DIKEJAR ANAK MAFIA

DIKEJAR ANAK MAFIA
Part 72


__ADS_3

To our precious, Boris..


Boris menatap sebuah map tebal bersegel bertuliskan namanya, perlahan dia membuka segel yang terbuat dari lilin berwarna merah tersebut dan mengeluarkan isinya.


Menjelang malam tadi mang Asep menjemputnya di bandara, lalu mereka berdua pergi ke rumah sederhana yang telah lama Boris tinggalkan. Boris sempat terbawa suasana melihat keadaan rumah mungil itu, rumah yang sejak kecil dia tinggali dengan wanita yang dia kira adalah neneknya, mak Oneng.


Boris membuka pintu rumah itu, lalu berjalan menuju kamar mak Oneng dan mengangkat kasur, dibantu oleh mang Asep. Pemuda tampan itu tidak pernah mengira jika dibawah kasur mak Oneng terdapat sebuah peti berukuran sedang! Tanpa pikir panjang Boris membuka gembok peti tersebut menggunakan kunci yang telah diberikan oleh sang nenek, dan membukanya. Lalu mengambil sebuah map coklat tebal dan membawanya pergi setelah mengunci kembali pintu rumah sederhana itu.


Kini baik Boris maupun mang Asep telah berada di apartemen milik sopir pribadi Airin itu, mereka sepakat untuk membuka dokumen tersebut ditempat tersebut, karena dinilainya aman.


"Sepertinya kita butuh komputer untuk melihat isinya mang" Ucap Boris, setelah dia mengambil sebuah piringan perak berukuran kecil dari dalam amplop itu.


Selain disket kecil, disana terdapat sebuah kunci berukuran mungil yang menempel pada sebuah buku kecil yang Boris yakini merupakan sebuah buku tabungan. Selain itu, banyak sekali foto-foto sepasang suami istri juga beberapa dokumen penting.


Tak terasa air mata Boris berlinang, dia sudah tak bisa menahan lagi kesedihan nya ketika menyaksikan tayangan video didepannya. Kedua orangtuanya menyampaikan penyesalannya karena tidak akan pernah bisa berada disisinya, untuk menyaksikan tumbuh kembang dirinya. Mereka juga memohon maaf kepada Boris karena telah menitipkan nya kepada mak Oneng.


Satu kalimat yang membuat kesedihan Boris kini bercampur dengan kemarahan, adalah ketika sang ayah memberitahu perihal siapa orang dibalik peristiwa mengerikan yang menimpa teman baiknya dan kemungkinan siapa yang akan mencelakai nya.


Boris mengepalkan tangannya " Sudah waktunya kita menghabisi mereka " Ucap Boris dengan mengencangkan rahangnya.


"Sabar... Kita tidak bisa bertindak sembarangan, bagaimanapun mereka bukanlah orang sembarangan Ris... " Mang Asep menepuk pundak Boris setelah dia mematikan layar monitor laptop nya.


"Ayahku ada bersama dengan tuan Ludwig saat peristiwa itu terjadi, dia adalah sopir sekaligus asisten pribadi beliau... " Mang Asep menghela napasnya berat, pikirannya kini kembali ke masa lalu. Masa dimana tiba-tiba Herman, seseorang yang mengaku sebagai pengacara pribadi majikan sang ayah hadir di depan pintu rumahnya, kemudian menceritakan maksud dan tujuannya menemuinya hari itu.

__ADS_1


"Dan aku diminta oleh tuan Hendri untuk mencari keberadaan kalian, aku hanya tidak menyangka jika orang yang aku cari ada di depan mataku selama ini... " Mang Asep tersenyum miris. Pengacara tua itu sudah meninggal sejak lama, karena sakit yang dideritanya. Mungkin jika tuan Herman saat ini masih hidup, akan lebih mudah baginya untuk menyelesaikan masalah ini hingga tuntas. Bagaimanapun dia merupakan saksi kunci peristiwa-peristiwa di masa lalu.


"Apa yang harus saya lakukan mang Asep? Ini semua terlalu banyak... Saya bahkan masih meyakinkan diri saya jika saya adalah benar-benar cucu mak Oneng" Boris memijat keningnya.


"Kembali ke tanah kelahiran ayahmu, aku yakin disana keluarga mu telah menantikan kehadiranmu Ris... " Mang Asep memberikan sebuah kalung yang dia dapatkan dari dalam amplop yang mereka ambil sebelumnya.


