
Mang Asep sedang menemani Airin untuk menemui laki-laki yang sudah lama dia curigai sebagai pelaku utama dalam menghilang nya Boris dan mak Oneng kala itu, mereka sudah membuat janji untuk bertemu di sebuah cafe di tengah kota.
Tiba-tiba saja ponsel yang dia taruh di dalam kotak samping kursinya bergetar. Awal nya mang Asep tidak mengindahkan panggilan tersebut, pikirannya masih berkutat dengan teori-teori menghilangnya cucu beserta neneknya tersebut. Tetapi setelah beberapa kali ponselnya itu bergetar, akhirnya dia memutuskan untuk melihat siapa yang sejak tadi mengganggu ketenangan nya itu.
"Bocah gila! " Benaknya.
Dilihatnya melalui spion dalam mobil, Airin tengah asyik dengan ponselnya sendiri. Hal ini mang Asep pergunakan untuk merespon panggilan tersebut melalui earphone bluetooth nya, dirinya belum mau memberitahu nona kecilnya itu perihal penelepon rahasia ini sampai mang Asep. benar-benar yakin apa gerangan yang membuat bocah gila ini berani menghubungi nya.
"Waalaikumsalam" jawabnya, dengan suara sepelan mungkin.
Mang Asep mengerutkan keningnya selama dia mendengarkan penjelasan bocah gila ini, dia bahkan harus berusaha untuk tetap bersikap normal meski yang dikatakannya itu benar-benar di luar dugaannya. Beberapa kali mang Asep harus menghela napasnya panjang dan berdeham untuk menutupi keterkejutan nya, segila itukah??? pikirnya.
"Kita sudah sampai nona... " Mang Asep memutar kemudinya saat memasuki lobby cafe tersebut untuk menurunkan Airin disana, baru setelah dia yakin sang nona kecil memasuki cafe tersebut mang Asep memarkirkan mobilnya.
"Jadi kapan kamu akan mengambil nya? " Tanya mang Asep, setelah dia mematikan mesin mobilnya lalu melepaskan tali pengaman kursinya.
"Oke...Waalaikumsalam" Mang Asep menekan tombol pada earphonenya saat mengakhiri panggilan tersebut.
Kebetulan macam apa ini? benak mang Asep. Tidak bisa disangka, ternyata semua peristiwa yang terjadi baik dimasa lalu juga dimasa sekarang berhubungan satu sama lain. Tuhan memang Maha Besar! Dia memperlihatkan keagungannya dengan membuka tabir peristiwa yang selama ini menjadi misteri bagi semuanya.
Mang Asep menghela napasnya kasar, lalu memukul setir mobilnya. " Airin, dia belum boleh tahu tengang bocah itu" gumamnya, lalu keluar dari mobil mewah tersebut untuk menghampiri Airin. Dia ingin melihat dengan mata kepala nya sendiri raut wajah laki-laki yang sudah berani mengerjai nya selama ini, jika mahluk keturunan homo sapiens itu melihat wajahnya saat ini.
Sebenarnya Robby sudah sangat ingin memberi tahu Airin perihal keberadaan Boris saat ini, dia merasa prihatin dengan kondisi sahabatnya itu. Robby seringkali melihat Boris yang tiba-tiba melamun saat sedang menemui pemuda itu di kediamannya di pulau milik keluarga nya itu.
__ADS_1
"Mungkin jika aku minta Airin untuk menemuinya, Boris pasti bahagia... " Pikir nya. Hal ini pula yang menjadi alasan mengapa dia memutuskan untuk menghubungi gadis itu, setelah selama ini dia tetap meyakinkan Airin bahwa dirinya tidak mengetahui keberadaan Boris dan belum menemukan pemuda pujaan hati nya itu.
"Disini Airin! " Robby mengacungkan tangannya, setelah dia melihat Airin memasuki cafe dan mencari keberadaan nya.
"Gimana kabarnya? " Tanyanya, lalu menarik kursi untuk gadis itu setelah dia memeluknya sesaat.
"As you can see lah ka... " Airin tersenyum, sebuah senyuman yang dipaksakan. Dirinya merasa lelah dengan semua urusan yang ada, kuliah, perusahaan dan tentunya lagi Boris. Entah dimana laki-laki yang telah berhasil membuat dirinya kalang kabut selama ini itu berada saat ini, tetapi yang jelas dia tidak akan menyerah sebelum menemukan pria pujaan hatinya ituitu pikir nya.
