
"Mereka ada didalam... " Mbak Titiek menyambut kedatangan Aldi dan Aldo dengan setumpuk map, dan mengikuti keduanya kedalam ruangan kerja para bos nya itu. Didalam sudah menunggu tim pengacara terbaik yang dikirim oleh nenek Natalina, juga tim pengacara keluarga Hutama Putra
" Ini sudah lengkap? " Tanya Aldi kepada sang sekertaris.
"Sudah pak... and good luck, kami semua berdoa untuk kalian berdua" Jawabnya, lalu kembali ke mejanya setelah dia menutup pintu ruangan besar itu.
"Oke.. gak udah buang-buang waktu... kita mulai sekarang" pinta Aldi, lalu menarik kursinya dan mempersilahkan semua orang disana untuk memulai rapat penting hari ini.
Selagi kedua saudara kembar itu memperjuangkan masa depan mereka dan perusahaan milik mereka yang menyangkut khalayak banyak, orang-orang suruhan Natalina menyambangi kediaman sederhana milik Boris dan mak Oneng. Wanita tua itu sungguh merasa ketakutan dengan kedatangan orang-orang berpostur tubuh tinggi besar dengan pakaian serba hitam saat ini, untung saja sang cucu Boris belum berangkat kuliah dan kebetulan sahabatnya Robby datang untuk menjemputnya.
"Boris! Eta teh saha?? meni sarieun kitu ningalina ema mah... Aya naon Ris?? Kamu terlibat naon di kampus? " ( Boris itu siapa? ema takut liatnya, ada apa ini Ris? kamu terlibat apa di kampus?) Mak Oneng melihat keluar jendela, didepan pintu sudah berdiri orang-orang menakutkan tersebut memanggil nama cucunya. Beruntung Robby tiba disana, saat Boris memenuhi panggilan sang nenek.
"Ema tunggu disini, nanti tutup pintu nya yah.. " Pinta Boris, lalu keluar untuk menemui orang-orang tersebut setelah mak Oneng menutup pintu rumahnya kembali.
"Saya Boris pak, ada yang bisa saya bantu? " Boris memperkenalkan dirinya, setelah mendengar salah satu dari mereka bertanya kepada Robby untuk kesekian kalinya. Rupanya sahabatnya itu menjawab pertanyaan mereka dengan mempertanyakan apa maksud dari kedatangan mereka ke rumah itu.
"Saya mendapatkan pesan dari nyonya Natalina untuk memberikan ini" Salah satu dari mereka menyerah kan sebuah amplop coklat tebal kepada Boris, "Anda diminta untuk menjauhi nona kami secepatnya" Lanjutnya, dengan sorotan mata sinis. Rupanya dia berpikir apa yang dikatakan oleh nyonya besarnya itu benar adanya, bahwa orang miskin seperti mereka bisa menuruti apa perintah yang diberikan asalkan diberikan sejumlah uang.
Tanpa membukanya, Boris menyerahkan kembali uang tersebut "Ambil kembali uang ini, dan katakan kepada nyonya besar Anda itu saya tidak memerlukan nya" Ucapnya dengan sangat sopan dan ramah, meski ada sedikit torehan di benaknya.
"Kalian semua dengar apa yang dia ucapkan? Sekarang silahkan pergi dari sini dan jangan pernah mengganggu mereka lagi" Pinta Robby, ada sedikit kekesalan dalam ucapannya. Kenyataan bahwa seseorang dengan latar belakang keluarga terhormat ternyata melakukan hal yang tidak terhormat, juga Robby dapat merasakan kesedihan Boris saat ini. Apa salah Boris? pikir nya.
"Nyonya Natalina juga ingin kami menyampaikan pesan yang lain" Kini giliran rekan mereka yang berbicara, " Kalo lo gak mau nerima uang ini, kita diperbolehkan untuk ini... "
__ADS_1
BUGH!!!
Tiba-tiba saja pria bertubuh kekar tersebut melayang kan pukulannya ke wajah Boris, dan membuat pemuda itu tersungkur. Jika saja Robby tidak melawan, mungkin sahabatnya itu sudah menjadi bulan-bulanan ketiga orang menakutkan tersebut. Meski dengan susah payah Robby berusaha menangkis pukulan-pukulan dari ketiganya, sambil berusaha melindungi Boris hingga sahabatnya itu pun bangkit dan membantu Robby menghadapi tiga orang yang jelas saja bukan tandingan mereka.
