
Kejadian bersama Paula tadi siang berimbas pada mood Boris saat ini. Ada banyak pertanyaan yang muncul dipikiran pemuda tampan tersebut. Mengapa tiba-tiba Airin muncul dihadapannya? Terlebih disaat Paula tengah berusaha untuk meminta bantuan padanya yang berujung pada saingan besaran uang dari kedua gadis itu dan satu tempat bernama Diamond. Meski Boris hampir bisa dikatakan geek alias kutu buku, tetapi pemuda yang memiliki sampingan usaha jualan cilok itu cukup tahu tempat apa Diamond itu.
Rencana untuk pergi ke toko buku pun berganti, Airin mengajaknya pergi ke suatu tempat. Boris hampir tidak mendengar ajakan Airin ketika gadis itu memutuskan untuk merubah rute perjalanannya, pikirannya masih tenggelam dengan semua prasangka yang hadir dan menyelimuti benak dan pikirannya.
Airin menghela nafasnya sejenak sambil menatap Boris dengan tatapan yang sulit diartikan, seakan ingin melahap wajah tampannya yang menurutnya terlihat konyol saat ini. Airin paham pasti telah muncul banyak pertanyaan dipikiran sang pujaan hati, dan dia memang berencana untuk menceritakan semuanya kepada Boris ketika mereka telah sampai di tujuannya nanti.
"Kita udah sampe ka...." Airin keluar dari mobil setelah mang Asep membukakan pintu untuknya.
Boris masih saja berkutat dengan pikirannya, dia tidak menyadari ajakan Airin untuk segera turun dari mobilnya hingga ketukan keras di jendela dari mang Asep membuatnya kembali tersadar. Entah berapa lama Boris berada didalam kabin mobil tersebut, hingga pria bertubuh kekar itu lah yang meminta dirinya untuk segera keluar dari sana.
Tak!! tak!!
"Udah sampai, neng Airin sudah menunggu didalam" Ucap mang Asep, menahan kekesalannya.
Boris menghela napasnya berat, sebenarnya dirinya enggan berada di situasi seperti ini. Biasanya Boris memilih untuk menyendiri hingga perasaan dan pikirannya kembali tenang ketika sedang mengalami masalah. Dengan langkah gontai Boris menghampiri Airin, pemuda tampan itu bahkan baru menyadari ternyata bangunan yang dia masuki begitu sangat besar! Bahkan ketika Boris memutar tubuhnya untuk mencari keberadaan pintu gerbang, dirinya hanya melihat besi-besi berukuran kecil berbentuk kotak dari tempat dirinya berdiri saat ini.
"Selamat datang tuan, silahkan ikuti saya" Pinta seorang wanita separuh baya dengan pakaian khas pelayan, lalu berjalan mendahului Boris dengan sopannya.
"Silahkan masuk, nona Airin sudah menunggu disana" Pelayan tersebut membukakan pintu untuk Boris, lalu mengangguk pelan dan menutup pintu kembali setelah Boris memasuki ruangan tersebut. Lebih tepatnya kembali keluar ruangan, karena ternyata Boris saat in telah tiba dihalaman belakang bangunan besar tersebut.
__ADS_1
Angin sepoy-sepoy yang menerpa menyambut kedatangan Boris ditempat itu, hamparan pasir putih dengan deru ombak melengkapi keindahan pemandangan pantai tepat dihalaman belakang rumah mewah itu. Tepat di bibir pantai tak jauh dari dirinya, angin pantai menerpa rambut indah Airin. Gadis itu tengah memainkan pasir dengan kakinya, menunggu kehadiran Boris disisinya.
"Indah..." Gumam Boris, seraya mendekat ke arah Airin.
Senyuman manis Airin dan uluran tangannya membuat hati sang arjuna sedikit luluh, meski masih sulit baginya untuk membalas senyuman Airin.
"Kakak suka?" Airin menarik tangan Boris, hingga pemuda tampan itu mengikuti langkah kaki sambil membalas genggaman tangannya.
"Neng Airin...."
"Airin ka...Panggil aku Airin tanpa neng" pinta Airin masih dengan senyumannya.
"Kakak boleh mencaritahunya langsung ke tempat yang aku maksud, jika memang kakak gak percaya dengan apa yang akan aku katakan ini" Imbuhnya.
Boris pun mendengarkan dengan seksama ucapan-ucapan Airin, mengapa gadis itu tiba-tiba berada di kampus Boris pagi ini dan mengapa dia sampai tahu perihal Diamond. Berkali-kali Boris meneguk salivanya kasar dan membuang napas panjangnya, dia tidak menyangka Paula selain agresig, gadis itu memiliki akal bulus yang busuk demi memuaskan hasratnya kepada dirinya.
Boris tidak habis pikir apa yang ada dipikiran gadis nekat itu, selama ini dia hanya mengira jika Paula hanya sosok gadis kaya yang manja yang hanya mencari perhatian dari orang lain dengan tingkahnya yang memang seringkali diluar batas kewajaran.
"Airin, boleh kak Boris bertanya sesuatu?"
__ADS_1
Dari semua ucapan Airin, Boris justru jadi penasaran darimana Airin bisa mendapatkan informasi tersebut? Bukankah dia hanya siswa kelas 3 SMA? Atau apakah semua murid sekolah elit mainnya terlalu jauh? apakah ini ada hubungannya dengan latar belakang keluarga Airin yang selama ini masih menjadi misteri bagi Boris?
"Darimana aku bisa tahu semua ini?" Tebak Airin.
"Kalau itu tanyain aja sama mang Asep ka...Gitu-gitu dia perhatian loh sama kak Boris, buktinya dia ngasih tau aku semuanya" Kekeh Airin.
Tiba-tiba saja bulu kuduk Boris berdiri tatkala Airin menekankan kata perhatian tadi, Boris bergidik ngeri bagaimana pria dengan tubuh kekar itu bisa mempunyai perhatian khusus dengannya. Jangan-janagn selama ini sikap galak dan juteknya dikarenakan mang Asep cemburu karena kedekatan dirinya dengan Airin.
"IIhhhhh...ngeri! amit-amit....pait...pait...pait...."
.
.
.
.
Happy halu manteman
__ADS_1