DIKEJAR ANAK MAFIA

DIKEJAR ANAK MAFIA
Part 36


__ADS_3

Senin pagi di TRUST Corp penuh dengan aktivitas dan antusiasme. Begitu karyawan tiba di kantor pusat perusahaan, mereka langsung terlihat sibuk dengan berbagai tugas dan proyek yang menanti. Suasana di gedung TRUST Corp terasa hidup dan energik sejak awal pagi.


Ketika pintu masuk dibuka, karyawan disambut dengan senyuman oleh resepsionis yang ramah. Mereka mengarahkan karyawan ke lantai yang sesuai dengan departemen masing-masing. Koridor yang luas dipenuhi dengan suara langkah kaki, percakapan antar karyawan, dan rasa semangat untuk memulai pekerjaan di minggu yang baru.


Ruangan-ruangan di TRUST Corp dipenuhi dengan orang-orang yang sibuk. Beberapa tim sedang melakukan rapat pagi untuk membahas proyek-proyek yang akan datang, sementara yang lain tenggelam dalam pekerjaan individu mereka. Papan tulis dipenuhi dengan diagram, grafik, dan catatan penting, mencerminkan kreativitas dan semangat kerja yang tinggi.


Kafetaria di lantai bawah menjadi tempat berkumpulnya karyawan untuk sarapan pagi atau sekadar berbincang ringan. Baunya aroma kopi yang segar dan makanan lezat mengisi udara. Karyawan saling berbincang tentang akhir pekan mereka, berbagi cerita dan tawa, menciptakan ikatan antar rekan kerja.


Manajer dan atasan di TRUST Corp biasanya menggunakan pagi hari senin untuk mengadakan pertemuan tim dan memberikan pengarahan. Mereka mengumpulkan anggota tim untuk membahas tujuan dan target minggu ini, serta memberikan motivasi agar karyawan tetap fokus dan termotivasi dalam pekerjaan mereka.


"Ris, dipanggil ke ruangan HRD!" salah satu rekan Boris memasuki lab, kebetulan dia yang menerima telpon dari departemen itu saat melewati meja admin tadi.


Tanpa menunggu lama Boris segera menuju ruang HRD yang ada di lantai 3. "Ada apa yah... " gumamnya.


Sampai di ruang HRD, Boris langsung diminta untuk pergi menemui Aldo di ruangannya dilantai 25, lantai tertinggi gedung tersebut dengan menggunakan lift khusus.


Jantung Boris berdegup kencang, ada apa gerangan bos nya itu memanggilnya kesana. Rasa gelisah semakin melanda mengingat Aldo pun pasti berada di ruangan pribadi mereka itu.


Ting!


"Pak Boris ya...? " Sapa mbak Titiek saat pintu lift terbuka dan seorang pemuda tampan keluar dari sana.


"I.. iya bu, saya dipanggil sama pak Aldo kemari" Jawab Boris, sedikit sungkan.


"Mari ikut saya pak.. " Mba Titiek pun melangkah mendahului Boris, menuju pintu masuk ruangan yang dijaga oleh dua orang pengawal. Hanya membutuhkan senyuman dari wanita anggun ini untuk membuka pintu kayu besar itu.

__ADS_1


Sementara itu di laboratorium, Tito sedang kesal. Dia mencari keberadaan karyawan magang yang dia tunjuk sebagai asisten nya itu sejak tadi, seharusnya Boris menyerahkan laporan hasil analisa design terbaru nya kepada dirinya. Jam 9 pagi ini dia sudah berjanji akan memberikan laporan tersebut di rapat direksi.


"Gak bisa seenaknya gini dong ninggalin kerjaan! " Keluh Tito saat salah satu rekan kerjanya memberi tahu jika Boris sedang berada di ruangan HRD saat ini.


Tito pun bergegas menuju lantai 3 dimana ruangan HRD berada.


"Sorry To, asisten lo lagi dipanggil sama bos besar... palingan juga disuruh benerin mainannya"


Deg!!


