DIKEJAR ANAK MAFIA

DIKEJAR ANAK MAFIA
Part 49


__ADS_3

Keesokan harinya, sesuai dengan janjinya kepada Robby, Boris akan mempertimbangkan saran sahabatnya itu untuk mengikuti program magang yang diadakan oleh TRUST Corp, dan hari ini dia akan memberikan kabar baik itu kepada sang sahabat.


Boris sengaja berangkat kuliah lebih pagi dari biasanya, dia bermaksud untuk menunggu Robby di pelataran parkir, dimana mobil yang dikendarai nya biasa terparkir. Sampai di depan kampus Boris bergegas menuju tempat itu, tetapi ditengah perjalanan dia bertemu dengan Paula. Kakak kelas yang selalu saja mencari perhatian nya.


"Ris!! Yee... mau kemana sih buru-buru gituu... " Paula melambaikan tangannya, tetapi Boris tidak menghiraukan panggilannya dan malah mempercepat langkahnya.


"Boris!! Iihh... Ni anak.. " Mau tidak mau Paula terpaksa harus mengejarnya, dirinya tidak mau lagi membuang-buang waktu untuk mendekati nya lalu mengambil hatinya.


"Boris! Tunggu... Gue mau ngomong..! " Paula bermaksud untuk menarik tangan pemuda tampan itu, setelah dia hampir saja berhasil meraihnya. Tetapi sayangnya tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara klakson mobil milik Robby.


"Brengsek lo Rob!! " Paula memakinya, tetapi pria sialan itu hanya menyunggingkan senyumannya, lalu memarkirkan mobil sport nya ditempat biasa.


"Tumben pagi-pagi lo udah disini Ris.. " Tanpa menghiraukan kehadiran Paula, Robby langsung mengajak Boris untuk pergi dari tempat itu berjalan memasuki gedung.


"Robby!! Awas lo ya!! Tunggu pembalasan gue..!! " Paula menghentakkan kakinya, saking kesalnya. Lagi-lagi usahanya untuk mendekati pemuda culun itu tidak berhasil, ini seperti mengulang kejadian yang sama pikir nya.


"Gue udah pikirin saran lo, kayaknya gue bakal ikut program magang itu By... Demi skripsi gue... " Ucapnya sedikit ragu, pasalnya dia tidak tahu apakah pihak TRUST Corp mau mendanai penelitian yang dibuat olehnya tentang mesin bertenaga listrik. Biaya yang akan dikeluarkan sudah pasti berjumlah banyak!


"Lo cobain dulu, mana tau mereka mau danain penelitian lo.. " Robby tersenyum, tetapi dalam hati nya merasa sedih melihat sang sahabat yang masih belum kembali ingatan nya.


Seminggu yang lalu Boris tiba-tiba mendapatkan ide untuk mendesign sebuah mesin bertenaga listrik, padahal design yang dia buat itu sebenarnya telah lama dibuat olehnya, bahkan sudah berwujud sebuah mesin dalam project Aero yang kini tersimpan rapi di ruangan khusus di gedung perkantoran mewah milik teman dekatnya.


"Hmm... ya, kayaknya siang ini gue bakal kirim CV gue via email " Boris mengernyitkan dahinya melihat tingkah Robby yang mencurigakan. Sahabat tengilnya itu nyengir sambil menggaruk belakang kepalanya, seketika bola mata Boris terbelalak.


"Lo gak ngirimin CV gue tanpa sepengetahuan gue kan bego!! "

__ADS_1


"Ehehehe... Sorry Ris, udah terlanjur... lo baca gih email yang masuk... " Jawab Robby tanpa merasa bersalah sedikit pun.


Boris pun membuka email masuk memakai ponselnya, seketika dia terkejut bukan main! Pasalnya siang ini dia harus memenuhi permintaan mereka untuk menghadiri wawancara!


"Bego!! Asli lo bego!! Siang ini Robby somplak!! Sing ini gue musti interview!! Gue belom siap...!! Baju gue... sepatu gue... " Boris mulai merasa panik, dilihat nya baju yang dikenakan olehnya juga sepatu yang hampir usang di kakinya. Tak mungkin dirinya memenuhi panggilan mereka dengan penampilan hancur seperti ini pikir nya.


