
Plak!!
"Kok di tampar sih Ai??? Kan sakit.... " Boris mengelus pipinya yang terasa panas, tamparan Airin cukup keras hingga meninggalkan tanda kemerahan disana.
"Masih mending cuma ditampar! Kak Boris mau nyobain ini??! " Airin mengacungkan kepalan tangannya ke wajah Boris, sontak saja membuat pemuda yang semakin terlihat ketampanan nya ini meringis.
"Itu belum setimpal dengan semua ulah kalian! " Lanjut Airin, dan bermaksud untuk meninggalkan Boris sendirian di ambang pintu ruang meeting. Tetapi Boris terlebih dahulu menahannya.
"Maafin kak Boris Ai, ini semua gak mudah buat kakak... Tolong maafin kak Boris ya... " Pinta Boris dengan sungguh-sungguh.
"Kamu pasti belum makan siang, kita makan bareng yok di kantin... " Bujuknya dengan senyuman yang mengembang di wajah tampannya.
"Gak... Aku masih belum bisa maafin kakak! " Airin ketus dan tetap meninggalkan Boris, tetapi laki-laki itu mengejarnya.
"Ai... tunggu, kita bicara sekarang... " Boris meraih tangan Airin, lalu menarik gadis itu memasuki ruangan kantor Aldo. Ada banyak sekali peristiwa yang ingin Boris bagi dengan Airin saat ini, dan Boris tidak mau membuang waktu lebih lama lagi. Terlebih informasi yang akan dia berikan kepada gadis itu berkenaan dengan masa depan TRUST Corp.
Dari kejauhan mang Asep, Aldo dan mbak Titiek juga Hasan hanya bisa memerhatikan interaksi keduanya, tanpa bisa ikut campur didalamnya. Bagaimana pun Airin dan Boris harus menyelesaikan masalah diantara mereka berdua terlebih dulu sebelum menghadapi masalah yang ada di hadapannya sekarang ini, dan itu hanya tinggal 30 menit sebelum rapat bersama Simon dan tim nya mereka lanjutkan kembali.
"Lepasin ka! Tanganku sakit! " Airin menghempaskan tangannya.
"Maafin kaka Ai... tangannya sakit? kak Boris obatin ya... " Boris berusaha untuk meraih tangan Airin kembali, tetapi gadis itu menepis nya seketika.
"Jangan sok perhatian! Sekarang katakan padaku apa yang mau kakak sampaikan disini... Aku gak punya waktu lama... " Airin melipat kedua tangannya dada setelah dia menjatuhkan dirinya di sofa.
"Pertama-tama kak Boris mau minta maaf sama Airin, karena telah meninggalkan kamu waktu itu... " Ucap nya kembali dengan sungguh-sungguh, lalu Boris pun menceritakan kehidupannya setelah pergi meninggalkan Airin.
Mungkin saat ini Airin akan menilainya seorang pengecut atau lelaki tak berguna karena tidak berani menghadapi masalah dan justru malah lari dari masalah, tetapi setidaknya selama dirinya meninggalkan Airin, Boris tidak pernah sekali pun bisa melupakan gadis itu. Dan justru dengan kepergiannya selama ini, Boris bisa menemukan sesuatu yang besar! Mengenai masalalu nya dan juga keterkaitannya dengan masa lalu keluarga Airin.
__ADS_1
"Aku.... aku gak tau apa aku harus mempercayai kakak saat ini, tetapi satu hal yang pasti... Jika memang benar semua cerita ini, aku butuh bantuan kakak untuk menyingkirkan Simon" Airin melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, "Mungkin nanti, setelah aku bisa membuktikan sendiri kebenarannya... baru aku bisa mempercayai semuanya" Lanjut nya, lalu beranjak dari duduknya.
"Its oke Ai... kakak paham" Boris menarik napasnya pelan, dia tahu akan ada resiko yang harus dia tanggung dari perbuatan nya itu. "Dan bukan Simon aja Ai..." benaknya, lalu mengikuti Airin keluar dari ruangan itu untuk menemui Simon dan timnya. Boris sudah mempersiapkan semuanya untuk pertemuan hari ini, bahkan hal paling buruk sekali pun!
