DIKEJAR ANAK MAFIA

DIKEJAR ANAK MAFIA
Part 18


__ADS_3

"Neng...Sebaiknya kita masuk kedalam, hari semakin sore...Mang Asep khawatir kalo neng Airin nanti masuk angin" pinta mang Asep untuk kesekian kalinya. Sopir merangkap bodyguard itu telah dengan sabar menemani dan membujuk majikan kecilnya untuk segera kembali ke kediamannya sejak tadi, meski belum menemukan hasil. Airin masih tetap setia ditempatnya, disamping pusara mewah yang terbuat dari batu marmer murni berwarna gelap itu, menatapnya dalam dan sesekali menangis tersedu.


Disana tertulis sebuah nama yang gagah segagah pemiliknya ketika masih berada diantara mereka, menghirup udara segar, bercengkrama dan mencinta. Alda Pangestu Putra Dirgantara, adalah kakak dari Airin salah satu saudara kembar Aldi dan Aldo.


Menginjak usia 19 tahun Alda mengalami kecelakaan fatal yang merenggut nyawanya, saat seorang pengemudi mabuk mengemudi ugal-ugalan dan menabrak sepeda motor yang ditunggangi Alda dengan kecepatan tinggi. Hari itu tepat dihari ulang tahun Airin, Alda tengah dalam perjalanan pulang setelah dirinya mencari kado spesial untuk adik tercintanya itu.


"Mang Asep duluan aja, Airin masih kangen sama bang Alda.." Isak Airin.


Pria bertubuh tinggi besar itu tak mungkin meninggalkan majikan kecilnya sendirian disini, meski makam dimana Alda berada berada tak jauh dari villa milik keluarga Airin tetapi keselamatan gadis itu tetap menjadi prioritas utama baginya. Apalagi langit mendung sejak tadi, sepertinya bumi pun ikut bersedih tak lama setelah nona kecil yang sudah dianggapnya adik ini tiba disana.


"Pak Aldi memang keterlaluan kali ini..." Batin mang Asep


Kesalahpahaman tiga hari yang lalu telah membuat Airin kesal. Gadis itu sangat memahami tingkat ke-posesifan kedua kakak kembarnya, tetapi kali ini sungguh keterlaluan. Sepeninggal Boris dari rumah tersebut Aldi menghampiri Airin dikamarnya, sang kakak memberikan ultimatum jika gadis itu masih saja mendekati Boris apalagi harus berpura-pura bodoh seperti itu, maka Aldi akan mengirim Airin ke German dan melanjutkan studynya disana. Hal ini sangat ditentang oleh Airin. Alasannya simpel, Airin tidak mau tinggal bersama dengan nenek dan saudara-saudaranya. Mereka terlalu mengatur dan kolot menurutnya.


Imbas dari peristiwa tersebut berbuntut pada kaburnya Airin ke tempat dimana Alda bersemayam, satu-satunya kakak yang berani menentang aturan kolot yang masih dipegang teguh oleh keluarganya.


Airin masih ingat ketika Alda masih hidup dan memiliki pacar bernama Gladys, seorang gadis sederhana dari kalangan keluarga yang sederhana pula. Kala itu sang nenek sengaja datang dari German hanya untuk memaksa Alda agar memutuskan hubungan mereka, bahkan sang nenek yang terkenal dengan karakter kerasnya itu mengancam keluarga Gladys jika mereka tidak juga memutuskan hubungan.


Tentu saja Alda tidak tinggal diam, dia membela habis-habisan keluarga Gladys bahkan mengancam balik sang nenek. Jika dia masih saja ikut campur dalam urusan percintaannya dengan gadis itu, maka Alda tak akan segan-segan hengkang dari keluarga mereka dan akan menghancurkan bisnis besar keluarganya tersebut.


Ancaman Alda bukan kaleng-kaleng, di usianya yang baru menginjak 19 tahun pemuda tampan yang wajahnya sangat mirip dengan Aldi dan Aldo itu telah menguasai bisnis regional. Bahkan dengan kepiawaiannya dalam memimpin perusahaan bersama dengan sang ayah, Alda telah berhasil membuat perusahaan milik ayahnya tersebut lebih besar dari perusahaan yang dimiliki oleh keluarga sang nenek.


Hal ini dia lakukan karena kekesalannya terhadap keluarga besar sang ibu, yang tentu saja tersangka utamanya adalah sang nenek sendiri. Dan ayah serta mang Asep lah yang menjadi saksi bisu atas kekejaman keluarga tersebut.

