
Percobaan demi percobaan Boris dan tim lakukan, ada banyak trial dan eror yang telah mereka lalui selama beberapa hari ini tetapi mereka masih belum juga bisa menyempurnakan design mesin roda empat bertenaga listrik itu. Panel demi panel mereka buat dan mereka pasang, saluran demi saluran mereka hubungkan, hingga kabel demi kabel mereka sambungkan tetapi kecepatan mesin tersebut masih belum sesuai dengan target.
Mesin yang mereka buat nantinya memiliki kecepatan yang cukup tinggi tak kalah dengan mesin bertenaga kuda, tetapi ramah emisi dan hemat energi. Cocok diaplikasikan baik pada kendaraan jenis city car hingga mobil-mobil besar sejenis bus yang banyak diminati oleh masyarakat pada umumnya maupun industri.
Hal ini memicu kemarahan Tito sang manajer yang telah memberikan tenggat waktu penyelesaian projek tersebut. "Apa kalian semua gak punya otak hah?! Ini udah tanggal berapa?!" Makinya disela-sela pengarahan pagi rutinnya.
Bukan hanya pak Kardi sebagai supervisor tim saja yang kena omelan pria arogan itu, bahkan seluruh tim tak luput dari sasarannya apalagi Boris sebagai orang yang mendesign langsung mesin tersebut. Percuma pemuda tampan itu membela diri dengan mengatakan bahwa design yang dia buat memang masih jauh dari kata sempurna apalagi layak produksi, toh selama ini sekeras apapun Boris meyakinkan Tito, pria itu tak juga menghiraukannya.
Boris bahkan pernah bilang jika mesin tersebut tetap dipaksakan untuk di produksi secara masal, maka akan sangat berbahaya bagi pemakainya, itu artinya akan membahayakan reputasi perusahaan. Citra TRUST Corp akan sangat buruk dimata dunia jika sampai hal itu terjadi.
"Besok prototype ini sudah harus selesai! gua gak perduli kalian harus lembur atau pake cara apapun yang penting mesin ini udah harus siap paling lambat jam 9 pagi!" imbuhnya dengan penuh penekanan disetiap kata-katanya.
Selesai melakukan briefing pagi, tim meminta ijin kepada Tito untuk mengadakan rapat evaluasi. Kali ini pak Kardi memiliki sebuah ide brilian bagaimana agar mesin yang mereka buat bisa berhasil dan rampung lebih cepat.
Sementara tim laboratorium mesin tengah sibuk dengan projeknya, Airin kembali mengunjungi TRUST Corp, seperti biasa gadis itu ingin menemui Boris disela-sela pertemuan pentingnya dengan kedua kakak kembarnya.
"Pak Boris sedang sibuk bu Airin, beliau dan tim sedang merampungkan projek Aero didalam" Diana yang kebetulan ada disana memcoba untuk menghentikan Airin agar gadis itu tidak sampai masuk kedalam ruangan lab. Tapi memangnya siapa Diana? Dia hanya karyawan biasa yang sedang diincar oleh Airin karena telah berani menyentuh Boris waktu itu. Gadis itu hanya sedang mencari momen yang tepat untuk mengenyahkannya dari perusahaan miliknya ini.
"Kamu siapa berani melarang saya masuk?" Airin bertanya dengan nada yang begitu dingin dan datar, lalu meminta mang Asep untuk menyingkirkan wanita binal itu dari hadapannya.
__ADS_1
"Ingatkan saya untuk mengganti seragam karyawati mang, modelnya jelek!" Lanjut Airin, tetapi mengarahkan pandangannya kepada Diana, bukan kepada pakaian yang dikenakan olehnya. Sontak hal tersebut membuat wanita itu salah tingkah! Diana langsung mengarahkan pandangannya ke dua buah semangka yang menyembul di dadanya yang sedikit terbuka itu lalu menutupinya dengan map yang dia pegang.
Mang Asep bahkan tidak tertarik sama sekali melihat penampilan Diana, Menurutnya barang yang diobral di emperan tidak lebih menarik dari pada barang yang dipajang di etalase toko. Dia hanya menyunggingkan sedikit senyumannya lalu meminta wanita itu untuk memberi jalan bagi majikan kecilnya.
"Ris!...Boris!" Teriak pak Kardi, bisingnya suara mesin membuat siapapun disana bicara dengan volume lebih tinggi.
"Iya pak?!" Jawabnya, setelah mematikan mesin bor ditangannya.
"Dipanggil nona Airin!" Pak Kardi mengarahkan telunjuknya ke jendela kaca, dimana Airin tengah melambaikan tangan ke arahnya.
Pemandangan seperti ini sudah tidak lagi asing dimata mereka, semenjak Boris pulang dari rumah sakit gadis itu menjadi lebih sering mengunjunginya di tempat kerja. Mereka hanya berpikir bahwa Airin sedang memeriksa keadaan Boris, karena pada waktu itu gadis itulah yang membawanya kesana, atau sekedar menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan beasiswanya.
"Ini tidak bisa dibiarkan! Gue bakal kasih pelajaran sama bocah kampungan itu!" Batinnya.
"Ai...kak Boris lagi kerja loh..." Rengek Boris saat gadis itu meminta mang Asep untuk memencet tombol lift khusus. Airin mengajaknya unutk menemui kedua kakaknya, atas perintah mereka.
"Kenapa? kak Boris mau bantah perintah abang-abang aku?" Airin melipat kedua tangannkya di dada.
"Kenapa gak minta tolong sama mak Titiek aja sih Ai? ini kan...."
__ADS_1
"Apa? Kak Boris gak mau kalo aku yang jemput gitu? gak mau ketemu sama aku gitu?" Kali ini Airin memicingkan matanya.
Boris menghela napasnya kasar, memang sulit menghadapi mahluk paling benar di alam semesta ini pikirnya.
"Bukan gitu Ai..."
"Ya udah...kalo gitu ayok..." lagi-lagi Airin memotong ucapan pemuda yang saat ini terlihat lucu itu, dia sedang menggeruk-garuk kepalanya dengan mimik muka yang aneh.
Sesampainya di ruangan Aldi dan Aldo, Boris langsung di cecar dengan berbagai pertanyaan, pertanyaan yang membuatnya bingung harus menjawab apa.
"Siapa sebenarnya yang membuat design ini?!"
.
.
.
Happy halu manteman
__ADS_1
Thanks atas supportnya di part ini