DIKEJAR ANAK MAFIA

DIKEJAR ANAK MAFIA
Part 21


__ADS_3

"Loh...mak, emak baik-baik aja??" antara sedih, bahagia dan bingung Airin melihat sang emak yang sedang membantu Boris membawakan satu dandang penuh stok cilok dari dapur. Airin baru saja memasuki rumah sederhana itu bersama dengan mang Asep, keduanya merasa bingung dengan pemandangan yang tengah di lihatnya.


Airin langsung berhambur untuk memeluk mak Oneng, jika saja Boris dan mang Asep tidak cekatan mungkin dandang panas berisi cilok itu sudah tumpah.


"Aehh...si eneng...hati-hati atuh neng, itu panas pancinya...nanti kena kaki..." Ucap mak Oneng, menerima pelukan erat Airin. Meski wanita paruh baya itu tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja gadis cantik yang sering kali membantunya itu datang dan memeluknya erat.


"Emak sehat kan mak?" lanjut Airin tanpa memperdulikan peringatan mak Oneng dan drama yang terjadi antara Boris dan mang Asep. Kedua mahluk berbatang itu tengah berjuang agar cilok-cilok tersebut tidak tumpah diantara panasnya kuping panci, karena lap yang dipakai untuk menahan panasnya panci tersebut masih setia dipegang oleh mak Oneng.


"Alhamduliilah neng, emak mah sehat..." Jawabnya sambil mengelus punggung gadis tersebut, mencoba untuk memberikan sedikit ketenangan kepadanya.


Kita tinggalkan saja dua orang bidadari dari kahyangan milik si Boris, biarkan mereka bercengkrama dan saling bertukar cerita sesuai dengan versinya masing-masing. Pasalnya, keadaan diluar rumah mak Oneng tak kalah pentingnya untuk kita ceritakan di bab ini.


Keributan makin memuncak gara-gara primadona baru mereka, Boris kalah saing dengan mang Asep! Teriakan para gadis semakin terdengar jelas ketika pria tampan berjambang itu membantu Boris dan Icha melayani mereka. Bahkan banyak diantara mereka yang rela mengulang antriannya demi mendapatkan senyuman kaku mang Asep.


Porsi terakhir cilok mak Oneng telah berpindah tempat dari dandang menuju kemasan plastik yang boris berikan kepada pelanggan terakhir mereka. Berkat mang Asep para pembeli bersedia untuk membeli kembali cilok buatan mak Oneng itu esok hari di alun-alun tempat biasa Boris mangkal, karena keterbatasan si emak dalam memproduksi cilok hari ini. Wanita paruh baya pemilik suara indah ala rocker black metal itu sudah tidak kuat lagi membuat adonan cilok, meskipun Airin dan Icha telah membantu dirinya.


"Urusan kita belum selesai ka!" tiba-tiba saja Airin memberikan ultimatum disela-sela Boris membereskan bekas dagangannya. Berdasarkan cerita mak Oneng tadi Airin memiliki kesimpulan bahwa pemuda tersebut telah dengan sengaja membuat adegan drama dengan tujuan agar dirinya mengunjungi Boris di rumahnya hari ini. Airin bahkan mencurigai tindakan boris tersebut atas permintaan kedua kakak kembarnya yang terkenal posesif itu.


Ultimatum tersebut sontak membuat bulu kuduk Boris berdiri! Bagaimana mungkin dia bisa melupakan peristiwa penting hari ini? Disaat dirinya tiba-tiba panik gara-gara menekan tombol ponsel yang langsung terhubung dengan gadis itu. Parahnya bukannya menjawab pertanyaan Airin, jempol tangan Boris malah menekan tombol akhiri panggilan secara spontan saking kagetnya.


"Urusan yang mana Ai?" Jawab Boris pura-pura. Sejujurnya Boris pun ingin mengetahui dari mulut Airin secara langsung perihal menghilangnya gadis itu selama tiga hari ini, apa yang telah terjadi setelah dirinya pergi meninggalkan rumah Airin ketika itu.


Merasa dirinya sudah bukan berada ditempat yang tepat, Icha berpamitan pulang. Gadis itu merasa jika ada hal penting yang akan Boris dan Airin bicarakan saat ini.


"Icha pulang dulu yah mak..." Ucapnya, lalu berpamitan kepada Boris juga Airin serta mang Asep.


Tak berbeda dengan Icha, mang Asep memilih untuk duduk di kursi kayu diluar rumah itu diikuti oleh mak Oneng yang membawakan kopi plus sepiring gorengan untuknya.


"Ai..."

__ADS_1


"Ka..."


Ucap keduanya bersamaan.


"Kamu dulu aja Ai...kak Boris udah nyerah deh mau dimarahin juga.." Lanjut Boris pasrah. Memang sikapnya konyol sih pikirnya.


