekati Boris, disana mak Oneng dan Icha tengah duduk disampingnya.
"Gak usah neng, biar mak pulang bareng mereka berdua, gak apa-apa mak masih kuat kok"
Airin menatap Boris berharap agar pria itu mengijinkannya mengantarkan mak Oneng, dengan itu rasa bersalahnya karena hampir saja mengacaukan jualannya tadi akan sedikit terobati.
"Mak pulang aja diantar Airin, Icha juga ikut...Boris masih mau nongkrong disini bentaran, tuh si Udin udah nungguin"
__ADS_1
Udin yang merasa jadi tersangka karena namanya telah disebut, dengan sangat terpaksa mengangguk sambil tersenyum ke arah semua manusia yang menatapnya saat ini, apalagi setelah dirinya melihat tatapan ancaman dari pria yang sejak tadi memayungi Airin.
"Ya udah, mak pulang dulu yah ris...Jangan lama-lama nongkrongnya"
"Huuffhhh...Akhirnya gue bisa bernafas lega!" Keluh Boris, lalu menerima satu gelas es doger monyet buatan Udin. Setidaknya makanan dingin nan manis dengan citarasa lokal tersebut bisa sedikit menyegarkan dirinya, setelah lama dia rasakan adanya aura menyeramkan selama di kerubungi para pelanggannya tadi.
"Lo enak di rebutin dua bidadari, nah gue" Tak kalah mengeluh Udin pun memajukan bibirnya sambil menengok ke arah gadis tapi bukan alias janda ting ting yang sedari tadi diam-diam mencuri pandang ke arahnya. Menik nama gadis itu, dia baru saja sebulan di tinggal mati oleh suaminya. Mereka menikah tetapi belum sempat menikmati indahnya pernikahan, karena sang suami kena serangan jantung tepat saat mereka akan melakukan ritual malam pertama.
"Yee..Mending lu lah, cuma atu! Nah gue??? Gue belom siap menjalankan sunah rosul din!"
"Lagu lu ris! Mau di empanin ape coba? Idup lu pas-pasan gitu? Pake segala sunah rosul!" Udin menggelengkan kepalanya melihat tingkah Boris, temannya itu urung menenggak sisa es dogernya ketika melihat mobil yang membawa Airin melewatinya. Boris menatap mobil tersebut hingga kuda besi itu hilang di keramaian jalan!
"Udee...pepet ris! daripada kayak monyet nelen karet kitu!" Gelak Udin, lalu terkejut sekaligus dengan cekatan menangkap gelas yang dilempar Boris ke arahnya.
"Au ah! Gue cabut!"
.
.
__ADS_1
.
Happy halu manteman