DIKEJAR ANAK MAFIA

DIKEJAR ANAK MAFIA
Part 48


__ADS_3

Senyuman sinis tersungging diwajah seorang wanita yang sejak tadi berada diantara orang-orang yang menonton adegan yang dimainkan oleh Boris dan Airin, awalnya wanita dengan rambut pirang itu sempat ragu untuk mendekati Boris karena kehadiran gadis yang menurutnya menakutkan itu. Tetapi ternyata hal lain diluar dugaannya terjadi didepanĀ  matanya sendiri, " Dia tidak mengingat gadis itu...Apa yang sebenarnya lo alamin kemarin itu Ris..." Batinnya, lalu memutuskan untuk tetap berada disana, menyaksikan lebih lama lagi.


Kabar tentang kecelakaan Boris belum lama ini baru sampai ditelinganya keesokan harinya, dia bermaksud untuk menjenguk pemuda itu dua hari kemudian untuk menyatakan bela sungkawanya, tetapi kehadiran Airin beserta kedua kakaknya telah mengurungkan niatnya, terlebih kedia pengawal pribadi mereka yang selalu setia berada disana secara bergantian.


Kini dengan menyaksikan sendiri peristiwa langka ini, dalam benaknya timbul keinginan untuk mendapatkan Boris, toh pemuda itu sudah tidak mengingat siapa gadis itu sebenarnya. Dia akan menggunakan kesempatan bagus ini untuk merebut perhatian Boris dan memisahkan mereka berdua.


"i'll do whatever it takes...kali ini gue gak bakalan nyerah" batinnya, sejenak senyuman sinis itu kembali tersungging diwajahnya.


Tak jauh dari lokasi, dalam sebuah mobil sport hitam seorang pria tampan berkacamata hitam tengah memerhatikan peristiwa tersebut sejak tadi. Ekspresi wajahnya tetap datar, mewakili karakternya yang dingin, tetap menunggu dengan setia kabar perintah dari majikan kecilnya. Melihat kehadiran sesosok wanita yang dicurigainya, dia memutuskan untuk menghubungi seseorang lewat ponselnya, setelah mengambil gambar wanita tersebut dan mengirimkannya kepada orang tersebut.


"Selidiki dia" Pintanya singkat, lalu megakhiri panggilannya dan mulai melajukan mobil mewahnya mengikuti arah bus yang membawa sang majikan.


Kalau berbicara tentang semangat juang pantang menyerah, maka sang majikan kecilnya lah juaranya. Gadis itu akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, termasuk mengejar cintanya kembali. Mang Asep boleh berbagga diri dengan itu, toh selama ini nona Airinnya tak pernah melakukan sesuatu diluar batas kewajaran, setidaknya itu menurut kedua kakak kembarnya, lain halnya dengan dirinya. Karena terkadang mang Asep harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk melindungi Airin dari bahaya yang sering kali mengintainya.


Sesuai dengan dugaannya, bus yang ditumpangi oleh Airin dan Boris berhenti di halte bus alun-alun pinggiran kota. Dari sana mereka terlihat berjalan kaki menuju sebuah gang yang mang Asep ketahui adalah jalan menuju rumah Boris, dia lalu memarkirkan mobilnya di depan sebuah toko, dan memutuskan untuk mengikuti keduanya. Mang Asep harus memastikan jika mak Oneng tidak membuat ulah, hingga berakibat buruk pada Airin.


Mana tahu wanita tua itu berusaha untuk meyakinkan Boris jika dia telah mengenal Airin jauh lebih lama, tentu saja itu akan menghancurkan rencana majikan kecilnya untuk mendapatkan kembali cinta dari cucu satu-satunya itu. Padahal dirinya sudah mewanti-wanti mak Oneng untuk mengikuti permainannya, sehari sebelum mereka melancarkan aksinya diluar sepengetahuan kedua majikan besarnya.

__ADS_1


"Semoga mereka tidak sampai mengetahuinya..." Batinnya, meski dirinya tahu betul jika hal itu sangatlah mungkin. Dia hanya tinggal menunggu panggilan dari kedua saudara kembar itu saja, jdan jika itu tidak terjadi itu artinya sementara ini aksi yang mereka lakukan dalam keadaan aman.


"Assalamualaikum...maak" Ucap Boris sambil mendorong pintu lalu memasukinya, dan mencari keberadaan sang nenek di dapur. "Ayok masuk...gak apa-apa kok, tapi maaf yah rumahnya berantakan.." Lanjutnya, mengajak Airin yang masih setia berdiri diluar.


Kembali Boris merasakan keanehan pada dirinya, dia merasa seperti telah mengalami peristiwa yang sama saat ini, tetapi lagi-lagi dia tidak mengingat kapan waktu hal itu terjadi.


"Kakak kenapa?" Airin bertanya, karena sejak mak Oneng menyambut kedatangan mereka, nyawa pemuda tampan itu seperti keluar dari tubuhnya! Boris seperti tidak sedang berada disini saat ini.


"Ehh...gak apa-apa Ai, kamu duduk dulu aja yah..." Jawabnya, lalu pergi kekamarnya.


Seperti biasa Boris akan mengalami sakit di kepalanya jika dia mengalami kejadian seperti ini, hal terbaik yang dia lakukan adalah meminum obat agar sakit yang dirasakannya bisa segera hilang. Saat ini dia harus segera membantu mak Oneng menyiapkan tambahan cilok untuk pesanan TRUST Corp.


"Masih sedih?" Dia lalu bertanya kepada gadis yang sejak tadi masih terlihat murung itu.


"Iya...engga..." Airin mengangguk lalu menggelengkan kepalanya, sesuai dengan apa yang dirasakannya saat ini.


"Loh..iya apa engga nih..." Boris berusaha untuk membercandainya.

__ADS_1


"Jangan-jangan kamu engganya karena perut kamu laper..." Kekeh Boris, mendengar bunyi nyaring perut Airin. Gadis itu cepat-cepat menutupi perutnya, lalu memperlihatkan barisan gigi depannya.


"Dasar bocah" Batin Boris, lucu juga pikirnya


"Bentar, kak Boris bawain makanan, kak Boris harap kamu suka..." Lanjutnya, lalu pergi ke dapur dan tak lama kembali ke ruang tamu dengan semangkuk cilok panas ditangan kanan dan segelas air teh ditangan kirinya.


"Waaaaaa....Cilooookkkkk!!!"


.


.


.


Happy halu manteman


Thanks buat dukungannya di part ini!

__ADS_1


Loph loph sekebon kopi!


__ADS_2