
Jika malam ini Boris memanjatkan do'anya kepada Sang Pemilik Takdir akan kegelisahan dalam hatinya, maka beda hal nya dengan Airin. Gadis itu baru saja bertengkar dengan kedua kakak kembar nya.
Awalnya baik Aldi maupun Aldo hanya mengutarakan kekhawatiran nya terhadap Airin yang masih saja mengejar cinta Boris, seorang pemuda yang bahkan jauh dari kata pantas untuk sang adik yang terlahir dari keluarga papan atas. Tetapi lama kelamaan gadis itu kesal juga, pasalnya kedua kakak kembar nya itu selalu saja menyinggung masalah latar belakang keluarga. Hal yang sungguh memuakkan bagi Airin, apalagi setelah tahu perihal jodoh menurut agama dari sang calon pacar, meski baru sekilas.
"Abang tuh ngerti gak sih kalo jodoh tuh ditangan Tuhan??? Pake segala gak pantes lah... apaan sih! " Airin bersungut-sungut, dia melipat kedua tangannya didadanya.
"Lah, bener kan? bibit bebet bobot?? Latar belakangnya harus jelas, mapan apa engga secara ekonomi.... "
"Aaahh...!!! Kuno! Yang penting tuh akhlaknya bang!! Imannya sama Tuhan... bibit bebet bobot kalo ujung-ujungnya yang diliat tetep harta-harta juga ya percuma! Nol besar! " Airin memotong ucapan Aldo, lalu pergi meninggalkan keduanya menuju kamarnya.
BLAM!
"Kesel!!! Kesel!!!... Arrrggghhh!! Kenapa sih ribet banget dah urusan beginian...!!" Airin membanting pintu sekuat tenaga, lalu membenamkan dirinya didalam selimut. Dalam keadaan seperti inilah Airin sangat membutuhkan kehadiran almarhum Alda, mediang kakaknya itu sudah pasti akan mendukung nya seratus persen akan hubungan nya dengan Boris.
"Kenapa sih abang ninggalin Airin secepat itu?? " Isaknya.
Keesokan harinya.
"Tuan... Nona Airin sudah tidak ada di kamarnya..! " Bu Syamsul setengah berlari menghampiri kedua majikan muda nya, Aldi dan Aldo memerintahkan wanita itu untuk memanggil sang adik untuk sarapan bersama pagi ini, tetapi setelah dirinya beberapa kali mengetuk pintu dan pada akhirnya membuka pintu kamar itu dengan kunci cadangan nya, dia sudah tidak menemukan keberadaan nona kecilnya disana.
"Lo hubungi mang Asep, gue hub Airin... " Aldo mengambil ponsel pintarnya, lalu menghubungi Airin. Tetapi ponsel gadis itu sudah dalam keadaan tidak aktif! Aldo mengulangi nya lagi hingga tiga kali, tetapi hasilnya tetap sama.
"Gimana?? " Tanya Aldi, berbeda dengan Aldo, dia berhasil menghubungi mang Asep. Pengawal pribadi adik kesayangannya itu sedang menuju kemari, dia tidak tahu menahu perihal menghilang nya Airin pagi ini. Lalu bersama siapa Airin pergi?
"Dia lagi otewe kesini, bentar lagi dia sampe.. " Aldo menggaruk keningnya, pikirannya tak lagi tenang saat ini. Jika saja mang Asep sedang berada dengan Airin, meski sang adik menonaktifkan ponselnya, pikirannya bisa tetap tenang saat ini.
__ADS_1
"Lo jangan becanda Do! Terus Airin sama siapa kalo si kurang ajar itu lagi on the way kesini??! " Aldi bermaksud untuk menarik kemeja abu-abu muda yang dikenakan Aldo, tetapi mang Asep telah sampai disana dan terlebih dulu melerai keduanya.
"Tuan... tuan! hentikan! Tolong... hentikan...! " Pinta mang Asep, menghalangi keduanya agar tidak bertengkar.
"Sabar bang! Jangan cepet emosi kayak gini, kita harus cari Airin secepatnya... kita gak tau dia pergi sejak kapan! " Aldo menurunkan tangan mang Asep, lalu menghampiri sang kakak. "Kita pasti temukan dia secepatnya" Lanjut nya.
"Mang Asep, kamu ke sekolah Airin... coba cari dia disana.. " Pinta Aldo, " Biar kita cari ditempat lain... " kemudian.
