DIKEJAR ANAK MAFIA

DIKEJAR ANAK MAFIA
Part 29


__ADS_3

"Kok kesini sih bang?" keluh Airin saat dirinya menyadari sang kakak telah mengajaknya makan siang di kantin karyawan, alih-alih mengajaknya ke restoran mahal seperti biasanya. Meski kantin karyawan disana memang bagus, tetapi ini kali pertama ketiganya menginjakkan kaki ditempat itu, tentu saja ini telah memicu kegaduhan ditempat itu terutama dari para karyawati disana.


"Pak Aldi...Pak Aldo...mereka makan siang di kantin bareng kita"


"Itu adik mereka itu kan? yang katanya paling disayang itu kan?"


"Ya ampuuunnn...mata ku kena virus ganteng mereka"


"Ya Alloh...jangan ngedip...jangan ngedip, ini mah rejeki nomplok bisa ngeliat mereka disini"


"Adek nya mau gak ya jadi pacar gue..."


"Jangan mimpi lo bocah! mimpi lo ketinggian...!"


Kasak-kusuk mulai terdengar dari berbagai sudut ruangan, masing-masing dari mereka berbicara sepelan mungkin karena khawatir akan terdengar langsung oleh ketiga orang yang baru saja memasuki ruangan tersebut, atau oleh ketiga pengawal yang selalu mengikuti mereka.


"Kali-kali makan disini bareng mereka dek" Jawab Aldi sekena nya, jika ditanya dirinya pun merasa kurang nyaman jika berada disini. Bukan karena tidak mau makan siang bersama dengan para karyawan karena strata mereka yang terlampau tinggi itu,sebaliknya  Aldi justru bisa merasakan ketidak nyamanan para karyawannya jika mereka makan siang disana dan itu sangat mengganggu kenikmatan saat menyantap makanan pikirnya.


Sementara itu Boris yang tidak menyadari kedatangan mereka, hampir saja menabrak Airin jika mang Asep tidak segera menghalanginya. Sepertinya sengaja Aldi dan Aldo membawa sang adik berjalan melewati pemuda itu, agar keduanya bisa segera bertemu.


"Astaghfirullahaladziim...m..mmaaf..maafkan saya" Ucap Boris sungkan dan merasa bersalah dan tetap mempertahankan sikapnya terhadap Airin da kedua kakaknya. Disini Boris adalah pegawai bagi mereka, sudah sepatutnya dia bersikap layaknya seorang karyawan yang menghormati pemilik perusahaannya.


"Lain kali hati-hati" Ucap mang Asep, tanpa memperdulikan baju seragamnya yang terkena tumpahan bumbu bakso tahu tadi. Untung saja tidak kena pakaian neng Airin pikirnya.

__ADS_1


"Boris ya..Kamu mahasiwa pintar dari kampus Sriwijaya itu kan?" Tanya Aldo, seakan dia telah melupakan Boris selama ini dan baru saja mengingatnya setelah dirinya bertemu kembali di tempat ini.


"I..iya saya pak" Jawab Boris. Ternyata jika kedua kakak Airin sedang dalam mode bekerja, dirinya tidak bisa membedakan yang mana Aldi dan yang mana Aldo. Tampang keduanya sangat mirip pikirnya.


"Ayok kita makan bareng Ris, kebetulan bisa ketemu kamu lagi.." Ajak Aldo, melanjutkan pembicaraannya, lalu memerintahkan mang Asep untuk memilih tempat strategis untuk mereka berempat.


Deg!


Demi apapun Boris tetap tidak bisa menyangkal keberadaan Airin disana juga perasaannya terhadap gadis itu, ingin rasanya dia menolak ajakan Aldo, tetapi Aldi telah memaksanya dengan mengatakan bahwa mereka tidak pernah bisa menerima penolakan dari siapapun. Boris hanya bisa pasrah dengan permintaan keduanya, lalu berjalan mengekori dengan sepiring bakso tahu ditangannya.


Memahami perintah sang bos besar, mang Asep memilih tempat duduk di salah satu sudut kantin berseberangan dengan tempat dimana Diana berada saat ini tentunya setelah diam-diam mengamati ruangan tersebut sejak tadi. Hal ini langsung membuat seseorang mengurungkan niatnya untuk menghampiri pemuda yang kini telah bergabung bersama dan menunggu makanan disajikan ke meja.


Disini selain menjadi sopir dan pengawal pribadi, mang Asep menunjukan keahliannya yang lain. Pria bertubuh proporsional dengan otot tergambar jelas melalui seragam yang dikenakannya itu sekarang telah menjadi pelayan yang handal, mang Asep memesan dan membawakan pesanan makanan untuk ketiga majikannya secara lengkap. Tentu saja ini menjadi tontonan gratis bagi karyawan dan karyawayi disana.


"Masih pak.." Jawab Boris seperlunya. Sudut matanya bisa melihat tatapan Airin yang tertuju kepadanya sejak tadi.


"Gaji disini kurang?" Kali ini Airin yang bertanya.


"Alhamdulillah, gaji disini cukup non cuma biar ada aktivitas untuk nenek saya aja di rumah" Jawab Boris, pertanyaan Airin memang singkat tapi begitu mengganggu pendengaran dirinya saat ini dan hampir membuat mood makannya hilang seketika.


.


.

__ADS_1


.


"Ahh sial! Kenapa Boris ikut segala sih?" Gumam Diana, dirinya baru saja akan beranjak dari duduknya untuk menghampiri Boris saat sang bos meminta pemuda itu untuk mengikutinya. Sepertinya mereka akan bersantap siang bersama.


Diana terpaksa harus menemui Boris esok hari, karena setelah jam istirahat berakhir mereka akan kembali pada aktivitas mereka masing-masing. Tidak mungkin dirinya menemui pemuda itu setelah jam kerja berakhir, karena dia sudah terlanjur membuat janji dengan seseorang.


Satu hal yang membuat wanita itu penasaran selama dirinya memerhatikan interaksi keempatnya dari kejauhan, kenyataan bahwa tatapan seorang gadis yang tak lepas dari pemuda incarannya itu. Tatapan yang begitu dalam pikirnya, dan ini menimbulkan rasa iri dihatinya.


Lain dengan Diana lain pula dengan Tito. Pria yang paling bahagia dengan makanan yang diberikan oleh Boris kepadanya itu saat ini telah merasakan hal yang sama dengan Diana, bedanya Tito merasa posisinya telah terancam dengan kehadiran bocah itu di perusahaan ini. Tito adalah salah satu pemegang penghargaan karyawan terbaik saat ini dan belum pernah sekalipun dia duduk dan bersantap bersama dengan para bos besarnya itu.


"Gila si Boris! pake pelet apa dia sampe bisa duduk bareng mereka" benak Tito bergejolak.


Pasalnya selama dirinya bekerja untuk TRUST Corp, belum pernah sekalipun para bos besarnya itu menginjakkan kakinya ditempat ini, dan selama itu pula belum pernah satu orang karyawan pun yang duduk untuk bersantap bersama, meski karyawan terbaik sekalipun!


Angin apa yang membawa mereka kesini apalagi sampai membuat si Boris bisa mendapatkan kehormatan untuk duduk bersama dalam situasi non formil seperti ini? pikirnya. Selama ini seluruh karyawan, itupun hanya level manajemen yang bisa duduk bersama dengan keduanya dan itu pun hanya dalam sebuah acara rapat yang diselenggarakan dalam satu bulan satu kali.


"Gue tau lo cuma anak magang Ris, tapi lo gak boleh terlalu lama disini"


.


.


.

__ADS_1


Happy halu manteman


__ADS_2