Jantung Tito serasa berhenti seketika mendengar bocah tengik itu sedang bersama dengan Aldi dan Aldo saat ini, pikiran-pikiran buruk pun mulai bermunculan di otaknya, bersamaan dengan semakin besarnya tingkat kebencian dirinya kepada Boris.


"Lagi-lagi si Boris! " Kesalnya.


Tito meninggalkan ruangan itu dengan rasa iri yang semakin memuncak didadanya. Andai lift menuju lantai tertinggi di gedung ini tidak memerlukan ijin khusus untuk memasukinya, sudah pasti dirinya akan naik kesana dan mencari tahu sendiri apa yang sedang dilakukan bocah tengik itu disana.


Jam sudah menunjukkan pukul 8.50 saat Boris tiba di laboratorium dan bergegas menuju meja kerjanya, Tito yang sudah kesal karena telah menunggu kedatangan dirinya tanpa sepatah katapun melayangkan bogem mentah ke perut Boris.


"Argh!! " Boris pun tersungkur dengan menahan sakit tepat di ulu hatinya. Maksud hati ingin memberi tahu Tito tentang laporan yang sudah dia persiapkan di laptop nya, tiba-tiba saja sang manager langsung menghantam nya. Sontak hal ini langsung menimbulkan kegaduhan diruangan itu.


"Siapapun yang berani membocorkan kejadian ini, gue pecat secara tidak hormat saat ini juga! " Ancam Tito sambil melarang siapapun untuk menolong Boris, tetapi rekan seisi ruangan itu tetap berusaha untuk menolongnya serta melerai dirinya.


"Termasuk lo! apalagi kalo laporan itu gak ada ditangan gue sekarang juga! " Lanjutnya, berusaha untuk meraih kemeja putih yang dikenakan Boris.


Boris hanya bisa menunjuk ke arah laptop dimeja kerjanya, rasa sakit di ulu hatinya membuat pemuda malang itu sulit untuk bersuara. Tanpa pikir panjang Tito menyambar benda pipih itu dari atas meja dan berlalu meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


"Awas aja kalo laporan lo gak becus! mati lo Ris! "


Sepeninggal Tito, Boris merasa sakit di perut nya tidak kunjung reda, malah semakin sakit dan membuat tubuhnya mulai menggigil! Hari ini hari senin, jadwal dirinya berpuasa sunah. Perut kosongnya tidak bisa menahan pukulan sekuat itu.


"Gue mintain ijin pulang yah Ris, muka lu pucet!" Diana yang sejak tadi berada di ruangan itu, berinisiatif untuk menolong Boris. Ini kesempatan emas baginya untuk mendekati pemuda polos itu. Dia bahkan ada diantara orang-orang yang mencoba untuk melerai Tito tadi.


"Gak usah mbak Di, makasih... saya bisa sendiri... " Seperti biasa Boris menghindari sentuhan wanita itu, bukan muhrim pikirnya.


"Tapi Ris...! " Diana masih berusaha untuk menolong Boris bangkit dari duduknya, tetapi usaha nya terhenti ketika salah satu rekan pria disana menolong Boris dengan memapahnya.


"Loh! Kak Boris?! " Airin yang baru saja tiba di lobi perusahaan terkejut melihat keadaan Boris yang berjalan sambil memegang perut dengan wajah yang pucat, tadinya dia akan memberikan berkas milik kedua kakaknya yang ketinggalan. Kebetulan gadis itu sudah mulai libur sekolah, jadi dia berinisiatif untuk mengantarkan dokumen penting itu langsung.


Yaaa... Sekalian nengokin calon imam pikirnya.


Tanpa diberikan perintah, mang Asep langsung memapah Boris menuju mobilnya, untung saja sang bodyguard belum meninggalkan tempat itu untuk memarkirkan mobilnya. Sementara Airin menitipkan berkas tersebut ke resepsionis yang bertugas, lalu berlari menuju kendaraan yang masih terparkir di depan pintu masuk.


"Ke rumah sakit mang! Cepetan!! "


.


.


.


Happy halu manteman 😘

__ADS_1


__ADS_2