DIKEJAR ANAK MAFIA

DIKEJAR ANAK MAFIA
Part 61


__ADS_3

Pekerjaan Aldi dan Aldo sudah cukup berat di kantor, ditambah lagi dengan ulah Natalina yang ingin menguasai bisnis peninggalan mendiang Alda untuk mereka. Sekarang dihadapan keduanya ada dua orang lain lagi yang harus ikut merasakan kekejaman sang nenek.


"Ini tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi bang, kita harus segera ambil tindakan untuk mengirim kembali nenek tua itu ke Jerman" Keluh Aldo, saat ini dokter keluarga sedang menangani luka ditubuh mang Asep serta Boris, dan Aldo serta Aldi juga Airin berada disana.


"Maaf, kalo boleh saya berpendapat...sepertinya nenek pak Aldi dan pak Aldo tidak seperti yang kalian pikirkan, mungkin..." Boris menghentikan ucapannya, setelah melihat sorot mata tajam semua orang yang mengarah kepadanya.


"Jangan sok tau, Natalina ya Natalina...Wanita tua itu selalu melakukan apapun sekehendak hatinya, dan dia akan memastikan sendiri apapun yang dia inginkan akan tercapai..." Ungkap Aldi, padahal nenek tua itu sudah menghajarnya, tapi mengapa bocah sialan ini masih merasa kasihan kepadanya pikir Aldi.


"Dan sayangnya dia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan semua yang dia mau" Sambung Aldo, lalu menghela napasnya kasar.


"Termasuk menghajar atau bahkan membunuh" Lanjut Airin, lalu mengikuti Boris ketika pemuda itu beranjak dari duduknya, dan berjalan menuju balkon.


Urusan keluarga pelik seperti ini sungguh berada di luar dugaan Boris, mendengarkan ketiga saudara kandung itu berpendapat mengenai nenek mereka, juga apa yang telah dialaminya sendiri tadi membuat Boris merasa semakin prihatin kepada Natalina.


"Kamu tau Ai, tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya" Boris menghela napasnya pelan, dia melihat hijaunya rerumputan dihalaman samping rumah tersebut.


"Hanya mungkin cara mereka memperlihatkan rasa sayangnya itu yang berbeda, dalam hal ini nenekmu Natalina...Mungkin dia hanya tidak tahu caranya menyatakan rasa sayangnya terhadap kalian" lanjutnya. Seketika Boris mengingat sang nenek, mak Oneng yang selama ini selalu menemaninya. Bahkan semenjak bayi satu-satunya orangtua yang Boris ketahui adalah wanita tersebut.


Mak Oneng bukanlah manusia yang sempurna dimata orang lain, tetapi dimata Boris dia merupakan jelmaan malaikat! Ada banyak kesalahan yang beliau perbuat, dan itu lumrah menurut Boris sebagai seorang manusia. Tetapi pengorbanannya yang besar selama hidupnya tak akan pernah bisa digantikan dengan apapun di dunia ini.


"Sejak kami kecil, kami tak pernah melihat nenek bersikap baik terhadap kami" Airin mendekati Boris, ingatannya tertuju ke masa dia kanak-kanaknya dulu.

__ADS_1


"Kami selalu iri dengan saudara-saudara kami yang lainnya, karena kasih sayang nenek Natalina kepada mereka sangatlah besar" Airin tersenyum tipis, ada guratan kekecewaan diwajahnya.


"Apalagi jika kami melihat nenek sedang berbicara kepada orangtua kami dihadapan semuanya, dia menganggap papa dan mamaku tak lebih dari manusia-manusia gagal yang tidak patut berada diantara mereka" Ungkap Airin, lalu tersenyum pahit.


"Jika bukan karena kakek, kami mungkin tidak akan pernah menginjakkan kaki kami di rumah itu selama hidup kami. Mendiang kakek adalah orang yang paling baik yang pernah aku temui selain kedua orangtuaku dan mendiang kakakku" Airin menghela napasnya panjang. Singguh ironi pikirnya, selama ini dirinya selalu ingin membuktikan kepada Natalina jika dirinya layak untuk diakui sebagai cucu, sama seperti yang lainnya. Tetapi rasanya semakin mustahil.


