
Sedihnya hati mak Oneng tak terbendung lagi, ketika melihat sang cucu yang sering kali termenung seorang diri di sela-sela aktivitas nya, apalagi pada waktu sepertiga malam. Wanita yang sudah tidak muda lagi itu sering kali mendengar sang cucu terisak dalam doa nya.
"Ya Robb, inikah waktunya?" batin mak Oneng. Tak bisa dipungkiri, jika peristiwa yang menimpa mereka akhir-akhir ini memang ada hubungannya dengan peristiwa masa lalu dirinya. Tetapi mak Oneng sudah berjanji untuk merahasiakan siapa dalang dibalik kecelakaan maut yang menimpa dua orang terkasih nya dulu. Jika tidak, maka bukan hanya nyawa nya saja yang menjadi taruhan, tetapi nyawa bocah kecil yang telah dia rawat selama hidupnya itu.
Bak buah simalakama apa yang mak Oneng pikirkan selama dirinya berada di pulau kecil tersebut. Jika rahasia itu dia bongkar maka bahaya akan mengancamnya, tetapi jika tidak maka dia harus rela melihat Boris tetap dalam kesedihannya. Meskipun cucu kesayangannya itu kerap kali meyakinkan mak Oneng bahwa dia baik-baik saja, tetapi mak Oneng tahu betul jika pemuda tampan itu sedang patah hati.
"Mak... lagi ngapain sih? bengong aja... ntar kesambet jurig laut loh" Boris memeluk sang nenek, sejak tadi wanita tua itu melamun sambil melihat mentari yang hampir saja ditelan bumi.
"Hus! ai ngomong teh.. " Mak Oneng kaget, seingat nya cucunya ini berdiri menghadap laut didepannya tadi.
"Ris... emak mau ngomong" Lanjutnya, lalu menghela napasnya panjang dan mengajak sang cucu untuk kembali ke dalam rumah. Lebih tepat nya salah satu paviliun milik keluarga Robby.
"Ris, emak harap apa yang nanti bakal emak ceritakan gak buat kamu marah dan kecewa sama emak" Mak Oneng mengelus pundak anak yang selama ini dia besarkan dengan penuh kasih sayang layaknya anak kandungnya sendiri itu.
Dulu mak Oneng bekerja sebagai asisten rumah tangga untuk sepasang pengantin baru bernama Abram dan Aisyah. Mereka merupakan sosok majikan muda yang sangat baik dan berbudi, taat pada agama juga sangat menghormati dirinya meskipun hanya berpredikat sebagai pembantu dirumahnya.
Mak Oneng tidak tahu persis apa pekerjaan dari tuan Abram. Sepanjang dirinya bekerja mak Oneng hanya tahu jika tuan Abram sering kali bekerja keluar kota hingga luar negeri, hingga setelah nyonya Aisyah mengandung, tuan Abram tidak pernah lagi bekerja ke luar.
__ADS_1
Satu hari, ketika Boris masih berusia tiga bulan, tiba-tiba saja sekelompok orang menyambangi rumah kediaman tuan Abram. Untung nya saat itu tuan Abram sedang membawa nyonya Aisyah pergi ke dokter anak untuk memeriksakan kesehatan Boris, hingga mereka selamat dari ancaman orang-orang tersebut. Mak Oneng tidak akan pernah melupakan wajah orang yang telah memerintahkan anak buahnya untuk menggeledah dan memporak-porandakan kediaman majikannya itu, laki-laki dengan wajah keturunan timur tengah.
Tuan dan nyonya Abram baru tiba tak lama setelah orang-orang biadab itu pergi, dan langsung menghubungi seseorang dengan menggunakan bahasa yang asing ditelinga mak Oneng.
"Mak, apapun yang terjadi nanti... saya mohon tolong jaga anak kami" Kata-kata itu selalu saja terngiang ditelinga mak Oneng, bahkan ingatan tentang bagaimana sedihnya nyonya Aisyah masih melekat dihati nya.
Mak Oneng tahu sesuatu yang buruk telah menimpa seseorang yang dihubungi oleh tuan Abram kala itu, hal tersebut terlihat jelas dari keterkejutan sekaligus kesedihan yang menimpa nya. Bahkan keesokan harinya tuan Abram memerintahkan sopir pribadinya untuk membawa mak Oneng pergi dengan membawa Boris sejauh mungkin, saat itu dia memutuskan untuk meminta kepada sang sopir agar dia membawanya pulang ke rumah sederhana peninggalan kedua orangtua nya.
"Sepertinya sudah saatnya emak kasih ini sama kamu" Mak Oneng membuka kalung yang selama ini tak pernah dia lepas itu, kalung dengan kunci sebagai bandul nya, dan memberikan barang itu ke tangan Boris.
Boris langsung memeluk wanita yang begitu dia sayangi itu, wanita yang selama ini telah merawatnya dengan penuh kasih sayang, wanita yang telah mengorbankan hidupnya untuknya, wanita yang telah mengajarkan banyak hal terutama ilmu agama kepadanya, wanita yang selama ini dia kira adalah neneknya sendiri itu bahkan rela tidak menikah hanya untuk merawatnya.
"Maafin Boris mak... Maafin ayah dan ibu Boris... " Isak Boris.. Hanya kata-kata itu yang bisa dia ucapkan sebagai bentuk penyesalan kepada wanita ini, menyesal karena pada akhirnya tidak tahu harus dengan cara apa dirinya membalas budi baik jelmaan malaikat ini.
Dalam hatinya Boris berjanji akan mencari siapa dalah dibalik peristiwa mengerikan yang telah merenggut nyawa kedua orangtua nya itu. Berdasarkan cerita dari mak Oneng, tak lama setelah dirinya dibawa oleh mak Oneng pergi, kedua orangtua nya itu meninggal dengan cara yang tragis. Mobil yang dikemudikan oleh sang ayah mengalami rem blong, hingga akhirnya dia tidak bisa mengendalikan kemudinya itu pada saat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi tiba-tiba muncul dari arah berlawanan dan terpaksa memutar kemudi nya hingga menabrak tiang penghalang jalan dan meluncur ke jurang.
"Mirip dengan peristiwa yang menimpa kakek Airin dan ayah mang Asep... " Batin Boris, tangannya menggenggam erat kalung yang diberikan oleh mak Oneng.
__ADS_1
Saat ini satu-satunya hal yang harus dia lakukan adalah pulang ke rumah sederhana nya, disana dia harus mengambil dokumen yang selama ini disembunyikan oleh mak Oneng. Menurut wanita itu di dalam nya terdapat bukti-bukti kejahatan yang telah dilakukan oleh seseorang, dan hanya satu orang yang bisa menolongnya.
Boris pun mengambil merogoh ponsel dari saku jaket hoodie nya, lalu mengubah pengaturan dari ponsel tersebut, dan menghubungi orang tersebut.
"Assalamu'alaikum... "
.
.
.
Happy halu manteman!
Makasih yaaaa buat dukungan teman-teman semuanya!
Loph loph sekebon sawit! 😘😘😘
__ADS_1