Ya, Airin saat ini sudah memasuki semester dua kuliah nya di kampus Sriwijaya. Dia akhirnya mengambil jurusan manajemen bisnis untuk menunjang karir nya di perusahaan miliknya saat ini, setelah sang kakak Aldo menyerah kan tampu kepemimpinan itu kepadanya. Jangan salah, Aldo masih bekerja disana, sebagai mentor juga salah satu CEO perusahaan miliknya itu. Saat ini mereka masih berusaha untuk menghadapi serangan-serangan yang dilancarkan oleh sang nenek Natalina, wanita tua itu tak hentinya berusaha untuk memiliki aset yang ternyata ada sangkut pautnya dengan warisan sang kakek kepada kedua orangtuanya.
"Jadi, apa kakak udah dapet kabar tentang kak Boris? " Airin menyeruput cappucino dalam cangkir berwarna hitam dihadapan nya, enak juga pikirnya.
"Begini Airin, sebenarnya kakak..... "
Sebelum Mang Asep memasuki cafe, dia telah menghubungi Aldo terlebih dulu, untuk menceritakan secara sekilas informasi berharga yang dia miliki, dan meminta agar kakak dari nona kecilnya itu segera memanggil gadis itu kembali. Tetapi sepertinya Airin tidak mengindahkan panggilan dari sang kakak, dan malah asyik berbincang dengan Robby.
"Huh... ini pasti kerjaannya kak Aldo, semenjak ditinggal kak Aldi dia kayak cewek lagi pms tiap hari" gerutu Airin, lalu menyeruput cappucino nya lagi sebelum berpamitan kepada Robby.
"Telpon aku yah ka, obrolan kita belum selesai... " Pinta Airin, lalu melambaikan tangannya dan meninggalkan Robby disana. Sepertinya dia syok melihat kedatangan mang Asep, pikir nya.
"Huffftt... nasibmu Ris... " Robby menghembuskan napasnya kasar. Maksud hati ingin mempertemukan dua sejoli yang sedang patah hati, malah kandas karena kemunculan mahluk kutub utara yang menyeramkan itu.
"Dia ngeliatin gue kayak gitu lagi... " Robby bergidik ngeri, lalu memutuskan untuk pergi dan meninggalkan sejumlah uang di bawah cangkir kopinya.
__ADS_1
Sementara itu di sebuah ruangan kerja yang sangat luas, Aldo terlihat tengah termenung. Pikiran nya melayang tak tentu arah saat ini, ada banyak hal yang harus dilakukan saat ini, tetapi waktu yang mereka miliki sangatlah sedikit! Dia harus segera menyelamatkan saudara kembarnya dari jeratan perjodohan yang dilakukan oleh sang nenek, dia pun harus segera menemukan jawaban dari teka teki dari kematian orang-orang terdekatnya yang ternyata berhubungan satu sama lain itu.
"Apa benar Natalina dalang dibalik semua ini? " benaknya. Meski mereka tidak memiliki hubungan yang baik dengan sang nenek, tetapi dirinya tidak yakin jika wanita tua itu tega menghabisi nyawa suaminya sendiri. Aldo ragu apakah Natalina sekejam itu! Natalina memang cukup terkenal dengan kekejamannya, dia berani melakukan hal keji sekali pun jika kehidupannya terusik atau terancam. Dan jika dipikirkan lagi, perilaku sang nenek tak ubahnya seperti perilaku sang adik Airin. Mereka memiliki kemiripan dalam hal itu, tetapi Airin tidak akan pernah menyakiti orang-orang yang dia sayangi.
"Apa mungkin ada orang lain yang telah memanfaatkan situasi ini? "
.
.
.
Hayoooo tebak 😄😄😄
Happy halu manteman!
Maafkan othor baru up lagi ceritanya yaaaa... othor masih sibuukkk...
daaaannn....
Selamat Idul Adha untuk para toon lovers diseluruh penjuru alam semesta ini! Semoga mendapat keberkahan, keselamatan dan kesejahteraan untuk kita semua..
Aamiin ya robbal aalamiin 😇😇
__ADS_1