"Tuan.. ijinkan saya saja yang mencari nona Airin, tuan tunggu kabar dari saya saja... perusahaan sedang memerlukan tuan saat ini.. " Pinta Asep, yang sontak menimbulkan pertanyaan besar dari Aldi dan Aldo.
" Maksud lo apa mang?! Jangan becanda..! " bentak Aldi.
"Tadi nyonya Natalina menghubungi saya tuan, dia sedang dalam perjalanan menuju kemari dari Jerman, beliau berusaha menghubungi tuan sejak semalam... " Jawab mang Asep, dirinya tidak mengetahui maksud kedatangan nenek dari para majikan muda nya itu, yang dia tahu kedatangan wanita tua itu tidak pernah tidak menimbulkan masalah.
"Lo masih nge blokir nomor dia?? " Tanya Aldo setelah kepergian mang Asep, sambil melihat layar ponsel nya.
Keduanya menimang-nimang, apakah pengaturan yang selama setahun ini mereka terapkan akan mereka batalkan begitu saja. Kekesalan keduanya kepada sang nenek yang kerap ikut campur dalam segala urusan itu belum juga bisa reda.
"Bodo amat lah, yang penting sekarang gimana caranya biar kita temukan Airin secepatnya...! " Lanjut Aldi, masih kesal... dan kini malah bertambah dengan kedatangan sang nenek.
"Dia gak boleh tau tentang ini bang, bisa celaka kita... " Aldo bergegas meninggalkan ruangan itu, dan meminta sang sopir untuk mengantarkan dirinya ke kantor seperti biasa.
"Masalah apa lagi ini... " Benak Asep, sepertinya masalah yang menimpa keluarga ini tak pernah habis pikirnya.
"Apa maksud kedatangan nyonya kali ini?" Gumamnya, sepanjang jalan menuju sekolah Airin dirinya hanya sibuk memikirkan apa yang akan dilakukan wanita tua itu kali ini. Yang mang Asep tahu perusahaan hampir tidak ada masalah yang mengharuskan nyonya Natalina untuk datang, lagipula kalaupun kedua bos muda nya itu sampai tidak bisa menyelesaikan masalah perusahaan, maka sang ayah lah yang terlebih dahulu mereka hubungi. Dan itu bahkan tak pernah terjadi.
__ADS_1
"Apakah dia tahu hubungan nona dengan pemuda itu? Tapi itu tak mungkin..." Meski mang Asep tidak bisa menyangkal hal tersebut, tetapi masalah hubungan nona Airin dan Boris masih terlalu dini untuk dianggap seserius itu. Kedekatan mereka pun belum terlalu dianggap serius, selain kenekatan sang nona yang tetap mengejar cinta pemuda idamannya itu.
"Apapun itu, amanat dari almarhum yang tetap akan aku pegang teguh... "
Sementara itu disuatu tempat, di sebuah gedung bertingkat sederhana, disalah satu kamar sederhana pula, seorang gadis cantik berambut sebahu tengah membereskan ruangannya. Semalam dia berhasil mendapatkan kamar kost yang lumayan bagus, dan ternyata lingkungan nya pun bersih dan aman dengan penjagaan beberapa orang satpam didepan gerbang rumah.
"Beres! Sekarang gue ngapain ya?? Sekolah gak mungkin lah... ntar ketauan lagi sama mereka... hhhmmmm... coba-coba browsing deh, sapa tau dapet kerjaan magang online.." Airin mengeluarkan laptopnya, lalu menyalakan benda tersebut dan mulai berselancar di dunia maya.
Alasan mengapa gadia itu memilih tempat seperti ini adalah agar kali ini kedua kakak posesif nya itu tidak mengetahui keberadaan nya, ditambah lagi sang nenek yang semalam menghubungi nya dan memberitahu nya bahwa wanita tua itu akan membawanya serta ke Jerman untuk melanjutkan kuliahnya disana.
"Hidup sama dia? Mimpi! Bisa-bisa gue mati terkekang... Gak deh yaaaa... makasih... makasih... " Gumam Airin.
"Kayak nya mereka gak bakalan juga sampe kepikiran nyari kesini... " Airin terkekeh sendiri, membayangkan semua orang akan mencari keberadaan nya di tempat-tempat yang biasa dia kunjungi ketika melarikan diri.
.
.
.
Happy halu manteman..
Maaf othor baru bisa up cerita nya, dua hari kemarin othor lagi nge-flare... lagi kambuh sakitnya... Alhamdulillah pagi ini othor udah baikan.....
Makasih atas dukungan nya selalu yaaaa..
__ADS_1
Loph u all sekebon kopi!