DIKEJAR ANAK MAFIA

DIKEJAR ANAK MAFIA
Part 69


__ADS_3

"Tempat ini indah... " Batin Boris, mereka baru saja mendarat di tanah kelahiran ibu dari sang sahabat setia Robby. Pagi-pagi sekali Robby membawa pergi ke pulau kecil tersebut dengan pesawat pribadi milik keluarganya.


Mendarat di pulau Marina mereka disambut oleh paman dan tante dari Robby, yang membawa mereka langsung ke kediaman keluarga besarnya.


"Selamat datang di rumah keluarga kami" Ucap tante Riana, "Semoga kalian betah tinggal disini... " Lanjut nya dengan senyuman manis diwajahnya.


Semalam Robby sudah menjelaskan kepada sang tante perihal kedatangan mereka ke pulau tersebut, meski Robby tidak bisa menjelaskan alasan sebenarnya mengapa dirinya harus membawa sahabat serta neneknya untuk tinggal sementara waktu disana. Tetapi walaupun demikian, sang tante berserta keluarga nya bersedia menerima mereka disana.


"Gue harus balik ke Jakarta Ris, jangan sampe mereka curiga.. " Robby menepuk pundak Boris, sahabat nya itu sedang berdiri menghadap ke arah pantai dengan tatapan penuh arti. "Anggap disini rumah lo sendiri" Lanjutnya.


Boris menghela napasnya panjang, tidak ada kata-kata yang pantas dia ucapkan untuk sahabatnya ini kecuali rasa terimakasih nya yang dalam. Jika bukan karena kebaikan Robby dan keluarga nya, mungkin saat ini mereka akan hidup terlunta-lunta dijalanan, atau mungkin akan terus menderita oleh kekejaman nenek tua bernama Natalina.


"Makasih By.... makasih udah nolongin gue sama emak" Ucap Boris, lalu memeluk sahabatnya itu.


Jujur saja, Boris tidak tahu apa yang akan dia lakukan di pulau tersebut, sebuah tempat yang begitu asing baginya. Tetapi dirinya harus menatap ke depan dan meneruskan hidup nya disana, meski dia harus meninggalkan semua yang telah dia perjuangkan di ibukota selama hidupnya. Rumah satu-satunya, kuliahnya, teman-temannya, dan Airin.


"Lo gak usah sungkan bro, ini semua demi kebaikan dan keselamatan kalian berdua" Robby kembali menepuk pundak Boris, memberikan sedikit semangat kepadanya.


"Tapi... gimana dengan Airin Ris?" Lanjut nya.


Robby tahu betapa dalam cinta gadis itu terhadap pemuda di hadapan nya ini, pun Robby tahu jika Boris telah menyimpan rasa yang teramat dalam untuk gadis itu sejak lama, hanya saja Boris masih tidak berani mengungkapkan perasaan nya kepada Airin. Dan mungkin setelah peristiwa yang menimpa nya, Boris akan mengubur dalam-dalam perasaan cintanya itu.


"Gue yakin dia akan menemukan laki-laki yang layak untuk mendampingi hidupnya kelak" Jawabnya, dengan tatapan kosong mengarah ke hamparan pasir laut didepannya.


"Apa lo yakin jika laki-laki itu bukan lo?" Robby bertanya kembali, dia mencari sedikit harapan dari jawaban yang keluar dari mulut sahabatnya itu.

__ADS_1


"Lo kapan mau balik? bukannya lo bilang tadi mesti cepet-cepet balik Jakarta? " Boris mengalihkan pertanyaan Robby, dia tidak yakin dengan perasaannya sendiri saat ini. Boris akui selama ini dia memang memendam cintanya untuk Airin, tetapi dia masih belum yakin apakah dirinya pantas untuk menjadi pendamping hidup gadis itu. Terlebih dengan peristiwa yang datang secara bertubi-tubi belakangan ini.


Robby tersenyum, dia paham dengan maksud dari ucapan Boris. Mungkin memang benar jika pemudanya baik dihadapan nya ini masih belum yakin dengan perasaannya sendiri saat ini, tetapi dia memiliki keyakinan jika satu saat nanti Boris akan menyadarinya. Biarkan waktu yang akan menjawabnya pikir Robby.


"Oke... Gue jalan sekarang... Lo baek-baek idup disini ye nyet! Gue bakal sering-sering maen kesini... " Kekeh Robby, " Awas jangan kecantol sama putri duyung" lanjut nya sambil tertawa dan pergi meninggalkan Boris disana meratapi nasibnya.


.


.


Tiga bulan semenjak hilangnya Boris dari kehidupan Airin, gadis itu berubah menjadi lebih dingin dari sebelumnya, bahkan sekarang Airin seperti tidak perduli dengan dirinya sendiri dan orang-orang disekitarnya.


Airin telah mengetahui peristiwa yang telah menimpa kedua orangtua Boris dari mulut Natalina sendiri, meski dia meragukan semua ucapan nenek sihir itu. Mana mungkin ayah mang Asep yang telah membunuh keduanya, dengan dalih mereka ketahuan menggelapkan uang sang kakek untuk kedua orangtua nya.


"Nona, boleh saya masuk? " Mang Asep mengetuk pintu, sejak kepergian nyonya Natalina sebulan yang lalu bersama dengan Aldi, pengawal setianya itu enggan berada jauh dari gadis itu.


"Kalo mang Asep belum mau cerita, mending gak usah ganggu aku! " Teriak Airin lagi.


Entah apa yang ada di pikiran mang Asep, hingga saat ini pun laki-laki kutub utara itu belum juga mau membuka suara perihal peristiwa yang terjadi di masa lalu itu. Ini juga yang membuat kemarahan Airin belum juga reda hingga saat ini.


"Nona, bukankan nona ingin mencari dimana Boris saat ini? " Mang Asep mencoba untuk membujuk, dia tahu hanya kabar tentang Boris lah yang bisa membuat kemarahan gadis itu sedikit mereda.


Ceklek


Airin membuka pintu nya sedikit, "Kalo informasi kali ini gak bener juga, aku pecat kamu mang! "Ancamnya. Entah keberapa ratus kali Airin mengancam akan memecat pengawalnya itu, tetapi pada kenyataannya hingga saat ini mang Asep masih bekerja untuk nya.

__ADS_1


" Kabar terbaru tentang Boris, seseorang telah melihat dia di pulau Permata, dia terlihat sedang berbelanja disana nona " Ungkap mang Asep, lalu menghentikan ucapannya saat Airin memotong ucapannya.


"Tapi???? " Airin curiga, dia mencium adanya keraguan dari laki-laki dihadapan nya ini.


"Dia kehilangan jejak, ketika sedang mengikuti nya di kerumunan pasar" Mang Asep menghela napasnya pelan.


"Tapi nona jangan khawatir, kami telah memperluas pencarian hingga ke pulau-pulau kecil disana... "


BRAK!!


Mang Asep terpaksa menghentikan ucapannya kembali saat Airin menutup paksa pintu kamarnya.


"Jangan kembali sampe kamu tau dimana Boris sekarang! Atau aku pecat kamu hari ini juga mang Asep!!! "


.


.


.


Happy halu manteman!


Maaf tiga hari ini othor gak up cerita, dikarenakan kesibukan othor yang padat 🙏🙏🙏


Makasih buat dukungannya disemua novel othor ya... 😘😘😘😁

__ADS_1


__ADS_2