DIKEJAR ANAK MAFIA

DIKEJAR ANAK MAFIA
Part 19


__ADS_3

"Kunaon Boris? Pulang kuliah teh meni kusut kitu..." mak Oneng bertanya setelah melihat raut wajah sang cucu bak baju kusut yang belum disetrika seminggu ketika dirinya menyambut cucu kesayangannya itu di depan pintu tadi. Lalu mengambilkan Boris segelas air setelah pemuda yang kini murung itu menjatuhkan dirinya di sofa butut di sudut ruangan.


"Itu mak...Tadi ujian, susah-susah soalnya" Kilah Boris. Tak mungkin dirinya berterus terang perihal peristiwa tadi pagi di kampus, bisa-bisa memicu sakit jantung mak Oneng untuk kambuh.


"Kumaha atuh? Boris bisa ngeusian soalna?" Segelas air putih hasil rebusan tadi pagi pun melayang kehadapan sang cucu, dan seperti biasa bocah itu menerimanya dengan sukaria.


"Alhamdulillah bisa mak, susah-susah juga bisa Boris selesein" Jawab Boris sungkan, lalu beranjak dari duduknya menuju kamar tidurnya.


Boris tak mau berlama-lama berbicara dengan mak Oneng, apalagi sampai membawa nama Tuhan seperti tadi. Dosanya berlipat-lipat cuy! Sudah bohong, bawa nama Tuhan pula, bisa-bisa langsung ditendang ke neraka oleh malaikat nanti dialam kubur.


"Boris mau tidur bentaran yah mak, bangunin pas duhur..." lanjutnya, bahkan tidak mengindahkan permintaan sang nenek untuk makan terlebih dulu.


Didalam kamar pemuda itu boro-boro bisa memejamkan matanya, pikirannya melayang mencari kemungkinan dimana Airin berada saat ini dan apa yang menyebabkan gadis itu kabur dari rumahnya. Apakah dia baik-baik saja saat ini, apakah ada yang menemaninya, bagaimana jika saat ini gadis itu tengah menangis?


"Semoga mang Asep ada disana nemenin kamu Ai...Tapi jangan pelukin gorila itu yah Ai, serem soalnya...nanti kamu remuk kayak kerupuk kalo dipeluk mang Asep" batin Boris meronta.


"Astaghfirullahaladziim..." ucap Boris sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


Seketika perhatian Boris tertuju pada ponsel jadul ditagannya, jiwa nya sudah mulai meronta senada dengan jemarinya yang sudah mulai tidak bisa diajak kompromi. Boris ingin sekali menghubungi Airin saat ini dan menanyakan langsung keberadaannya, tetapi batinnya bertolak belakang dengan pikirannya sendiri.


Bagaimana jika Airin tidak mau merespon panggilannya? Apakah pantas baginya menghubungi gadis itu? Bagaimana jika justru Airin marah karena Boris berani menelponnya? Kalau mang Asep yang angkat panggilannya bagaimana??


" Ya Alloh...beri hamba petunjuk...Apa yang harus hamba lakukan??" batin Boris, pandangan pemuda itu tertuju ke langit-langit kamarnya kali ini, dengan jempol tangan yang sudah siap beraksi.


Boris sudah menekan angka satu di ponselnya, urutan nomor ponsel Airin di pengaturan speen dial nya. Hatinya bimbang dan ragu, apakah dirinya akan menekan tombol menghubungi atau tidak. Akan tetapi dorongan dalam dirinya semakin kuat tatkala Boris lebih mengkhawatirkan kondisi kesehatan gadis tersebut ketimbang kemarahannya. Celakanya, ponsel tersebut tiba-tiba saja berdering tepat pada saat Boris akan menekan tombil dial.


"Innalillahi...!" Ucap Boris spontan, lalu bangkit dari tidurnya.


"Hah? Siapa yang meninggal ka? emak baik-baik aja kan ka?" Suara nyaring diseberang sana tak kalah terkejutnya tatkala Boris mengucapkan kalimat illahi tersebut.

__ADS_1


"Ka! Kak Boris! Jawab aku kak! siapa yang meninggal!"


Tut!


Boris terpaku saking kagetnya. Antara percaya atau tidak diriya bisa kembali mendengarkan suara yang saat ini begitu menguras kekhawatirannya itu. Bukannya menjawab pertanyaan, alih-alih Boris malah mengakhiri panggilannya.


"Innalillahi wa innailaihi roojiuun...! Astaghfirullah..." Kini kesadarannya telah kembali ketika Boris menyadari siapa yang menghubunginya tadi, dan Boris semakin panik.


"Airin!...Waduh...tadi itu Airin!" Lanjutnya, lalu berusaha untuk menghubungi Airin kembali. Akan tetapi langsung terhubung dengan mail box. Ponsel milik Airin mati!


