DIKEJAR ANAK MAFIA

DIKEJAR ANAK MAFIA
Part 20


__ADS_3

Satu cubitan mesra dari mak Oneng berhasil mendarat di lengan Boris akibat kericuhan yang telah dibuat oleh cucu yang menyebalkan itu, bisa-bisanya anak itu membiarkan sang nenek berpikiran bahwa sedang ada musibah besar yang mengakibatkan tewasnya dia orang teman kuliah Boris. Belum lagi cuitan-cuitan mak Oneng yang membuat telinga Boris berdenging saking merdunya, si emak terus saja mengomentari ulah sang cucu dengan suaranya yang indah.


"Maafin Boris atuh mak, da Boris juga sama-sama kaget tadi teh.. " pinta Boris untuk kesekian kalinya, pemuda tampan cucu kesayangan mak Oneng itu berharap dengan permintaan maafnya sang nenek bisa kembali tenang.


"Maap... maap! maap ti hongkong! " balas emak kesal, nada suaranya masih nyolot pertanda emosi si emak masih lumayan tinggi.


Belum reda kemarahan si emak dan perihnya bekas cubitan keras wanita itu di permukaan kulit Boris, diluar sana telah terjadi kegaduhan yang lain. Dan kali ini berhasil membuat keduanya mengelus dada serta memohon ampunan Tuhan berkali-kali.


Siang itu di alun-alun tempat Boris dan Udin mangkal untuk menjajakan jualannya, para pelanggan setia cilok mak Oneng telah berkumpul dan menunggu kedatangan si Boris. Udin yang sedang berjualan es doger telah berusaha untuk menawarkan dagangannya sebagai alternatif apabila bocah tampan pujaan hati para gadis itu tidak berjualan hari ini.


Keberhasilan Udin hanya sekitar 20℅ nya saja, itupun yang membeli es doger buatannya hanya mereka yang sedang beristirahat di jam kantor alias gak perlu-perlu banget nungguin si Boris karena yang jualan makan disana memang banyak dan tidak mau terkena resiko atas keterlambatan.


Suasana semakin ricuh tatkala Udin secara tidak sengaja melanggar janjinya kepada Boris untuk tidak membongkar rahasia tentang dimana pemuda itu tinggal, ketika beberapa orang gadis cantik telah berhasil membujuknya. Mereka pun telah membeli banyak es doger monyet resep turun temurun nya.


"Ke rumahnya aja neng... tuh di kampung Bale, tanyain aja mak Oneng tukang cilok.."


Dan disinilah mereka saat ini, di halaman depan rumah mak Oneng sedang berdemo memaksa sang nenek untuk membuatkan ciloknya dan meminta Boris sang cucu untuk melayani permintaan mereka.


Melihat kericuhan yang terjadi didepan rumah mak Oneng, Icha si gadis lugu yang kebetulan sedang lewat di depan rumah itu berinisiatif untuk mencari tahu apa yang terjadi disana. Gadis itu baru saja kembali dari kursusnya dan melihat sang ayah beserta dua orang tetangganya sedang berusaha untuk menenangkan orang-orang itu.

__ADS_1


"Cha... bantuin si emak cha.. " pinta pak Samsul, lalu berusaha untuk membantu sang anak memasuki rumah wanita tua itu.


Butuh perjuangan bagi Icha agar bisa memasuki rumah sederhana tersebut, mereka mengira gadis itu akan memotong antrean dan mendahului mereka untuk dilayani oleh Boris.


Sementara itu kedatangan Icha ke rumah itu bagaikan doa yang terkabul oleh mak Oneng, gadis itu langsung diminta bantuannya untuk melayani permintaan mereka dan membantu sang cucu untuk memasukkan cilok-cilok itu kedalam plastik.


Parahnya lagi, dalam sekejap saja dandang berisi penuh cemilan favorit abad ini pun tandas dan memaksa Boris untuk mengambil nya di dapur. Saat itulah emosi gadis-gadis kelaparan itu semakin memuncak, dan membuat Icha terisak saking takutnya.


