DIKEJAR ANAK MAFIA

DIKEJAR ANAK MAFIA
Part 41


__ADS_3

Dilema, itulah yang dirasakan oleh seorang pemuda genius penerima beasiswa kampus terkenal Sriwijaya saat ini, satu sisi dia tidak mau punya masalah dengan siapapun, bukan takut apalagi pengecut, itu tidak ada dalam kamusnya. Mungkin lebih tepatnya hanya ingin semua berjalan baik-baik saja, keinginannya sederhana, dia hanya ingin menyelesaikan kuliah secepat mungkin, lalu bekerja untuk membanggakan wanita yang telah merawatnya sejak bayi. Keinginan Boris hanya ingin membahagiakan mak Oneng, wanita itu yang telah mengurusnya sejak bayi, semenjak kedua orang tuanya pergi meninggalkannya.


Begitupula ketika pada akhirnya dia mengikuti program magang di TRUST Corp, Boris hanya ingin bekerja sebaik mungkin dan mendapatkan pengalaman baru disana. Syukur-syukur dia bisa mendapatkan judul untuk persiapan skipsinya nanti. Pertemuannya dengan Tito, yang awalnya berjalan baik kini menjadi tidak baik-baik saja.


Boris mengira sang manajer benar-benar baik dan memberikan dukungan penuh pada karirnya disana, tetapi setelah pertemuannya dengan Aldi dan Aldo meski masih sangsi tetapi dengan semua bukti yang mereka berikan padanya, penilaiannya pun berubah 360 derajat! Memang akhir-akhir ini Tito terkesan semena-mena kepadanya dan rekan-rekannya. Awalnya Boris hanya mengira jika pria itu tengah mengalami  tekanan dari perusahaan berkenaan dengan target yang harus dia capai, tetapi ternyata masalahnya lebih rumit daripada itu.


Boris sudah tidak bisa lagi menutup-nutupi peristiwa yang tengah berlangsung saat ini kepada kedua kakak Airin, bahkan dia harus menjawab jujur tentang kejadian pemukulan yang dilakukan Tito padanya tempo hari. Kedua pria berbeda karakter itu memintanya untuk memilih apakah dia akan tetap menutup-nutupi kebobrokan Tito, atau karir kuliahnya yang berarti masa depannya! Tentu saja Boris lebih memilih karir kuliah yang sudah dia perjuangkan selama ini.


Belum hilang kegelisahan yang Boris rasakan setelah menghadapi dakwaan kedua bos besarnya, kini dia dihadapkan pada amarah Tito karena dia tidak mau mempercayai semua ucapan Boris berkenaan dengan apa yang dia dan kedua bos besarnya itu lakukan tadi.


"Sudah saya bilang pak, Saya hanya diminta untuk membantu nona Airin mengerjakan makalahnya tadi, pak Aldi dan pak Aldo berada di ruangan yang berbeda" Kembali Boris meyakinkan Tito, tidak mungkin dia menjawab secara jujur apa yang dia lakukan di ruangan besar itu tadi, itu sama saja dia melanggar janji yang dia ucapkan kepada kedua bos besarnya.


Boris benci di hadapkan pada situasi seperti ini, andaikan dia bisa kembali ke masa lalu, dia memilih untuk tidak mengikuti saran Robby ketika sahabatnya itu meyakinkannya untuk mengikuti program magang ini.


"Lo jangan macem-macem Ris! Bokap gue itu sahabat keluarga Hutama Putra pemilik perusahaan ini! Gue bisa mecat lu sekarang juga kalo gue mau!" Ancam Tito, berharap pemuda yang sedang duduk dihadapannya ini gentar. Andaikan prototype yang dibuat oleh Boris sudah rampung, sudah pasti dirinya tak akan segan untuk menyingkirkan pemuda sialan ini saat ini juga pikirnya.

__ADS_1


Pak Kardi yang tidak rela melihat penderitaan Boris, berinisiatif untuk memanggil pemuda itu dengan alasan dia sangat membutuhkan bantuannya saat ini agar mereka dapat segera merampungkan prototype yang sedang mereka kerjakan itu.