BUGH!!
BUGH!!
BAK!!!
Entah dari mana datangnya mang Asep saat itu, kemunculan nya yang tiba-tiba disana telah membuat perkelahian tersebut menjadi seimbang, pengawal pribadi Airin itu dengan mudah mengalahkan ketiga nya hingga mereka lari pontang panting sambil memegangi anggota tubuh mereka yang telah menjadi sasaran telak pukulan maut mang Asep. Ternyata Airin pun sudah berada disana.
"Rasain... emang enak.. ! " Ejek Airin, lalu bergegas menghampiri Boris. Ada darah segar keluar dari hidung dan bibirnya saat ini, "Kak Boris itu... " tunjuk Airin.
"Kakek... Ayah... andaikan kalian ada disini sekarang, ini semua tak akan terjadi... " Benak Asep, saat menyaksikan ketiga orang dihadapannya.
"Kalian sudah tidak aman tinggal disini, mereka akan kembali lagi Ris... Kasian emak, mending lu tinggal di apartemen gue sementara waktu ini " Saran Robby, yang langsung mendapatkan persetujuan dari Airin.
Sebenarnya Airin bisa saja meminta Boris dan mak Oneng untuk tinggal di salah satu villa atau apartement nya, tetapi itu sama saja dengan menyerahkan diri masuk ke kandang harimau. Dengan mudah sang nenek akan mengetahui keberadaan nya, itu artinya akan lebih memudahkan aksinya dalam mengintimidasi keluarga kecil ini. Airin tahu sang nenek tidak akan berhenti melakukan apapun sampai keinginannya tercapai.
Boris berusaha untuk menolak, terlebih dia cukup paham jika tinggal diapartemen tidak akan membuat sang nenek betah, alasannya mudah saja, disana tidak ada tetangga yang bisa diajak ngobrol dan pastinya jauh dari yang namanya mesjid.
"Ini buat sementara aja ka, please... sampe nenek tua itu kembali ke Jerman.. " pinta Airin, " Aku khawatir mereka datang kesini pas kaka lagi gak ada di rumah, kaka gak mau kan ema kenapa-kenapa... " Pinta Airin kembali, dan kali ini dia berharap Boris akan menyetujuinya. Lagipula dia pasti gak mau kan sampai mak Oneng celaka, pikirnya.
__ADS_1
Boris menghela napasnya kasar, ada benarnya ucapan Airin ini. Dia tidak akan menerima begitu saja jika mereka sampai mencelakai nenek satu-satunya itu, wanita yang sangat berharga baginya.
"Lo gak akan ngerepotin gue Ris, tuh apartemen jarang juga gue tinggali" Robby seperti tahu apa yang dipikirkan oleh Boris saat ini.
Meski dengan berat hati, akhirnya Boris pun menyanggupi saran yang diberikan oleh Robby. Ini semua demi kebaikan mak Oneng, pikirnya. Dia pun akan memikirkan langkah lain selama tinggal disana, tidak mungkin Boris akan tinggal diam saja menghadapi segala teror dari orang-orang suruhan nyonya itu kedepannya kan?
"Bang Alda... Apa yang harus Airin lakukan? " Benak Airin, melihat keluarga kecil ini meninggal kan satu-satunya harta berharga milik mereka akibat ulah neneknya sendiri.
Sementara itu ditempat lain..
"Kurang ajar!!! Ayah dan anak sama saja kelakuannya!! " Natalina mengeratkan rahangnya, " Dan kalian! Kalian semua tidak becus! " Lanjutnya, lalu memerintahkan kedua pengawal setianya untuk membereskan orang-orang yang ada dihadapannya.
"Tidak ada seorangpun yang bisa menghentikan aku untuk mendapatkan apa yang aku mau! Tidak juga kalian..!! " Ucapan yang ditujukan untuk ketiga cucu Natalina.
.
.
.
Happy halu manteman
Happy weekend & Thanks buat dukungan nya di semua novel Othor!
__ADS_1
Love you all segunung Everest! 😘😘😘