
"Ka... Ini Airin... Kakak lupa sama aku? " Airin mencoba kembali membuat pemuda yang kini terlihat bingung itu untuk mengingat nya, tetapi rasanya percuma karena yang dia ingat hanya mak Oneng, neneknya.
"Maaf neng... Saya... Saya benar-benar tidak ingat siapa eneng" Jawab Boris untuk ketiga kalinya.
Air mata Airin tak bisa dibendung lagi, meski gadis itu mencoba sekuat tenaga untuk tetap tegar tetapi dengan Boris melupakan dirinya, itu membuat torehan luka dihatinya. Airin meninggalkan ruangan itu dengan tangis tersedu dan meninggal tanda tanya dibenak Boris.
"Siapa gadis itu? Kenapa aku seperti mengenalnya? Dan... Apa yang ku rasakan ini?? "
"Dek... Ada apa? Kenapa kamu nangis??" Aldo baru saja tiba di rumah sakit, untuk menjemput sang adik dan mengajaknya makan siang bersama tiba-tiba mendapatkan pelukan erat Airin saat gadis itu berlari kearahnya.
"Kak Boris bang... Kak Boris gak ingat sama Airin... " Isak Airin, dirinya membenamkan wajahnya di dada bidang sang kakak mencoba untuk mencari ketenangan disana.
Aldo menarik napasnya panjang dan mencoba untuk menyembunyikan kekhawatiran nya dari Airin, dia mengelus punggung adik kesayangannya lalu mencium puncak kepalanya.
"Sabar dek... Jangan nangis lagi... Kita akan tetap berusaha untuk dia... Jangan menyerah oke.. "
Hanya demi Airin Aldo dan Aldi melakukan semua ini kepada Boris, hanya demi sang adik keduanya rela mengesampingkan ego, aturan keluarga dan masih banyak lagi, dan hanya demi sang adik tercinta mereka akan melakukan apapun untuk membuat nya bahagia.
__ADS_1
Sementara itu diruangan rawat inap Boris, dokter Varel telah memeriksa kondisi pemuda itu secara keseluruhan.
"Bekas lukanya sudah cukup membaik, memar-memar ini nanti juga ilang yah Ris... Obatnya nanti rutin di oles... Gips nya baru bisa dibuka minggu depan yah" Ucapnya, sambil menandatangani berkas yang dibawakan oleh sang suster.
"Memangnya saya kenapa dok? Kenapa tangan dan kaki saya bisa di gips? Terus kepala saya? " Boris benar-benar bingung kenapa dirinya bisa berada dalam kondisi seperti sekarang ini.
Dokter Varel tersenyum " Kamu mengalami kecelakaan Ris... Untung banyak orang yang sayang sama kamu, jadi luka-luka kamu bisa langsung ditangani" Jawabnya.
"Lalu siapa gadis tadi dok? "
"Muhun dokter... Leres" Ucapnya ragu. Mak Oneng ragu apakah sang cucu akan melupakan nya seperti dia melupakan Airin atau kan masih mengingat nya? Jika Boris sampai melupakan siapa dirinya, ini akan menjadi pukulan terhebat dalam hidup nya.
"Ai emak kenapa? Emak sakit? " Tanya Boris, melihat gelagat si emak yang cukup mengkhawatirkan.
"Dok.. Tolong atuh periksain emak saya juga, kasian dia udah nungguin saya... Kecapean pastinya" Lanjutnya, kepada dokter Varel.
Rasa syukur tak terhingga mak Oneng panjatkan, ternyata sang cucu masih mengingat nya. Tanpa di sadari saat ini Aldo sedang memperhatikan mereka melalui celah pintu kamar, dia bahkan bisa mendengar dengan jelas percakapan di antara mereka.
__ADS_1
"Masih ada kesempatan... " Batinnya.
"Gimana kondisinya dok? " Aldo langsung bertanya begitu sang dokter keluar dari ruangan itu.
"Amnesia yang di alaminya hanya sebagian, mungkin karena trauma yang dialaminya saat kecelakaan itu... " Jawabnya, sambil berjalan beriringan.
"Apakah permanen atau sementara? " Aldo sedikit merasa ragu.
"Kita belum bisa memastikan hal itu Do, bisa sementara bisa juga permanen... Kita lihat dalam waktu sebulan ini, bagaimana perkembangannya... Oke? " Dokter Varel mencoba untuk mengurangi kekhawatiran Aldo, yang pastinya berimbas kepada Airin nantinya.
"Apa ada pengobatan tertentu yang bisa menyembuhkan amnesia nya dok? Di luar negeri mungkin? " Aldo kembali memastikan, bukan hanya Airin yang membutuhkan Boris saat ini, tetapi dirinya pun sama. Mungkin alasannya terdengar tak manusiawi, demi keberlanjutan project Aero, tetapi setidaknya dengan kesembuhan Boris akan ada banyak pihak yang diuntungkan.
"Saya yakin jawaban nya akan sama Do, lagipula sepertinya akan lebih baik jika Boris tetap dirawat disini dalam pengawasan kami... " Dokter Varel tersenyum sambil menepuk bahu anak dari sahabatnya itu, lalu memohon ijin untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.
Aldo termenung, dia mencoba untuk mengingat sesuatu, sesuatu yang berhubungan dengan Amnesia dan bagaimana cara mengembalikan ingatan penderitanya. Ada banyak cara yang orang-orang lakukan untuk itu, mulai dari cara yang paling halus hingga cara yang paling ekstrim.
"Kayaknya gue punya ide bagus.... "
__ADS_1