
Masa lalu...
"Kau tak akan pernah mendapatkan restu dariku anak durhaka! Dan akan aku pasti kan bahwa hidupmu menderita begitu kau melangkah kan kakimu keluar dari rumah ini! " Natalina geram, pasalnya harga dirinya telah terinjak-injak akibat ulah anak gadisnya ini. Dia telah berani menolak perjodohan yang telah disepakatinya dengan calon menantunya yang terlahir dari keluarga konglomerat di Jerman.
Catharina menangis sambil berlari menuju kamarnya, entah sedih atau bahagia saat itu dia rasakan, dia hanya ingin lebih cepat lagi meninggalkan rumah bagaikan neraka ini untuk menemui kekasihnya Hutama Putra ditempat yang telah disepakatinya bersama.
Tak lama kemudian Catharina turun dari kamarnya dengan dua koper besar serta satu kantong kecil berisi barang-barang pribadinya, dihadapan nya telah menunggu sang ibu untuk menghadangnya.
"Jangan kau pikir kau bisa membawa semua barang-barang itu! Tinggalkan barang itu disana jika kau memilih untuk pergi dari rumah ini! " Natalina lalu memerintahkan para asisten rumah tangga untuk membawa kembali koper-koper tersebut kembali ke kamar gadis itu, lalu meninggalkan sang anak tanpa memperdulikan tangisannya. Baginya kini Catharina tak lebih dari seorang anak durhaka yang telah mencemari nama keluarga besarnya.
Catharina pun berlari keluar dari rumah itu hanya dengan satu kantong kecil ditangannya, isinya hanya beberapa ribu DM ( mata uang Jerman dulu) beserta kartu Identitas pribadinya.
"Silahkan nona... " Tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti didepannya, sang sopir yang merupakan pengawal setianya keluar dari kendaraan tersebut lalu membukakan pintu untuknya.
"Terimakasih Pedro, tapi... kamu akan kena masalah besar nanti... " Tolak Catharina, tetapi bukan Pedro namanya jika tidak bisa membuat dirinya naik kedalam mobil mewah itu dan membawanya pergi dari sana.
"Maafkan aku Pedro, setelah ini kamu pasti akan kena masalah besar... " Isak Catharina, semakin sedih membayangkan bagaimana kejamnya sang ibu menghukum pria didepannya ini.
"Jangan khawatirkan aku nona, aku akan baik-baik saja disini.." Pedro tersenyum, "Sekarang kita harus segera tiba di bandara, agar kalian bisa cepat bertemu.. " Lanjut nya, lalu mempercepat laju kendaraannya.
Pedro harus bergerak cepat melawan waktu, dia khawatir sang nyonya yang kejam itu akan segera mengetahui keberadaan Hutama dan mencelakai nya. Sudah cukup penderitaan laki-laki baik itu selama ini, sang nyonya bahkan berhasil membuat Hutama di pecat dengan tuduhan mencuci dan pada akhirnya harus di deportasi dari negaranya.
Tiba di bandara, Pedro langsung membawa lari nona kecilnya menelusuri lorong menuju pintu keberangkatan internasional disana.
Catharina berjalan mengikuti kemana Pedro pergi, dia lebih tahu seluk-beluk bandara ini sejak lama. Bahkan titik pertemuan dirinya dan Hutama nanti, dialah yang telah menentukannya. Alasannya agar aman dari serangan orang-orang suruhan nyonya besar.
__ADS_1
"Putra..! " panggil Catharina kepada seorang laki-laki berpostur tubuh tinggi sedang, berparas tampan, yang sedang menatap ke arah luar jendela, lalu menengok ke arahnya dan tersenyum.
"Pergilah nona, dan tolong jangan lupakan aku... " pinta Pedro ketika dirinya melepaskan kepergian nona kecilnya. Entah dirinya bisa bertemu dengannya kembali suatu saat nanti, Pedro pun berlalu.
Semenjak saat itu Catharina tidak pernah menengok kembali masa lalunya, meski rasa sesal memenuhi angannya karena tidak sempat bertemu dengan ayah tercintanya, tetapi Catharina bersyukur karena telah memilih laki-laki yang tepat dalam hidup nya.
