
"Aamiin yaa robbal aalamiin... " Boris menyelesaikan doa-doanya, dia memohon kesembuhan untuk seorang gadis yang tengah terbaring lemah diatas tempat tidur, disisinya. Tega-teganya temannya sendiri berniat untuk mencelakai nya, dan celakanya nya lagi, alih-alih dirinya yang mendapatkan musibah, justru gadis ini lah yang harus menanggung akibat nya. Boris merasa berhutang nyawa padanya.
Mungkin ini sudah kehendak Tuhan, pikirnya. Boris tahu betul bahwa tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, semuanya sudah Alloh suratkan dalam takdir-NYA, termasuk peristiwa yang menimpa dirinya dan Airin. Dia hanya bisa meminta kepada Sang Khaliq agar Dia menyelamatkan gadis ini serta melindunginya selalu.
"Maafkan kak Boris Ai... " Boris bergumam.
Tiba-tiba saja ponsel Airin bergetar, disana terlihat nama Aldo sebagai pemanggil nya. Boris berinisiatif untuk merespon panggilan tersebut, tetapi mang Asep terlebih dahulu mengambil ponsel tersebut dan menjawabnya. Boris bisa melihat ketegangan di raut wajah pria dingin itu, "Sepertinya akan ada peristiwa besar sebentar lagi" Batinnya.
Benar saja perkiraan Boris, tak lama setelah mang Asep mengakhiri panggilan itu, kedua kakak Airin tiba! Tak pelak keributan pun terjadi. Mang Asep menjadi bulan-bulanan kedua kakak Airin itu, bukan hanya lewat kata-kata saja kemarahan mereka lampiaskan, tetapi melalui bogem mentahnya.
Boris dan Robby mencoba untuk melerai keduanya, sebelum adanya korban kedua disana.
"Bang... Please ini salah gue, bukan salah mang Asep... " Pinta Robby, mencoba menghentikan keduanya. Robby berada diantara mang Asep dan Aldi serta Aldo, sementara Boris mencoba untuk melindungi mang Asep yang sudah babak belur. Ajaibnya pria yang terkenal cukup sadis itu bahkan tidak melawan sama sekali!
"Minggir lo By, biar tau rasa dia! Dia udah lalai jalanin tugasnya! " Ucap Aldi, diantara dirinya dan Aldo, memang Aldi lah yang paling emosi saat ini.
"Gak bang! Dia udah lakuin tugasnya dengan benar... Please bang, kita bicara dulu... lo dengerin gue dulu bang... please... " Pinta Robby sekali lagi, tetapi sepertinya kemarahan Aldi sudah tidak bisa lagi dibendung. Pria menakutkan itu mengambil pistol dan menembakkan benda tersebut ke arah mang Asep, tetapi sayangnya seseorang telah melindunginya.
"Jangan...!!!" Pekik Robby
Dor!!!
"Ugghhh... " Keluh Boris, tak berselang lama tubuh nya pun ambruk.
"Astaga!! Boris...!! " Mang Asep menahan tubuh tak berdaya itu dalam pangkuannya, seketika darah keluar dari mulutnya. Dia menahan peluru itu dengan tubuhnya! Baik Robby maupun mang Asep berusaha untuk membuat pemuda itu tetap tersadar.
Sesaat keadaan menjadi hening, perlahan Aldo mengambil pistol tersebut dari tangan sang kakak yang terlihat syok saat ini. Dan tak lama kemudian keadaan pun menjadi ramai. Tim medis sesegera mungkin memberikan pertolongan untuk Boris
__ADS_1
"Bang... tenangin diri lo dulu" Aldo menarik sang kakak kedalam pelukannya, sambil meminta kedua pengawal pribadi mereka untuk mensterilkan ruangan itu. Tidak ada yang boleh membocorkan peristiwa ini kepada siapapun, hal ini bisa sangat berbahaya bagi reputasi keluarga mereka, apalagi jika sampai media mengekspos nya dan menjadikannya sebagai konsumsi publik.
Tiba-tiba saya Aldo melihat Airin sudah berdiri diambang pintu saat dirinya memeluk sang kakak, gadis itu terlihat begitu syok! bahkan tangisannya pun tak mengeluarkan suara.
