
" Tunggu... itu kak Boris! Ikutin dia mang! " Pinta Airin.
Mereka baru saja tiba didepan gang rumah Boris saat pemuda itu muncul dari gang tersebut, untung saja mang Asep parkir lebih jauh dari tempat biasanya. Insting Airin tadi pagi sangat akurat, gadis itu meminta mang Asep untuk mengganti mobil yang biasa dia kendarai untuk mengantar dan menjemput gadis itu.
"Mang Asep gak ikut terlibat dalam hal ini kan?" lanjutnya.
Kecurigaan Airin bukan tanpa alasan, beberapa hari ini sang sopir pribadi terlihat mencurigakan, setiap kali Airin meminta laporan terakhir mengenai keberadaan Boris jawaban pria disamping nya ini hampir selalu sama. Jika tidak aman terkendali, sibuk atau sedang istirahat, dan tiba-tiba saja pengawal nya tadi bilang pemuda itu menghilang???
Sepertinya ada yang disembunyikan sama mang Asep pikir Airin.
Deg!
Mang Asep berusaha untuk tetap terlihat normal mendengar pertanyaan Airin tersebut, dan melajukan mobil yang dikendarai nya dengan hati-hati agar tidak dicurigai oleh pemuda yang mereka buntuti.
"Mang Asep gak ngerti maksud neng Airin" jawabnya, lalu pria kelahiran akhir tahun 80an itu menghentikan laju kendaraannya saat melihat Boris sampai di halte bus dengan tetap memperhatikan jarak aman.
"Airin bukan anak kecil lagi mang Asep, dan kalo memang mang Asep sampe nyembunyiin sesuatu dari Airin sebaiknya mang Asep bicara jujur sekarang atau Airin bakal marah dan minta sama kak Aldi buat nyari pengganti mang Asep" Ucap Airin dengan nada datarnya.
__ADS_1
Jika harus memilih sang bodyguard lebih memilih jika gadis yang tengah duduk disamping nya ini berbicara dengan cara mengomel seperti gadis pada normalnya, mendengar Airin bicara dengan nada dingin seperti itu membuat bulu kuduk mang Asep bediri!
Mang Asep seperti sedang berbicara pada nyonya besar Natalina, nenek Airin! Wanita tua itu bahkan berbicara dengan nada yang sama dengan anak dan cucunya.
"Saat ini mang Asep gak bisa ngasih tau neng Airin, tapi mang Asep tau kemana dia pergi" Jawabnya, lalu mengendarai mobil nya menuju tempat yang pastinya akan Boris datangi pagi ini mendahului bus yang dinaiki oleh pemuda itu.
Tiba di pelataran gedung pencakar langit bertuliskan TRUST Corp, mang Asep meminta Airin untuk menunggu kedatangan Boris disana. Didalam mobil Airin menunggu dengan penuh tanda tanya, untungnya tak memerlukan banyak waktu bagi mereka untuk menunggu pemuda yang kini tengah berjalan memasuki gedung tersebut.
"Kak Boris?? Mau apa dia kesana? Jangan-jangan... " pikir Airin, tidak salah lagi ini pasti ulah kedua kakak kembarnya itu pikirnya lagi.
"Bisa-bisanya mereka boongin gue! gak bakalan gue kasih ampun kali ini" tak hentinya batin Airin mengancam kedua kakak kembarnya, tega-teganya mereka merahasiakan hal sepenting ini darinya.
Emosi Airin semakin terbakar dikala sang sekertaris melarang dirinya dan mang Asep untuk memasuki ruangan besar itu, padahal seumur hidupnya Airin bolak balik TRUST Corp Airin sama sekali tidak membutuhkan persetujuan dari siapapun untuk memasuki ruangan tersebut! bahkan dari Aldi dan Aldo.
"Apa maksud mbak Titiek?? Sejak kapan aku gak boleh masuk ke sana?! " Airin kesal.
" Pak Aldi dan pak Aldo sedang ada rapat penting dengan koleganya non... Beliau-beliau berpesan agar tidak diganggu " Jawab Titiek, wanita cantik nan anggun pilihan Airin sendiri ketika memilih calon sekertaris untuk kedua kakaknya dulu.
__ADS_1
Airin memilih mbak Titiek karena pembawaannya yang tenang dan kesopanan nya, baik dalam berbicara maupun dalam berpakaian. Tetapi dalam situasi tertentu mbak Titiek bisa sangat tegas apalagi dalam mengambil keputusan untuk kebaikan kedua kakaknya dan demi kelangsungan perusahaan.
" Siapa tamunya mbak? Dari perusahaan mana mereka? terus kenapa meetingnya gak di ruang meeting aja kalo emang penting? " Airin bertanya dengan penuh selidik. Karena setahunya semua rapat akan di lakukan diruang rapat, apalagi yang sifatnya khusus. Dan kalau memang sangat khusus kenapa gak diadakan diluar saja? Di restoran mahal misalnya pikir gadis itu.
"Oohh.. itu non dari... " belum sempat mbak Titiek merampungkan kalimatnya, gadis itu sudah berlalu dan membuka paksa pintu ruangan tersebut dengan paksa. Dengan bantuan mahluk tinggi besar tampan yang selalu setia menemaninya.
Dengan sudut matanya mang Asep melihat wanita yang selalu saja salah tingkah ketika bertemu dengannya itu tengah panik saat ini, lelaki tangguh itu merahasiakan senyumnya seperti yang dilakukan nya saat ini.
" Kakak...!!! "
.
.
.
Happy halu manteman
__ADS_1