Hutama begitu sayang kepada nya, dia adalah laki-laki yang sangat bertanggung jawab selain ayahnya Ludwig Reinhard. Tiga tahun semenjak mereka menginjakkan kakinya di negara ini, lalu menikah dan merintis usaha, Hutama begitu setia kepadanya dalam suka maupun duka. Bahkan kini mereka telah dianugerahi 3 anak kembar dan sebuah bisnis otomotif yang semakin berkembang pesat.
Hingga pagi itu, seseorang yang mengaku sebagai pengacara yang di utus oleh sang ayah datang menemuinya.
"Dengan nona Catharina Reinhard...maaf, nyonya Catharina Reinhard? " Pria itu segera mengganti panggilan untuk wanita didepannya setelah melihat anak dalam gendongan nya.
Catharina tertegun, sudah lama sejak seseorang memanggil nama lengkapnya seperti itu. Terakhir ketika dirinya masih tinggal di Jerman bersama dengan keluarga nya.
"Siapa anda? " Tanyanya tanpa menjawab pertanyaannya pria didepannya.
"Bisa kita bicara didalam? Ada hal penting yang harus saya sampaikan" Lanjut nya, lalu mengikuti Catharina memasuki rumah yang cukup sederhana itu, dan dipersilahkan untuk duduk.
"Apa yang ingin disampaikan oleh ayah hingga mengutus seorang pengacara seperti anda? " Catharina bertanya setelah dia mempersilahkan Hendri untuk duduk dan meminta suaminya untuk menemaninya juga setelah dia meminta ketiga anak balitanya untuk kembali ke kamar.
"Maaf nyonya, sebelumnya saya ingin mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya mending tuan Ludwig seminggu yang lalu... " Ungkap Hendri, lalu menghembuskan napasnya berat. Catharina langsung histeris setelah menerima kabar buruk yang disampaikannya.
"Apa maksud mu?!! Kamu bohong kan???!! Ayah masih hidup kan??!! " Isak Catharina.
Hutama berusaha untuk menenangkan sang istri dengan memeluknya erat, " Tenangkan dirimu Cath..."
__ADS_1
Hendri pun baru bisa melanjutkan cerita nya setelah Catharina bisa tenang kembali. Dia memberi tahu kronologi kecelakaan maut yang telah merenggut nyawa tuanya itu beserta dengan pengawal setianya, disinyalir mobil yang dikemudikan oleh pak Huda mengalami rem blong ketika pria itu berusaha mengerem kendaraannya, sewaktu mencoba untuk menghindari kendaraan yang tiba-tiba belok dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi.
"Tuan sedang dalam perjalanan menuju bandara nyonya, hari itu tuan akan menemui anda untuk menyerah kan ini " Lanjut Hendri, lalu memberikan satu berkas penuh berisi dokumen-dokumen penting, diantaranya merupakan surat wasiat mendiang untuk Catharina dan suami beserta anak-anaknya.
"Jadi... selama ini ayah tahu... " Isak Catharina, setelah dirinya membaca surat wasiat dari sang ayah tercinta.
Hendri mengangguk tanda setuju, " Tuan Ludwig bahkan mengutus seseorang untuk menggantikan nya menghadiri pernikahan anda nyonya, sayang keduanya sudah meninggal dunia karena kecelakaan belum lama ini " Imbuhnya
Catharina kembali mengucurkan air mata nya, dia tidak menyangka ternyata selama ini sang ayah selalu memperhatikannya. Rasa sesal itupun kembali melanda, kenapa dulu dirinya tidak berusaha untuk menemui ayahnya terlebih duludulu pikir nya.
"Satu hal lagi nyonya, besok para pengawal yang telah diutus oleh mendiang akan mulai bekerja untuk anda dirumah baru anda nyonya"
Keesokan harinya..
"Selamat pagi nyonya, saya.... "
"Pedro!! Ya Tuhan!! Kau masih hidup....! "
.
.
.
Happy halu manteman
__ADS_1
Thanks buat dukungan nya di semua novel othor yaaaaa....
Loph u all!!!