"Ya Tuhan... Airin...! " Aldo melepaskan pelukan nya, lalu menghampiri Airin dan memeluk gadis itu, sementara Aldi hanya bisa berdiri mematung melihat keduanya.
"What have i done... " gumam Aldi.
"Adek... dengerin abang de... lihat abang de... " Aldo berusaha untuk mengalihkan perhatian sang adik tercinta, dia menangkup wajah Airin dengan kedua tangan nya dan mengarahkan pandangan gadis itu ke arahnya.
"Dia pasti selamat de, Boris pasti selamat...abang disini de... abang disini... liat abang dek... " Pintanya, karena meski dirinya sekuat tenaga membujuk dan mengalihkan perhatian sang adik, tetapi Airin masih saja memandangi kepergian pemuda itu dan tangisannya semakin histeris. Tim medis telah membawa Boris ke ruang operasi.
Tak lama tubuh Airin oleng, gadis itu pingsan dalam pelukan sang kakak.
"Airin!! " Aldi bergegas mendekati kedua adik kesayangannya, rasa bersalahnya kian memuncak! Bersamaan dengan rasa sesal yang semakin menyesakkan dada.
"Innalillahi... " Ucapnya, seketika perasaan wanita tua itu menjadi semakin gelisah, dia lalu memanjatkan doa memohon ampunan serta perlindungan untuk dirinya dan cucu satu-satunya yang belum juga kembali, padahal malam semakin larut.
"Ya Alloh... " Ucapnya lagi, saat melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 00.30 dini hari. Entah mengapa mak Oneng sulit memejamkan matanya malam ini, dia merasa sesuatu telah terjadi kepada cucu kesayangannya itu. Perasaan ini pernah dia rasakan sebelumnya, ketika berita buruk itu dibawa oleh seorang pria yang belum lama ini dikenalnya.
"Mak... ikut Asep yah ke rumah sakit... " Itu yang diucapkan nya kala itu.
Mak Oneng memutuskan untuk mengambil wudhu dan melakukan shalat tahajud, hanya dengan cara itu wanita tua itu dapat berdoa dengan khuyuk, menceritakan semua kegelisahan nya kepada Sang Pemilik Kehidupan serta meminta perlindungan kepada-NYA.
Kembali ke rumah sakit..
"Bagaimana kondisinya dok? " Robby menghampiri sang dokter yang baru saja keluar dari kamar operasi.
__ADS_1
"Operasi nya berjalan lancar, kami sudah berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang di ususnya...bersyukur peluru tidak mengenai organ vitalnya... kita berdoa agar pasien bisa melalui masa kritis nya malam ini" Jawab dokter Varel, lalu menandatangani dokumen yang disodorkan oleh susternya.
"Thanks dok... " Robby merasa sedikit lega
"Apa keluarganya sudah diberi tahu? " Sang dokter yang bertanya kali ini, karena di ruangan itu hanya ada Robby seorang. Bahkan dua orang pemuda yang bertanggungjawab atas peristiwa yang menimpa pasiennya itu tidak kelihatan batang hidungnya.
"Belum dok, mungkin besok pagi saya baru akan memberi tahu keluarga nya"
Diruangan lain didalam gedung rumah sakit yang sama, seorang dokter tampan sedang mengecek kondisi pasien cantiknya. Dua jam yang lalu gadis ini menangis histeris hingga dengan sangat terpaksa dirinya menyuntikkan obat penenang kedalam cairan infus nya, disudut lain dalam ruangan itu seorang pria terlihat tengah merenung sementara satu orang lagi pria yang wajah nya begitu mirip dengannya terlihat begitu khawatir.
"Adek lo baik-baik aja sekarang, jangan khawatir" Ucapnya memecah keheningan.
"Lo budek apa? Kuping lo gak denger dia manggilin siapa ? " Aldo kesal
"Baik-baik pala lo! " Lanjutnya
Meski kedua mata Airin terpejam, tetapi gadis itu tetap memanggil nama Boris dalam tidur nya. Begitu pula yang terjadi diruangan lain...
"Ai... aku ingat sekarang... "
.
.
.
Happy halu manteman
__ADS_1
Thanks buat dukungan nya di part ini😘