
Setahun tahun yang lalu.
"Maaf kak, Airin tidak memiliki perasaan khusus sama kakak.." Ucap gadis cantik itu kepada seorang pria yang tengah berlutut dihadapannya sambil menyerahkan sekuntum bunga mawar serta satu kotak kecil kepadanya.
"Airin hanya menganggap kakak sebagai teman biasa aja" Lanjutnya, lalu meninggalkan pria tersebut dalam keadaan terpaku.
Pupus sudah harapan pria tampan tersebut, usahanya selama beberapa bulan ini untuk mendapatkan cinta gadis pujaan hatinya sia-sia belaka.
Pertemuannya dengan Airin kala itu telah menumbuhkan benih-benih cinta dihatinya, berparas cantik tetapi memiliki aura dingin itu telah berhasil membuat dirinya ingin memiliki gadis itu secara utuh, hingga dia bersedia melakukan apapun untuk mendapatkannya.
Dia rela mencari tahu aktivitas Airin dan mengikuti kemanapun gadis itu pergi meski memang sulit untuk mendekatinya secara langsung karena kedua kakak posesifnya juga sang pengawal pribadi selalu ada bersamanya, dan juga karena karakternya yang unik, tetapi karena kegigihannya akhirnya dia berhasil mendekatinya.
Kebahagiaannya bertambah tatkala dirinya bisa bergabung dengan TRUST Corp, atas permohonan sang ayah kepada keluarga Hutama Putra meski posisi yang didapatkannya tidak setinggi yang diharapkannya. Dia tidak perduli itu, yang dia perdulikan hanya bagaimana cara mendekati Airin dan memilikinya.
"Loh, lagi ngapain disini dek? kerjain pr yah?" Tito tidak melewatkan kesempatan bagus ini, saat dirinya tanpa sengaja melihat Airin di ruang rapat pada sore hari. Dia melihat secara sekilas gadis itu keluar melalui lift khusus dan memutuskan untuk mengikutinya.
"Eh..iya ka..." Jawabnya, seperti biasa seperlunya.
"Pelajaran apa? Boleh kakak liat?" Pinta Tito, lalu mengambil buku pelajan yang diserahkan gadis itu kepadanya.
__ADS_1
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ternyata Airin memngalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal fisika! Dan ini merupakan keahliannya. Tito menggunakan kesempatan emas ini untuk mendekati Airin, dan memang sejak saat itu sikap dingin gadis ini sedikit mencair. Dan sejak itu pula kedekatan mereka mulai bertambah! Kapanpun Airin mendatangi TRUST Corp, dirinya pasti mencari keberadaan Tito, entah untuk meminta bantuan untuk mengerjakan PR, atau sekedar makan camilan bersama sambil bercanda.
Hingga saat Tito menyatakan cinta kepadanya dan Airin menolaknya, gadis itu menjauh dan semakin sulit untuk ditemui bahkan hampir tidak pernah lagi dia temui.
Masa sekarang.
"Gue harus cari tau ada hubungan apa diantara mereka" Batin Tito, bergegas keluar dari rumah sakit melalui tangga darurat karena hal yang tidak dia inginkan saat ini adalah bertemu dengan pengawal pribadi Airin yang dia lihat tengah berjalan ke arah lobi tadi.
Pertemuan terakhirnya dengan pria bertubuh kekar itu lumayan menyisakan trauma mendalam dalam dirinya, dia pula yang membuat dirinya mengucapkan janji untuk tidak lagi mengganggu apalagi mendekati Airin saat itu.
Sementara itu di ruang rawat inap dimana Boris berada saat ini, pemuda itu tengah berusaha untuk membercandai gadis cantik dihadapannya. Semenjak dirinya membuka mata, aura gadis itu terasa begitu menyeramkan! Tatapan matanya tajam menusuk, bibir tipisnya seperti terkunci dan hanya tarikan nafasnya yang terdengar jelas ditelinga pemuda itu.
"Iya deh...iya kak Boris ngaku salah..." Ucap Boris pasrah, dengan menakupkan kedua telapak tangannya lalu mengangkatnya.
"Apaan sih! Gak jelas!" Ketus Airin seraya mengerlingkan kedua bola matanya dengan posisi kedua tangan yang masih setia ditempatnya, melipat di dadanya.
"Kasih tau aku, siapa yang udah mukulin kaka!" Pada akhirnya pertanyaan itu terlontar juga dari bibirya.
"Eh...itu, gak ada kok Ai...Kak Boris tadi cuma jatoh..." Boris mencoba untuk meyakinkan Airin, dia tidak mau ada masalah yang lebih besar lagi kedepannya. Dia cukup paham kapasitas Airin di perusahaan itu, dan dia yakin gadis itu bisa melakukan apapun sesuai kehendaknya, termasuk memecat orang yang telah memukulnya.
__ADS_1
"Bohong dosa! dan aku gak sama tukang boong!"
"Untuk kali ini, kak Boris mohon Ai...Percaya sama kakak ya..." Kali ini Boris bersungguh-sungguh
"Yang penting kak Boris gak kenapa-kenapa kan?" lanjutnya, lalu memberikan senyuman termanis yang bisa merontokkan dinding setebal tembok cina milik Airin.
"Eh...Mintain ijin buat pulang dong Ai, kasian emak dirumah..." Lanjutnya lagi, kali ini ditambah dengan alisnya yang turun naik, yang membuat Airin memalingkan wajahnya. Sudah dua hari Boris tidak pulang ke rumah, dia yakin sang nenek pasti sedang mengkhawatirkan dirinya. Meski pemuda tampan itu sudah menyampaikan berita tentang "tugas dadakannya" melalui Icha, tapi Boris yakin sang nenek pasti tetap akan mengkhawatirkannya.
"Gak jelas!" Airin pergi meninggalkan Boris, sejujurnya dia ingin cepat-cepat meninggalkan ruangan itu karena tidak tahan dengan kekonyolan pemuda itu sejak tadi. Kalau sampai ketahuan tertawa didepannya, bisa-bisa jatuh wibawa dan harga dirinya itu.
Sejak awal Airin sudah yakin jika Boris tengah menyembunyikan sesuatu darinya, dirinya bukan lagi anak kecil yang bisa dibohongi begitu saja. Tetapi Airin percaya jika apapun yang disembunyikan oleh pemuda tampan itu pasti memiliki maksud tertentu, dan dia berjanji akan menemukan siapa yang telah berani berbuat sekurang ajar itu.
Bukan hal yang sulit bagi dirinya mengetahui kejadian sesungguhnya disana, meski tanpa meminta bantuan kedua kakak kembarnya, Airin bisa dengan mudah mengetahui siapa pelaku utama pemukulan Boris, pemuda yang dicintainya.
.
.
.
__ADS_1
Happy halu manteman...
Thanks buat supportnya di part ini