DIKEJAR ANAK MAFIA

DIKEJAR ANAK MAFIA
Part 37


__ADS_3

Boris sudah dalam keadaan tak sadarkan diri ketika Airin menaiki mobil mewahnya, pemuda itu pingsan! Airin hanya berpikir bahwa pujaan hatinya sedang sakit saat itu, mengingat aktivitas padatnya setiap hari.


"Ya ampun ka, kalo sakit kenapa maksain kerja sih... Untung aku datang pagi ini... " Keluh Airin, khawatir akan kesehatan pemuda tampan di pangkuannya.


Secepat mungkin mang Asep melajukan kendaraan beroda empat itu, dia menyalip kanan dan kiri untuk memastikan mereka tiba di rumah sakit sesegera mungkin. Untungnya situasi jalanan sudah tidak sepadat tadi pagi, hingga dirinya bisa lebih leluasa memacu mobil mewah tersebut dengan kecepatan tinggi dan tiba tak lama kemudian.


"Gimana keadaannya dok??" Airin bertanya segera setelah dokter Irvan keluar dari ruang pemeriksaan unit gawat darurat, dirinya dilanda khawatir saat ini.


"Siapa dia Ai? kok om belum pernah liat dia... " Irvan yang adalah salah satu sahabat dari Aldi dan Aldo baru hari ini menemui pemuda asing itu.


"Saudara saya dok, keponakan saya... " Kali ini mamg Asep yang mendahului Airin menjawab pertanyaan sang dokter, ini dia lakukan agar dokter Irvan tidak mempertanyakan hal tersebut lebih lanjut.


"Owh... abis berantem? Perut kosong gitu kalo kena tinju ya ambruk lah..." Irvan menjawab pertanyaan Airin seakan dia telah mengetahui bahwa kedua orang yang sama-sama terkejut itu telah mengetahui peristiwa yang menimpa pemuda tadi, sambil menandatangani dokumen rawat inap untuk nya.


"Mang Asep tanda tangan disini, dia harus dirawat... yaaa dua hari, untuk mengetahui kondisi selanjutnya... khawatir ada pembengkakan di ulu hatinya" Lanjutnya tanpa beban, sementara Airin segera menemui sang calon kekasih.


"Siapa yang berani mukulin bocah tengik itu? " Benak mang Asep, menghela napasnya panjang sambil menandatangani dokumen yang diserahkan oleh suster melalui dokter Irvan.


"Terimakasih dok" Ucapnya, lalu meraih ponsel disaku celananya, menekan beberapa tombol untuk menghubungi seseorang.


Kepalan tangan Airin menandakan memuncak nya emosi gadis itu, pemuda yang masih terbaring tak berdaya dihadapan nya kini telah membuat darahnya mendidih! Airin tidak akan melepaskan orang yang telah tega melakukan hal itu terhadap kekasih hatinya itu.

__ADS_1


"Siapa yang cari mati sama gue... " Batinnya.


Sementara itu di TRUST Corp, setelah menghadapi cecaran pertanyaan yang didapat nya dari jajaran direksi, Tito kembali mencari keberadaan Boris. Pria itu lagi-lagi ingin melampiaskan amarahnya kepada pemuda yang dinilainya tidak becus itu.


Bayangkan saja, Tito sampai kewalahan menjawab pertanyaan yang begitu detail dari para direksi, termasuk dari kedua bos besarnya Aldi dan Aldo! Untung saja dirinya bisa meyakinkan mereka bahwa design yang dia buat sudah laik produksi dan berjanji akan membuat prototype yang akan dia persembahkan pada rapat direksi yang akan diselenggarakan dalam satu bulan mendatang.


Brak!!


" Diana! Kemana dia?! " Tito menggebrak meja kerjanya, saat menyadari Boris tidak ada disana.


"Boris ijin pulang To, tadi dianterin si David tuh.. " Jawab Diana, dengan menggerakkan kepalanya kearah seorang pria yang sedang asik dengan mikroskop nya dalam sebuah ruangan berkaca yang terpisah. Sementara wanita itu tengah disibukkan dengan data keluar masuk barang di komputer nya.


"Sialan! Berani-beraninya dia pergi gak ijin gue dulu! Apa gak cukup pukulan gue tadi?! Kesal Tito, ingin rasanya dia menghajar Boris hingga pemuda itu babak belur, agar dia tahu siapa yang menjadi pimpinan di departemen ini.


"Ahh! Dasar anaknya aja cemen! Segitu doang udah tumbang... " Kesal Tito, lalu meninggalkan ruangannya. Rasa kesal yang melanda tidak memungkinkan baginya untuk melanjutkan pekerjaannya saat ini, apalagi yang benar-benar memahami design tersebut ya pemuda payah itu pikirnya. Terpaksa Tito harus menunggu hingga Boris kembali bekerja, untuk menyempurnakan designnya itu.


Keesokan harinya orang yang ditunggu-tunggu oleh Tito tidak juga muncul, panggilan darinya pun tak dihiraukan oleh pemuda itu, hingga Diana datang untuk memberikan kabar terbaru yang dia dapat dari salah satu rekannya di bagian HRD. Tanpa sengaja wanita itu mendengarkan perbincangan mereka saat dirinya melewati rekan-rekan nya itu di kantin tadi.


"Lo nyari Boris? Dia gak masuk To... Dia masuk rumah sakit" Diana menghela napas nya kasar, karena kabar selanjutnya yang akan dia berikan kepada Tito bisa jadi akan mengancam posisi pria itu disana.


"Kemarin pas lo pukul dia, dia lagi puasa To..." Lanjutnya.

__ADS_1


"Dimana dia sekarang Di?! " Tanyanya, Ada keinginan dalam dirinya untuk mengetahui secara langsung kondisi pemuda itu, tetapi bukan untuk meminta maaf atau memperlihatkan bela sungkawa nya, melainkan untuk bertanya tentang design yang dia buat dan memastikan apa Boris bisa dengan segera membuat prototype mesin rancangannya.


"Dia di rumah sakit Sriwijaya.. kalo gak salah denger di ruangan VIP 1"


Seketika pertanyaan demi pertanyaan bermunculan dipikirkan Tito, bukankah Boris berasal dari keluarga kelas ekonomi lemah? Darimana dia bisa mendapatkan uang untuk membayar biaya rumah sakitnya? Mana kelas VIP pula pikirnya. Kalaupun itu merupakan fasilitas perusahaan, lalu siapa yang memberikan wewenangnya? Bukankah si Boris itu hanya karyawan magang?? Mengapa bisa mendapatkan fasilitas se mewah itu??


"Mending gue kesana langsung" benak Tito, lalu meninggalkan Diana yang masih mengoceh tanpa memperdulikan apapun ucapan wanita itu.


Tiba di rumah sakit, Tito tidak langsung menuju ruangan dimana Boris dirawat, meski dirinya sudah mengantongi nomor ruangan pemuda itu. Dia melihat kemunculan salah seorang pria yang begitu dikenalnya, datang dari arah dimana Boris berada saat ini. Dirinya pun memutuskan untuk menunggu kepergian lelaki menyeramkan itu sebelum memasuki ruangan si Boris.


Betapa terkejutnya Tito saat pria itu melihat keberadaan seorang gadis yang begitu dikenalnya, sedang bercengkrama dengan pemuda yang semakin dia benci itu melalui jendela pintu disana. Dan bukan hanya benci, kecemburuan Tito pun muncul seketika.


"Airin... "


.


.


.


Tubikontinyu

__ADS_1


Happy halu manteman


__ADS_2