"Baiklah, saya tidak mau membuang waktu lagi, sepertinya semua sudah jelas seperti yang tertera di dokumen yang telah saya berikan sebelum nya, bahwa sebagian aset dari TRUST Corp merupakan pemberian dari mendiang tuan Ludwig kepada nona Catharina tanpa sepengetahuan nyonya Natalina... " Simon tersenyum sinis, lalu melanjutkan kembali ucapannya.
"Dan itu tidak sah menurut hukum! " Simon memandangi satu persatu wajah Aldo beserta timnya, lalu melayangkan kedipan mata kepada Airin.
Airin mengerlingkan bola matanya jengah, "Liatin aja ntar... dasar buaya katro! " Benak Airin.
"Sepertinya ada hal yang kalian lupakan disini... " Boris melemparkan semua berkas yang dia dapatkan dari Airin kehadapan Simon dan timnya, hal itu sontak membuat salah satu dari mereka berdiri dari duduknya.
"Anda tau dengan siapa anda berurusan?! Jaga sikap Anda! " Ucapnya sambil menunjuk ke arah Boris, tetapi Simon menggelengkan kepalanya dan meminta nya untuk duduk kembali.
Boris menarik salah satu sudut bibirnya, lalu meminta Hasan untuk membagikan berkas yang telah dia persiapkan sebelum nya.
Simon menghela napasnya kasar, sebagai seorang pengacara dia tahu betul apa yang ada ditangannya ini. Semua dokumen yang diberikan oleh Boris memang terbukti keabsahannya! Lalu mengapa Natalina begitu bersikeras mengatakan jika semua aset ini merupakan miliknya yang diwariskan oleh mendiang suaminya selama ini?
"Aku akan memastikan terlebih dulu keapsahan semua dokumen-dokumen ini" Kilahnya, lalu meminta semua timnya untuk meninggalkan ruangan itu.
"Feel free tuan Simon, anda tahu dimana menemukan saya... " Boris tersenyum penuh arti. Dia sangat yakin sebenarnya Simon tahu betul bahwa semua dokumen-dokumen tersebut bisa dipertanggungjawabkan keapsahannya, hanya mungkin sebagai seorang utusan langsung dari nyonya Natalina, dia harus menjaga wibawanya di hadapan semua orang disana.
Berbeda dengan Airin yang langsung meninggalkan ruangan itu, Aldo dan tim nya mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada Boris.
"Thanks Ris... Gue berhutang budi sama lo dan kakek lo... " Ucap Aldo sambil memeluk Boris dan menepuk punggung nya.
"Its oke Pak Aldo... Semua berkat pertolongan dari yang Maha Kuasa... " Boris tersenyum. Dia masih saja merasa sungkan kepada salah satu kakak kembar Airin iitu.
__ADS_1
Aldo meminta Boris untuk mengganti panggilan Boris padanya, lalu menyuruh Boris untuk segera mengejar Airin. Dia tahu betul jika sang adik sebenarnya sangat merindukan pemuda dihadapannya ini, bahkan bukan hanya sekali Aldo melihat Airin menangis dikamarnya.
"Udah waktu nya lo yang ngejar cinta adek gue Ris! " Kekeh Aldo, saat pemuda yang ternyata anak seorang mafia timur tengah itu berlari mengejar sang adik meninggalkan ruangan.
"Ai...! Tunggu... !" Boris berlari mengejar Airin yang sudah terlanjur memasuki lift bersama dengan mang Asep, untung nya saat pintu lift tersebut akan menutup, Hasan berhasil menjegalnya.
"Terimakasih Hasan... " Ucapnya, lalu memasuki ruangan kecil tersebut, diikuti oleh Hasan.
"Ai... Please jangan marah terus, kakak benar-benar menyesal Ai... " Pinta Boris, tanpa perduli jika ada dua orang pria es batu disana.
"Gak! Aku masih marah sama kak Boris!!!! " Airin merajuk, dia lalu membelakangi Boris dengan kedua tangan melipat didadanya.
"Ai... Ai... kak Boris mesti gimana biar kamu gak marah lagi??? " Boris memutar tubuh Airin, agar dia bisa melihat netra indah milik gadis yang dirindukan nya itu.
Ting!
Pintu lift pun terbuka
"Pikirin aja sendiri!! "
.
.
.
Happy halu manteman!
__ADS_1