"Lo tenang aja sih Ris, lo tinggal pake punya gue... Ntar balik kuliah ke apartemen gue oke... gimana?? " Robby berusaha untuk menenangkan kerisauan hati sang sahabat, tetapi bukannya mendapatkan respon, dia melihat Boris seperti sedang asik dengan pikiran nya sendiri.


Gelepak!


"Boris!! Yee... Gue ngomong lo malah ngelamun sih! " Robby menepuk bahu sang sahabat, mencoba untuk mengembalikannya ke dunia nyata.


"Eeeh... Sorry By... Gue... " Boris memijat keningnya yang berdenyut tiba-tiba, kali ini dia merasakan sedikit sesak didadanya.


"Lo gak apa-apa kan Ris?? Apa perlu gue anter ke rumah sakit sekarang?? Lo pucet Ris... " Ajak Robby, tetapi keburu ditolak oleh Boris. Pemuda yang telah lama menjadi sahabatnya ini memilih untuk beristirahat sejenak, dan meminum obat yang selalu tersedia dalam tas ranselnya.


Boris menganggukkan kepalanya, lalu menyenderkan tubuhnya kursi, mengatur napasnya dan setelah merasa lebih baik Boris pun meminum obatnya. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan bagus yang sudah ada didepan matanya, dengan melewatkan wawancara itu siang ini.


Boris menghela napasnya kasar, untuk kesekian puluh kalinya dia seperti mengalami sebuah dejavu! Dirinya merasa pernah mengalami kejadian yang sama, tetapi entah kapan peristiwa itu terjadi. Sepertinya semua peristiwa itu telah terkunci dalam ingatan nya, dan mereka berusaha untuk muncul dalam waktu bersamaan!


"Astaghfirullahalazim... Ya Alloh apa ini... " Batinnya.


Siang itu Boris lagi-lagi terpaksa menyetujui saran yang diberikan Robby untuk meminjam pakaian miliknya, memang ukuran sepatu dan pakaian yang mereka kenakan hampir sama. Robby meminjamkan setelan jas berwarna navy dan kemeja putih serta sepatu pantofel hitam, dia juga menyarankan Boris untuk menata rambutnya serapi mungkin. Alasannya agar si pewawancara nanti terkesan dengan penampilan rapihnya.


"Oke sip! Ini baru sohib gue..!! Lo pasti langsung keterima Ris...! " Pujian yang sama pikir Robby, dulu pun dia memujinya dengan cara yang sama, tetapi respon yang dia terima sedikit berbeda. Kali ini Boris tersenyum ragu, seperti ada yang mengganggu pikiran nya, seperti tadi.

__ADS_1


"Ayoo cepetan! Gue anterin deh biar lo gak gugup gitu... " lanjut nya, padahal Robby tahu betul apa yang sudah mengusik pikiran sahabat setianya itu.


"O.. oke By... thanks ya.. " Jawab Boris ragu.


Tiba di TRUST Corp Boris diminta untuk menunggu bersama dengan para Interviwee lainnya diruangan tunggu yang telah mereka sediakan. Tak lama kemudian satu persatu dari mereka mendapatkan kesempatannya, lalu tibalah giliran Boris, pemuda itu terlihat begitu gugup! Seperti halnya baru pertama kali mengalaminya.


"Pak Boris, mari ikut saya... " Seorang wanita cantik nan anggun mengantarkan Boris keruangan wawancara, disana sudah menunggu dua orang staf yang akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting kepada nya.


Boris berusaha sekuat tenaga untuk mengontrol pikiran nya, saat ini dia kembali mengalami sebuah dejavu! Seperti kejadian yang sama terulang kembali! Tapi kapan?? pikirnya.


"Boris.. kontrol diri lo... please Boris... jangan sekarang" Ucapnya pada dirinya sendiri, lalu menghela napasnya pelan mencoba untuk mengontrol detak jantung dan pikiran nya yang tiba-tiba tak tentu rasa.


"Anda sudah siap?? " Salah satu dari mereka bertanya, dan Boris pun langsung menjawab dengan antusias. Setidaknya mencoba untuk itu meski dirasa sulit olehnya, bagaimana tidak? Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya saat ini, kepalanya pun mulai berdenyut meski tak seberapa.


"Panggil saya Boris aja pak, sesuai dengan nama yang tertera... "


.


.


.


Happy halu manteman


Thank untuk dukungan nya di part yang ini!

__ADS_1


Love you all!


__ADS_2