"Kak Boris turut berduka cita, semoga arwah kakek dan kakakmu senantiasa mendapatkan tempat disisiNYA" Boris menunjukan rasa prihatinnya yang kini semakin dalam.


"Ai...Mungkinkah kedatangan beliau kesini dikarenakan kak Boris? Jika iya..." Boris terdiam, keberaniannya untuk mengungkapkan maksud dari ucapannya dia simpan kembali. Boris tidak mau menambah beban dalam hati dan pikiran gadis dihadapannya.


"Apa kak Boris keberatan mengenal aku lebih jauh karena kondisi keluarga kami? Atau mungkin kakak takut?" Kali ini ada setitik ketakutan tersirat dalam ucapan Airin, takut jika Boris akan menjauhi bahkan meninggalkannya.


"Mungkin kita bisa mencari cara lain untuk menghadapi nenek mu itu, agar tidak terjadi kesalahpahaman lebih jauh" Lanjutnya, lalu mengacak rambut Airin dan kembali bergabung bersama dengan kedua kakak kembar Airin dan mang Asep.


Sementara itu, ditempat lain Natalina semakin murka! Bagaimana tidak, tim pengacara terbaik yang disewanya untuk mengambil alih perusahaan telah gagal dalam melakukan misinya, pun sama halnya dengan para pengawalnya. Mereka tidak berhasil melumpuhkan satu orang saja, dan itu bodoh menurutnya.


"Kerahkan lebih banyak lagi orang! Kalian ini bodoh atau apa hah!" Natalina geram, dia lalu meminta kepada seseorang untuk mencarikannya lebih banyak lagi orang suruhan.


"Kali ini cari yang lebih bisa diandalkan! kalau tidak, akan aku pastikan hidupmu menderita selamanya!" Lanjutnya kepada orang yang dimaksud.


Ya! Natalina mendapatkan bantuan dari seseorang untuk melancarkan aksinya selama ini, bahkan alasan mengapa dirinya memutuskan untuk mendatangi cucu-cucunya adalah karena berita yang dia dapatkan dari orang ini. Natalina tidak rela apabila peristiwa serupa terjadi lagi, dimana salah satu anggota keluarganya memutuskan untuk mencoreng nama baik keluarga dengan menikahi orang miskin. Sudah cukup baginya mendapatkan hinaan dari teman-temannya di Jerman, kali ini dia tidak akan membiarkan hal buruk itu terulang kembali.

__ADS_1


Lain hal nya dengan Boris, pemuda itu mengkhawatirkan keselamatan sang nenek saat ini, pasalnya sejak tadi dia tidak berhasil menghubungi sang sahabat, Robby. Pria itu seharusnya membawa mak Oneng pergi dari apartemen atas permintaan dari Airin. Rencananya mak Oneng akan tinggal di villa milik mendiang Alda untuk sementara waktu.


"Keamanan disana lebih terjamin ka, lagipula disana dekat dengan pemukiman warga...juga emak bisa melakukan aktivitas lain, berkebun misalnya" Saran Airin. Dan kebetulan salah satu penjaga villa disana seusia dengan mak Oneng, jadi wanita tua itu bisa memiliki teman baru.


Kali ke lima Boris baru berhasil menghubungi Robby, rupanya dia baru saja sampai di lokasi saat ini. "Sabar nape! Gue baru sampe bego!" Robby kesal, suaranya bahkan bisa terdengar oleh Airin!


"Alhamdulillah...Kalian selamet sampe tujuan...Makasih ya By" Boris boleh merasa lega sekarang, apalagi samar-samar dia bisa mendengar suara mak Oneng diseberang sana.


"Heh! Ini kagak gratis ye...! Skripsi gue! Inget!" Robby mulai mengomel, pasalnya ketika Boris menelponnya tadi, dirinya baru saja tiba di apartemen. Robby bermaksud untuk mengambil setelan jas yang sengaja dia tinggalkan ditempat itu, malam ini dia bermaksud untuk berkenan dengan pacar barunya! Andaikan Boris tidak mengeluarkan jurus bujukan mautnya, mungkin dia tidak akan menyanggupi permintaan sahabatnya ini.


"Iye bawel! Dasar kembarannya emak!"


.


.


.


Happy halu manteman


Thanks ya buat dukungan nya di part ini 😘😘

__ADS_1


__ADS_2