
Kabar lulus seleksi pertama Boris di TRUST Corp telah diterima oleh pemuda tersebut melalui papan pengumuman di lobi kampus, pemuda itupun telah mengantongi jadwal untuk mengikuti seleksi tahap kedua yang diselenggarakan di perusahaan mega besar itu secara langsung jam satu siang ini.
"Udah...Lo pakai baju gue aja!" Ucap Robby kepada sang sahabat yang datang dalam keadaan sedikit lusuh itu.
Pagi ini Boris harus membuat pesanan cilok sebanyak 50 kotak untuk perusahaan yang akan dia datangi siang ini! Hampir semalaman dirinya harus membantu mak Oneng untuk membuat dan mencetak adonan makanan yang lagi trendy tersebut, hingga pagi harinya setelah pesanan tersebut diambil oleh kurir ojol Boris sudah tidak sempat lagi memikirkan pakaian yang akan dikenakannya untuk kuliah. Apalagi untuk sesi wawancara nanti yang jadwalnya saja baru Boris ketahui setelah dirinya tiba dikampus.
Boris hanya mengenakan celana jeans dan kaos oblong dengan jaket hoodie andalannya, ditambah sepatu yang dia miliki satu-satunya yang dibelinya ketika SMA dengan uang hasil keringatnya berjualan cilok.
"Ya elah pake mikir segala...Ntar balik kuliah lo ikut gue ke apartemen..." Lanjutnya.
"Bukan gitu By, masalahnya gue belom mandi tadi...bangun aja gue kesiangan" Boris menggaruk kepalanya yang tak gatal. Jika memang bukan karena nyanyian merdu mak Oneng, sudah pasti dirinya belum bangun saat ini.
"Ngeles aja lu...Udah ikutin saran gue, lo musti ganteng pas interview nanti...oke bro!" Robby mendecih
Dia tahu betul sahabat setianya ini pasti merasa sungkan menerima maksud baiknya, itu memang sifat Boris dari dulu. Pemuda satu ini memang terkenal enggan untuk menerima bantuan dari orang lain, terkecuali memang keadaan yang memaksa seperti sekarang ini.
"Tserah lo dah..." jawab Boris pasrah, apalagi saat ini dirinya memang benar-benar butuh bantuan. Tidak mungkin Boris meminta bantuan kepada orang lain selain sahabat dekatnya ini, hanya dia satu-satunya orang yang Boris ketahui ukuran baju dan sepatunya sama! Dan pastinya Boris akan sungkan jika meminjam kepada orang lain yang belum tentu dia kenal baik.
Setelah perdebatan panjang di apartemen milik Robby, sepulangnya kuliah mereka tadi, Boris memutuskan untuk menyetujui saran sang sahabat untuk memakai kemeja biru langit dengan celana bahan model slimfit berwarna navy dengan blazer yang berwarna senada juga mengenakan sepatu pantofel hitam doff dan dasi berwarna navy bermotif embos. Dia pun merapikan rambutnya dengan mengoleskan gel untuk melengkapi penampilannya siang ini.
__ADS_1
Dan disini lah Boris berada saat ini, di ruang tunggu interview tahap dua yang telah dijadwalkan untuknya bersama dengan teman-temannya yang lain. Ternyata selain calon karyawan magang, disana pun banyak menunggu calon-calon karyawan trainee diluar dari kampus Sriwijaya.
Boris dilanda perasaan gugup seketika dirinya mendengar percakapan diantara mereka, rata-rata dari mereka telah memiliki pengalaman kerja, cara mereka berinteraksi pun begitu luwes padahal banyak diantara mereka yang baru berkenalan hari ini. Belum lagi penampilan mereka yang begitu menonjol pikir Boris, didukung dengan kulit mereka yang bersih dan rata-rata putih itu.
"Interview juga?" Seorang gadis yang sejak tadi memerhatikan Boris akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, entah dia sedang berusaha untuk menghilangkan rasa gugupnya dengan berbicara kepada Boris atau memang benar-benar memiliki niat untuk mendekati pemuda tersebut, yang pasti pertanyaan itu langsung mendapatkan respon darinya.
"Iya kak...kakak interview untuk posisi apa?" Tanya Boris. Bukan tanpa alasan dirinya memanggil wanita itu dengan sebutan kakak, penampilan serta dandanan menor dia lah yang membuat Boris akhirnya memanggil wanita tersebut dengan panggilan itu.
"Kok kakak sih...Kita kayaknya seumuran deh.." Ujarnya dengan nada kecewa, dan langsung mengambil kaca cermin kecil dari dalam tasnya lalu melihat tampilan dirinya disana.
"Owh...maaf kak,...eehhh mba...eehh" Boris kebingungan sendiri, pasalnya dirinya belum mengetahui siapa nama wanita yang ada disampingnya itu.
"Lolita..namaku Lolita, panggil saja Loli.." Ucapnya kesal tapi sedetik kemudian mengukir senyuman untuk Boris, misinya berhasil untuk bisa berkenalan dengan pemuda tampan disampingnya.
Untung saja seorang wanita menghampiri dan memanggil namanya. "Dengan pak Boris? Silahkan ikut saya" Pinta wanita yang Boris yakini sebagai salah satu staff diperusahaan tesebut.
Bak mendapatkan angin segar, Boris pun mengikuti wanita anggun dengan gaya rambut cepol berponi samping itu menuju ruangan wawancara. Sepanjang jalan jantungnya berjoget danggut mengiringi pikirannya yang kalut, apakah dirinya akan bertemu langsung dengan Aldi atau Aldo.
"Panggil saja Boris pak, sesuai dengan namanya" Jawab Boris dengan perasaan lega. Ternyata yang mewawancarai dirinya saat ini bukan Aldo apalagi Aldi, melainkan manajer HRD di perusahaan tersebut.
__ADS_1
Sementara itu diruangan lain.
"Bocah tengik! Berani-beraninya dia!..." Hardik Aldi saking kesalnya, emosinya muncul setelah dirinya melihat peristiwa yang terjadi di ruang tunggu melalui layar pc diruangannya.
"Lah, kok keselnya sama si Boris sih bang..Lo kayak bukan laki-laki aja..." Gelak Aldo.
"Matanya itu jelalatan! Kampungan!" Aldi semakin meradang. Dia tidak bisa membayangkan pemuda seperti Boris yang akan menjadi pendamping adik perempuan satu-satunya itu.
"Cuma laki-laki buta yang gak bakalan liat pemandangan model gitu bang, lagian emang abang gak liat itu bocah sampe salting gegara matanya udah kena racun bukit kembar.." Kembali Aldo tertawa, kali ini tawanya semakin terbahak.
Untuk seorang Aldi yang terkenal flamboyan, mustahil jika dirinya tidak memahami realita tersebut. Terlebih ada banyak wanita yang bahkan rela untuk menanggalkan pakaiaannya dihadapan pria tampan itu, banyak pula diantara mereka yang berani mengubah penampilannya di meja operasi hanya untuk mendapatkan perhatian mahluk kutub utara tersebut. Tetapi meski demikian Aldi hampir tidak pernah mengindahkan tingkah mereka. Adapun yang akan menjadi perhatiaannya adalah ketika ada seorang wanita yang berani menyinggung atau mengusik privasinya, sudah pasti mereka akan berakhir di pengasingan atau bahkan mati.
"Pecat perempuan itu!" Pinta Aldi kesal tiada tara.
"Lah...belom juga jadi karyawan..."
.
.
__ADS_1
.
Happy halu manteman