DIKEJAR ANAK MAFIA

DIKEJAR ANAK MAFIA
Part 66


__ADS_3

Satu hal yang tidak Aldo dan Asep sadari adalah kenyataan bahwa Boris telah mendengarkan percakapan mereka sejak awal kedatangan salah satu kakak kembar Airin itu disana, hatinya hancur berkeping-keping menerima kenyataan yang begitu pahit itu. Boris tadinya hanya ingin melihat keadaan mang Asep, setelah dirinya merasa sudah pulih meski sakit di sekujur tubuhnya masih ada.


Mengapa disaat rasa cinta itu mulai tumbuh untuk sang gadis, di saat itu pula dia harus mengetahui kabar buruk yang telah menimpa mendiang kedua orangtuanya itu, pikirnya.


Bak petir di siang bolong yang menghantam jantungnya, rasa sakit yang tak tertahankan itu dibawanya pergi saat itu juga. Boris pergi meninggalkan rumah sakit dengan air mata yang mengalir dikedua matanya, dia tak memperdulikan rasa sakit dan perih akibat pukulan orang-orang jahat tadi di sekujur tubuhnya itu. Boris hanya ingin pergi sejauh mungkin dari orang-orang yang telah menyakiti dirinya, dia bahkan tidak perduli lagi dengan Airin dan keluarganya.


"Ya Alloh... ampuni hamba... tak kuasa lagi hamba menanggung rasa sakit dari hati ini Ya Rabb... " Batinnya meronta, sesekali dia mengusap air matanya yang semakin deras itu.


"Ris!! Lo mau..... " Robby bergegas menyusul Boris, sepertinya sang sahabat tidak mengindahkan keberadaan nya disana.


"Ris... Lo kenapa??" Lanjutnya setelah mengetahui bahwa sahabat baiknya itu tengah mengusap air matanya.


"Gue... " Isak Boris, tak kuasa menahan tangisnya.


"Ikut gue... " Ajak Robby, melihat keadaan Boris yang sangat tidak baik-baik saja itu, dia memutuskan untuk mengajak Boris pergi dari rumah sakit tanpa ingin bertanya lagi.


Sepanjang jalan Robby membiarkan Boris untuk tenggelam dalam dunianya, dia tidak berani berbicara sepatah katapun. Dia hanya ingin memberikannya ruang untuk berdamai dengan dirinya sendiri, dan Robby tahu betul dimana tempat yang memungkinkan bagi sahabatnya itu untuk mencurahkan isi hatinya.


Tiba ditempat yang dimaksud, Robby memarkirkan mobil mewahnya, lalu meminta sahabat setianya itu untuk keluar. "Adzan maghrib Ris... Gue tunggu lo disini" Ucapnya, lalu menekan tombol pengunci pintu.


"Semoga Tuhanmu mendengar dan mengabulkan doa-doamu Ris... " Gumam Robby, tanpa terasa air mata telah menggenangi pelupuk matanya.


Selama hidupnya mengenal Boris, Robby tahu betul bagaimana perjuangan sahabat baiknya itu. Pemuda baik hati itu berjuang untuk menghidupi dirinya dan nenek tercintanya selagi dirinya bersekolah, dia bahkan rela berpuasa selama berhari-hari karena harus memilih antara makan atau membayar buku atau lainnya. Bahkan seingat Robby, jarang sekali Boris meminta bantuan kepada siapapun termasuk dirinya.

__ADS_1


Robby bahkan juga harus mencari berbagai macam cara untuk menolong teman baiknya itu selama ini, karena dia tahu, Boris tak akan begitu saja mau menerima bantuan darinya.


Entah berapa lama Robby menunggu, hingga akhirnya dia memejamkan matanya, dan bunyi dentuman pintu lah yang telah berhasil membangunkan dirinya.


BLAM!


"Sorry, udah bikin lo nunggu lama By... " Ucapnya, lalu memasang seat belt kursi, dan hanya melihat Robby secara sekilas.


"Jiahhh... kayak ame sape aja lo, tenang aja kali... " Kekeh Robby, meski dalam hatinya dia bisa merasakan adanya perbedaan pada sikap Boris. Sahabat nya itu tidak seceria biasanya, dia bahkan bisa melihat adanya raut mata kesedihan diwajahnya. "Ni bocah ngapa ya..?" Pikirnya.