"Maaf pak Tito, hanya Boris yang bisa membantu saya untuk ini, anak-anak lain belum ada yang bisa mengerjakannya" Kilah pak Kardi, lalu meminta Boris untuk segera ikut bersamanya.


"Makasih pak...Kalo bapak gak nyelametin saya tadi, saya gak tau apa yang bakalan terjadi...saya gak suka diancam seperti tadi..." Boris berusaha untuk mengatur kembali ritme jantungnya, berkali-kali dia membuang napasnya kasar. Jujur dia semakin muak dengan perilaku Tito yang semakin semena-mena seperti itu.


Setelah berjibaku dengan pekerjaan yang lumayan berat selama hampir seminggu ini, tim lab bahkan tidak pulang ke rumahnya masing-masing malam tadi, akhirnya pagi ini mereka berhasil menyelesaikan prototype yang diminta oleh Tito, dengan catatan dia harus menyampaikan kepada para direksi di rapat nanti jika design ini masih membutuhkan penyempurnaan nantinya.


"Alhamdulillah semuanya, projek Aero telah selesai...terimakasih atas kerjasamanya, semoga Tuhan senantiasa selalu memberkati" Ucap pak Kardi dalam sesi briefing paginya, lalu meminta Boris dan tim untuk mempersiapkan mesin yang telah mereka buat ke ruang peraga.


"Perfect!.." Tito memuji dirinya didepan cermin di apartemenya, ada tangan-tangan wanita cantik dibalik penampilan rapinya pagi ini. Sejak semalam mereka menemani Tito menghabiskan malamnya di Diamond hingga berakhir di apartemennya pagi ini.


Tito melihat jam tangan mahal yang telah melingkar di pergelangan tangannya, jam telah menunjukan pukul 7.30 pagi, ini artinya dia harus berangkat sekarang juga. Dia ingin memastikan pekerjaan yang dilakukan oleh tim nya itu sudah benar-benar sempurna seperti permintaanya atau tidak, dia masih sangsi meski jam 6 pagi tadi dirinya sudah menerima pesan dari pak Kardi.


"Sampai nanti ladies...Kalian nikmati istirahat kalian hari ini...jangan lupa malam nanti tunggu aku di tempat biasa..." Tito memberikan kecupan mesra kepada kedua wanita sexy yang sejak tadi membantunya mandi serta berpakaian, lalu meninggalkan keduanya disana...Jangan ditanya dalam keadaan seperti apa.

__ADS_1


Lima belas menit kemudian Tito sudah tiba di lobi perusahaan. Lalu lintas pagi ini tidak terlalu padat seperti hari-hari biasanya, sepertinya alam semesta telah mendukungnya pikirnya. Tanpa melihat keadaan sekitar seperti yang biasa dia lakukan, Tito bergegas menuju ruang kerjanya untuk memastikan pekerjaan timnya, seperti biasa dia akan memerintahkan Diana untuk mengumpulkan mereka.


"Jam 10 nanti seluruh jajaran direksi akan hadir untuk menyaksikan penemuan terhebat abad ini, saya pastikan semua akan berjalan sebagaimana mestinya, karena jika tidak...Setiap kalian akan merasakan akibatnya!" Tito bahkan tidak perduli jika Boris dan rekan-rekannya itu telah begadang semalaman untuk menyelesaikan pekerjaanya itu.


"Camkan itu!" Lanjutnya, lalu mengakhiri sesi breefingnya pagi ini, dan bergegas menuju ruang peraga dimana mesin Aero yang di klaim sebagai ciptaanya itu telah berada saat ini. Dia bahkan tidak menghiraukan pesan yang disampaikan oleh pak Kardi bahwa dirinya harus menyampaikan kepada pada direksi jika mesin Aero masih membutuhkan penyempurnaan sebelum memproduksinya secara masal.


"Mahakarya yang sempurna..."


.


.


.


Happy halu manteman

__ADS_1


Thanks buat supportnya di part ini


__ADS_2