DIKEJAR ANAK MAFIA

DIKEJAR ANAK MAFIA
Part 9


__ADS_3

Jika ada orang yang sedang mengalami hal paling buruk pagi ini, maka Airin lah orangnya. Pagi ini tiba-tiba kedua kakak posiesifnya memanggil dirinya untuk menemui mereka di ruangan pribadinya, yang membuat Airin meradang adalah ketika gadis itu melihat kondisi mang Asep yang sudah dalam keadaan babak belur dengan keadaan kedua tangan terikat di belakang tubuhnya sambil berlutut. Pria tinggi besar dan gagah itu bahkan seperti kehilangan taringnya karena tak juga berani mengangkat wajahnya, sementara Aldi dan Aldo tetap tenang menduduki singgasananya.


"Apa sudah kalian lakukan padanya hah?!" Airin berteriak ketika dirinya hendak berlari menghampiri pengawal pribadi setianya itu, tetapi di cekal oleh dua orang penjaga pintu atas perintah kedua kakaknya tersebut.


"Lepaskan aku kurang ajar!" Airin berusaha untuk memberontak, tetapi sepertinya itu merupakan hal yang sangat mustahil untuk di lakukan, meningat kedua penjaga tersebut memiliki postur tubuh yang kurang lebih sama dengan mang Asep.


"Sejak kapan kamu bersikap kasar seperti itu dek? Apa pergaulanmu dengan anak kampung itu yang membuat kamu mejadi seperti ini?" Geram Aldi.


Degg


"Dari mana kak Aldi tahu tentang hal itu?" Batin Airin.


Aldi mengipaskan tangannya, pertanda bagi kedua penjaganya untuk melepaskan celakan tangannya pada Airin. Sementara Aldo tetap terlihat santai sambil memainkan kuku-kuku tangannya, dan menyembunyikan senyumannya dibalik wajah datarnya.


Airin berlari menghampiri mang Asep yang masih berlutut, sepertinya pria besar itu berusaha keras untuk tetap sadar. " Mang Asep!" Seru Airin, sorot matanya tertuju pada wajah pria itu. Luka lebam serta darah yang menetes dari pelipis, sudut bibir dan hidungnya menunjukan bahwa sang pengawal telah menerima serangan bertubi-tubi dari mereka.


"Saya tidak apa-apa nona Airin, anda jangan khawatir" Ucapnya lirih. Pria tersebut berusaha untuk tetap tersenyum di hadapan Airin, karena baginya membuat majikan kecilnya aman dan bahagia  merupakan prirotas utamanya, seperti yang di perintahkan oleh almarhum kakek gadis ini kepadanya.


"Tidak apa-apa gimana? Mang Asep emangnya gak sakit apa?" Isak Airin. Hatinya teriris melihat kondisi pengawal yang sudah dianggap seperti keluarga olehnya itu.


Melihat kedekatan Airin dengan pengawalnya membuat Aldi mengeratkan rahangnya, andaikan pria yang telah dia pukuli tadi bukanlah pria yang di amanatkan almarhun sang kakek kepadanya sudah pasti dia sudah menendangnya dari kediamannya sejak lama dan menggantinya dengan pengawal terbaik yang dia pekerjakan selama ini. Menurutnya Asep terlalu memanjakan Airin dengan selalu menuruti kemauannya.


Ekhem..!


Melihat kemarahan sang kakak akhirnya Aldo pun turun tangan, dia beranjak dari posisinya mendekati adik kecil dan pengawal pribadinya.

__ADS_1


"Dia tidak apa-apa sayang, hal seperti ini sudah biasa untuk mang Asep. Bukankah begitu mang?" Aldo tersenyum sinis, lalu melemparkan pandangannya kepada Airin dan membantu sang adik untuk bangkit.


"Bawa dia dan suruh dokter memeriksanya" Titahnya kepada para pengawalnya, merekapun membawa pria tinggi besar itu keluar dari ruangan tersebut.


"Jadi semua itu benar Airin?" Aldi kembali melemparkan pertanyaan kepadanya, pernyataan yang sempat dia ucapkan tadi tidak juga mendapatkan respon dari sang adik.


Sebenarnya Aldi dan Aldo sudah mengetahui identitas pria yang selama ini disukai oleh sang adik, mata-mata yang mereka perintahkan untuk mengikuti kemana pun Airin dan Asep pergi selalu rutin memberikan informasi terbaru kepadanya. Keduanya bahkan mengetahui bahwa Airin telah membiayai pengobatan rumah sakit untuk nenek dari pemuda tersebut.