"Laper gak Ris? " Robby berusaha untuk mencair kan suasana.


"Gue pengen ketemu emak By...Gue boleh pinjem jaket lo sama duit buat ongkos?" Boris menjawab tanpa menjawab pertanyaan dari Robby, diapun merasa sungkan jika harus meminta sahabat baiknya ini untuk mengantarkan nya ke tempat itu. Apalagi hari semakin larut.


"What?? No... Lo gak boleh kesana pake angkot" Robby memutar setir mobilnya, mengurungkan niatnya untuk bersantap malam dan mengubah arah menuju salah satu villa milik keluarga Hutama, dimana mak Oneng berada selama ini.


"Tapi By... " Boris semakin sungkan, menurutnya dia sudah terlalu banyak merepotkan sahabat setianya ini dengan urusan pribadinya. Boris tidak mau menambah beban lebih berat lagi kepada Robby.


"Gue gak terima penolakan, lagi pula malem-malem gini gak bakalan ada angkot kesana... " Robby tersenyum tipis, apapun masalah yang telah menimpa Boris di rumah sakit tadi, jika sahabat nya ini belum mau berbagi cerita dengannya, maka dirinya pun tak akan mempertanyakan hal itu kepadanya. Setidaknya dengan seperti ini, Robby berharap bisa sedikit mengurangi kesedihan sahabat baiknya itu.


"Thanks By... Gue... " Lagi-lagi Boris tidak bisa melanjutkan ucapannya.


"Tenang aja... udah lo istirahat, sambil pikirin deh ntar mau ngomong apa sama emak lo tentang bonyok di muka lo itu... Oke?" Robby tersenyum miris, dan tetap memperhatikan arah jalan.

__ADS_1


Sementara itu di rumah sakit, dokter Varel telah kehilangan salah satu pasiennya. Dia memberikan perintah kepada para satpam dan suster untuk mencari keberadaan Boris, disana Aldi dan Aldo serta Airin pun ikut terlibat dalam pencarian pemuda malang itu.


"Maaf pak, kami sudah mencarinya kesemua tempat... tetapi keberadaan pak Boris tidak ada dimanapun di rumah sakit ini" Lapor kepala satpam kepada dokter Varel.


"Ya Tuhan... Dimana dia? Saya harus memberikan obat untuk menghilangkan rasa sakitnya" Dokter Varel menghela napasnya kasar. Menurutnya jika Boris tidak mengkonsumsi obat penahanan sakit, maka malam ini dia akan dilanda demam tinggi, dan itu akan membahayakan kesehatan nya.


"Bagaimana ini dok? Kok bisa dia pergi gak ketauan?" Tanya Airin khawatir, gadis itupun telah berkali-kali mencoba untuk menghubungi Boris lewat ponselnya. Tetapi panggilannya itu langsung masuk ke aplikasi mailbox! Apakah ponselnya mati akibat kehabisan baterai, ataukah Boris sedang berada diluar jangkauan saat ini pikirnya.


"Om juga gak tau Ai... terakhir om cek, anak itu lagi tidur" aku sang dokter, lalu meminta kepada seluruh tenaga kesehatan dan keamanan yang bertugas untuk tetap waspada dan memberitahu jika mereka mengetahui keberadaan Boris.


Kekhawatiran Airin semakin bertambah besar ketika dirinya berhasil menghubungi Robby, sahabat baik kekasihnya itu sama sekali tidak mengetahui keberadaan Boris saat ini.


"Ka... tolong kabarin aku kalo ketemu ka Boris ya... aku khawatir dia kenapa-kenapa" Isak Airin, lalu menarik napasnya dalam-dalam. Dirinya harus tetap berpikir jernih saat ini, meski kekhawatirannya terhadap Boris berbanding sama dengan tingkat kebenciannya terhadap sang nenek semakin melambung tinggi.


Jika saja wanita tua itu tidak pernah hadir disini, jika saja wanita tua itu tidak secara tiba-tiba perduli dengan keluarga nya seperti halnya yang selalu dia lakukan selama ini, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi.


"Nenek macam apa kau ini Natalina... " Batin Airin


.


.


.

__ADS_1


Happy halu manteman!.


Thanks ya buat dukungan nya di part ini 😘😘😘


__ADS_2