__ADS_1


"Mau ujan neng, ayok masuk...besok kita kesini lagi" kali ini mang Asep sedikit memaksa, karena gerimis sudah mulai turun dan cuaca semakin dingin.


"Bahkan mereka gak nyadar kalo aku disini mang, mereka benar-benar jahat!" Isak Airin, melangkahkan kakinya bersama dengan sang sopir dibawah naungan payung hitam yang ada ditangan pria tersebut.


"Mang Asep yakin mereka lagi nyariin neng Airin sekarang, itu karena mereka sayang sama adik kecil satu-satunya ini" Jawab mang Asep, dengan seulas senyum di bibirnya. Berusaha untuk menenangkan hati nona kecil kesayangannya itu.


Mang Asep memang berkata jujur, karena semenjak kedatangan mereka tiga hari yang lalu di villa ini ponsel miliknya tak hentinya bergetar. Dia bisa saja mematikan ponselnya, tapi itu sama saja artinya dengan menjerumuskan diri ke dalam lubang sumur yang tak terhingga dalamnya. Satu-satunya majikan yang bisa diajak bekerjasama olehnya adalah Aldo, dan alasan itulah mengapa mang Asep tidak mematikan ponselnya hingga saat ini.


.


.


.


"Bang! Udah! Gue udah bilang, anak ini gak tau dimana Airin..." Ucap Aldo, kembali mencoba untuk meyakinkan sang kakak ditengah dirinya menahan amukan pemuda yang wajahnya bak pinang dibelah kampak dengannya itu.


"Lu kenapa sih belain bocah tengik ini?! Gue yakin dia pasti nyembunyiin Airin do!" Bentak Aldi sambil menunjuk ke wajah Boris yang masih dalam keadaan syok berat.


Ini bagaikan mimpi buruk disiang bolong baginya, lebih buruk dari mimpi dicuekin mak Oneng karena berani melawan nenek tercintanya itu. Bagaimana tidak, sudah tiga hari ini Boris menunggu kabar dari Airin gadis yang mulai membuat jantungnya berjoget dangdut kala dekat dengannya, bukannya menerima kabar baik dari kedua kakaknya seperti harapannya sebelum bom hirosima meledak, dirinya malah benar-benar kena bom tersebut.


Boris benar-benar tidak tahu keberadaan gadis itu, jadi mana mungkin dia akan memberitahu dimana Airin berada saat ini. Dan meski sudah berkali-kali Boris berusaha untuk meyakinkan Aldi, tetap saja pemuda menyeramkan itu bersikukuh dengan pendiriannya! Menyangka jika dirinya menyembunyikan sang adik.


"Mau gue sembunyiin di gerobak cilok??" batin Boris

__ADS_1


Bahkan rumah yang hanya seukuran ruang belajar milik Airin itu tidak akan mungkin bisa menyembunyikan gadis itu disana, selain memang ukurannya yang ekonomis Airin pasti tidak akan nyaman berada disana lama-lama. Sudah panas, banyak nyamuk, berisik pula! Tetangga disana memang sangatlah rukun, dan mereka menjunjung tinggi kedekatan antar tetangga. Saking dekatnya, ketika malam tiba, suara ngorok pak Samsul yang bersautan dengan suara kentut bu Samsul pun ikut terdengar.


"Maaf pak Aldi, saya benar-benar gak tau dimana Airin berada..." Ucap Boris pasrah.


"Pak Aldi dan pak Aldo boleh geledah rumah saya jika berkenan, saya gak keberatan" lanjutnya. Meski ragu tapi dengan cara ini dirinya berharap Aldi akan mempercayai ucapannya nanti.


"Gak perlu Bor, sorry yah...Kakak gue yang satu ini emang susah buat diyakinin" Jawab Aldi, seraya menepuk pundak Boris dan mengantar pemuda itu ke luar ruangan tersebut.


"Lo gak marah kan?" Aldo meyakinkan dirinya, bagaimanapun sikap sang kakak memang sudah diluar batas.


Bagaimana tidak, para pengawal yang mereka utus telah mengintai rumah Boris dan mengikuti aktifitas keseharian pemuda itu. Bahkan informasi yang mereka berikan selalu tepat, tetapi masih saja Aldi tidak memercayai apa yang dikatakan oleh Boris kepadanya.


"Sekali lagi gue minta maaf yah Bor, sorry udah ganggu jam kuliah lo hari ini" Aldo mengulurkan tangannya, dan Boris pun menyambutnya.


"Ai...Kamu dimana sih...??


.


.


.


Happy halu manteman

__ADS_1


__ADS_2