"Dan katakan semua yang kamu ketahui kepada mereka... " Dia lalu memberikan amplop itu kembali ke tangan Boris. Semua dokumen-dokumen penting telah tersusun rapi di dalam nya, dirinya yakin jika mereka akan menerima kehadiran penerus tahta perusahaan minyak bumi terbesar di benua Afrika itu setelah bocah ini memberikan barang peninggalan itu kepada mereka.


"Aku.... " Boris merasa ragu. Dia ragu apakah dia akan sanggup menerima kenyataannya nanti, kenyataan siapa dirinya yang sebenarnya selama ini.


"Aku akan menyiapkan keberangkatan mu kesana Ris, jangan khawatir soal Airin... Aku pastikan dia yang akan menyambut kepulangan mu nanti.. " Mang Asep menepuk pundak Boris kembali. Dirinya juga meyakinkan Boris bahwa mereka akan memberitahu perihal temuannya ini kepada nona kecilnya itu secara perlahan, agar gadis itu bisa dengan mudah menerima kenyataan yang ada sekarang ini.


.


.


.


"Ternyata gak semudah itu" Benak mang Asep. Sementara itu Aldo terlihat lebih santai mendengarkan cerita asisten pribadi sang adik, bagaimana tidak, semalam dia telah terlebih dulu membuat pria kutub Selatan ini terkejut dengan responnya. Respon yang sama seperti sang adik dihadapannya saat ini.


"Bang! Kok abang daritadi cuma diem aja sih???? Airin curiga abang udah tau semuanya! iyakan?!!! " Kini sorot mata tajamnya mengarah kepada sang kakak, dia tidak terima jika dirinya menjadi satu-satunya orang terakhir yang mengetahui semua ini. Bagaimana bisa mereka merahasiakan semua ini darinya selama ini?? Setega itukah mereka kepadanya??? Pikir Airin.


Glup!

__ADS_1


Aldo menelan salivanya berat, sang adik kini tengah dalam mode perang! Dan akan sulit baginya untuk menenangkan kemarahan sang adik, apalagi ini peristiwa terbesar yang pernah dia terima sepanjang hidupnya.


"Dengerin abang dulu dek... Ini semua demi... "


"Demi apa??? Demi aku apa demi abang sendiri???! " Airin memotong ucapan sang kakak, dia sudah tidak akan bisa menerima alasan apapun saat ini.


"Aku bukan anak kecil lagi bang! Abang lupa?!! dan kamu mang Asep! Kamu saya pecat hari ini!!!! " Airin pergi meninggalkan ruangan kerja sang kakak, dia berlari menuju kamarnya. Entah dia harus bahagia saat ini atau malah harus kecewa dan marah kepada semua orang. Yang pasti dia hanya ingin sendiri saat ini, dan mencoba untuk menerima kenyataan yang ada. Kenyataan bahwa pujaan hatinya ini bukanlah orang yang dia kira selama ini.


"Sekarang kamu dimana ka? Apa kamu masih mau menemui aku nanti? " Benaknya.


Sementara itu di ruang kerja Aldo, mang Asep hanya bisa pasrah dengan ancaman pecat dari Airin untuk yang kesekian ratus kalinya. Toh nona kecilnya itu tidak benar-benar akan memecat dirinya dari pekerjaannya itu, ini bukan pertama kali, pikir nya.


"Jadi bocah itu sudah berangkat? " Aldo berusaha untuk mengalihkan perhatiannya dari drama sang adik.


"Kemungkinan besar dia sudah sampai disana tuan" Mang Asep melihat jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 6 sore disini, itu artinya di UAE sana telah menunjukkan pukul 2 dini hari. Boris seharusnya sudah tiba sejak jam dua jam yang lalu, bisa mang Asep pastikan bahwa saat ini dia tengah berada bersama dengan keluarga besarnya.


"Penasaran, bagaiamana perasaan mereka saat tahu salah satu pewaris terbesarnya tiba-tiba muncul dihadapan mereka" Aldo tersenyum penuh arti.


.


.


.

__ADS_1


Happy halu manteman!!!


makasih ya atas semua dukungan kalian untuk semua novel-novel othor ! Loph loph sekebon sawit!!


__ADS_2