Bersamaan dengan itu pula seorang gadis cantik dengan celana cargo hitam senada dengan hoodie dan sepatu sneakers hitamnya tiba di sana, didampingi oleh pria berpostur tubuh besar berjalan mencoba untuk menembus kerumunan orang-orang itu.


Sorot mata tajamnya tertuju kepada gadis yang sedang terisak didekat pintu masuk rumah mak Oneng, disamping gerobak cilok milik pemuda yang telah membuat dirinya khawatir sepanjang perjalanan tadi.


"Kak Boris dimana Cha?" tanya Airin, setelah sang bodyguard berhasil membelah kerumunan disana untuk dirinya.


"Didalam Rin, sama emak..." Isak Icha, sambil mengusap air matanya.


Terjawab sudah kekhawatiran Airin sepanjang jalan tadi, bahwa benar mak Oneng telah meninggal dunia hari ini.


"Apa?! Oke kita kesana sekarang!" Aldi mematikan sambungan telepon genggam nya, kabar yang diberikan oleh salah satu pengawalnya berhasil membuat emosi nya semakin memuncak.

__ADS_1


"Ada apa bang? " Aldo yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah menunaikan panggilan alamnya, berhasil mencuri dengar kalimat terakhir sang kakak.


"Kita balik sekarang! Airin ada dirumah bocah tengik itu! gue gak bakalan kasih ampun kali ini! " Aldi bergegas keluar menuju mobilnya, dia tak mau membuang waktu lebih lama lagi dan ingin segera menghajar Boris dan pengawal pribadi sang adik yang telah berani melarikan Airin selama tiga hari ini.


Aldo hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Sudah berkali-kali dirinya berusaha untuk mengingatkan sang kakak agar bisa lebih bersikap dewasa, toh Airin bukan akan kecil lagi dan sudah bisa menjaga dirinya dan ada mang Asep yang selalu setia menemani nya jadi mustahil siapapun bisa menyakiti adik tercintanya itu.


Dan bukan hanya itu, dirinya pun telah berkali-kali memberitahu sang kakak perihal hubungan Airin dengan Boris. Meski keduanya memang terlihat memiliki ketertarikan satu sama lain, tapi bisa dipastikan bahwa keduanya memiliki dinding yang sulit untuk dihancurkan. Aldo bisa melihat tebalnya dinding yang dibuat Boris meski sang adik telah terus berusaha untuk menghancurkan nya, sepertinya pemuda itu tahu diri pikir nya. Dan dia pun bisa melihat dinding yang dibuat sang adik, dia berusaha untuk melindungi Boris dari keluarga besarnya.


"Bang.. tenangin diri lo, ini cuma persepsi lo aja bang... " pinta Aldo untuk kesekian kalinya. Sang kakak masih bersikeras dengan pemikiran nya sendiri.


"Lo gak nyadar kemana Airin pergi selama tiga hari ini bang??" lanjutnya, dan kali ini membuat laju mobil yang dikemudikan oleh Aldi melambat.


"Lo lupa apa pesan almarhum sama kita bang? pesan yang sama yang kakek kasih buat mang Asep... dan lo gak mikir kalo tindakan sama ucapan lo itu emang udah nyakitin hati adek kita?"


Kali ini Aldi menepikan mobilnya, dia menghela nafasnya kasar lalu memukul kemudi dengan kedua tangannya. Apa yang dikatakan oleh Aldo memang ada benarnya, ucapannya tempo hari kepada Airin telah membuat sang adik pergi. Apalagi dia telah mengancam gadis itu dengan ancaman bahwa dirinya tak akan segan-segan untuk melenyapkan keluarga Boris jika sang adik masih nekat mendekati bocah ingusan itu.


Menurut nya Boris tak pantas menjadi pendamping Airin, keluarga mereka berada di kelas yang jauh berbeda! Boris hanya anak yatim piatu yang miskin! Sementara mereka berasal dari keluarga kaya, hubungan keduanya bisa mencoreng nama baik keluarga nantinya.


Dia lupa jika sang ayah berasal dari keluarga sederhana, dan Gladys gadis kesayangan almarhum Alda juga berasal dari keluarga sederhana.

__ADS_1


"Ya Tuhan.... "


Happy halu manteman


__ADS_2