
Sudah tiga hari Boris absen bekerja, dua hari di rumah sakit telah membuatnya bosan ditambah dengan seharian ini dia habiskan di tempat tidur. Boris berhasil meyakinkan sang nenek bahwa dirinya mendapatkan libur ekstra dan memutuskan untuk beristirahat karena telah menemani bos besarnya tugas ke luar kota, agar bidadari dari surga itu tidak curiga apalagi mengkhawatirkan kondisi kesehatannya.
Dan pagi ini pemuda tampan cucu mak Oneng satu-satunya itu memutuskan untuk pergi bekerja, setelah meminta doa dan restu dari sang nenek agar aktivitasnya hari ini senantiasa mendapatkan berkah dari-NYA.
Tiba di tempat kerja, Boris disambut hangat oleh rekan-rekan kerjanya satu kantor. Mereka memberikan doa serta ucapan selamat juga prihatin kepadanya, mereka juga meminta maaf karena tidak bisa menjenguknya selama dirinya dirawat di rumah sakit. Salah satu dari mereka membisikkan bahwa mereka tidak diperbolehkan untuk menjenguk oleh sang manajer dengan ancaman akan mendapatkan SP 3 hingga di pecat dari perusahaan.
Boris hanya bisa berucap sambil mengusap dadanya, masih saja ada atasan yang semena-mena seperti itu di jaman seperti ini pikirnya. Tetapi untuk alasan pertemanan dan keamanan kondisi dapur, Boris memakluminya. Toh saat ini dirinya sudah bisa kembali bekerja pikirnya lagi.
Sayangnya suasana hangat disana tak berlangsung lama, Tito memerintahkan Boris untuk segera memperbaiki design lalu membuat prototype darinya bersama dengan teman-temannya yang lain.
"Terserah kalian! Gue gak mau tau! Pokoknya dalam satu minggu prototypenya sudah harus selesai!" Jawab Tito setelah Boris meminta kepadanya agar dia dan rekan-rekannya yang lain mengadakan rapat koordinasi terlebih dulu.
Boris merasa jika dirinya hanyalah karyawan magang disini, tidak etis baginya memimpin projek ini sementara sudah ada karyawan tetap bahkan menjabat sebagai supervisor disana.
"Sabar Ris...Kita kerjain bareng-bareng.." Ucap pak Kardi sang supervisor, setelah kepergian Tito dari ruangan besar itu sambil menepuk bahunya.
"Maafin Boris pak, bukan saya mau lancang, tapi saya gak bisa kerjain ini sendiri...design yang saya buat masih jauh dari kata layak produksi, masih banyak kelemahannya pak dan saya butuh bantuan bapak serta rekan-rekan disini untuk menyempurnakannya" Boris menatap semua orang sudah yang mengelilinginya dengan penuh harap.
Setelah menyepakati bersama perihal tugas apa saja yang harus mereka kerjakan, mereka pun memulai projek dengan menganalisa design yang dibuat Boris bersama-sama sesuai dengan keahliannya masing-masing.
"Udah pada mulai noh..." Diana sengaja menyampaikan berita ini langsung kepada Tito sesampainya dia dikantin, wanita itu menyerahkan satu cangkir kopi ke hadapannya.
__ADS_1
"Baguslah...makin cepet makin baik...makin cepet juga gue naik jabatan..." Ucapnya lalu menyeruput kopi hitam panas yang disuguhkan Diana.
"Makin cepet dapet bonus gede, makin cepet kaya lo To..." Kekeh Diana
Dugh!
Tiba-tiba saja seseorang menendang kaki Tito saat pria tersebut berjalan melewati dirinya. "Eh...Kurang....." Ucapan Tito seketika terhenti setelah menyadari siapa yang entah disengaja atau tidak menendang kakinya.
"Ehh...Mang Asep" Lanjutnya sedikit terkejut. Sementara pria berpostur tubuh atletis itu hanya menarik salah satu sudut bibirnya, lalu mengayunkan langkah kakinya kembali. Ditangannya ada beberapa bungkus makanan yang Tito yakini itu makanan pesanan majikan kecilnya.
"Airin ada disini? lagi apa dia??" Batinnya.
"Gak apa Di, gue keingetan sesuatu barusan...Gue cabut dulu yee!" Tito bergegas pergi dari hadapan Diana, tanpa memperdulikan ucapan-ucapan wanita itu kepadanya.
"Lo atur aja!" Lanjutnya, seakan mengetahui apa yang diucapkan oleh wanita itu.
"Kalo sampe ada yang bocorin kejadian itu, gue pecat dia hari ini juga!" Batinnya, bergegas menuju ruangannya, khawatir gadis itu ada disana.
Sesampainya Tito di laboratorium percobaan, dirinya merasa lega karena situasi si ruangan itu terlihat sibuk. Tidak ada satupun karyawan disana yang tidak sedang mengerjakan pekerjaanya bahkan bersuara sekalipun. Bunyi suara di ruangan itu hanya berasal dari mesin-mesin yang sedang digunakan oleh mereka.
"Aman..." Gumamnya, lalu pergi ke meja kerjanya.
__ADS_1
"Mungkin dia lagi bareng sama kakak-kakaknya..."Pikir Tito, lalu mencoba untuk melanjutkan kativitasnya kembali.
"Ahhh sial!" Tito menghela napasnya kasar, sekuat apapun dirinya mencoba untuk fokus, pria itu tetap merasa gelisah. Semakin dirinya mencoba untuk tetap tenang, maka kegelisahannya itu akan semakin terasa, dan ini sangat mengganggu konsentrasinya saat ini.
Kekhawatiran-kekhawatiran akan kebocoran rahasianya semakin lama semakin tinggi! Tito bahkan menyangka bahwa salah satu anak buahnya telah membocorkan rahasianya itu kepada para bosnya.
"Jangan-jangan dia tadi kesini...Ahh sial! Kenapa tadi gue malah pergi!..."Batin Tito semakin gelisah
"Tapi kayaknya aman..."Gumamnya, menyadari belum ada seorangpun yang menyinggung tentang peristiwa empat hari yang lalu kepadanya. Tito melihat ke sekelilingnya, dirinya melihat suasana ruangan itu tidak ada yang berubah. Semua kamera CCTV masih mengarah ke lokasi terakhir dia arahkan, layar monitor di komputernya pun masih menunjukan titik-titik yang sama, begitu pula dengan sistem yang dia rancang dalam komputernya semua masih dalam kondisi yang sama.
Tito tidak akan mengetahui jika semua gerak geriknya tengah dalam pengawasan seseorang di ruangan pribadinya.
.
.
.
Happy halu manteman
Thanks buat supportnya di part ini...
__ADS_1