DIKEJAR ANAK MAFIA

DIKEJAR ANAK MAFIA
Part 16


__ADS_3

Boris menghela napasnya panjang, pemuda tampan cucuk mak Oneng itu tengah berusaha untuk mengontrol emosinya saat ini. Pasalnya sudah seminggu dirinya menjadi tutor untuk bimbingan belajar privat untuk Airin, tetapi hasil yang dia dapatkan tidak sesuai dengan target yang tekah dia buat.


Sudah seminggu ini mereka Boris telah membimbing Airin dengan menggunakan segala macam cara agar pujaan hatinya itu mendapatkan nilai yang lebih baik dalam berbagai mata pelajaran yang menurut Airin sulit. Boris tak habis pikir, biasanya teman-temannya yang meminta bimbingan belajar kepadanya hanya membutuhkan waktu tiga hari saja untuk mereka bisa memahami soal-soal yang terlampau sulit itu.


"Kenapa hasilnya masih segini-segini juga yah" Batin Boris, pemuda tampan itu menggaruk kepalanya yang tak gatal melihat grafik nilai-nilai Airin yang bak roller coaster itu. Bahkan cenderung anjlok di mata pelajaran matematika dan fisika serta kimia.


Sementara Airin lebih menikmati keindahan yang telah Tuhan ciptakan dihadapannya. Gadis itu tengah mengamati setiap inci dari wajah pemuda tampan yang sedang terlihat kebingungan tersebut.


"Airin, apa selama seminggu ini penjelasan-penjelasan yang kak Boris kasih kurang kamu fahami?" Tanya Boris sambil tetap memeriksa lembaran-lembaran soal jawaban yang ada ditangannya.


"Ya..." Jawabnya singkat.


Kedua tangan gadis itu dipakainya untuk menopang wajah cantiknya, ketika dirinya menjawab pertanyaan yang diajukan Boris kepadanya. Entah Airin mengerti atau tidak dengan pertanyaan yang diajukan oleh Boris, sepertinya jawaban yang terlontar dari bibir mungilnya itu keluar begitu saja tanpa dipikirkannya terlebih dahulu.


Boris kembali menghela nafasnya, kali ini sedikit kasar karena sang tutor segala mapel itu baru menyadari keadaan Airin saat ini. Tubuhnya memang berada dihadapan Boris, tetapi entah dengan pikirannya.


Tak!


"Aduh..!" Airin mengaduh setelah menerima jentikan keras jari telunjuk Boris dikeningnya.


"Sakit tau kak.." Lanjutnya dengan kedua tangan yang mengelus keningnya.

__ADS_1


"Makanya kalo ka Boris tanya itu dijawab yang bener.." Kesal Boris.


"Beneran kok aku jawabnya ka " Kilah Airin memperlihatkan kesungguhannya.


"Apa coba tadi pertanyaan ka Boris?" Boris memerhatikan lebih seksama tingkah Airin, dirinya sudah yakin jika gadis itu tengah menutupi kebohongannya.


"Iya itu...Belajar yang bener...gitu kan?" Kilahnya lagi


"Airin, kalo besok nilai kamu masih seperti ini kak Boris gak mau lagi jadi tutor kamu" Kesal Boris. Boris merasa jika dirinya tidak bisa membuat nilai Airin naik, itu sama saja artinya dengan dirinya yang tidak becus mengajari Airin selama ini. Jadi percuma saja kan dia tetap menjadi tutor bimbingan belajar Airin jika keadaannya seperti ini?


"Kok gitu sih ka?? Kan aku udah belajar bener-bener ini..." Kali ini ultimatum yang diberikan Boris telah membuatnya sedikit merasa takut, meski bukan hari ini saja Boris memberikan ancaman kepadanya.


Dua hari sebelumnya Boris pernah memberikan ultimatum jika Airin tidak bersungguh-sungguh dalam belajar, Boris tidak akan lagi membawakan cilok kesukaan Airin ketika Boris datang kesana. Airin sempat merasa kesal karenanya, tetapi hal itu telah membuat nilai matematika gadis itu lumayan naik. Dari awal yang hanya mendapatkan skor nilai 70 menjadi 85 keesokan harinya.


"Ka Boris gak mau buang waktu percuma, mending kamu cari tempat bimbel yang bagus biar kamu lebih cepat ngerti belajarnya" lanjutya.


Meski fee yang diberikan Airin kepadanya sangatlah besar, tetapi menurut Boris jika Airin memang tetap mengalami kesulitan belajar meski dirinya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengajarinya tetap tidak layak bagi Boris untuk menerima uang sebanyak itu. Boris bukan tipe pemuda yang materialistis, namun segala sesuatu sebaiknya logis.


BRAK!


"Berani-beraninya lo sentuh adek gue!" bentak Aldi. Salah satu kakak sulung Airin itu tiba-tiba saja memasuki ruangan dengan menendang pintu masuk ruang belajar tersebut.

__ADS_1


Belum sempat Boris menjawab, tangan pria menyeramkan itu telah terlebih dahulu menarik kerah kemeja yang dikenakan pemuda yang masih terlihat syok itu dan hampir saja bogem mentah milik Aldi mendarat di pipi Boris. Untung saja Airin berhasil mengurungkan niat sang kakak untuk memukul pemuda yang belum lama ini telah mengisi relung hatinya tersebut.


"Kak Aldi! Brenti gak!" Teriak Airin, lalu mendorong tubuh Aldi dan membentengi Boris dengan tubuhnya sendiri.


"Keluar dari sini kak! Aku marah sama kaka!" lanjutnya, dengan jari telunjuk yang mengarah ke pintu.


Aldi dapat melihat kemarahan sang adik melalui raut wajahnya, dan ini telah membuatnya terkejut! Ini kali pertama dirinya melihat kemarahan sang adik terhadapnya, belum pernah sekalipun Airin marah kepada kedua kakak kembarnya hidupnya. Biasanya sang adik hanya merajuk jika sedang kesal atapun marah yang berujung pada berkurangnya saldo kartu kredit hitamnya.


Bukan tanpa alasan Aldi merangsak masuk kedalam ruangan belajar Airin, kemarahannya muncul tatkala dirinya melihat sang adik mendapatkan perlakukan yang menurutnya kurang ajar dari pemuda tengik itu melalui pantauan cctv di layar ponselnya. Berani-beraninya Boris menyentil dahi adik kesayangannya itu! Aldi. Dan kemarahannya memuncak tatkala Boris mengancam sang adik tadi.


"Dek...Kaka gak terima dia nyakitin kamu kayak gitu!" Gemuruh di dadanya tak akan sirna sebelum dirinya berhasil membalaskan perlakuan kurang ajar Boris kepada Airin.


"Kak Aldi! KELUAR!!" Seketika suasana ruangan itu mencekam, suara Airin bukannya meninggi seperti halnya suara para gadis yang sedang marah pada umumnya. Suara Airin terdengar begitu dingin dan penuh penekanan! Dan hal ini berhasil membuat Boris yang awalnya merasa syok dan takut menjadi bingung.


"Ini yang lebih menakutkan siapa ya jadinya?" Batin cucu kesayangan mak Oneng.


.


.


.

__ADS_1


Happy Halu manteman


__ADS_2