
Sebenarnya Tito adalah seorang individu yang penuh dedikasi dan tekad dalam pekerjaannya. Dia telah bekerja keras selama bertahun-tahun di perusahaan ini, menunjukkan dedikasi yang tinggi, serta mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan di bidangnya. Selama perjalanannya, Tito selalu bercita-cita untuk naik jabatan dan mendapatkan bonus besar sebagai pengakuan atas kerja kerasnya. Hanya saja, sifat liciknya membuat pria keturunan timur tengah itu cenderung menghalalkan segala cara dan semena-mena.
Tito juga menyadari bahwa penantian adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan menuju pencapaian tersebut. Dia telah menantikan momen besar dalam hidupnya, yaitu naik jabatan dengan bonus besar, dan dia tahu bahwa hal itu membutuhkan waktu, tapi sayangnya Tito tidak ingin menghabiskan lebih banyak lagi energinya untuk menunggu lebih lama. Tiga tahun sudah cukup untuknya menjadi kacung di TRUST Corp.
MomenĀ yang telah dia tunggu-tunggu pun telah berada di depan matanya saat ini, melalui projek Aero dirinya bisa mewujudkan cita-citanya untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi tentunya dengan bonus dan gaji yang lebih besar dari yang telah dia dapatkan selama ini. Bayangan rumah mewah, mobil mewah serta gaya hidup mewah kembali memenuhi angan-angannya selama beberapa hari ini, dia tidak akan pernah rela jika ada orang yang berani menghancurkan impiannya itu, dan bertekad akan menyingkirkan semua orang yang berani melakukannya.
Satu langkah lagi! Ya tinggal satu langkah lagi bagi Tito untuk menikmati segala kemewahan itu. Saat seluruh jajaran direksi menyaksikan kehebatan mesin Aero dan menyetujui penemuannya hingga memproduksinya secara masal.
"Sudah jam 10, dimana mereka?" Batin Tito, melihat penanda waktu di pergelangan tangannya. Ini hal yang tidak biasa menurutnya, biasanya para direksi itu akan tiba dilokasi tepat setengah jam sebelum acara dimulai, dan mereka akan berbincang ringan sebelum itu. Tetapi hingga kini belum ada satu orangpun yang muncul di ruangan itu!
Tito menyingkirkan pikiran buruknya dengan kembali menikmati pemandangan indah dihadapannya ini, Mesin Aero. Mesin tenaga listrik berkecepatan tinggi tetapi hemat listrik dan ramah emisi, yang diklaim sebagai penemuannya dan hasil kerja kerasnya. Dan pada waktunya tiba, kendaraan-kendaraan roda empat dan roda dua diseluruh dunia akan menggunakan Aero sebagai mesinnya.
Prok! prok! prok!
Tiba-tiba suara tepuk tangan terdengar diruangan sepi itu, bersamaan dengan lampu yang menyala diseluruh ruangan. Saat itu Tito masih berada didepan mesin Aero, mengagumi penciptaan terhebat abad ini, saat Aldi dan Aldo serta kedua pengawal pribadinya memasuki ruangan disusul dengan Airin dan mang Asep.
"Pak Aldi, pak Aldo...Ai...rin" Tito terhenyak. "Apa yang terjadi?" batinnya, lalu memutar tubuhnya menghadap mereka.
"Hebat To! Lo hebat banget....!" Aldo masih bertepuk tangan sementara yang lainnya sudah terdiam.
__ADS_1
"Gue pikir dengan ngasih lo kesempatan selama ini bakal bikin lo jadi pribadi yang lebih baik...Nyatanya..." lanjutnya sambil menggelengkan kepalanya. Aldo sangat menyayangkan sikap Tito yang masih saja tidak berubah, licik dan tidak bertanggung jawab!
"Pak Aldo...Saya..." Tito berpura-pura tidak mengerti dengan ucapan Aldo, karena dirinya tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini dihadapannya. Kemana orang tua-orang tua sialan itu? Kenapa hanya ada Aldi dan Aldo disana, dan kenapa Airin juga ada disana?
Sreeeettt..!
Layar plasma besar menyala, disana ditayangkan video-video CCTV dari beberapa sudut dan hari yang berbeda.
"Ini...." Gumam Tito, lalu menelan salivanya dengan susah payah. "Darimana mereka mendapatkan semua ini?" Batinnya semakin meronta.
"Jangan lupa satu hal Tito, sepandai-pandainya kau menyembunyikan bangkai...pada akhirnya akan tercium juga! Lo pikir kita semua bodoh hah!!" Kali ini Aldi yang berbicara, emosinya sudah sulit untuk dibendung! Ingin rasanya dia menghabisi pria bodoh dihadapannya ini.
"Tunggu...! Saya bisa jelaskan..."Pinta Tito bersusah payah, karena suaranya yang tercekat akibat lehernya yang masih tertahan oleh himpitan lengan Aldi.
"Kesempatan lo udah abis! Kalo bukan demi pak Arsyad...Lo udah mati dari dulu!" Aldi melepaskan tangannya, lalu meminta dua bodyguardnya untuk membawa pria tersebut secara diam-diam. Meski emosinya telah memuncak saat ini, tapi dia tidak mau menimbulkan keributan di perusahaan miliknya ini.
"Bawa dia pergi! Lakukan apa yang aku perintahkan!" Lanjutnya.
Aldi dan Aldo sudah mengetahui sifat buruk Tito sejak lama, bahkan jauh sebelum pria itu dibawa oleh pak Arsyad datang ke rumahnya. Jika saja pak Arsyad yang merupakan ayah dari Tito itu tidak memohon kepada keduanya untuk menolong sang anak, sudah pasti anak sialan itu sudah mati membusuk dipenjara akibat ulahnya menggelapkan dana perusahaan dimana dia bekerja sebelumnya. Tak tanggung-tanggung satu trilyun uang dia habiskan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan berfoya-foya.
__ADS_1
"Kurang ajar! Sialan! Lepasin gue!" Tito berusaha untuk memberontak, tetapi kekuatan dari dua orang pria bertubuh atletis itu bukan tandingannya. Lalu salah satu dari mereka menyumpal mulutnya dengan lakban.
Brug! Brak!
Tubuh Tito dilempar ke kabin belakang mobil, disana sudah menunggu satu orang sopir dan satu orang pengawal untuk melaksanakan perintah yang diberikan bos-bos besarnya, mengasingkan pria itu ke pulau terpencil.
"Boris! Tunggu balasan gue!" Batin Tito berteriak
Dalam perjalanan Tito berusaha untuk membebaskan dirinya dengan menggunakan segala macam cara, dia menyundul kepala sang pengawal yang berusaha untuk menghentikannya dengan menodongkan pisau hingga pingsan, lalu mengambil pisau yang terjatuh dan memotong tali yang mengikat tangannya, lalu melepaskan lakban dimulutnya dan menggunakan pisau tersebut untuk membunuh sang sopir. Semua terjadi sangat cepat hingga dirinya tidak sempat mengendalikan mobil dan mobil itupun menabrak pembatas jalan.
Brak!!!
.
.
.
Happy halu manteman
__ADS_1
Thanks untuk supportnya di part ini.