Airin tertunduk dan tak mampu berkata apapun, hanya isak tangis yang kini terdengar dari mulut gadis itu. Dia sudah tahu apa yang akan terjadi kepadanya atau bahkan kepada Boris, peristiwa terdahulu merupakan bukti dari kekejaman kedua kakak posesifnya itu. Dulu Airin sempat menyukai seorang pemuda ketika dirinya masih dibangku kelas 3 SMP, dan ketika kedua kakaknya mengetahui hal tersebut baik pemuda dan keluarganya bak hilang ditelan bumi. Entah apa yang dilakukan oleh Aldi dan Aldo kepada mereka, terahir kali Airin menghubungi Robby, pemuda itu langsung memutuskan hubungan mereka tanpa alasan yang jelas.


"Kakak gak marah Airin, kakak hanya ingin kejujuranmu" Lanjut Aldi, setelah dirinya menghela nafasnya kasar. Sungguh Aldi tidak ingin kejadian dulu terulang kembali, dimana Airin menyukai bocah tengik yang kerjanya hanya mengincar uang sang adik. Siapa lagi kalau bukan Robby anak dari lintah darat yang keluarganya berhasil dia musnahkan.


"Untuk apa kakak menanyakan hal itu pada Airin? kalo sebenarnya kak Aldi sudah mengetahui semua itu" Isak Airin. Aldo yang duduk disampingnya semakin mengeratkan pelukannya kepada sang adik, lalu mencium puncak kepalanya.


"Maksud kami baik dek, kami hanya tidak mau kamu menjadi korban dari pria-pria yang akan menyakitimu" Ucapnya sambil mengelus pundak Airin yang kembali terguncang.


Aldi kembali menghela nafasnya kasar, satu hal yang tidak disukainya adalah menyaksikan sang adik menangis apalagi hal itu diakibatkan oleh dirinya. Saat ini tidak mungkin lagi bagi dirinya meneruskan pembicaraan tersebut, karena dia tahu jika hal itu akan semakin menambah kesedihan adik kecilnya. Dia akan membiarkan Aldo membujuknya seperti biasa.


"Dengan berjualan cilok?" Kekeh Aldo, mencoba untuk menghentikan tangisan Airin dengan menggodanya.


"Itukan hanya sementara aja kak, kak Boris kan kuliah di Universitas Sriwijaya...Dia bilang kalo udah lulus mau ngelamar kerja di perusahaan kakak buat bahagiain emak" Isak Airin, hanya kepada Aldo Airin bisa dengan bebas bermanja. Kakak keduanya itu memang memiliki sikap yang lebih hangat dibandingkan dengan Aldi kakak pertama mereka.


"Wah..wah..sejak kapan kamu punya emak dek?" Kembali Aldo berseloroh.


"Jangan-jangan kamu sekarang udah pintar bikin cilok ya??" Gelak Aldo, yang membuat Airin langsung melayangkan capitan maut di pinggangnya.

__ADS_1


"Awww, sakit dek" Pura-pura Aldo.


"Mak Oneng itu neneknya kak Boris kak, mereka hanya tinggal berdua, Mereka orang baik dan tidak suka menerima belas kasihan dari orang lain, bahkan...." Hampir saja Airin keceplosan saat dirinya akan menceritakan bahwa dirinya telah mengambil sejumlah uang dari rekening tabungannya untuk biaya pengobatan wanita tua itu.


"Meminta sejumlah uang padamu?" Potong Aldi ketus, dia masih kesal mengetahui sang adik diam-diam menarik sejumlah uang yang dia yakini telah diberikan kepada nenek tua dan cucu sialannya itu.


"Itu untuk pengobatan mak Oneng kak, beliau tiba-tiba pingsan ketika Airin berkunjung ke rumahnya untuk pertama kali" Jawab Airin, tanpa berani menoleh ke arah Aldi.


"Sebenarnya kak Boris selalu berusaha untuk mengembalikan uang itu, tetapi Airin selalu menolaknya"


Aldi dan Aldo saling bertatap mata, kedua nya tak habis pikir mengapa sang adik melakukan hal tersebut, sesuka itukah Airin kepada Boris? Bahkan ketika sang adik ketahuan didekati oleh Robby dulu, Airin tidak pernah sepeserpun menggunakan uangnya meski Robby selalu merayunya dengan menggunakan 1000 jurus rayuan gombalnya. Gadis kecil itu bahkan selalu berhasil membuat bocah tengik itu merogoh koceknya ketika mereka jalan berdua.


"Do you really love him?" Aldo mengacak rambut sang adik, dia menganggap tindakan Airin kali ini sangatlah konyol. Cinta tak mungkin bisa ditukar dengan uang!


Airin mengangguk, lalu menegadahkan wajahnya. " i will do everything to make him love me kak..."


"Tapi bukan dengan cara itu sayang, bagaimanapun itu salah" Meski sempat merasa terkejut dengan pernyataan yang terlontar dari mulut gadis kecil dihadapannya ini, baik Aldi maupun Aldo berusaha untuk tetap bersikap tenang.


"Kalau gitu kakak kasih tau aku caranya..."


Degg!


.


.

__ADS_1


.


Happy Halu manteman


__ADS_2