"Aya naon Boris!" Pekik mak Oneng. Wanita paruh baya itu terkejut mendengar sang cucu mengucapkan kalimat Illahi berkali-kali, dan tanpa pikir panjang setengah berlari menuju kamarnya.


"Saha anu maot Ris? saha?! Neng Airin?!" Lanjutnya dengan raut wajah pucat menghampiri pemuda yang saat ini semakin panik.


"Astaghfirullah emak! Bikin Boris kaget aja..!" Pekik Boris sambil mengusap dadanya, kini kepalanya pun ikut berdenyut.


"Eta innalillahi...neng Airin! si eneng maot Boris?!" Jawab mak Oneng menyimpulkan sendiri apa yang dia dengar.


"Saha ponsel teh Boris? Babaturan kuliah?" Tanya mak Oneng kembali, wanita itu berdiri tepat dihadapan Boris yang tengah duduk ditepian ranjangnya dan masih berusaha untuk mendapatkan jawaban atas ucapan bocah dihadapannya ini.


"Kela mak, ini lagi ditelepon lagi sama Boris" Jawab Boris, dengan ponsel yang menempel di telinganya. Meski dirinya berusaha untuk mengulang kembali panggilannya, tetapi jawaban yang sama kembali terdengar.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif"


"Anu maot mah moal bisa ngajawab Boris, kumaha kamu teh!" ( yang udah meninggal gak bakalan bisa jawab Boris, gimana kamu tuh ) Kembali mak Oneng menyimpulkan sendiri jawaban yang diterimanya.


"Astagfirullah, voice mail lagi..." Ucap Boris semakin khawatir, tanpa menyadari kalau si emak terus membuat kesimpulan sendiri atas jawaban yang keluar dari mulutnya.


"Nambahan deui anu maotna Boris? si Mail?" ( bertambah lagi yang meninggalnya Boris? si Mail? ) mak Oneng semakin panik, kali ini wanita itu melanjutkan ucapannya dengan merapalkan doa bagi orang yang telah wafat.

__ADS_1


"Mak...ngirim doa buat siapa? Emang ada yang meninggal?" Tanya Boris, menyadari doa panjang yang dibacakan oleh sang nenek dihadapannya.


"Har..apanan si ponsel jeung si Mail eta ceuk kamu tadi anu maot Boris!" Jawab mak Oneng dengan nada yang semakin meninggi, dan kedia tangan yang mendarat dipinggang langsingnya saking kesalnya.


"Astaghfirullah emak...!"


.


.


.


"Mang Asep! Kita ke rumah kak Boris sekarang! Mak Oneng meninggal mang!" Pekik Airin, gadis itu bahkan tidak memperdulikan ponselnya yang hancur karena terjun bebas dari balkon kamarnya.


"Innalillahi..." Ucap mang Asep spontan lalu berlari menuju ke dapur. Kebetulan saja sang sopir tengah berada di halaman belakang Villa itu ketika Airin memanggil namanya, mang Asep baru saja memetik buah mangga pesanan Airin dan bermaksud akan membuatkan jus untuk majikan kecilnya itu.


Tanpa pikir panjang Airin meraih jaket yang tergantung dan mengganti alas kakinya dengan sepatu yang ada didekatnya, lalu berlari menuruni tangga menuju garasi dimana mang Asep sudah pasti telah menunggunya.


Di villa itu memang hanya ada mereka berdua, ditambah dengan tiga orang yang merawat dan menjaga gedung. Villa yang terletak diatas bukit dengan pemandangan laut tersebut merupakan villa milik almarhum Alda, dan jarang sekali mereka mengunjunginya. Biasanya mereka akan berkumpul di villa tersebut saat memperingati ulang tahun atau saat memperingati hari wafatnya pemuda itu.


Mang Asep melajukan mobil dengan kecepatan yang lumayan tinggi, kepiawaiannya dalam mengendarai kuda besi tersebut memang patut diacungi jempol. Pantas saja pemuda tampan bertubuh tinggi besar itu mendapatkan kepercayaan dari almarhum majikan besarnya untuk menjaga Airin selama ini, karena selain kepiawaiannya dalam mengemudi, dirinya pun telah mengantongi sertifikat black belt dari beberapa cabang olahraga beladiri juga telah menempuh pendidikan yang cukup tinggi dalam bidang keamanan negara.


Sementara itu di Villa, tak lama setelah kepergian Airin dan mang Asep dua orang pemuda tampan yang tingkat kemiripan wajahnya hampir 100% itu baru saja tiba. Suasana yang mencekam telah bertambah dengan kemunculan keduanya disana.


"Kalo bukan karena kakek, udah gue bunuh mahluk kurang ajar itu!"


.


.

__ADS_1


.


Happy halu manteman


__ADS_2