"Apa kak Boris sengaja? Biar aku pulang? Apa kak Aldi yang nyuruh kaka?" Tanya Airin to the point. Gadis itu tak mau berbasa-basi lagi, dia merasa Boris telah tega membuat dirinya pulang hari ini padahal Airin berniat untuk tinggal lebih lama di villa itu.


" Apa maksud kamu Ai? kak Boris gak ngerti sama apa yang kamu bilang..." Boris mengerutkan dahinya. Bukan pertanyaan itu yang dia harapkan dari Airin, pemuda itu berpikir bahwa Airin akan mempertanyakan perihal ucapannya yang salah di telepon tadi siang.


"Jangan pura-pura deh ka, apa yang dijanjikan sam bang Aldi biar aku pulang hari ini sama kakak?" Jawab Airin semakin ketus, bahkan terkesan merendahkan pemuda tersebut.


Ternyata semua pria yang mendekatinya sama saja, pikir Airin. Hanya bermaksud untuk mendapatkan uang dan uang! Airin sempat berharap jika Boris berbeda dari semua pemuda yang pernah mendekatinya, ternyata apa yang dikatakan oleh sang kakak memang benar adanya.


"Aku gak pernah menerima janji apapun dari abangmu Airin! dan kalaupun memang mereka bermaksud untuk memberikan uang padaku, sudah pasti akan aku tolak" Boris benar-benar tersinggung dengan perkataan Airin, jika memang dirinya seperti apa yang dipikirkan Airin, mana mungkin Boris masih juga bersikeras untuk mengembalikan uang yang dipakai untuk perawatan mak Oneng sampai hari ini.


Blam!


Tak seberapa detik kemudian Boris keluar dari kamarnya, lalu memberikan amplop tebal berisikan uang langsung ke tangan gadis itu. Uang yang memang telah dia persiapkan untuk dikembalikan kepada Airin tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Kak! Maafin Airin...Airin gak bermaksud...." Ucapan Airin terhenti seketika mang Asep menghampirinya.


Rupanya sang sopir merangkap bodyguard itu terkejut dengan kerasnya suara pintu yang terdengar hingga ke depan halaman rumah, hampir saja dia tersedak oleh kopi yang sedang dia teguk.


"Ada apa ini?"


"Kita pulang mang, Airin capek..." jawabnya hampir terisak. Seketika rasa bersalah menyelimuti dirinya, sepertinya ucapan Airin telah menyinggung perasaan Boris.


Seharusnya Airin lebih bisa menyaring ucapannya, seharusnya Airin menanyakan terlebih dahulu kebenaran ucapan Boris di telepon siang tadi, seharusnya dia menyadari jika Boris bukan seperti semua pria yang selama ini berusaha untuk mendekatinya. Toh semua bukti-bukti nyata itu sudah ada di depan mata.

__ADS_1


Boris selalu berusaha untuk mengembalikan uang Airin yang dipakai untuk berobat mak Oneng waktu itu, pemuda itu bahkan yang memiliki inisiatif untuk mengurangi besaran harga untuk dirinya sendiri ketika menyanggupi permintaan Airin untuk menjadi tutor les privat bimbingan belajarnya.


Airin benar-benar meyesali ucapannya.


.


.


.


"Ai...kamu udah pulang dek!" Sambut Aldi ketika melihat sang adik memasuki rumah dengan tergesa-gesa. Tetapi sambutan hangatnya tidak mendapatkan respon dari Airin, gadis itu berlari menaiki tangga tanpa memperdulikan dirinya yang sudah bersiap untuk memeluknya.


Sepulangnya tadi dari villa Aldi memutuskan untuk mendengarkan ucapan Aldo dan memilih untuk pulang alih-alih mengarahkan mobil mewahnya ke kediaman Boris, dia harus bisa lebih menahan diri agar bisa mendapatkan Airin kembali.


"Ada apa ini mang?!" Perhatian Aldi beralih kepada sang sopir, karena panggilannya kepada Airin tidak juga mendapatkan respon dari gadis itu.


"Saya kurang tahu pak, tadi siang neng Airin baik-baik saja..." Jawab mang Asep, dirinya pun belum mengetahui apa yang terjadi didalam ruangan itu tadi. Apa yang telah keduanya bicarakan ketika dirinya asik menikmati secangkir kopi panas plus gorengan buatan si emak, bahkan pertanyaan yang mang Asep ajukan kepada Airin belum juga mendapatkan jawaban dari gadis itu.


Sepanjang jalan mulut gadis itu terkunci rapat! Hanya pandangan matanya yang menerawang sepanjang jalan. mang Asep hanya menerka jika kehadiran gadis itulah yang memicu kemarahan majikan kecilnya.


"Aaaaaaaarrrhhhhhh....!!!!!"


.


.


.


Happy halu manteman

__ADS_1


__ADS_2