DIKEJAR ANAK MAFIA

DIKEJAR ANAK MAFIA
Part 63


__ADS_3

"Apa mereka sudah datang?" Aldi berjalan menelusuri lorong, ditemani oleh seorang pelayan wanita. Saat ini baik Aldi maupun Aldo dan Airin sedang berada di sebuah restoran mewah di tengah kota. Pada akhirnya mereka mencoba untuk mengikuti ide yang disarankan oleh Boris waktu itu, yakni mencoba untuk bertemu dan berbicara baik-baik dengan sang nenek.


"Sudah tuan Aldi, mereka sudah menunggu sejak sepuluh menit yang lalu" Jawab sang pelayan wanita.


Aldi terpaksa datang terlambat pada pertemuan ini, dia harus menghadiri rapat direksi di kantornya. Dia juga harus membereskan beberapa dokumen penting bersama dengan tim pengacaranya hari ini. Keributan sudah terjadi saat sang pelayan membukakan pintu ruangan kedap suara itu untuknya.


"Selamat malam semuanya, maaf saya datang terlambat" Aldi menyapa semua orang disana, berharap sapaannya itu bisa menghentikan percekcokan yang tengah terjadi.


"Bagus kamu datang, lihat adik-adikmu itu! Tidak ada sopan santunya sama sekali! Aku ini nenek kalian, aku harus kalian hormati" Cerca Natalina dengan angkuhnya.


Aldi mencoba untuk tersenyum, satu hal yang asing yang jarang sekali dia lakukan. Tetap demi sang adik Airin, dia dengan rela hati melakukannya. Belakangan Aldi mengetahui bahwa Natalina telah menyiapkan calon menantu untuk dirinya dan kedua adiknya di Jerman, mereka memang datang dari keluarga kaya raya dan terhormat. Mungkin sebagai pria Aldi bisa saja menjajaki perjodohan ini, toh selama ini dia akui bahwa dirinya tidak becus dalam memilih wanita. Tetapi bagi sang adik Airin, hal seperti ini sudah pasti ditolaknya. Aldi tahu siapa pria yang dicintai oleh adik kesayangannya itu.


"Mungkin jika nenek mengatakan sejujurnya apa maksud dari kedatangan nenek kemari, mereka bisa melakuan itu" Aldi menarik kursi untuk dirinya sendiri, dia telah meminta sang pelayan untuk meninggalkan mereka di ruangan itu sebelumnya.


"Jangan lancang kamu! Apa maksudmu itu?!" Natalina mengerutkan keningnya, dia hampir saja terkejut dengan panggilan nenek dari salah satu cucunya itu, biasanya mereka memanggilnya dengan sebutan nyonya Natalina.

__ADS_1


"Bukankah kedatangan nenek kemari ingin memberitahukan kepada kami, bahwa nenek akan menjodohkan kami dengan orang-orang pilihan nenek di Jerman?" Aldi tersenyum sinis, bisa-bisanya di jaman seperti sekarang ini masih ada orang yang memiliki pikiran kolot seperti ini, pikirnya.


Aldo dan Airin terkesiap, jadi semua hal konyol yang membahayakan yang dia lakukan hanya untuk hal sebodoh ini?? Pikir mereka, apa yang ada didalam pikiran sang wanita tua ini sebenarnya?


Natalina mulai terlihat gelisah, wanita tua itu beberapa kali mengambil tissue untuk mengelap bulir-bulir keringat yang mulai membasahi hidung serta keningnya. " Itu semua demi kebaikan kalian" Aku nya.


"Pernahkah terpikir jika apa yang nenek lakukan ini hanya akan membuat anak dan cucu nenek hidup menderita? Bukankah dibelahan manapun di bumi ini seorang ibu menginginkan kebahagiaan untuk anak-anaknya?" Airin menghela napasnya berat, seingatnya hampir semua paman dan bibi nya hidup dalam pusaran kesedihan, hanya saja mereka pandai menutupinya dengan kesombongan.


"Lancang kamu! Tahu apa kamu tentang kebahagiaan!" Natalina menggebrak meja, dia tidak suka dengan ucapan gadis yang wajahnya mirip dengan seseorang yang dia benci selama ini, orang yang telah mengambil putrinya darinya.


"Aldo, kembali ke tempatmu! Abang belum selesai bicara kepada nenek" Pinta Aldi, dengan isyarat mata seolah meminta sang adik untuk menjaga sikapnya.


"Kau lihat sendiri kan? Ini pasti karena kalian terlalu lama bergaul dengan manusia-manusia kelas rendahan itu!" Natalina mendecih, ada rasa bangga dibenaknya karena apa yang dia pikirkan selama ini telah terbukti benar adanya. Hanya anak-anak dari seorang Hutama yang memiliki perilaku tidak sopan seperti ini terhadapnya, jauh berbeda dibandingkan dengan cucu-cucu yang terlahir dari keluarga terhormat yang selalu memperlakukannya dengan santun di Jerman sana pikirnya.


"Apa yang nenek ucapkan tidak lebih baik dari perilaku buruk mereka, jika hanya itu yang penting buat nenek" Aldi menghela hapasnya kasar, " Aku akan kembali ke Jerman dengan nenek untuk menggantikan kedua saudaraku, dan saat itu terjadi aku minta kepada nenek untuk tidak menganggu lagi adik-adikku...Mereka berhak menentukan hidupnya sendiri" Lanjutnya, lalu meminta kepada kedua pengawal Natalina untuk mengawal majikannya itu mengantarkan kembali ke hotel.

__ADS_1


"Bang! Jangan lakukan ini...Please bang, gue tau lo bakal hidup menderita disana...Please bang pertimbangkan lagi...Kita bisa fight bareng bang..." Pinta Aldo sambil memohon kepada sang kakak, dia tidak akan pernah rela jika saudara kembarnya itu hidup menderita disana, sementara disini dia bisa bebas menentukan pilihannya sendiri.


Disudut lain, isak tangis Airin mulai terdengar. "Ini gak adil bang, kenapa harus seperti ini? aku gak akan pernah bisa bahagia kalo abang gak bahagia..." Airin berhambur kedalam pelukan sang kakak. Meski selama ini Aldi memang kakak yang paling dia benci karena ucapannya yang sering kali menyinggung perasaannya, belum lagi emosinya yang sering kali meledak, tetapi Airin tidak akan rela jika hal buruk terjadi kepadanya.


Sementara ketiganya tengah mengharu biru, Natalina kembali membuat ulah. Seakan yang dia lakukan tidak pernah mencapai kata puas! Natalina memerintahkan kepada kedua pengawalnya untuk mencari Boris, dia ingin membuat perhitungan terakhir dengan bocah yang telah memberikan pengaruh buruk bagi cucu-cucunya itu. Natalina pun semakin geram setelah menerima kabar bahwa lagi-lagi tim pengacaranya gagal dalam mengambil alih perusahaan tersebut! Dia harus secepat mungkin menjual semua aset milik Hutama Putra dan memindahkan semuanya ke Jerman.


"Bawa dia kepadaku! Aku harus membuat perhitungan dengan bocah sialan itu!"


.


.


.


Happy halu manteman

__ADS_1


Thanks untuk supportnya di semua novel karangan othor...Loph u!


__ADS_2